Cinta Lama Berlabuh Kembali

Cinta Lama Berlabuh Kembali
CLBK2_ Benteng Yang Kuat


__ADS_3

“ apa yang sebenarnya kau rencana kan zen adtya adam..” suara tsya meninggi ketika melihat suaminya masuk kedalam kamar mereka.


“ aku tak merancanakan apapun?” elak zen.


“ omong kosong, kamu pikir aku tak tahu bahwa kau juga tau rencana malik?”


“ aku hanya tahu briyan membuat janji temu dengan seorang dokter sayang.”


“ dan kau menganggap aku gila?”


“ tidak, tentu saja tidak sayang.”


“ atau menganggap aku semacam trauma?” dan kali ini zen tak menjawabnya, memang benar bahwa zen menganggap istrinya trauma parah, tapi setelah dia lihat dari tadi istrinya tak memperlihatkan ketakutan nya sama sekali. “ jawab zen, kau pikir aku akan trauma setelah melakukan hal itu kemarin..” sambungnya lagi.


“ maafkan aku sayang tapi aku hanya khawatir dengan mu, itu saja tak lebih. Tapi aku tak menganggapmu gila, sungguh.”


Sebelom tsya menjawabnya lagi kini terdengar suara ketokan pintu yang membuat mereka berdua melihat kearah pintu. Tsya melewati zen dengan wajah datarnya, ia membuka kan pintu, nampak malik disana berdiri dengan menunduk.


“ maafkan saya nona, tapi dokter claudia masih ingin bertemu dengan anda..” perkataan malik hanya dapat tatapan malas oleh wanita yang sedang menyilangkan tanggan di dada nya.


“ aku tidak mau..” jawab tsya dengan ketus.


“ nona dokter hanya ingin bicara hasil pemeriksaannya terhadap anda.”


“ itu gak perlu.”


“ itu perlu sayang, katakan kita berdua akan menemuinya..” timpal zen dari arah belakang.


“ baik tuan, saya permisi..” malik berjalan meninggalkan bos nya yang sedang beradu sengit.


Zen menarik tanggan tsya dengan pelan, membawahnya kedokter yang tadi memeriksanya. “ lepaskan aku, kau temui saja dokter itu, aku gak mau temui..” tsya sudah tak ingin bertemu dengan dokter muda tadi, moodnya benar benar hancur.


“ jangan membantah sayang..” zen tetap menarik tsya meskipun itu lembut.


“ kau yang penasaran dengan hasilnya dan aku tidak, jadi buat apa aku temui doktermu itu.”


“ sayang..” zen sedikit menekan katanya meskipun pelan tapi terdengar membentak dan ia menatap istrinya yang berada dibelakangnya.


“ dengar zen adtya adam, jika dokter mengatakan aku tak apa dan aku jauh dari kata trauma, kupastikan kau tak dapat menyentuhku atau sekedar menyapa ku, kau dengar itu..” tsya mengancam zen yang membeku ditempat.



Tsya menghempaskan tanggannya zen, dan ia meninggalkan zen berjalan terlebih dahulu, menuruni anak tangga menujuh keruang tamu yang sudah ada dokter serta beberapah orang disana.


Tsya duduk disebelah alicia yang juga terduduk disana, dan zen duduk disebelah sang ayah mertua yang juga menunggu hasil pemeriksaan sang dokter.


Malik serta sang dokter jugapun briyan tak berani menatap kearah nona mudanya karna mereka tau betul wajah kemarahan nona nya.


‘ apa mereka pikir kau sudah gila’ bisik alicia.


‘ sebentar lagi mereka yang akan gila’ balas tsya dengan bisik juga.


‘ tenangkan hati dan pikiranku, ku rasa kau terlalu sensitif akhir akhir ini’

__ADS_1


‘ omong kosong, ikutlah dengan ku kerumah ayah sebentar lagi, kabari yang lain untuk bersiap’ perkataan tsya hanya dibalas dengan senyuman oleh alicia, dan zen yang meiihat istrinya berbisik dengan sahabatnya perasaan tak enak sudah mulai menjalar ditubuhnya.


Sedangkan sang dokter masih fokus dengan kertas ditanggannya, sebelom ia mengatakan hasilnya ia masih harus ada diteliti dengan benar, tapi wajah ayu nya sedikit pucat, mungkin ketakutan nya tadi belom sepenuhnya gila.


“ baik terimah kasih, saya akan mengatakan hasil pemeriksaan saya dengan nona tsya..” sang dokter mulai bicara. “ nona tak mengalami trauma yang berlebihan, jika kemarin nona banyak diam karna nona masih mengalam shock bukan trauma..” penjelasan sang dokter dapat senyuman dari tsya yang menatap kearah suaminya yang menatap kearah tsya dengan wajah yang datar.


“ terimah kasih dok, kami sungguh takut jika putri saya mengalami trauma yang parah..” timpal sang ayah.


“ nona memiliki benteng yang kuat didalam dirinya tuan, jadi hal apapun sepertinya tak bisa menembus bentengnya tersebut..” sang dokter melanjutkan penjelasannya.“ anda cukup kuat sebagai seorang wanita nona..” sang dokter claudia menyimpulkan semuanya, dan sang dokter berani menatap kearah tsya yang juga menatapnya dengan tersenyum.


“ anda terlalu memuji dokter claudia..” jawab tsya dengan tersenyum. “ dan maafkan saya atas tindahkan saya tadi, saya sebenarnya sudah tau jika pisau itu hanya mainan jadi saya mengarahkan itu pada anda..” sambungnya lagi dengan tenang.


“ saya mengerti nona, jika anda tak melakukan itu maka saya tak bisa membaca wajah anda. Anda wanita yang cukup tenang dalam keadaan apapun, anda cukup berani jika dalam golongan wanita.”


Setelah beberapah penjelasan panjang lebar dari sang dokter claudia, dan sang dokter harus segera kembali lagi, sang dokter pergi meninggalkan rumah tersebut dengan beberapah orang disana yang terdiam. Asumsi bahwa nona mudanya trauma kini patah.


“ apa kalian masih ragu jika tsya tak mengalami trauma..” alicia yang akhirnya membuka suara.


“ tapi bagaimana bisa nona, dalam waktu satu hari nona bisa sembuh dalam trauma tersebut..” briyan kini yang mulai penasaran.


“ karna aku memiliki benteng yang kuat untuk melawan ke traumaan ku sendiri..” jawab tsya dengan santai. “ dan apa yang aku katakan selalu akan ku lakukan..” tsya menekan kata katanya dengan menatap suaminya yang tak bicara sama sekali. “ aku pernah bersumpah membunuh marcel dengan tanggan ku, aku membunuhnya karna aku membelah diriku, bukan kah itu tidak dikatakan membunuh?” sambungnya lagi.


“ sayang jangan lakukan hal buruk yang membuat ayah akan kehilangan mu nak..” timpal sanga ayah.



Tsya tersenyum tulus pada sang ayah yang mulai menua tersebut. “ tidak ayah ini yang terakhir aku berjanji..” jawab tsya dengan lembut. “ dan aku ingin menginap dirumah ayah, kurasa aku merindukan kamar ku..” katanya dengan senyum miring.


“ kau masih ingat apa yang aku katakan tadi sebelom kita kesini, aku rasa kamu tak tuli atau kau hanya pura pura tuli?” jawab tsya dengan tak kalah dingin.


“ kita harus bicara..” zen berdiri dengan menisyaratkan tsya untuk mengikuti langkahnya.



Tsya memang berdiri. “ cia bereskan barangmu, kita akan menginap dirumah ayah..” perintah tsya tentu saja tak bisa dibantah oleh cia.


Sedangkan yang lain disana hanya menatap binggung dengan tingkah laku pasangan suami istri ini yang sedang beradu mulut dari tadi.


‘ ini salah mu briyan, kau akan kenak amukan sebentar lagi’ malik membatin dengan melirik briyan yang disebelahnya.


‘ lirikan malik membuat ku takut’ jawab briyan yang juga dialam hati.


-----------------


Gejala trauma yang bisa terlihat dengan jelas.


Reaksi mental


Berkurangnya kemampuan untuk mengingat dan berkonsentrasi.


Sulit menghindari pikiran mengganggu yang berkaitan dengan kejadian traumatis.


Terus-menerus teringat kejadian traumatis tersebut tanpa bisa dikendalikan.

__ADS_1


Merasa hilang arah dan disorientasi.


Reaksi emosional


Muncul rasa takut, panik, dan cemas.


Mati rasa, hingga tak bisa merasakan apapun.


Mulai mengisolasi diri dan menjauhi semua orang.


Depresi, memiliki perasaan bersalah, dan terlalu sensitif terhadap banyak hal di sekelilingnya.


Terus-menerus merasa waspada karena takut akan ada bahaya lain yang menimpanya.


Shock atau terkejut karena tidak bisa percaya dengan kejadian buruk yang menimpanya.


Reaksi fisik


Kelelahan.


Gangguan tidur.


Mual, muntah, dan pusing.


Sakit kepala.


Keringat berlebih.


Detak jantung meningkat.


Reaksi perilaku


Berusaha menghindari berbagai hal yang mengingatkan terhadap kejadian traumatis.


Sulit berhenti untuk memikirkan apa yang telah terjadi.


Tidak melakukan aktivitas sehari-hari seperti biasanya.


Perubahan terhadap nafsu makan, seperti makan lebih banyak atau justru lebih sedikit.


Gangguan tidur.


Mulai melakukan kebiasaan-kebiasaan tak sehat, seperti merokok, mengonsumsi alkohol, atau minum kopi secara berlebihan.


****


Tinggalkan jejak kalian ya gaes


Like komen atau vote


Kasih hadiah juga ga pa pa


makasih

__ADS_1


__ADS_2