
Sesampainya di rumah Lidya. Ira mengantarnya Lidya masuk ke dalam rumah, dan mereka disambut oleh anak Bastian dan Briand
Bastian penasaran kenapa ibunya tampak lesu dan pucat
"Ibu, ibu kenapa pucat seperti itu? Tanya Bastian kemudian Bastian dan Briand memapahnya dan ira mengikuti dari belakang
"Gapapa sayang, ibu hanya kecapean saja mungkin"
"Yaampun ibu, emangnya ibu habis dari mana? Kalu ayah tau kondisi ibu seperti ini, dia pasti sangat cemas sama ibu"
Ucap Briand
"Kalau begitu, kalian jangan cerita sama ayah ya" pinta Lidya kemudian ia duduk di sofa "dimana Bianka? Katanya ia merengek terus"
"Iya bu, dia lagi melukis di kamarnya. Bastian panggilkan dulu ya"
Lidya mengangguk,dan Bastian pergi ke kamar Bianka. Sementara Briand menemani Lidya
"Ira, kamu boleh pulang, besok kesini lagi oke!! "
"Oh baiklah nyonya, saya pamit dulu"
"Iya"
Kemudian ira pulang ke apartemennya.
Boy mendengar suara orang berbicara di ruang tengah, dia berfikir bahwa ibunya sudah pulang. Kemudian ia keluar dari kamarnya dan menghampiri Lidya.
"Ibu sudah pulang" tanya Boy pada Lidya yang tengah duduk bersama Briand. Kudian ia ikut duduk disana
"Iya Boy" ucapnya singkat dan mulai lagi ia drama agar Boy tidak curiga bahwa Lidya sedang merencanakan sesuatu
"Ibu habis dari mana?" tanya Boy
"Ibu habis dari rumah Lun.. " omg. Aku hampir keceplosan, "maksud ibu, ibu habis dari rumah temen ibu, namanya rani" Lidya berusaha merahasiakan kejadian tadi pada boy, namun tidak berbohong pula
Boy mengerutkan dahinya, dia heran dengan ucapan ibunnya "oh begitu ya" sejak kapan ibu punya teman yang bernama Rani? Ah sudahlah itu bukan urusanku. Batin Boy
"Oo ya Boy, kenapa kamu menghajar pak rudi tadi di rumah sakit? " tanya Lidya pada boy dengan tatapan dingin
Boy ketahuan telah menghajar pak Rudi, dan siap siap ia kena omel lagi
"Emm, karena dia menghalangi Boy masuk ke ruang rawat Luna Bu" ucap Boy
"Kamu keterlaluan tau gak sih Boy, kamu sudah berjanji pada ibu kalau kamu akan berubah, nyatanya kamu masih bersikap arogan seperti itu. Ibu ragu sama kamu Boy"
"Maafkan Boy bu, Boy belum bisa mengontrol emosi Boy, dan Boy melakukan itu karena Boy ingin bertemu Luna Bu"
"Jangan harap kamu bisa bertemu Luna Boy, jika sikap kamu masih seperti itu" ancam Lidya "satu lagi, kamu harus minta maaf pada pak rudi!! Dengar! "
"I iya buu.. Tapi kenapa sih bu, boy hanya ingin bertemu Luna dan minta maaf sama dia"
"Ibu tidak akan ijinkan itu, kamu tau!! Itu sebagai hukuman buat kamu. Karena kesalahan kamu"
"jadi itu hukuman buat Boy? Ayolah bu, boy tidak mau dihukum seperti itu, Boy ingin bertemu Luna. Lebih baik Boy dihukum menjadi kuli bangunan saja, boy gapapa bu" boy berbicara dengan cepat tanpa jeda
Lidya terbelalak mendengar pernyataan Boy
"Hah? Memangnya kamu mau jadi kuli bangunan? "
Boy menggelengkan kepala "nggak mau Bu"
__ADS_1
Mungkin dia hanya keceplosan mengucapkan jadi kuli bangunan itu
Lidya menahan ketawanya
"Tadi katanya gapapa"
Kemudian Boy menjawab dengan ragu ragu
"Ya. Yaa.. Boy cuma protes aja sama hukuman ibu"
"Yasudah terima saja itu hukuman dari ibu, kamu gak boleh bertemu dengan Luna"
"Tapi Bu, sampai kapan ibu mau melarang Boy bertemu Luna? "
"Sampai kamu benar benar berubah Boy"
"Tapi bu, apalagi sii yang salah dari Boy?
"Kamu introfeksi diri lah Boy. Dan ingat orang orang di sekelilingmu akan melaporkan kepada ibu apa saja yang kamu lakukan dan perbuat setiap hari.. Dengar?
Ah sudahlah ibu cape.. " kemudian Lidya bangkit dari duduknya hendak pergi ke kamarnya.
Boy kembali protes dan bersimpuh di kaki Lidya
"Tapi Bu. Boy mohon jangan seperti itu dan jangan hukum Boy untuk tidak bertemu Luna. Boy mohon Bu" ucap Boy dengan kekeh dan berharap Lidya merubah hukumannya
Mendengar ucapan Boy membuat Lidya merasa pusing dan tambah sakit kepalanya, karena boy tidak juga mengerti dan terus merengek seperti itu
Kemudian Lidya memarahi Boy dengan nada tinggi
"Boy hentikan Boy, jangan memohon seperti itu, kesalahanmu sudah sangat patal dan keputusan ibu sudah Bulat dan tidak bisa diganggu gugat" ucap Lidya dengan terengah engah karena emosi
Suara Lidya membuat Boy kaget begitupun Briand dan yang lainnya, Bianka dan Bastian juga mendengarnya ketika mereka menuruni tangga, dan langsung menghampiri Lidya.
"Ibuu... " ucap Briand dan langsung menghampiri lidya begitupun Bastian dan Bianka mereka kaget melihat ibunya tidak sadarkan diri dan bianka menangis
"Ibuu. Ibu kenapa Bu? "Tanya bianka sambil terisak
Kemudian Boy menggendong Lidya menuju kamar Lidya dan membaringkannya di tempat tidur. Bianka terus menangis. Boy, Bastian dan Briand nampak panik saat itu.
"Kakak apa yang kakak lakukan sama ibu? Kenapa kakak buat ibu pingsan? " tanya bianka membentak Boy
"Iya kak, kenapa sih kak? " tanya Bastian dengan nada kesal
"Kakak gak denger sama ucapan ibu, kakak terus mendesak ibu, seharusnya kakak nurut saja sama ibu" ucap Briand dengan membentak Boy.
"Oke oke.. Maafin kak Boy ya, kak boy gak tau kalau ibu akan pingsan" boy panik dan kuatir pada Lidya
Kemudian ketiga adik boy cemberut kepada Boy. Dan mereka kecewa pada Boy
setelah itu Lidya sadarkan diri dan melihat kepada anak anaknya. Boy, Bastian, Briand dan Bianka senang melihatnya dan Bianka langsung memeluk ibunya.
"Ibuu,, huhuu" ucap Bianka dengan menangis
"Kamu kenapa menangs Biy? " tanya Lidya
"Ibu tadi pingsan, pasti karena kak Boy ya?"
"Sudah sayang, jangan nangis ibu gapapa ko. Ibu cuma butuh istirahat" ucapnya dengan lembut pada Bianka
"Maafin Boy ibu" ucap Boy merasa bersalah
__ADS_1
"Sudahlah, kalian tidur sana. Ini sudah malam. Ibu juga mau tidur" ucap lidya pada keempat anaknya
Kemudian Bastian keluar untuk meminta art mengantarkan makanan untuk lidya, dia rasa ibunya belum makan dan memang belum makan lidya itu
"Iya bu... Ibu istirahat ya" ucap Briand disertai anggukan dan senyuman Lidya. Kemudian ia keluar dari kamar Lidya
"Biy mau tidur disini sama ibu" pinta Bianka
"Iya sayang, tidurlah sama ibu" ucap Lidya pada bianka
Sementara Boy masih berdiri disana, kemudian Boy mengambil kursi kecil dan duduk disamping Lidya
Lidya menangis ia tidak bisa menahan air matanya ketika Boy menatapnya. sebenarnya dia sangat menyayangi Boy, dia membentak dan bersikap dingin pada Boy itu hanya menggertaknya supaya Boy berubah menjadi lebih baik lagi. Boy terus menatap Lidya dan ia ikut menangis "maafkan Boy ibu" ucap Boy dengan lirih dan menggenggam tangan Lidya
"Boy.. Ibu hanya ingin kamu berubah. Buanglah sifat burukmu itu, jangan pernah sakiti orang lagi"
"Iya Bu, Boy tau selama ini Boy terlalu kasar sama orang,, Boy gak mau ibu pingsan dan sakit karena Boy. boy akan berusaha berubah.. Doakan Boy ibu"
"Ibu selalu mendoakanmu Boy"
Kemudian Boy mencium tangan Lidya serta dahinya
tidak lama kemudian pelayan masuk membawakan makanan untuk lidya dan Boy menyuapi ibunya. Kebetulan Lidya sedang lapar juga. Karena dia belum makan, Bastian memang selalu perhatian pada Lidya begitupun anaknya yang lain. Mereka sangat menyayangi Lidya.
Keesokan harinya. Lidya merasa enakan dan berencana untuk menjenguk lagi Luna di rumah sakit.
Lidya masih di kamarnya dan sudah terlihat rapih karena sudah mandi begitupun Bianka. Bianka terus bersama ibunya dia ingin menagih janji ibunya
"Ibu, katanya ibu mau belikan Biy oleh oleh, mana oleh olehnya Bu? " tanya Bianka
Lidya menepuk jidatnya "ya ampun sayang, ibu lupa dan gak sempat membelinya" ucap Lidya dia teringat janjinya
"Yaah ibu" Bianka terlihat kecewa
Lidya tersenyum "nanti deh, akan ada yang kirim oleh oleh nya buat Biy" ucap Lidya berusaha menghibur Bianka
"Oo ya bu? Ibu mau belikan Biy apa?" tanya bianka penasaran
"Rahasia dong" ucap Lidya merahasiakan pemberiannya
"Hmm ok deh"
"Oo ya biy, hari ini ibu mau menjenguk Kak Luna di rumah sakit, Biy mau ikut? "
"Emm,, " bianka bingung "memangnya gimana keadaan kak Luna bu?"
"Dia masih di rawat sayang" ucap Lidya dia tidak mau bianka tau kalu Luna masih tidak sadarkan diri dan amnesia
"Biy di rumah aja ya Bu, biy mau selesaikan lukisan Biy yang semalam"
Syukurlah. Batin Lidya. Sebenarnya Lidya tidak mau Bianka ikut dengannya. Karena takut Bianka akan menceritakan keadaan Luna pada Boy
"Ohh baiklah sayang. Kamu tunggu dirumah ya karena nanti akan ada kurir yang akan mengirim sesuatu untukmu"
"Oke ibu. Ucap Bianka nampak senang
Kemudian mereka sarapan pagi, beserta Boy dan yang lainnya. Kali ini Lidya nampak hangat sikapnya pada Boy begitupun Boy senang hari ini pada Lidya
Mereka sarapan dengan tenang.
Aku jangan buat ibu Kecewa lagi. Batin Boy
__ADS_1
Setelah itu, Boy berangkat ke kantor bersama Willy dan Lidya pergi ke rumah sakit menemui Luna.
Meskipun Lidya sudah bersikap hangat pada Boy, ia masih tetap mencegah Boy untuk bertemu Luna.