
Pak Mubin masuk ke dalam kelas Briand, lima detik setelah bel berbunyi.
Beberapa menit kemudian pelajaran di mulai.
Ketika pak Mubin sedang menjelaskan tentang yang di bahasnya pagi itu, Mikha baru datang dan langsung membuka pintu kelas dengan keras
Brukkk... Pintu kelas dibuka sampai terdorong keras dan berbentur ke tembok.
Sontak saja yang di dalam kelas kaget.
"Assalamualaikum.. Pak.. Haaah.. Haah" sapa Mikha dengan ngosngosan
"Waalaikumsalam" ucap pak Mubin sambil mengelus dadanya karena kaget.
"Mikha!!! .. Kamu telat lagi hari ini?"
"Berdiri kamu di depan!!!!" ucap pak Mubin dengan memelototi Mikha sambil menunjuk Mikha dengan pulpennya.
"I.. Iya pak.. Maaf"
Akhirnya Mikha berdiri di depan.
Teman-temannya berbisik membicarakan Mikha sambil menertawai kecil pada Mikha.
"Diam!!!" tegas pak Mubin, karena mendengar muridnya berbisik dan tertawa. Pak mubin sensitif sekali dan tidak suka ada kebisingan apalagi keributan.
Briand tersenyum menyeringai ke arah Mikha dan terus memandang Mikha yang persis di depannya. "Makannya jangan so jual mahal dan menolak kalau diajak bareng, dihukum kan jadinya. Xixixi..." ucap Briand dengan sedikit berbisik pada Mikha, sambil terkekeh.
Mikha hanya memutar matanya seolah tidak peduli dengan ucapan Briand.
"Diam Briand!!" ucap pak Mubin. Ia melirik Briand dengan sinis
Kemudian Briand merapatkan bibirnya dan diam.
Pelajaran di lanjutkan, pak Mubin berdiri di depan sambil menulis dengan spidol di papan tulis.
Briand malah terlihat bosan dengan pelajaran yang diterangkan pak Mubin, pelajaran fisika yang tidak ia sukai. Akhirnya ia tidak memperhatikan apa yang diucapkan pak Mubin. Ia malah menggambar di bukunya.
Kemudian pak mubin tersadar jika Briand tidak memperhatikannya
"Briand!!!!" tegasnya
"Kamu dengar apa yang saya ucapkan barusan?" tanya pak mubin dengan raut wajah datar
"Hah.. Oh, iya pak.." ucap Briand planga-plongo, karena ia tidak menyimak sama sekali dengan apa yang diucapkan pak Mubin.
"Sekarang kamu kerjakan ini di depan.. Ayo!!" titah pak Mubin sambil mengetuk papan tulisnya dengan spidol, usai menulis soal yang harus di kerjakan muridnya di papan tulis.
Briand garuk-garuk kepala yang sebenarnya tidak gatal.
Mikha terlihat menyeringai di sudut bibirnya seolah mengejek Briand
"Ayo Briand! Kenapa diam saja!!!" ucap pak Mubin
Kemudian Briand maju ke depan dengan ragu ragu, ia memegang spidolnya dan hanya menatap papan tulis karena bingung dengan soal yang ia tidak bisa mengerjakannya.
"Hehe.. Gak bisa pak" ucap Briand, ia menyerah
Pak Mubin menggeleng..
"Briand!!! Makannya kamu menyimak apa yang saya jelaskan tadi!!"
"Iya.. Maaf pak". Briand merapatkan tangannya di bawah perutnya
"Sekarang kamu berdiri di samping Mikha, kamu saya hukum!" ucap pak Mubin.
Teman temannya menertawai Briand,terutama Alvin, ia merasa lucu dengan tingkah Briand yang sedang dihukum pak Mubin.
Kemudian Briand berdiri di samping Mikha dan tersenyum pada Mikha, seolah ia senang di sana, Mikha menggeser kakinya menjauhi Briand.
"Briand.. Sebagai hukumannya, kamu nyanyikan lagu indonesia raya.. Ayo!" ucap pak Mubin.
"Lagu indonesia raya pak? Aku gak bisa pak.. Yang lain aja" pinta Briand.
"Kamu ini!!!.. Apa yang kamu bisa sih hah? Lagu indonesia raya saja tidak bisa" ucapnya sambil melotot
"Kalau begitu lagu bendera merah putih. Ayo.." tegas pak Mubin.
Briand terdiam dan berfikir dengan raut wajah memelas.
Haduhh.. Gue mana tau lagu yang begituan.. Batinnya.
"Briand!!!" teriak pak Mubin
"Oh.. Iya.. Iya pak.." ucap Briand dengan terkejut.
Kemudian ia memandang Mikha dan mencari ide padanya. Mikha melihat Briand dengan keheranan.
"Ekhmm.." Briand mengatur suaranya dan ia mendapat ide sekarang, ia malah merayu Mikha dengan lagu jilbab putih yang dinyanyikan gus azmi.
Karena saat itu Mikha memakai kerudung segi empat warna putih yang disenadakan dengan seragamnya.
__ADS_1
"Oii adek berjilbab putih".
"Ini abang jomblo bersedih"
"Maukah adek abang pilih"
"Untuk di jadikan kekasih"
ucap Briand dengan lengkukan suaranya yang persis seperti gus azmi, ia mengucapkannya pada Mikha disertai tawa Teman-temannya.
Mikha membelalakan matanya, ketika Briand mengucapkannya. Seketika saja Mikha malu dibuatnya, karena ditertawai oleh Teman-temannya.
Sontak saja pak Mubin terlihat marah dengan kelakuan Briand, tapi ia juga ingin tertawa sebenarnya.
"Briand!!!.. Kamu di suruh menyanyikan lagu Bendera merah putih malah menggoda Mikha..!" tegasnya
"Hehe..."
"Maaf pak.. Saya tidak bisa menyanyikan lagu yang bapak maksud soalnya" ucap Briand.
"Kamu ini..!"
"Sekarang kamu saya hukum lagi.. Kamu berlari memutari lapangan seratus kali.. Sekarang juga!!!"
"Lhaa.. Tapi pak.." Briand hendak protes
"Cepat....!" tegas pak Mubin
"Tapi sama Mikha pak.."
"Mikha juga harus dihukum dong, waktu itu Mikha pernah bilang kalo pak Mubin itu jelek, udah jelek galak lagi" ucap Briand
"Apa??" ucap pak Mubin tidak menyangka
Bukk....
Mika memukul bahu Briand dengan kesal
"Apaan sih kamu Bray!!!" Mikha kesal
"Iya kan? Kamu bicara begitu waktu itu?" ucap Briand seolah mengingatkan Mikha, seraya tersenyum penuh kemenangan, sebenarnya ia sengaja mengucapkan itu agar bisa dihukum bareng sama Mikha.
"Apa benar begitu mika?" tanya pak Mubin
"Mmm.. Maaf pak" Mikha merunduk dan mengakuinya, karena memang dulu pernah berkata seperti yang diucapkan Briand barusan, waktu itu ia keceplosan mengatai pak Mubin dan tidak sengaja didengar oleh Briand.
pak Mubin menggeleng
"Kamu juga saya hukum Mikha ..!"
"Jangan dong pak..saya minta maaf sekali pak" ucap Mikha dengan memohon pada pak Mubin
"tidak bisa,,, juga Karena kamu sering telat saat datang pelajaran saya, sana pergi"
Mikha memelas dan cemberut, sementara Briand tersenyum kegirangan
"Ayo Mikha..." ajak Briand dengan semangat mendahului Mikha keluar kelas menuju lapangan.
Dengan terpaksa Mikha mengikuti hukuman pak Mubin dan ia berlari keluar menyusul Brian.
Gara-gara Briand. Gerutunya dalam hati.
Sampai di lapangan.
Briand berdiri di lapangan dan melakukan pemanasan sebelum berlari, mika berada di belakangnya dengan raut wajah cemberut pada Briand, sementara Brian tersenyum pada Mikha.
Mikha menyimpan tasnya dan jas kebangsaan sekolahnya di kursi dekat lapangan basket itu. Kini hanya memakai seragam putih dan kerudung putih serta rok hitam lebar panjang sampai mata kaki.
"Ngapain si kamu pake ngadu segala sama pak Mubin?" tanya Mikha dengan ketus
"Kenapa? Yaa gapapa dong.. Jadi kita bisa lari bareng kan disini"
"Ayo.." Briand berlari duluan
"Briand,, kamu tega banget tau gak.."
"Aku udah cape lari tadi waktu berangkat sekolah, sekarang harus berlari lagi seratus putaran. Haaah..."
Gerutu Mikha sambil berlari dibelakang Briand
"Nikmati saja Mikha.. Hahaha"
Ucap Briand
"Nikmati pala mu...!!!" ledek Mikha
"Sorry deh.. Nanti aku traktir kamu beli cilok sebagai permintaan maafku.. Haha"
Briand tertawa
"Gak usah ya.. Makasih" ucap Mikha dengan sebalnya
__ADS_1
Briand terus tertawa
"O ya mik.. Kamu kan mau jadi atlet lari, benar kan?"
"Jadi.. Ayo kita lari,, semangat semangat..." ucap Briand sambil menepuk nepuk tangannya seolah menyemangati Mikha
"Tau dari mana kamu?" tanya Mikha dengan ketus
"Yaa dari ayahmu lah.."
"Ish.. Ngapain sih ayah banyak ngomong sama orang kayak kamu!"
"Kenapa? Dia emang bercerita banyak tentang kamu mik.. "
"Ck... Apa apaan sih..."
Mikha nampak tidak suka
Briand terus mengajak bicara Mikha selama mereka berlari. Hanya ada mereka berdua di sana, karena semua murid masih belajar di dalam kelas.
Tak. Tak.. Tak... Suara sepatu beriringan sepanjang mereka berlari
"Sepuluh .... " teriak Briand ketika mendapat sepuluh putaran
"Sebelas.." teriak Briand ketika baru setengah putaran menuju sebelas putaran
"Briand yang benar ngitungnya..!" teriak Mikha.
"Biar cepat selesai mik.. Hahaaha" ucap Briand
"Dua belas..." ucap Briand, sengaja mempercepat hitungannya.
Mikha hanya terkekeh mendengar Briand teriak sambil mencurangi hitungannya. Akhirnya Briand mengajak Mikha becanda untuk mengurangi rasa lelah saat berlari. Otomatis mereka tertawa tawa sambil berlari
Sampai beberapa putaran, mereka mulai merasa lelah, dan berlari dengan pelan.
"Lima puluh enam..haaah haaah. Haaahh." ucap Briand dengan ngosngosan karena cape.
"Haha... Briand.. Kita baru tiga puluh putaran!" ucap Mikha mengingatkan
"Mik.. Ikutin hitungan aku, biar cepet selesai" ucap Briand.
"Curang itu namanya" timpal Mikha
"Gapapa... Pak Mubin gak bakalan tau kan, dia gak pernah memperhatikan kalau lagi menghukum"
"Serah kamu lah" ucap Mikha
Mereka terus berlari sampai beberapa saat
"Seratuuuusss..." ucap Briand mengakhiri berlarinya
Dan duduk selonjoran di atas lapangan, beserta Mikha duduk di samping Briand, melepas penat.
"Briand,,, belum selesai.. Kamu mah curang ih" ucap Mikha, ia menopangkan tangannya di lutut.
"Udah mik.. Duduk sini.." ajak Briand sambil menepuk kesampingnya.
Akhirnya Mikha ikut saja duduk di sana.
"Kaki.. Kuuu... " ucap Mikha dengan merengek, ia merasakan kakinya sakit dan pegal. Ia memijit kakinya.
"Sakit ya?" tanya Briand
"Sini aku pijit"
"Gak usah Briand" timpalnya sambil menghindarkan kakinya dari Briand.
"Sorry ya mik.. Gara-gara aku, kamu jadi kena hukum, coba saja tadi aku ngajak kamu naik mobil, kamu gak bakalan kena hukum" ucap Briand
"Hah baru nyadar kamu? Resek banget si.."
"Hehe... Tapi seru kan dihukum barengan sama aku.."
Ucapnya tanpa merasa bersalah.
"Seru dari hongkong.."
Hening...
Briand larut dalam lamunannya, ia merasa pangling dengan Mikha, karena kali ini Mikha terlihat sering senyum dan ramah sama orang, tutur katanya juga lebih sopan sekarang. Mungkin berkat tante Rosa. Batinnya.
"O ya mik,, gimana sekarang kamu sama bundamu?"
"Gimana apanya Bray?" tanya Mikha
"Hubunganmu"
"Mm... Alhamdulillah baik,, dia sayang banget sama aku. Hehe"
"Benarkan apa kataku waktu dulu.. Aku senang mendengarnya"
__ADS_1
"Hmm.. Yaa Briand".
Tidak lama kemudian bel berbunyi lagi. Menandakan waktu istirahat telah tiba. Akhirnya Briand dan Mikha tidak ikut pelajaran fisika pagi itu, antara senang dan tidak dihati mereka, pasalanya mereka berdua tidak menyukai pelajaran fisika.