
Hari berganti minggu, minggu berganti bulan, alhamdulillah bumi masih berputar pada porosnya. Kita selalu di berikan kesehatan dan panjang umur oleh Allah Subhanahu Wata'ala, begitu juga Luna dan Boy.
Kini telah tiba saatnya Boy melaksanakan janjinya pada Luna, mereka beribadah umroh bersama pada bulan itu. Dengan selamat dan lancar sampai beberapa hari di tanah suci dan kembali lagi ke tanah air dengan sehat walafiat. Semoga begitu selalu.
Aku memohon ampun kepada Allah, jika langkahku dalam kisah ini terlalu melampaui batas. Semua kesalahan dan khilaf mutlak karena kebodohanku. Adapun benar dan bermanfaat, itu berkat kasih sayang Allah Subhanahu Wata'ala. Kesempurnaan hanya milik-Nya.
******
Hari ini ceritanya sudah selesai pembangunan toko Luna. Kini tokonya sudah mulai bisa untuk digunakan. Semua sudah rapih dan lengkap semua perabotan yang akan dipakai untuk membuat roti dan semacamnya.
Luna terpana dengan desai toko barunya, pasalnya semenjak dibangun Luna tidak diperbolehkan melihat toko itu, dan kini sesudah selesai, Luna dapat melihatnya. Ia merasa benar benar telah mendapat kejutan yang besar pagi itu.
Ia masih berdiri di depan tokonya disamping Boy, ucap syukur ia panjatkan selalu. Ia sangat senang sekali. Begitu juga Boy, ia senang melihat Luna senang, karena membahagiakan istri itulah prioritasnya.
Ia melihat lihat ke dalam toko, semua yang ada di dalamnya serba baru dan kekinian. Toko itu berlantai dua, untuk bagian atasnya digunakan sebagai tempat ruangan Luna. Ada tempat tidur dan kamar mandi di sana. Seperti kamar pribadi. Tempat untuk latihan memanah masih ada di bagian bawah.
Serta penambahan penjaga untuk toko itu juga sudah di siapkan Boy. Di samping toko Luna dibangun pos untuk satpam dan beberapa penjaga. Kini tempat itu terpantau dan aman sekarang.
Tiada daya dan upaya melainkan dengan Allah
Next
Pada hari berikutnya akhirnya toko mulai dibuka untuk hari pertama. Semua karyawan terlihat sangat senang dan nyaman sekali dengan tokonya yang baru. Mereka mulai sibuk hari itu, karena pelanggan sudah menunggu hampir dua bulan lamanya. Hingga akhirnya waktu pertama kali toko buka, pelanggan langsung menyerbu toko roti Luna. Hari itu Luna memberikan gratis untuk semua jenis kue dan minuman di sana kepada setiap pengunjung.
Tidak lupa juga ia menyiapkan beberapa bingkisan untuk dibagikan kepada anak anak jalanan dan petugas penyapu jalan, juga kaum duafa yang ia temui.
Hingga akhirnya ia menemui anak anak yang tengah beristirahat di sebuah taman terbuka. Mereka tengah duduk dibawah pohon yang rindang. Sekitar 10 orang jumlah mereka.
Luna menghampirinya seraya mengucap salam
"Assalamualaikum" sapa Luna.
"Waalaikumsalam" jawab mereka.
"Hai adek adek lagi apa?"
__ADS_1
"Lagi istirahat kak"
"Kok pada gak sekolah?"
"Hari ini libur kak, jadi kami mencari rongsok untuk mengisi waktu luang"
"Masyaallah,, kalian harus semangat ya sekolahnya, semoga kalian menjadi anak yang sukses." ucap Luna
"Aamiin,, terima kasih kak" jawab mereka
Kemudian Luna membagikan makanan yang di bawanya pada mereka. Betapa senang sekali mereka dan langsung menyantapnya bareng bareng. Luna memperhatikan mereka dengan seksama dan mengajak mengobrol basa basi dengan mereka
"Kak Luna, sudah lama kami tidak mendengarkan kisah dari kak Luna,, ayo cerita lagi kak" pinta salah seorang anak gadis yang masih duduk di bangku SD.
"Iya kak. Ayo kak" ucap salah satu dari mereka. Mereka sangat antusias ingin mendengarkan sebuah kisah dari Luna.
Luna sangat senang jika mereka selalu ingat dan ingin mendengar kisah darinya, karena Luna selalu menceritakan kisah insfirasi untuk mereka
"Baiklah baiklah.. Harap duduk dengan tenang ya adek adek, dengarkan kisahnya ya... "
Ini kisah di zaman Rasulullah
Ghabah adalah perkampungan yang berjarak sekitar empat atau lima mil dari Madinah. Baginda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wassalam biasa membiarkan unta untanya digembalakan di sana. Suatu ketika, sekelompok orang kafir yang di pimpin oleh Abdurrahman Farazi merampok unta unta tersebut dan membunuh pengembalanya. Para perampok itu berkuda dan bersenjata.
Pagi itu kebetulan sayyidina Salamah bin Akwa' sedang berjalan-jalan sendirian menuju Ghabah, sambil membawa panahnya. Secara kebetulan ia melihat perampokan tersebut. Sayyidina Salamah terkenal dengan kecepatan larinya yang tak tertandingi. Begitu cepat larinya sehingga ia dapat mengejar seekor kuda dan kuda tidak dapat mengejarnya. Maa syaa Allah... Luar biasa sekali bukan?
Selain itu, ia juga terkenal dengan kehebatannya dalam memanah.
Sayyidina Salamah segera naik ke sebuah bukit, lalu menghadap ke arah Kota Madinah dan berteriak sekuat tenaga untuk memberitahu tentang perampokan tersebut. Kemudian, ia mempersiapkan panahnya dan mengejar para perampok itu. Ketika hampir mendekati para perampok, ia menghujani mereka dengan anak anak panahnya, sehingga para perampok itu mengira bahwa yang mengejar mereka sebuah pasukan besar. Padahal sayyidina Salamah seorang diri. Bahkan ia hanya berjalan kaki. Ia terus mengikuti para perampok itu sambil menghujani dengan anak panah. Jika ada perampok yang menoleh ke belakang, ia segera bersembunyi di balik pepohonan. Dari balik pohon-pohon itu ia memanahi kuda kuda mereka hingga kuda-kuda itu terluka. Akhirnya mereka berfikir "jika kudaku jatuh, aku akan tertangkap".
Selanjutnya sayyidina Salamah bercerita "aku terus mengejar para perampok, dan mereka terus berlari serta meninggalkan unta unta yang telah mereka rampok. Bahkan untuk meringankan beban, mereka membuang 30 buah lembing dan 30 helai kain. Saat itu, Uyainah bin Hishn bersama kelompoknya, datang membantu para perampok itu sehingga kekuatan mereka bertambah. Akhirnya mereka mengetahui bahwa aku hanya sendirian. Maka mereka membentuk sebuah kelompok untuk mengejarku.
Aku segera menaiki bukit. Dan mereka pun mengejarku ke bukit. Ketika mereka hampir mendekatiku, aku berteriak 'tunggulah sebentar, dengarlah kata kataku. Tahukah kamu siapa aku?'. Mereka bertanya 'siapa kamu?'. Jawabku 'aku adalah Ibnu Akwa', demi Dzat yang memuliakan Baginda Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wassalam, siapapun dari kalian yang ingin menangkapku, tidak akan dapat menangkapku, tetapi jika aku ingin menangkap kalian, maka tidak akan lolos dariku'.
Karena ia terkenal jago lari, sehingga kuda Arab yang tercepatpun tidak dapat menandinginya, maka perkataan itu bukanlah cuma sebuah gertakan.
__ADS_1
Sayyidina Salamah melanjutkan "demikianlah aku terus-menerus berbicara pada mereka sambil menunggu bala bantuan. Aku berharap semoga Kaum Muslimin segera datang membawa bala bantuan, karena teriakanku tadi. Tak lama kemudian ku lihat di balik pepohonan ada berkuda datang. Yang terdepan adalah sayyidina Akhram Asadi Radhiyallahu 'anhu. Ia datang langsung menyerang Abdurrahman Farazi. Abdurrahman Farazi membalas serangan sayyidina Akhram.
Sayyidina Akhram menyerang kaki kuda Abdurrahman Farazi, sehingga kaki kudanya patah dan Abdurrahman terjatuh. Pada saat terjatuh, Abdurrahman balik menyerang sayyidina Akhram sehingga ia mati syahid. Akhirnya kuda sayyidina Akhram diambil oleh Abdurrahman. Tiba-tiba sayyidina Qatadah Radhiyallahu anhu menyerang Abdurrahman dari belakang. Abdurrahman pun menyerang kaki kuda sayyidina Abu Qatadah, sehingga ia terjatuh dari kudanya. Ketika terjatuh, Abu Qatadah berhasil menyerang Abdurrahman sampai tewas. Lalu kudanya di kendarai oleh sayyidina Abu Qatadah, yaitu kuda milik akhram radhiyallahu anhu... Jadi begitulah perbuatan Abdurahman di balas lagi oleh Abu Qatadah."
"Di riwayatkan bahwa yang mati syahid dalam peristiwa itu hanya sayyidina Akhram Radhiyallahu anhu, sedangkan dari pihak perampok banyak yang mati."
"Nah pada waktu datangnya bala bantuan dari kaum muslimin, para perampok segera melarikan diri, sayyidina salamah meminta kepada Rasulullah agar diberi seratus orang pasukan untuk mengejar mereka. Beliau menjawab "mereka mungkin sudah bergabung dengan kabilahnya"
"Selesai sudah ceritanya anak anak.. " ucap Luna dengan senyuman sambil menepuk tangannya
Anak anak itupun bertepuk tangan dan senang sekali mendengarkan sebuah kisah dari Luna.
"Kak Luna, usia sayyidina salamah berapa tahun? "
Tanya salah seorang anak itu
"Mm. Kebanyakan ahli sejarah menulis bahwa usia Salamah saat itu 12 atau 13 tahun. Bayangkan, seorang anak berusia 12 atau 13 tahun sudah dapat melawan sekelompok perampok berkuda dan membuat mereka kalang kabut. Bukan saja barang rampokan yang mereka tinggal, tapi barang mereka sendiripun tertinggal."
"Itulah berkah keikhlasan yang diberikan Allah Subhanahu wata'ala kepada Para Sahabat. "
"Luar biasa sekali ya, kak Luna"
"Benar sekali, kalian juga luar biasa.. Masih kecil sudah mau membantu orang tua mencari uang, tetap semangat ya adek adek.." ucap Luna
"Iya kak.. "
"Kak Luna terima kasih ya sudah mau berbagi cerita sama kita"
"Sama sama,, kak Luna senang bila bercerita sama kalian, semoga bermanfaat ya"
"Tentu kak" jawab mereka
Dari perjalanan Willy tengah mengemudi, mengantar Boy rencananya ingin mengajak Luna makan siang di sebuah restoran. Dari kejauhan willy melihat Luna tengah duduk di rumput taman bersama anak anak, karena kebetulan lewat taman tersebut.
Willy memperhatikan dengan seksama, memastikan itu benar Luna.
__ADS_1