
"Percuma Boy kamu ke rumah sakit, Luna sudah pulang"ucap mirza memberitahu Boy,
"Apa? Kenapa ibu tidak memberi tahuku? "
"Ayah tidak tahu boy"
Boy terlihat kesal kembali kepada Lidya..kemudian ia kembali membereskan barang barang yang berantakan dengan gusar.
"Yang bener Boy kamu membereskannya, masa seperti itu,, yang rapih itu" ucap Mirza, ia protes pada Boy karena tidak benar membereskannya.
*****
Sementara di rumah Luna, Rani telah selesai melihat lihat isi rumahnya, ia kembali menemui Lidya yang tengah duduk di sofa
"Nyonya, rumahnya sangat bagus,, terimakasih nyonya ini terlalu berlebihan buat kami rasanya"
"Tidak usah seperti itu, saya senang ko memberikannya untuk kalian, semoga kalian betah ya di sini"
"Kami akan sangat betah nyonya"
"Itu harus Rani, satu lagi kamu tidak usah bingung untuk gaji art dan penjaga, itu semua sudah saya yang tanggung, kamu juga tidak usah bekerja saya akan memberikan kartu kredit untuk kamu pakai, ini terimalah kamu bisa menggunakannya sesukamu" ucap Lidya sambil menyodorkan kartu kredit tersebut pada Rani
Rani merasa tidak percaya dengan apa yang dikatakan Lidya, ia tak menyangka akan menjadi kaya hanya dalam sehari, ia merasa tidak enak menerimanya "tidak usah Nyonya, saya juga tidak tau bagaimana cara memakainya"
Lidya tersenyum "nanti aku akan ajarkan bagaimana cara memakainya, tolong terima dulu, yang satu ini buat Luna, oke" ucap Lidya ia menyerahkan dua kartu tersebut pada rani.
"Emm, baiklah nyonya, terima kasih banyak" dan rani menerimanya
Sebenarnya seberapa kaya sih nyonya ini, dan sangat baik sekali padaku dan Luna. Aku sangat bersyukur sekali bertemu dengannya. Batin Rani
"Sama sama Rani" ucapnya dengan senyum tulus ia senang Rani menerima pemberian nya. "Luna sedang apa ya? Kenapa belum muncul? " sambungnya ia melihat ke sekeliling mencari Luna
"Sepertinya tadi langsung ke kamarnya nyonya dia sangat menyukai sekali desain kamarnya. Hehe
Dan ira melihat ke dapur melihat pelayan sedang memasak, "
"Oh begitu ya, sukurlah kalau luna menyukainya, kamu harus terbiasa hidup seperti ini rani, tapi tatap kita rendah hati dan tidak boleh sombong" ucap Lidya dengan senyum manisnya
"Itu benar nyonya, saya akan mensyukuri pemberian nyonya ini tentunya ini adalah rezeki dari Allah" ucap Rani dengan tulus.
"Kamu benar Rani, satu hal lagi yang saya inginkan. Saya ingin Luna seperti seorang putri, saya ingin kamu mendukung saya, dia akan berubah tidak seperti dulu lagi. Dia akan harus terlihat anggun dan cantik, dia harus berubah baik dari cara berjalannya maupun berpakaian nya, tatapan matanya, bicaranya, maupun prilakunya. Kamu tidak keberatan kan Rani" pinta Lidya sambil membayangkan Luna yang telah berubah nantinya
"Saya sangat setuju nyonya, karena selama ini mungkin saya dan bapaknya terlalu kasar mendidik Luna, hingga dia tumbuh menjadi terlalu berani dan agak tomboy juga. Hehe"
"Nah itu, aku ingin Luna berubah, supaya Boy pangling dan tidak mengenali Luna, jika suatu saat Luna bertemu dengan Boy"
"Baik nyonya " Ucap Rani kembali menyetujuinya
Kemudian Luna muncul dari kamarnya dan menghampiri Lidya serta Rani. Dia terlihat senang sekali dan ia duduk disamping Lidya. Lidya tersenyum padanya "kamu senang sayang? "Ucap Lidya
"Aku sangat senang ibu, aku tidak menyangka punya kamar sebagus itu," ucapnya kemudian memeluk lidya
__ADS_1
"Ibu sangat senang mendengarnya" ia membalas pelukan Luna "bukalah cadamu karena di sini tidak ada laki laki, nanti kalau kamu keluar baru memakainya lagi ya" pinta Lidya
"Oh baiklah bu" kemudian Luna membuka cadarnya
"Ibu aku ingin tau bagaimana aku bisa amnesia, ibu sudah berjanji akan memberitahuku kan setelah aku sembuh" pinta Luna
Degg. Lidya kaget dengan pertanyaan Luna, ia menatap ke arah Rani sejenak seolah meminta pendapat. Rani menganggukan kepalanya
"Baiklah sayang, tapi kamu jangan benci ya sama ibu" ucap Lidya
"Lhoh kenapa aku harus benci sama ibu? Memangnya ibu yang buat aku amnesia? "Tanya Luna
"Em bukan sayang, tapi anak ibu, namanya Boy yang buat kamu seperti ini"
Kemudian Luna melepas pelukannya
"Boy? " tanya Luna
"Iya nak, kamu ingat? " ucap Lidya
"Aku nggak ingat Bu, tapi kenapa dia lakukan itu pada Luna? "
"Dia sudah melakukan kesalahan Nak, dia pikir kamu akan bisa melawan keempat pengawalnya, tapi ternyata kamu malah terluka Luna" jelas Lidya
"Aku melawan pengawal nya? Aku tidak paham ibu"
"Iya neng, kamu kan jago sekali bela diri, jadi nak Boy ingin menguji kemampuan mu, mungkin seperti itu" ucap rani
"Itu benar nak" ucap Lidya
Ucap Luna dengan raut wajah kesal
"Kamu benar, tapi percayalah dia sangat menyesali perbuatannya, dia juga ngotot ingin bertemu denganmu, tapi ibu melarangnya "
"Benarkah ibu? Aku tidak mau bertemu dengannya bu" ucap Luna
"Kamu tidak mau? "
"Iya"
"Ohh baiklah, ibu tidak akan mempertemukanmu dengan Boy, sampai kamu mau memaafkannya"
"Aku ingin sembuh dulu amnesiaku bu, baru aku akan memaafkannya"
"Iya Luna, kamu harus semangat untuk sembuh amnesiamu oke" ucap Lidya memberi semangat.
Kemudian Luna tersenyum dan menganggukan kepalanya.
Rani merasa senang karena Luna sangat dekat sekali dengan Lidya dan Lidya sangat menyayangi Luna.
Tiba tiba ira datang dari dapur dan memberitahu Lidya bahwa makan siang sudah selesai.
__ADS_1
"Nyonya, waktunya makan siang"
"O iya, ayo kita makan dulu, setelah makan kita bicara lagi oke" ucap Lidya pada Luna dan Rani
"Iya bu" ucap Luna.
Kemudian mereka makan siang dengan tenang. Setelah selesai mereka langsung kembali berbincang, kali ini Rani mengatakan siapa sesungguhnya Luna.
Mereka kembali duduk di sofa
"Nak kamu harus tau, sebenarnya kamu bukan anak emak, ayah dan ibumu sudah meninggal sejak kamu lahir sudah yatim piatu"
"Jadi Luna tidak punya ayah dan ibu kandung? "
"Iya nak" ucap rani
"tidak apa, karena Luna sudah punya dua ibu yang sangat baik sekali pada Luna" ucap Luna sambil menatap Lidya dan Rani dengan tersenyum
Lidya dan rani juga tersenyum pada Luna
"Kamu harus mendoakan ayah dan ibu kandungmu ya sayang" ucap Lidya
"Iya ibu, aku akan selalu mendoakan mereka juga kalian ibu dan emakku" ucap Luna.
"Kamu memang anak yang baik Luna" puji Lidya
Kemudian Rani menceritakan bahwa ibu kandung Luna adalah adiknya, namanya Rena dan ayahnya Luna bernama Luki. Seketika Luna teringat dengan mimpinya ketika di rumah sakit dan ia menceritakan itu kepada Rani dan Lidya dan menyampaikan pesan dari kedua orang yang berada di dalam mimpinya itu. Dan Rani beranggapan bahwa itu adalah ruh Rena dan Luki, Luna terlihat senang karena telah bertemu dengan ayah dan ibunya walau lewat mimpi. Kemudian Luna juga menanyakan suaminya Rani, kemudian Rani menceritakan bahwa suaminya atau bapak angkat Luna telah meninggal dunia ketika Luna terbaring tidak sadarkan diri di rumah sakit seketika pula Luna merasa sedih dan ia meminta supaya ia bisa berziarah ke makam bapak angkatnya juga makam orang tua kandungnya, Lidya dan Rani mengijinkannya jika Luna sudah benar benar sembuh dari amnesianya. Luna pun menyutujuinya, Rani juga menceritakan tentang Rendi. Luna mendengar cerita Rani ahirnya kini dia tau sedikit demi sedikit masalalunya.
Tidak terasa waktu sudah mulai sore, Lidya hendak pulang dulu ke rumahnya karena ada janji bersama Mirza untuk berkunjung ke rumah Sam.
Ira teringat dengan Bunga yang diberikan Boy untuk Luna waktu di rumah sakit, bunga tersebut masih di dalam Mobil.
Ira menepuk jidatnya, "ya ampun nyonya, bunga dari Bos Boy masih di dalam mobil, saya akan ambilkan dulu ya" ucap ira ia segera bangkit dari duduknya
"Oh iya ira, cepat ambilkan"ucap Lidya
Luna terkejut ketika ia tau bahwa bunga tersebut dari Boy "hah apa? Jadi bunga itu dari kak Boy ya Bu? " tanya Luna
Upss, kenapa Ira menyebut bahwa bunga itu dari boy, bisa gawat ini. Batin Lidya
"Emm iya nak, sebenarnya bunga itu dari Boy"
Ucap Lidya berterus terang
"Huhh aku tidak mau bunga itu, buat mbak ira saja" ucap Luna
"Apa? Bunga sebanyak itu untuk saya? "Ucap ira
"Kamu jangan seperti itu neng" ucap Rani "itu pemberian dari nak Boy sebagai bentuk permintaan maafnya sama kamu" sambungnya
"Tapi aku masih kesal sama dia bu" ucap Luna dengan cemberut. "Yasudah emak yang simpan ya" pinta Luna.
__ADS_1
Rani menghela nafas "hm baiklah nak, emak yang akan menyimpannya."
Luna terlihat senang dan ira membawakan bunga tersebut dari mobilnya kemudian menyimpannya di kamar Rani