
Luna keluar dari kamarnya, ia mencari kamar milik Lidya ada yang ingin Luna sampaikan pada Lidya.
"Yang mana kamar ibu ya? " Luna bertanya pada diri sendiri. Kemudian ia mengetuk satu kamar yang ia kira itu kamar Lidya.
Tuktuktuk. Pintu di ketuk Luna
Ternyata Briand yang membukanya.
"Kak Luna ada apa? " tanya Briand
"Oh aku pikir ini kamar ibu" ucap Luna
"Kamar ibu yang itu kak nomor 312" ucap Briand sambil menunjuk kamar tersebut.
"Oh makasih Briand, maaf mengganggu mu Ya" ucap Luna dengan senyumnya
"Is oke ka, santai aja" ucapnya.
Dan Briand kembali menutup pintunya.
Luna menghampiri kamar nomor 312 tersebut, belum Luna mengetuk pintunya Lidya sudah duluan membukanya. Dan keluar bersama Mirza
"Eh Luna, kebetulan.. Ayo kita makan siang dulu" ajak Lidya pada Luna.
Luna tersenyum dan meng iyakan ajakan Lidya.
Sepertinya nanti saja aku bicaranya sama ibu habis makan. Batin Luna.
Kemudian mereka pergi ke ruangan khusus untuk mereka makan siang di sana yang sudah di siapkan oleh pelayan.
Anak anak Lidya dipanggil oleh pelayan mereka masing masing untuk makan.
Sampai akhirnya mereka sudah berkumpul dan makan siang bersama siang itu.
Lidya melihat Luna nampak diam saja
"Kamu kenapa nak? " tanya Lidya.
"Mm ibu kak Boy kok belum ada kabar ya, Luna kuatir karena biasanya dia gak pernah absen beri kabar Luna" ucapnya
"Ooh begitu. Ya sudah ibu coba telpon ya"
Kemudian Lidya menelpon Boy.
"Kok gak aktif ya? " tanya nya sambil melihat ke ponselnya
"Masa sih bu, biasanya aktif terus si Boy" ucap Mirza
"Coba telpon Willy "
"Iya ayah,, "
Kemudian Lidya menelpon Willy
"Gak diangkat ayah, kenapa ya? " Lidya mulai kuatir.
"Lagi sibuk mungkin Bu" ucap Bayu
"Biasanya kalau lagi sibuk juga dia sempatkan untuk mengangkat telpon dari ibu" ucapnya sambil terus menelpon Willy.
Sampai akhirnya ada yang mengangkat tapi bukan Willy
"Hallo assalamualaikum " yang mengangkat telponnya wanita
"Waalaikumsalam, loh ini bukan Willy? " tanya Lidya
"Iya nyonya, saya Ayu ibunya Willy" ucap Ayu ternyata
"Ya ampun, apa ponsel Willy tertinggal di rumah ya? " tanya Lidya
"Sepertinya begitu nyonya, ada apa nyonya? " tanya Ayu
"Mm tidak ada mbak Ayu, ya sudah terima kasih ya"
"Oh baiklah nyonya"
"Assalamualaikum "
"Waalaikumsalam "
. tutututt. Telpon di tutup
"Willy gak bawa hp Bay, Boy gak aktif nomornya"
Luna dan Lidya mulai kuatir.
"Telpon Bastian Bu" ucap Mirza.
Dan Lidya menelpon Bastian tapi juga tidak di angkat.
"Gak aktif juga ayah.. Aduuh kenapa ya.. Ibu kuatir tau"
Luna mulai gelisah, dia jadi tidak nafsu makan karena kuatir sama suaminya itu.
Ya Allah ada apa ini? Kenapa tiba tiba semuanya tidak bisa dihubungi. Batin Luna.
__ADS_1
Semuanya mulai kuatir dan bertanya tanya pada diri mereka masing masing.
"Ibu tenang saja, kita coba nanti telpon lagi ya" ucap Mirza.
"Hmm iya ayah"
"Ayo semuanya habiskan makan siangnya ya" ucap Mirza dengan senyum tipisnya.
"Baik ayah" ucapnya.
"Kak ipar kok makannya sedikit" tanya Bayu
"Aku sudah kenyang Bayu " jawab Luna. Kemudian ia hanya diam di sana dan masih memikirkan suaminya.
"Tenang saja kak ipar, kak Boy akan baik baik saja" ucap Briand "
"Iya terimakasih Briand " ucap Luna dengan senyumnya.
******
Sampai malam hari tiba Boy dan Bastian belum bisa di hubungi.
Luna makin gelisah, tidak biasa ia seperti ini, ia mencoba menenangkan diri. Dan ia pergi ke kamarnya Bianka supaya ada temannya.
Tuktuktuk, "Biy boleh kak Luna masuk" tanya Luna
Kemudian Bianka membuka pintu dan mengajak Luna masuk
"Ka Luna ayo masuk temenin Biy ya" ucapnya dengan senang hati.
"Terima kasih Biy"
Luna masuk dan duduk di sofa. Sementara Bianka asik kembali menggambar di mejanya sambil nyanyi nyanyi.
"Kak Boy sudah ada kabar belum kak? " tanya Bianka
"Belum dek, kak Luna jadi kuatir " ucapnya dengan melamun
"Kenapa ya kak hmm"
"Gak tau dek"
Bianka masih fokus pada gambarnya
"Kak Luna tidur saja di sini temenin Biy ya" pinta Bianka kembali
"Mm boleh,, kalau gitu kak Luna rebahan dulu ya"
"Iya kak" Bianka nampak senang
Kemudian Luna rebahan di kasur Bianka, dan hampir terlelap karena ngantuk.
*****
dan beristirahat di sana.
"Willy mana ponselku kok belum datang sii" tanya Boy pada Willy
"Maaf bos tadi siang saya kelupaan tidak langsung menyuruh orang buat belikan ponsel yang baru.. Hehe. Tapi nanti sebentar lagi juga sampe bos sabar ya!!.. " ucap Willy.
"Ck.. Ah kau gimana sih Will"
Ucap Boy kesal.
Sebenarnya ponsel Boy terjatuh ketika ia baru turun dari pesawat waktu itu Boy hendak memberi kabar pada Luna. dan ponsel tersebut jatuh kemudian tidak sengaja kena tiban koper yang sedang diangkut oleh pekerja bandara. Alhasil ponsel Boy retak dan tidak bisa di pakai. Kemudian ia menyuruh Willy membeli hp baru.
Willy juga membeli ponsel baru karena punya nya tertinggal di rumah.
Tidak beberapa lama kemudian ponsel yang ditunggu sudah sampai diantar oleh orang suruhan Willy.
"Nah ini Bos, sudah bisa di pakai" ucap Willy menyerahkan ponselnya.
"Ini pasangkan SIMcard nya." ucap Boy menyerahkan kartu simnya.
Dan willy memasangkan kartu tersebut.
"Sudah Bos"
Ia menyerahkan ponsel tersebut pada Boy
Boy hendak menelpon Luna tapi dia merencanakan sesuatu untuk mengerjai Luna
"Willy aku pinjam ponselmu" pinta Boy.
"Buat apa Bos? "
"Aku mau mengerjai Luna, sini"
"Ck. Ya sudah ini" Willy terpaksa memberikan ponselnya
Kemudian Boy cengengesan dan mulai menelpon Luna, ia sengaja mengubah nada bicaranya agar tidak di kenali Luna.
Dreeeeedd dreeeddd.. Ponsel Luna berbunyi
Luna langsung terperanjat dan ia mengira telpon dari Boy. Tapi ternyata dari nomor yang tidak ia ketahui. Namun Luna tetap mengangkatnya.
__ADS_1
"Hallo assalamualaikum " sapa Luna
"Ekhmm.. Waalaikumsalam " jawab Boy dengan suara barunya sambil senyum senyum sendiri
"Iya siapa ini? " tanya Luna penasaran
"Mm aku penggemar mu. Namamu Luna kan?" tanya nya
"Penggemar? Iya saya Luna"
"Kamu siapa? "
"Aku Bo.. Em aku beni" ucap Boy hampir keceplosan.
Luna mulai curiga.
"Beni? Beni yang mana ya? Baru tau aku"
"Iya,, aku pelanggan setia di tokomu Luna".
"Aku kenal semua pelangganku, perasaan tidak ada yang bernama Beni.. " ucap Luna sambil berfikir. Mengingat ingat siapa Beni
"Kamu lupa lagi mungkin Luna" ucap Boy. "
Tunggu. Kok suaranya mirip kak Boy ya. Batin Luna.
"Hallo" ucap Boy.
Benar ini kak Boy suamiku. Kenapa dia menyamar jadi Beni? Dia mau mengerjaiku?. Hihi aku kerjain balik ah. Batinnya
"Mm hallo.. Oh iya beni aku ingat sekarang. Ya ampun beni kamu dapat nomorku dari mana? " tanya Luna sambil cengengesan
Boy membelalakan matanya, karena pikirnya Luna benar benar punya pelanggan bernama Beni.
"Iya, dari dari karyawanmu" ucap Boy dengan gelagapan
"Hmm beni aku mau curhat tau.. Aku lagi galau sekarang suamiku tidak bisa aku hubungi. Apa dia selingkuh ya beni.. Huu huu aku galau.. "
"Beni kamu mau gak jadi selingkuhanku"
Ucap Luna sambil menahan tawa.
Volume suaranya di besarkan oleh Boy. Dan Willy juga mendengarnya.
Bianka bertanya tanya, dan memerhatikan saja ucapan Luna di ponselnya sambil sesekali ikut tersenyum melihat Luna cengengesan.
"Apa?? Luna jadi begitu kamu dibelakangku!!! Kau mencoba selingkuh hah? " tanya Boy dengan suara aslinya sambil membentak Luna. Hatinya mulai bergemuruh
Willy ketawa ketawa, karena Boy yang kena batunya sekarang.. "Hahaha.. Rasain kamu Bos"
"Hahahah... "Luna ketawa ketawa sampai terpingkal pingkal.
Tapi Boy masih bergemuruh hatinya.
"Aduuh kak Boy.. Penyamaranmu terbongkar sekarang.. Hmm salah sendiri mau mengerjaiku. Suaramu itu mudah aku kenali tau" ucap Luna berhenti tertawanya.
"Gak lucu tau gak" singkat Boy dengan acuh dan nampak kesal.
"Iya iya maaf, lalu kak Boy kenapa dari tadi gak bisa di hubungi? " tanya Luna
"mm aku sibuk tadi. Banyak wanita yang meminta foto bersamaku. Aku kan tampan jadii wajarlah aku banyak di gemari wanita wanita cantik." ucap Boy kembali mengerjai Luna.
Kini giliran Luna yang hatinya bergemuruh. Jantungnya serasa berhenti seketika mendengar ucapan Boy. Dia pikir Boy beneran melakukan itu.
Sementara Willy hanya menyimak saja
"Jadi begitu kamu di sana,, bagus ya!! Di sini pada kuatir.. Kamu malah senang senang di sana sama wanita. Nyesel aku sudah kangen sama kamu.. Nyesel aku tau!!!. " bentak Luna dengan mulai berurai air mata. Lalu menangislah dia "huuu.. Hu. Huu"
Boy merasa bersalah sekarang..
"Sa sayang.. Nggak kok. Aku cuma bercanda tadi.. Jangan marah dong.. Aku kangen banget sama kamu... Ya jangan dianggap serius oke" ucap Boy
"Aku gak mau ngomong sama kamu!! " ucap Luna langsung saja ia menutup telponya sepihak.
Tut. Ponsel di tutup.
"Yah will marah dia sama saya" ucapnya sambil menatap Willy yang malah cengengesan
"Emang enak Bos. Sini ponselku. Kau pakai lah punyamu" Willy merebut ponselnya. Dan kembali duduk di sofanya..
Kemudian Boy menghubungi Luna kembali dengan nomornya, tapi Luna tidak mengangkatnya. Makin merasa bersalah saja si Boy.
Sementara Luna di atas kasur Bianka sedang menangis
"Kak Luna kenapa nangis? " tanya Bianka menghampiri Luna karena kuatir.
"Kak Bo, Biy dia malah main sama wanita lain di sana.. " ucap Luna sedang menangis.
"Apa? Gak gak mungkin kak, kak Boy sayang banget sama kak Luna" ucapnya.
"Tapi dia sendiri yang bilang biy.. Huu huu"
Bianka gak bisa ngapa ngapain, kemudian ia memutuskan untuk menghubungi Lidya.
Bersambung
__ADS_1
Sertakan komen dan like ya.. 😘😘
Maaf bila ada ketidak nyamanan waktu membaca😇