Cinta Sesudah Menikah

Cinta Sesudah Menikah
Bagian empat


__ADS_3

Cukup lama dokter memeriksa Luna, Boy semakin penasaran bagaimana keadaan Luna, dia takut Luna meninggal.


"Kenapa dokter lama sekali memeriksa Luna" ucap Boy sambil dia mondar mandir di depan pintu


"Sabarlah Bos" ucap Sam


Aku juga harus siap mendapat hukuman dari nyonya. Batin willy.


Kemudian mereka bertiga larut dalam lamunannya masing masing.


Tiba tiba ponsel Willy berbunyi dan ada panggilan masuk dari Nyonya Lidya


Kemudian Willy ragu untuk mengangkatnya, tapi dia harus berani dan harus mengatakan semuanya bila dia menanyakan hal ini padanya.


"Assalamualaikum nyonya" ucap willy


"Waalaikumussalam willy, bagaimana kabarmu dan Boy? " ucap Lidya


"Ba baik nyonya. Alhamdulillah"


"Syukurlah, saya sempat khawatir sama Boy dan sekarang saya sudah berada di bandara indonessia kita sebentar lagi akan kerumah, o ya kenapa Boy tidak mengangkat telpon dari saya? Dia bersamamu kan will? " tanya Lidya


Apa? Nyonya sudah sampai di indonesia? Ternyata Nyonya merasakan pirasat buruk terhadap kejadian yang dilakukan Bos saat ini. Batin Willy


"Oh iya nyonya, dia bersama saya sepanjang hari, mungkin ponselnya tertinggal di kantor nyonya dan sukurlah nyonya sudah sampai di indonesia" ucap Willy dengan berusaha tersenyum dan memang ponsel Boy tertinggal di kantornya


Sam dan Boy terperanjat mendengar Lidya sudah sampai di indonesia


"Iya Will,, Lhoh memangnya kalian lagi di mana,? Tumben jam segini tidak sedang di kantor? " tanya Lidya kembali


"Kita berada di rumah sakit nyonya" ucap Willy


"Siapa yang sakit Will? "


"Emm.. , luna nyonya" ucap Willy dengan ragu ragu


"Apa??? " Lidya terperanjat mendengarnya "saya akan kesana sekarang juga.!! " ucap Lidya kemudian ia menutup teleponnya


Kemudian Willy menarik napas panjang kemudian menghembuskkannya


"Itu ibu kan Will?" tanya Boy "apa yang dia katakan? " sambungnya


"Iya Bos, dia sudah sampai di indonesia dan sebentar lagi akan menuju kesini" ucap Willy


"Apa? " ucap Boy tiba tiba wajahnya memucat dan dia mengusap usap wajahnya dengan kedua tangannya.


"Kalian harus siap apapun yang akan Nyonya lakukan pada kalian, itu sebagai hukuman Buat kalian karena kesalahan kalian sendiri" ucap Sam pada Boy dan Willy


Boy dan Willy hanya bisa menarik nafas panjang dan mereka pasrah pada keadaan.


Tiga puluh menit kemudian Lidya sampai di rumah sakit, dia ditemani asisten pribadinya yang bernama ira. Sedangkan adik adiknya Boy mereka pulang langsung ke rumah. Mirza dan Bayu tidak ikut pulang karena masih sibuk di turki.


"Boy" ucap Lidya ketika sampai di depan ruang rawat Luna, dia sangat merindukan Boy begitupun Boy, kemudian Boy memeluk ibunya


"Ibu aku sangat rindu pada ibu"ucap boy


"Iya boy, ibu juga sangat merindukanmu" ucap Lidya dengan tersenyum, kemudian mereka melepas pelukannya


Kemudian Lidya juga menyapa Sam dan Willy dan saling melempar senyuman.


"Selamat sore nyonya" sapa willy dan Sam pada Lidya.

__ADS_1


"Selamat sore paman Sam dan Willy" ucap Lidya sambil tersenyum ke arah mereka.


Kemudian Lidya duduk ditempat duduk di sana dan berbincang dengan Boy "Katakan pada ibu apa yang terjadi pada Luna Boy? "


Boy terdiam sejenak, "Luna terluka dan pingsan karena Boy ibu" ucap Boy sambil menunduk


Lidya syok mendengar pernyataan Boy


"Apa?? " plakkk tamparan mendarat di pipi Boy dengan cukup keras oleh Lidya. Boy meringis kesakitan. Sementara Lidya terlihat sangat marah dan geram pada Boy. "Kenapa kamu lakukan itu Boy? Kenapa? " ucap Lidya dengan nada tinggi dan air matanya tumpah karena sangat kesal dan kecewa pada Boy.


Sam dan Willy serta Ira hanya terdiam menyaksikan Lidya dan Boy.


"Maafkan Boy ibu" ucap Boy dengan Lirih sambil memegang pipinya.


Lidya hanya terdiam dan menangis serta memalingkan wajahnya dari Boy. Dadanya terasa sesak karena mengingat ulah Boy.


Tidak lama setelah itu dokter keluar dari ruang rawat Luna dan langsung dihampiri Lidya. Dokter susan yang kala itu memeriksa Luna.


"Dokter bagaimana keadaan Luna? " tanya Lidya pada dokter Susan, sementara Boy berdiri di belakang Lidya


"Nyonya Lidya, sudah kembali ke indonesia? " ucap dokter Susan dengan terkesan karena bertemu dengan Lidya. Namun dokter susan ragu menjelaskan pada Lidya tentang kondisi Luna "nyonya mari kita bicara di ruangan saya" sambung dokter Susan dengan tersenyum pada Lidya.


lidya tersenyum "Oh iya dokter mari" sebenarnya Lidya ingin melihat kondisi Luna terlebih dahulu. Namun hanya Boy yang masuk ke ruang rawat Luna sementara Lidya di temani Ira pergi ke ruangan Dokter Susan untuk bicara


Setelah sampai di ruangan dokter Susan, Dokter susan langsung menjelaskan kondisi Luna


Dokter Susan tersenyum pada Luna " begini Nyonya, kondisi Luna sangat memprihatinkan tubuhnya lemah, Luka di kepalanya cukup serius karena benturan yang cukup keras hingga membuat Luna tidak sadarkan diri Nyonya,, dan saya pastikan kalau Luna amnesia." jelas dokter susan


Lidya terperanjat dan menangis mendengar penjelasan dokter


Boy kamu sangat keterlaluan, kamu benar benar kurang ajar Boy. Kamu hampir menghilangkan nyawa orang. Batin Lidya


"Huu huu... Apa kondisi Luna separah itu dokter? Apa Luna bisa sembuh dokter? " ucap Lidya berharap Luna kembali sembuh


"Baiklah dokter, dokter saya boleh minta tolong rahasiakan keadaan Luna pada Boy, jangan sampai Boy tau kalau Luna amnesia, bisa kan dokter? " pinta Lidya pada Dokter Susan.


Susan keheranan kenapa Lidya memintanya untuk merahasiakan keadaan Luna, namun Susan tidak ingin ikut campur urusan Lidya dan ia menyetujuinya


"Emm,, baiklah nyonya, saya akan merahasiakan hal ini pada tuan Boy" ucap Susan


Lidya mengusap air matanya "terimakasih dokter kerja samanya," dan tersenyum pada Susan


"Sama sama nyonya" ucap susan


"dan kamu ira saya minta kamu juga tutup mulut mengenai hal ini, bisa? "Ucap Lidya pada ira asistennya


"Tentu nyonya, saya akan tutup mulut pada bos muda Boy" ucap ira seraya tersenyum pada Lidya


"Bagus"


Lidya hendak memberi pelajaran pada Boy dan ia merencanakan sesuatu


*****


Sementara di ruang rawat Luna, Boy menatap Luna dengan penuh penyesalan dan prihatin pada kondisi Luna, dia sangat menyesali perbuatannya.


"Maafkan aku Luna, maafkan aku" ucap Boy dengan Lirih, namun Luna belum sadarkan diri. Kemudian Boy menyusul Lidya ke ruang dokter Susan.


Krekk pintu di buka oleh Boy dan ia masuk ke ruang dokter Susan. Ia tersenyum tipis pada Lidya, Susan dan Ira, namun Lidya memalingkan wajahnya.


Ibu masih marahkah padaku? Batin Boy

__ADS_1


Kemudian Lidya bangkit dari duduknya dan permisi keluar beserta Ira "saya permisi dulu dokter" ucap Lidya pada Susan.


"Iya nyonya" ucap Susan seraya tersenyum


Kemudian Lidya dan Ira keluar dari ruangan dokter susan dan tidak menyapa Boy.


Boy merasa tidak enak dicuekin oleh ibunya sendiri.


Lalu boy duduk di kursi berhadapan dengan Dokter Susan dan menanyakan kondisi Luna


"Dokter bagaimana keadaan Luna saat ini" tanya Boy pada dokter Susan


Susan hanya tersenyum "Luna baik baik saja tuan" ucap susan


"Benarkah dokter? Tidak ada luka yang serius atau sebagainya? " tanya Boy dengan penasaran


"Saya tidak bisa menjelaskan rincinya tuan, saya mohon maaf" ucap dokter susan


Boy mengerutkan dahinya, dia tidak mengerti dengan apa yang diucapkan oleh dokter Susan


"Dokter katakan yang sebenarnya, kenapa dokter seperti menyembunyikan sesuatu? " desak Boy


"Saya mohon maaf tuan" ucap Susan kembali


Boy menghela nafas dan nampak raut wajah kecewa atas dokter Susan.


Apa yang sebenarnya disembunyikan dokter Susan? Kenapa dia tida menjelaskan yang sebenarnya? Apa ibu yang meminta dokter susan agar tutup mulut? Arghh. Batin Boy


"Kenapa dokter? Apa ibu yang melarangmu untuk tidak menceritakan kondisi Luna yang sebenarnya pada saya? "


Dokter susan menganggukan kepala seraya tersenyum tipis pada Boy


Boy menahan kecewanya, dia tidak mau mendesak dokter susan juga, karena kalau Lidya yang memerintah tidak ada yang berani membantah kecuali Boy yang kadang suka membangkang.


Kemudian Boy memutuskan untuk keluar dari ruangan dokter Susan dengan raut wajah kecewa


"Saya permisi dokter" ucap Boy


"Iya tuan" ucap dokter


*****


Sementara Lidya masuk ke ruang rawat Luna dan melihat keadaan Luna


Lidya tersipu melihat wajah cantik Luna, namun dia perihatin dan sangat menyesali perbuatan Boy.


Lidya duduk di kursi disamping tempat tidur Luna


"Kamu gadis yang cantik Luna, sayang sekali Boy telah menyakitimu, saya akan pastikan Boy akan menyesali perbuatannya. Kamu yang kuat Luna, kamu harus sembuh, saya akan menemanimu dan membantu penyembuhanmu Luna, saya berjanji" ucap Lidya sambil menangis dan membelai lembut pipi Luna.


Di luar ruangan Boy ingin masuk ke ruang rawat Luna namun ira menghalangi Boy agar tidak masuk ke dalam.


"Apa apaan kamu ira, saya ingin ketemu ibu dan Luna kenapa kamu menghalangi saya" ucap Boy dengan nada kesal


"Maaf tuan, tapi tuan di larang masuk oleh Nyonya" ucap ira melentangkan tangannya menghalangi jalan Boy


"Minggir ira" ucap Boy mendesak, tapi ira tidak goyah


"Bos sudahlah, jangan membangkang pada nyonya kita tunggu saja nyonya di sini" ucap Willy yang kala itu masih ada di sana bersama Sam


"Arghhh" gusar Boy kemudian ia duduk di kursi bersama Sam dan Willy. Boy kembali kesal karena ira serta tindakan ibunya itu.

__ADS_1


Tidak lama kemudian Lidya keluar dari ruangan itu dengan raut wajah layu dan duduk disamping Boy


__ADS_2