Cinta Sesudah Menikah

Cinta Sesudah Menikah
Hanya mimpi


__ADS_3

Sesampainya di rumah sakit, Luna di periksa dan diobati oleh dokter. Hingga beberapa jam kemudian.


Boy harap harap cemas di sana.


Dengan cepat berita sampai ke keluarganya.Mereka syok mendengar Luna celaka dan langsung menemui ke rumah sakit.


Boy masih lusuh dan kumal, tapi ia tidak peduli. Ia memikirkan keadaan Luna. Hatinya tidak tenang ingin segera menemui Luna.


Kemudian Lidya membujuk Boy agar mandi dan akhirnya Boy membersihkan diri di kamar mandi di rumah sakit itu.


Beberapa jam kemudian, dokter keluar dari ruang pemeriksaan Luna dengan wajah penuh penyesalan.


"Katakan dokter,, bagaimana keadaan istri saya? " tanya Boy sambil mengguncang tubuh dokter tersebut.


"Maafkan kami tuan.. Kami sudah berusaha semaksimal mungkin, tapi tuhan berkehendak lain" ucap dokter itu.


"Apa,, dokter.... "


Boy serasa disambar petir. Seketika jantungnya terasa berhenti. Mereka yang berada di sana histeris. Lidya sampai pingsan mendengar kabar itu


Boy masuk ke dalam ruangan Luna dan ia dapati Luna sudah ditutupi oleh kain seluruh tubuhnya. Betapa sedihnya Boy.. Ia tidak sanggup berkata kata, tubuhnya terkulai lemas seketika


*********


Boy menangis di atas kuburan Luna sambil ia memeluk batu nisan. Ia meratapi kepergian Luna.. Ia terus menangis dan memanggil Luna...


Luna tersadar dari tidurnya karena ia mendengar Boy mengigau gak jelas dan menangis. Waktu menunjukan pukul 23:30. Luna duduk di samping Boy dan berusaha membangunkan Boy


"A.. A bangun, aa kenapa? Bangun a" Luna mengguncang tubuh Boy dan menepuk pipinya dengan lembut.


Tapi Boy terus mengigau, keringat dinginnya bercucuran dan wajahnya pucat.


Luna terus mengguncang sambil memanggil manggil Boy supaya bangun, keadaan Boy membuatnya panik.


Beberapa saat kemudian Boy tersadar dan langsung terduduk di kasurnya. Nafasnya terengah engah dan terus beristighfar. Ia melihat ke arah Luna yang berada di sampingnya. Boy langsung memeluknya dengan erat. Luna kebingungan dengan sikap Boy malam itu.


Ya tuhan,, kenapa mimpiku seperti begitu nyata. Batin Boy


"A kenapa?? Ada apa?? "


"Jangan tinggalkan aku sayang, jangan tinggalkan aku" ucap Boy dengan lirih, tubuhnya bergetar karena ketakutan.


"Hei aku di sini. Tidak kemana mana". Luna mengusap punggung Boy supaya tenang. Ia masih bertanya tanya dalam hatinya


"A minum dulu ya, biar tenang"


Luna melepas pelukannya dan mengambilkan air minum yang berada di samping tempat tidurnya.


Kemudian Boy minum, menarik nafas panjang dan ia menarik Luna untuk tidur kembali, mereka salaing berhadapan. Boy tidak melepaskan pandangannya dari wajah Luna, Ia benar benar takut kehilangan seperti dalam mimpi itu. Luna hanya terdiam dan tersenyum pada Boy.


Kemudian Boy membenamkan kepalanya di dada Luna mencari kenyamanan di sana dan Luna memeluknya. Keadaan itu membuat Luna tidak bisa tidur. Tidak lama kemudian Boy tertidur kembali dengan tenang. Melihat Boy sudah terlelap, Luna berusaha melepas pelukannya dari Boy, tapi ternyata Boy sangat erat memeluknya dan membuatnya tidak bisa bergerak. Akhirnya ia pasrah dan terjaga sepanjang malam.


Kenapa suamiku? Apa dia mimpi buruk? Kenapa sikapnya aneh sekali.. Batin Luna.


Sampai waktu menunjukan pukul tiga pagi itu, Boy berpindah posisi tidurnya dan melepas pelukannya karena mungkin merasa pegal. Akhirnya Luna bisa bernafas lega dan ia bangun, segera mandi dan sholat malam dulu dan melakukan aktifitas seperti biasanya. Setengah empat pagi ia turun ke bawah untuk melakukan sesuatu.


Tidak berapa lama Boy terbangun dari tidurnya dan ia tidak dapati istrinya di sampingnya, Boy panik dan ia memanggil manggil Luna seraya berteriak.


Luna yang tengah berjalan di tangga hendak menuju kamarnya pun langsung berlari ke arah suara yang memanggilnya. Sesampainya di kamar ia melihat Boy tengah panik di atas kasur dan Luna langsung menghampirinya.


"Dari mana kamu hah? Kan sudah ku bilang jangan tinggalkan saya!" tegas Boy, raut wajahnya marah. Luna bingung sekaligus ketakutan dengan sikap Boy.


"Ma.. Maafkan Luna a, tadi Luna ke dapur sebentar" ucap Luna sambil menunduk.


"Kenapa kamu tidak minta izin dulu hah?"


"Kemarilah sayang.. " kali ini dia lembut


Luna menghampirinya dan Boy memeluknya sambil duduk di samping tempat tidur.


"A tadi aku gak tega bangunin kamu,, maafkan Luna"


"Habis apa dari dapur hm?"


"Hari ini aku mau saum boleh ya, hari ini tanggal dan bulan kelahiranku.. Aku mau saum sebagai rasa syukurku"


"O ya?? Kenapa tidak beri tahuku dari kemarin hm?"


"Aku rasa ini tidak penting"

__ADS_1


"Ini penting sayang,, apa mau dirayakan?"


"Di rayakan? Umur berkurang kok di rayakan.. "


"Maksudnya apa sayang? "


"Iya kan hakikatnya umur kita itu berkurang, bukan bertambah..


Satu lagi, Itu bukan budaya muslim a, aku tidak mau menjadi bagian orang orang non muslim"


"Baiklah baiklah,, berapa umurmu sekarang?"


"22 tahun"


"Apa? Jadi istriku ini masih muda ternyata, aku pikir kamu masih berumur 17tahun. Hehe"


"Doa terbaik untukmu sayang, doaku selalu menyertaimu dalam sujudku"


Luna tersenyum.


"Terima kasih suamiku, begitupun aku selalu mendoakanmu"..


Pagi itu terasa hangat meskipun sebenarnya udara sangat dingin. Maksudnya apa thor??


Maksudku hubungan mereka kembali hangat setelah sikap Boy yang menegangkan tadi malam.


Tidak lama kemudian adzan subuh berkumandang dan mereka bergegas pergi ke mesjid untuk berjamaah subuh pagi itu.


********


Pagi sudah mulai terang karena sorot matahari mulai menampakan sinarnya pagi itu, Boy menunggu Luna di halaman masjid bersama Willy. Namun yang keluar dari masjid hanya Rani seorang.


"Luna mana mah? " tanya Boy


"Lhoh tadi udah keluar duluan" jawab Rani


"Apa?? Lalu kemana? Tidak ada dari sini dari tadi" ucap Boy,, dia mulai panik.. Entah kenapa ia menjadi panikan sekarang karena mimpi itu, ia mencari Luna ke sekeliling masjid itu. Rani dan Willy juga ikut mencari. Willy heran dengan sikap Boy yang seperti kehilangan suatu yang sangat berharga, ya karena memang Luna itu sangat berharga buat Boy.


"Hajjah Mina,, apa melihat Luna di sekitar sini?" tanya Rani pada seorang di sana.


"Oohh Luna, tadi dia bersama ica dan amel.. Nah itu dia Luna" hajjah Mina menunjuk Luna yang berjalan ke arah mereka. Setelah basa basi hajah Mina pamit dari sana.


"Dari mana kamu? Kenapa pergi gak pernah bilang bilang sama suamimu ini!!.. Kamu sudah membuat panik tau gak!! "


Luna yang tadinya terlihat sumringah langsung saja muram karena sikap Boy, dan ia memang merasa bersalah, tapi sikap Boy yang menurutnya berlebihan.


"Maafin Luna, aku fikir ini tidak masalah"


"Kamu bikin saya panik sayang, kamu dari mana?"


Boy berusaha mengontrol emosinya.


Karena tidak ingin terlibat, Rani dan Willy pergi duluan dari sana sambil mengobrol berdua menanyakan sikap Boy. Mereka heran karena Boy sensitif sekali


"Aku dari tempat amel, dia memberiku buku tentang muslimah, lihatlah " Luna memperlihatkan buku tersebut seraya tersenyum manis pada suaminya itu. Luna selalu berfikir positif pada suaminya itu.


"Oh yasudah.. Maafkan aku, aku sangat takut jika kamu pergi tidak bilang bilang."


"Iya a, maafkan Luna juga, Luna gak bilang bilang kalau pergi"


"Tidak apa sayang". Cupp... Boy mengecup dahi Luna dan mereka pulang dari sana.


Hari itu Boy tidak pergi kemana mana, ia juga melarang Luna melakukan aktifitas apapun. Hanya duduk diam di rumah bersama sama sambil becanda mengobrol biasa. Karena Boy masih syok dengan mimpi itu.


Dan akhirnya Luna tamat puasanya hari itu


Untuk hadiah ulang tahunnya, Boy masih memikirkannya. Di nex episode akan di bahas


******


Pagi itu Luna ingin mengerjai suaminya itu dan Willy dengan mengajak mengobrol mereka dengan bahasa sunda. Luna tertawa tawa sendiri di kamar, ia membayangkan bagaimana ekspresi Boy dan Willy.


Boy dan Willy tengah berada di balkon sedang membicarakan urusan kantor.


"Aa hayu sarapan heula, kak Willy hayu" ajak Luna.


Boy dan Willy saling pandang seolah saling bertanya


"Oh sarapan, ayo will" ajak Boy, ia pikir mungkin Luna mengajak mereka sarapan dan benar saja.

__ADS_1


Luna tersenyum manis dan mereka pergi ke ruang makan dan sarapan pagi itu. Luna terus berceloteh di sana. Willy dan Boy hanya diam menyimak ucapan Luna yang tidak ia fahami. Hanya Rani saja yang mengerti.


"A sing seueur atuh tuangna, meni saalit pisan" ucap Luna sambil ia menambahkan nasi di piring Boy.


"Sayang, udah udah.. Aku udah kenyang"


"Eee, teu kenging nolak. Sok tuang nya"


"Kamu bicara apa si dari tadi?"


"Nya ngobrol biasa a, salira naha jempe wae ti tadi hm?"


Boy garuk garuk kepala yang tidak gatal sebenarnya. Begitu juga Willy.


"Aku gak faham sayang"


Luna dan rani hanya tersenyum lebar dibuatnya. Mereka kembali melanjutkan sarapannya.


******


Selepas sholat duha, Luna kembali mengajak berbincang dengan Boy, Boy dan Willy tengah asik dengan gadgetnya di sofa.


"A hayu kita jalan jalan ke pasir" ajak Luna. Luna mengajak mereka ke sebuah bukit. Di tempat Luna kalau bukit atau daerah tinggi itu di sebut pasir.


"Mm ayo ayo.. " ajak Boy, ia fikir Luna mengajaknya ke sebuah padang pasir.


Luna terlihat sumringah dan segera berganti baju. Setelah siap semuanya, mereka berjalan keluar rumah.


"Di mana pasirnya sayang?" tanya Boy.


"Mm maksud aku tuh kita jalan jalan ke Bukit di dekat kaki gunung gadung a, disana tuh indah baanget pemandangannya.. Ayo"


Boy benar benar kaget dengan penjelasan Luna.


Apa??? Jadi bukit itu benar benar ada,?? Tidak tidak. Aku tidak mau mimpi itu jadi kenyataan. Batin Boy


seketika ia diam di ambang pintu.


"Aku pikir kamu mengajakku ke padang pasir" ucap Boy sambil menatap Luna


"Di sini gak ada padang pasir a".


Luna rasanya ingin tertawa, karena Boy mengira akan pergi ke padang pasir.


"Tidak tidak,, kita tidak akan kesana, kita pulang ke kota sekarang" ucap Boy sambil berbalik ke dalam rumah. Ia mengajak Luna pulang saat itu juga karena takut Luna terus merengek ingin pergi ke bukit itu.


"lhoh tapi kenapa a? Luna mau ke sana sebentar saja. Ayo dong,,, masa kita pulang sih, aa kan janji mau seminggu di sini, ini baru lima hari lho"


Luna mengikuti Boy ke dalam Rumah.


"Tidak neng, kita pulang pagi ini juga!!. "


"Willy, kau bereskan bajumu!" ucap Boy pada willy.


"oh baik Bos"


Willy segera ke kamarnya dan membereskan baju


"A kok gitu si,, aa udah janji sama Luna"


Luna terus mengikuti Boy dari belakang, sampai di kamar mereka


Tapi Boy malah diam saja, ia mengambil tasnya dan menulis sejumlah uang dalam sebuah cek. Kemudian memanggil willy. Willy datang ke sana.


"Tolong kamu berikan ini pada pesantren satu, dan kepada kepala desa satu ya" ucapnya sambil menyodorkan cek tersebut.


Boy hendak menyumbang beberapa jumlah uang pada pesantren, juga untuk pembangunan desa, karena di sana sedang ada pembangunan balai desa dan beberapa hal lainnya.


"Oh baik bos" Willy bergegas melaksanakan perintah bosnya itu.


Kemudian Boy mengganti pakaian dengan pakaian pergi. Dia tidak bicara pada Luna. Sedangkan Luna di sana menangis karena akan pulang tiba tiba dari sana. Ia duduk dengan gusar di lantai seperti anak kecil.


"Ganti pakaianmu sayang!" titah Boy


"Gak mau.. Luna masih ingin di sini.. " ucapnya dengan sesegukan


Sebenarnya boy juga masih betah di sana. Tapi dia tidak ingin Luna pergi ke tempat yang dimaksud Luna.


Tingkah Luna membuatnya tidak tega

__ADS_1


__ADS_2