
Pagi itu Lidya juga berangkat ke rumah Luna bersama ira setelah adik adiknya bou pergi ke sekolah.
Tidak lama kemudian mereka sampai di halaman rumah Luna.
Luna dan Rani selesai sarapan saat itu. Dan Rani duduk melamun di sofa seperti sedang memikirkan sesuatu. Sementara Luna habis dari kamarnya kemudian menghampiri Rani
"Mak sedang mikirin apa si? " tanya Luna sambil duduk disamping Rani
Rani sedikit kaget dengan kehadiran Luna
"Itu loh neng, emak baru inget sekarang kalau sebenarnya ayahmu punya tempat bekas toko rotinya di kota ini. Tapi udah lama.. Sekitar.. "
Belum Rani menjelaskannya tiba tiba pintu diketuk oleh Lidya.
"Itu sepertinya nyonya, Neng" ucap Rani
Luna masih penasaran dengan apa yang di ucapkan Rani.
"Oh iya, biar Luna bukain, nanti lanjutin lagi ceritanya oke" ucap Luna sambil berjalan ke arah pintu.
Kemudian Luna membukakan pintu dan ternyata memang Lidya yang datang. Luna terlihat senang
"Assalamualaikum cantik" sapa Lidya
"Waalaikumsalam ibu, ayo masuk, aku sudah menunggu ibu dari tadi" ucapnya sambil tersenyum
Kemudian mereka masuk dan duduk bersama Rani di sofa. Rani tersenyum pada Lidya dan ira.
"Mak lanjut ceritakan yang tadi" pinta Luna sambil duduk kembali
"Emak lupa lagi, sampai mana tadi? " ucap Rani sambil garuk garuk kepala yang tak gatal sebenarnya
"Ya ampun mak, emak masih muda tapi sudah pikun" ucap Luna sambil menepuk jidatnya
"Ow kalian sedang mengobrol ya tadi, ibu ganggu ya? " tanya Lidya
"Oh tidak ibu, ibu tidak mengganggu ko" ucap Luna
"Yasudah ibu mau dengar, silahkan" ucap Lidya.
Ira juga ikut mendengarkan sambil memainkan ponselnya.
"Kalau gitu emak ulang dari awal ya. Jadi gini, ayahnya Luna kan dulu sempat punya toko roti di kota ini dan sampai sekarang tempat itu pasti masih ada, karena tidak pernah di jual atau digunakan oleh keluarganya. Kalau gak salah di jalan mawar92. Tapi pasti toko itu sudah hancur dan usang karena sekitar 18 tahun yang lalu toko itu ditinggalkan karena mengalami kebangkrutan. Waktu itu Sebelum Luna lahir. Saya berencana untuk melihat tempat itu dan membangun kembali toko tersebut. Gimana menurutmu neng? " jelas Rani, kemudian ia menatap Luna meminta persetujuan
Luna terkejut dengan apa yang dikatakan Rani
"Kenapa emak baru beri tau sekarang? Kalau saja emak beri tau dari dulu, pasti Luna sangat senang dan akan melanjutkan toko tersebut, Luna kan bisa bikin roti atau kue kuean dan sejenisnya. Pokoknya hari ini kita lihat toko itu! " pinta Luna dengan serius
"Iya iya neng hampura nya (maafin ya) emak cuma mencari waktu yang tepat buat ceritain semuanya sama neng" ucap Rani.
Namun Lidya kurang setuju jika nantinya dia harus bekerja
"Kamu serius Luna? Enggak enggak, ibu gak setuju kalau kamu bekerja nanti, apa pemberian dari ibu ini kurang? Kamu butuh apa ibu belikan sekarang juga. Tapi kamu jangan bekerja nanti kamu bisa kecapean dan kamu kan belum sembuh" ucapnya
"bukan Luna yang akan melanjutkan toko itu nyonya, tapi saya saja, ya neng biar emak saja yang melanjutkannya? " ucap Rani pada Lidya dan Luna
"Enggak mak, itu kan bekas toko ayah Luki jadi Luna yang akan melanjutkannya, Luna pasti bisa kok, boleh ya Bu Mak" ucap Luna memohon pada Rani dan Lidya
"Nggak boleh Luna, apalagi sekarang kamu belum sembuh, ibu akan memberikan semuanya keperluanmu kamu tidak akan kekurangan apapun!" ucap Lidya memberi pengertian
saya jadi merasa tidak enak sama si nyonya, batin Rani.
Kemudian Luna tersenyum dan menatap Lidya namun Lidya nampak datar ekspresinya karena tidak setuju pada keinginan Luna
"Bu percaya gak sama Luna? Kalau Luna sekarang sudah ingat semuanya" ucapnya
Sontak saja Lidya terkejut begitupun Ira
"Apa? Apa kamu serius?"ucapnya sambil menatap Luna "ayo ayo kita ke dokter untuk memastikan kamu sembuh total" sambungnya sambil menarik tangan Luna lalu berdiri ia hendak membawanya ke dokter.
__ADS_1
Tapi Luna menolak
"Nggak usah Bu, Luna merasa baik baik saja, sepertinya tidak perlu lah kita ke dokter".
"Ayo sayang ibu cuma ingin memastikan kamu baik baik saja sekarang" paksa Lidya tanpa melepas tangan Luna
"Luna gak mau, bosan tau ke dokter terus tiap hari, ibu harus percaya sama Luna, sekarang Luna sudah sangat baik baik saja" ucap Luna meyakinkan Lidya
Lidya diam sejenak dan berfikir
"Beneran kamu baik baik saja sekarang?" tanya Lidya sambil kembali duduk
"Beneran Bu, Luna berterima kasih sekali ibu sangat perhatian sama Luna dan mendampingi Luna sampai sembuh" ucap Luna sambil tersenyum dan memeluk Lidya. Begitupun Rani juga senang ia mengusap punggung Luna yang tengah memeluk Lidya
"Syukurlah nona, ira ikut seneng" timpal ira sambil tersenyum
"Ibu sangat senang mendengarnya Luna, sekarang ibu pinta agar kepalamu tidak kembali terluka ya"
"Luna akan selalu ingat nasehat ibu, tapi bagaimana dengan permintaan Luna tadi? "
"Kamu maksa ingin kembali membuka toko itu? "
Kemudian Luna melepas pelukannya dan tersenyum lebar pada Lidya "tolong ijinin Luna ya Bu, itu kan bekas tokonya ayah Luna, jadi Luna ingin melanjutkannya kembali, satu lagi Luna ingin punya penghasilan sendiri dan tidak mau bergantung terus sama ibu" ucapnya kembali memohon
Lidya kembali berfikir. Luna memang harus ada kegiatan. Oke sekarang aku harus mengerti perasaan Luna dan mengijinkannya supaya dia merasa bebas dan tidak merasa hidupnya di atur olehku. Meski niatku baik untukmu Luna.
hanya membuat roti? Hmm.. Mungkin itu tidak apa apa dan tidak berat juga. Batin Lidya
"Oke baiklah, jadi apa rencanamu sekarang? " tanya Lidya
"Haa.. Terimakasih ibu.. " luna menggenggam tangan Lidya dengan raut wajah senang "Mak ayo kita Lihat lokasinya" pinta Luna pada Rani dengan semangat
"Emangnya harus sekarang? " ucap Rani
"Lebih cepat lebih baik ya kan, ibu Luna minta ijin keluar dulu ya sama mak Rani" ucap Luna pada Lidya
"Hehe, bukan nyonya, ini followers nyonya di IG nanyain nyonya terus" ucap Ira sambil menyusul Lidya.
"Ah kamu,, sudah jangan layanin mereka, saya bukan artis Ira"
"Gapapa dong nyonya, nyonya kan sudah seperti artis, hehehe"
"Terserah kamu"
Luna tidak menyangka jika ibu Lidya sangat antusias dalam hal ini
Kemudian Luna dan Rani juga ikut menyusul
Hingga beberapa saat mereka sampai di lokasi tempat bekas toko roti tersebut. Tidak sulit menemukannya karena letaknya persis di tepi jalan.
"Apa ini tempatnya Rani? " tanya Lidya pada Rani sambil menatap ke sebuah bangunan yang sudah rubuh bertahun tahun
"Sepertinya iya nyonya, lokasinya disini saya ingat itu. Tapi sekarang sudah berubah, kalau dulu sepi di sini, tapi sekarang rame dan banyak bangunan juga toko ya" ucap Rani. Ia teringat masa dahulu sering ke tempat tersebut.
"Iya kan sudah puluhan tahun, pastinya banyak perubahan" ucap ira.
Kemudian ia memarkirkan mobilnya di depan toko itu.
Banyak semak belukar dan sangat tidak enak dipandang tempat tersebut. Luna terus melihat sekeliling bangunan itu begitupun yang lainnya. bangunan yang tinggal setengahnya saja karena bagian atapnya sudah rubuh.
Lidya merinding melihatnya "ira kau lihat ke belakangnya apa masih Luas" pinta Lidya pada ira.
"Kok saya nyonya? " ucap ira ia tampak takut untuk melaksanakan nya.
"Terus harus saya? "" ucap Lidya mengerutkan dahinya
"Hehe.. Baiklah nyonya akan saya laksanakan"
Kemudian ira melihat ke belakangnya dan ternyata memang luas. Setelah itu ira kembali lagi
__ADS_1
"Luas nyonya" singkatnya
"Rani apa bagian belakangnya juga milik ayahnya Luna? "
Tanya Lidya
"Bukan nyonya, hanya bangunan ini milik ayahnya Luna"
"Bangunannya sudah sangat rusak ya mak" ucap Luna. Terlihat prihatin pada bangunan itu.
"Benar neng". Ucap Rani. Mereka memandang toko itu dengan membayangkan bagaimana keadaan toko tersebut waktu dulu.
Lidya merencanakan sesuatu. Ia akan membantu membangun kembali toko itu untuk Luna.
"Ira, kamu urus semua ini. Aku ingin tempat ini bersih serta bagian belakangnya menjadi bagian toko ini. Kamu faham kan maksudku! " perintah Lidya pada ira
"Oh iya, baiklah nyonya, akan saya laksanakan" ucap ira, ia mengerti apa yang dimaksud Lidya
Luna dan Rani kaget dengan apa yang dikatakan Lidya.
"Maksud ibu apa? " tanya Luna keheranan
"Apa? Ibu cuma ingin membantu Luna" ucap Lidya seraya tersenyum
"Tidak usah ibu, ibu sudah banyak membantuku selama ini" ucap Luna
"Iya nyonya, biar kami saja yang melakukan semuanya" ucap Rani
"Kalian tidak boleh menolakku. Aku ikhlas melakukannya" ucap Lidya kembali tersenyum
"Tapi bu.. " Luna merasa tidak enak.
"Sudah Luna. Ibu kan sudah bilang bahwa kamu sudah ibu anggap sebagai anak. Jadi kalian harus mau oke kalau saya bantu" ucapnya pada Luna dan Rani.
"Ibu baik sekali" ucap Luna sambil memeluk lidya dia merasa terharu "terima kasih ibu"
"Iya nak, ibu senang membantumu"
Setelah itu mereka kembali ke rumahnya Luna, karena mulai hari ini Luna tidak lagi akan melaksanakan terapi. Akhirnya mereka menghabiskan waktu di rumah. Makan makan dan mengobrol banyak disana.
"Rani apa masih ada surat tanah milik toko itu? " tanya Lidya. Ketika mereka sedang ngemil buah buahan di rumah Luna itu.
"Oh masih saya simpan nyonya, nanti biar rendi yang antar kesini" jawab Rani.
"Oh baguslah kalau begitu, biar nanti Luna simpan ya surat itu" ucap Lidya
"Baik ibu" ucap Luna disertai anggukan Rani.
"Bu, Luna kan sudah sembuh, Luna ingin pulang dulu ke kampung boleh ya? " pinta Luna pada Lidya
"Oh boleh dong nak, kapan? "
"Kapan ya mak? "
"Besok juga boleh nenk, sekalian kita mengambil barang barang yang penting, juga surat tanah milik ayahmu itu" ucap Rani
"Aku setuju mak" ucap Luna menyetujuinya
"Baiklah, tapi kalian jangan lama lama disana, ibu pasti rindu sama kalian" ucap Lidya
"Iya bu, dua hari saja boleh ya"
"Hmm oke, jaga diri baik baik ketika di sana ya"
"Siap bu"
Luna dan Rani terlihat bahagia, kemudian mereka melanjutkan aktivitasnya
Hingga waktu siang hari tiba,
__ADS_1