
Sebelumya
Pagi itu Boy berangkat bekerja bersama Willy, dia sering kelewatai toko bunga, kemudian ia berinisiatif untuk membelikan bunga untuk Lidya dan Luna
"Will kita berhenti disana" tunjuk boy pada toko bunga tersebut.
"Mau apa Bos? " tanya willy penasaran
"Mau tau aja kamu" kemudian Boy turun dan masuk ke dalam toko tersebut
Willy melihat dari mobil Boy membeli dua buah bunga yang sama bentuknya namun dia tidak membawanya. Kemudian Boy kembali ke mobil dengan tersenyum
Boy menyuruh kurir untuk mengirimkan bunga tersebut untuk dikirimkan ke alamat yang sudah diberitahukannya pada kurir tersebut
"Bos beli Bunga? " tanya Willy
"Iya" ucap boy
"Untuk siapa Bos? Terus kenapa bunganya tidak dibawa? " tanya willy penasaran
"Ih kamu mau tau aja will.. " jawab Boy dia tidak mau memberi tahu Willy,
"Oke oke, kau mulai pelit sekarang bos" ucap willy dengan nada kesal
Sementara Boy hanya tersenyum melihat willy kesal padanya
Jangan jangan si Bos punya pacar dua?. Wah benar benar si bos. Batin willy seudzon. sambil menggeleng geleng kepala. Kemudian mereka berangkat ke kantor
*****
Di kediaman Lidya, Bianka menunggu paket yang dipesan Lidya untuknya, tidak lama kemudian seorang kurir mengirimkannya namun tidak bisa masuk ke halaman rumah tersebut dia berhenti di gerbang utama dan menitipkan paket tersebut kepada seorang satpam dan satpam tersebut mengantarkan paket tersebut kepada Bianka. Kala itu Bianka sedang melukis di ruangannya dan yang menerima paket tersebut adalah bastian kakanya
"Biy ini ada paket, katanya dari ibu kan? "
"O iya kak, ibu yang pesankan paket ini, makaih ya kak, ayo kita buka" ucap bianka kemudian mereka membukanya dan isinya adalah satu set alat Lukis yang komplit, bagus dan mahal.
"Waaw.. Ini kan yang aku impikan. Aku sudah lama ingin alat lukis seperti ini" ucap Bianka dengan senangnya.
"Emm, kamu harus berterima kasih pada ibu ya dek"
Ucap Bastian. Ia ikut senang melihat Bianka senang
"Tentu saja kak". Kemudian Bianka merapihkan alat lukis tersebut untuk dipakainya nanti, dan ia istirahat dulu dan makan siang bersama kakak kakaknya
Hari itu Mirza hendak memberi kejutan pada Lidya serta anak anaknya, ia sudah sampai di indonesia dan pulang ke kediamannya dengan diam diam untuk memberi kejutan pada mereka.
Mirza telah sampai di halaman rumahnya dan ia masuk ke dalam, terlihat anak anaknya yaitu Bianka, Bastian dan Briand sedang menonton televisi sambil bercanda
Kemudian Mirza beteriak sambil tersenyum lebar
"Ayah pulaaaang" ucap Mirza sambil membentangkan tangannya
Sontak saja ketiga anaknya itu kaget mendengar suara ayahnya
"Ayaaahh" sorak ketiga anaknya itu kemudian mereka berhamburan memeluk Mirza. Mereka nampak senang melihat ayahnya tersebut.
Mirza tertawa karena rencananya berhasil
"Ayah kok gak bilang bilang kalau mau pulang? " tanya Bastian
"Karena ayah mau beri kejutan pada kalian, o ya ibu mana? " tanya Mirza dia melihat sekeliling mencari Lidya
"Ibu lagi menengok kak Luna di rumah sakit" ucap Bianka
Kemudian mereka melepas pelukanya
Mirza berfikir.. "Oo iya iya..ayah fikir dia ada di rumah"
"ayah beri kejutan aja nanti setelah ibu pulang dari rumah sakit" saran Briand.
"Kamu benar nak, yasudah ayah mau isirahat dulu oke, mau bersih bersih badan dulu" ucap Mirza
__ADS_1
"Oke ayah" ucap ketiga anaknya itu
Kemudian mirza masuk ke kamarnya dan beristirahat
Sementara biankan, bastian dan briand kembali menonton televisi.
Sore hari tiba, Boy pulang kantor dan Lidya juga pulang dari rumah sakit, mereka beriringan sampai di kediamannya
Ketika di halaman boy berbincang dengan Lidya "bagaimana kondisi Luna Bu? " tanya Boy
"Dia baik baik saja Boy" ucap Lidya
"Terus bunganya gimana? Dia suka? "
"Emmm, dia suka karena dia tidak tau kalau bunga itu darimu Boy, kalu dia tau itu darimu, mungkin dia akan menolaknya" ucap Lidya
"Kenapa? Apa dia masih marah sama Boy? "
Lidya menganggukan kepalanya. Namun sebenarnya Lidya belum tau kalau Luna marah atau tidaknya sama Boy. Tapi Lidya ingin mengerjai Boy, dia ingin tau kalau Boy suka apa tidak pada Luna. Dan lidya ingin lihat seberapa besar perjuangannya
"Hmm"jawab boy dengan lesu. Kemudian mereka masuk ke dalam. Lidya melihat ekspresi Boy dan Lidya tersenyum dibuatnya
Di dalam rumah bianka sudah menunggu ibunya sambil senyum senyum "ibu terima kasih hadiah untu Biy nya, biy sangat suka bu" ucap Bianka
"Sama sama sayang, ibu ikut senang jika biy menyukainya" ucap Lidya dengan tersenyum
Boy sudah masuk ke kamarnya dan Lidya juga masuk ke dalam kamarnya
Ketika sudah menutup pintu tiba tiba mirza memeluknya dari belakang, sontak saja Lidya kaget setengah mati. Namun ia merasa bahwa itu adalah Mirza
"Haa,, ayah" ucap Lidya kemudian ia membalikan badannya dan langsung memeluk Mirza. Mirza nampak tersenyum bahagia. "Ayah ibu kangen sekali"
"Ayah juga bu, dari mana saja hmm? Kenapa baru pulang? Ayah sudah menunggu dari tadi siang" ucap Mirza
"Yang benar ayah? "Lidya mendongakan kepalanya dan mirza mengecup keningnya. Mereka sudah berumur tapi belum tua tua amat dan masih tetap romantis
"Iya.." ucap Mirza
"Ayah tidak mau merusak harimu"
"Ish ayah.. Ibu kan jadi ga enak sama ayah"
"Sudah gapapa ko, bagaimana keadaan Luna?"
"Dia sudah sadar ayah," ucap Lidya " emm ayah, aku belum bilang yang sebenarnya sama ayah"
"Memangnya apa yang terjadi sebenarnya sama Luna? " tanya Mirza penasaran
"Nanti aku ceritakan, ayah temui Boy dulu" pinta Lidya
Kemudian Lidya melepaskan pelukannya
"Baiklah, ayah sudah kangen juga sama Boy, kamu mandi dulu ya sayang, biar wangi" goda mirza dengan senyum genitnya.
Lidya membalas senyuman Mirza
"Iya iya ayah, siap" ucap Lidya
Kemudian Mirza menemui Boy di kamarnya, kala itu Boy habis mandi dan sedang memakai pakaian. Tiba tiba pintu diketuk oleh Mirza. Tuk tuk tuk..
"Masuk" ucap Boy
Kemudian Mirza masuk tanpa suara, ia melihat Boy sedang merapihkan pakaiannya tanpa melihat ke arah Mirza. Mirza terus memperhatikan dari dekat pintu sambil tersenyum ke arah Boy. Tidak lama kemudian Boy melirik ke arah Mirza dan membelalakan matanya dia kaget "Lhoh ayah,, kenapa gak nyahut dari tadi.. Boy malah asik sendiri kan" ucapnya sambil menghampiri mirza kemudian memeluknya. "Kamu lagi mikirin apa sih Boy? Sampai gak sadar kalau ada ayah di sini".
Kemudian Boy melepas pelukannya "oh enggak ayah, gak ada,, hehe ayah kapan pulang, perasaan tadi belum ada" tanya Boy penasaran
"Ayah sudah sampai di sini sejak tadi siang" jelas Mirza
"Oo yah? Aku baru tau"
"Ayah tadi di kamar waktu kamu dan ibu pulang"
__ADS_1
Kemudian mereka duduk di sofa dan mengobrol banyak. "Bagaimana perusahaanmu Boy?" tanya mirza
"Sejauh ini baik baik saja ayah" ucap Boy.
"Syukurlah Boy, kamu sudah pandai ternyata mengurus perusahaan"
"Iya lah ayah, berkat ayah aku jadi jago berbisnis sekarang"
"Tapi kamu tidak jago menaklukan hati wanita, kapan kamu mau punya kekasih Boy? " tanya Mirza penasaran
"Ish ayah, kok jadi membahas itu" ucap Boy terlihat cemberut "lagian mana ada yang mau sama Boy yang galak ini" boy mengakui dirinya
"Hahaha Boy, boy,, kamu itu tampan tapi memang kamu itu galak. Ayah tau itu,, dan benar mana ada yang mau sama lelaki galak kayak kamu" sambungnya meledek Boy
"Hmm ayah ini, emangnya ayah gak galak waktu dulu? "
"Kamu mau tau Boy,? Ayah itu sangat galak/dan tegas sama orang, tapi ayah melakukan itu karena ada alasan yang kuat Boy. Nggak kayak kamu, kamu kesinggung sedikit saja langsung marah marah sampai berani memukul. Begitu kan? "
Boy mengakui dirinya "iya ayah, aku masih harus belajar lagi tentang itu, aku harus belajar dari ayah"
"Suatu saat nanti kamu bisa seperti ayah, belajarlah dari kesalahan, dan perbaiki dirimu oke, ibu banyak cerita sama ayah kalau kamu suka buat masalah, kasihanlah sama ibu boy dia sangat menyayangimu. Kamu harus nurut sama ibu juga ayah"
"Iya ayah, aku tau itu, aku juga sayang sama ayah, sama ibu, sama adek adeku juga.. O ya ayah, bagaimana keadaan Bayu? "
"Bayu baik baik saja, dia sangat sibuk sekarang dan belum bisa pulang ke indonesia"
"Oh begitu ya, sukurlah kalau baik baik saja"
"Iya Boy, yasudah ayah keluar dulu ya. Nanti kita ngobrol lagi oke"
"Oh iya ayah"
Kemudian Mirza kembali ke kamarnya menemui Lidya
"Sayang" ucap Mirza sambil menutup pintu kamarnya
"Iya ayah" Lidya selesai mandi dan sudah berdandan rapih
"Ceritakan apa yang terjadi selama ibu ada di sini"
"Oke" kemudian mereka duduk di atas tempat tidur berdampingan
"Jadi begini ayah, waktu ibu sampai di bandara, ibu kan menelpon Boy, tapi Boy tidak mengangkatnya, kemudian Ibu telpon willy lah dan willy menjawab telpon ibu, dan willy bilang kalau mereka sedang di rumah sakit karena Luna sedang sakit, aku pikir Luna hanya sakit biasa, langsunglah aku pergi ke rumah sakit bersama ira, anak anak aku suruh pulang waktu itu, sesampainya di rumah sakit aku bertemu paman Sam, Willy dan Boy, kemudian aku bertanya ada apa dengan Luna? Kemudian Boy berkata bahwa dia yang membuat Luna terluka. Emosi lah aku waktu itu, aku menampar Boy ayah, aku maki dia. Kemudian Dokter keluar dari ruang rawat Luna kemudian aku da dokter susan masuk ke ruan dokter susan bersama ira juga dan dokter susan menceritakan kondisi Luna, dia bilang luka luna sangat parah dan dipastikan Luna akan amnesia, aku sangat syok mendengar perkataan pernyataan Dokter. Kemudian aku meminta dokter agar tidak memberi tahu Boy kalau Luna amnesia. Dan sampai sekarang boy belum tau. Aku sangat marah waktu itu sama boy ayah, baru baikan tadi pagi sama dia... Setelah itu aku melihat luna ke ruang rawatnya Luna, dia gadis yang cantik ternyata ayah, aku langsung menyayanginya dan merasa kasihan sama dia. Kemudian aku keluar lagi menemui willy dan minta penjelasan Willy sebenarnya apa yang diperbuat Boy, dia bilang Boy menyuruh empat pengawal untuk menguji kemampuan Luna dalam bela diri, namun yang terjadi adalah Luna terluka akibat pukulan para pengawal itu dan ia pingsan kemudian kepalanya terbentur ke aspal.. "
Mendengar pernyataan Lidya, mirza jadi kecewa pada boy "apa? Jadi Luna amnesia gara garaa.. Ck ayah benar benar tidak habis fikir sama Boy, dia tega melakukan itu"
Mirza tidak menyangka dengan apa yang terjadi sebenarnya selama ini,
"Iya ayah" lidya merasa bahwa mirza tengah kesal sama Boy ahirnya dia tidak melangsungkan ceritanya
"Ceritakan lagi bu" pinta mirza
"Sudahlah ayah, sekarang ibu hanya pinta agar ayah tidak memberitahu Boy kalau Luna tengah amnesia. Ibu sedang memberi hukuman pada Boy"
Ooh pantas saja Boy tadi terlihat melamun.
"Kamu yakin Bu? " tanya mirza
Lidya hanya mengangguk
"Yasudah, ayah akan merahasiakannya, untuk hukuman Boy, ayah serahkan pada ibu, ayah yakin apapun rencanamu itu pasti untuk kebaikan Boy"
"Itu benar ayah". Kemudian mereka saling melempar senyuman
*****
Beberapa hari kemudian Boy sudah tidak lagi merengek untuk minta ijin agar bertemu Luna, dia pasrah dengan keputusan ibunya, namun setiap hari dia kirimkan Bunga untuk Luna, tapi luna tidak tau kalau bunga itu dari Boy, karena Lidya tidak pernah memberitahunya, namun Luna tampak senang menerima bunga itu. Dan Luna semakin hari semakin membaik kondisinya. adik adiknya Boy pun sudah mulai sekolah. Kala itu Bastian duduk dibangku SMA, Briand SMP dan Bianka masih SD.
Dan Lidya setiap hari menjenguk Luna di rumah sakit.
Sepuluh hari kemudian Luna sudah sembuh dari sakitnya, dia hanya tinggal melanjutkan untuk terapi penyembuhan amnesianya.
__ADS_1