
"Sayang,, ayo kita pulang" ucap Boy sambil melirik Luna yang tengah duduk sambil membaca buku.
"Hah sekarang a?" Luna terlihat kaget
"Iya,, ayo" Boy sudah mendorong dorong kursi rodanya.
"Nanti dulu, ini belum di beresin" ucap Luna sambil melirik sekitar ruangan itu yang tampak menumpuk barang barang mereka.
"Ngapain repot repot diberesin.. Nanti sama pelayan, sayang"
"Oh.. Gitu.. Yaudah ayo" Luna berdiri
"E tunggu.. Apa kendaraannya sudah ada?"
"Ada.. Sudah menunggu di parkiran"
"Lalu bagaimana dengan pembayaran perawatanmu a?" luna tampak bingung
"Aduh sayang.. Ngapain pusing pusing mikirin itu, itu semua udah ada yang urus, ayo cepat.." Boy tidak sabar ingin segera pulang
"Kok aku gak tau sih a.."
"Kita tidak perlu bayar di sini sayang"
"Lhaa kenapa? Memangnya aa tidak sanggup bayar? Apa gratis.."
"Hahaha.. Kamu lucu sekali sih sayaaang.." Boy gemas pada Luna.
"Kok malah ketawa.." tukas Luna
"Kenapa kita harus bayar? Sedangkan dokternya saja gajinya dari perusahaan aa"
"Apa?? Memangnya rumah sakit ini milikmu a?"
"Mm,, yaa bisa dikatakan begitu"
"Masyaa Allah.. Aku baru tau,, ternyata..."
Luna kembali kaget, kemudian ia mendorong kursi rodanya menuju keluar.
"Kamu kaget sayang?" tanya Boy sambil mendongakkan wajahnya ke arah Luna.
Luna mengangguk
"Sudahlah jangan di pikirkan.."
"Baiklah.."
Luna fokus mendorong kursi roda, hingga akhirnya sampai di parkiran dan disana sudah menunggu supir dan pengawal, mereka membantu Boy masuk ke dalam mobil. Kemudian Mobil melaju ke kediaman Boy.
******
Sementara di bandara
Bayu tengah memberi pengertian kepada Zahwa dan menasehatinya
Zahwa tengah duduk bersama Syifa yang membawa mumu, kucing kesayangannya yang selalu di bawanya kemanapun dia pergi.
Dan Bayu berjongkok dihadapan Zahwa sambil memegang erat tangan Zahwa.
"Hei.. Jangan cemberut begitu dong cantik" goda Bayu pada Zahwa yang hanya diam saja memasang wajah cemberut.
"Aa tega banget sih"
"Tega bagaimana?"
"Tega banget membiarkan istrinya sendiri di turki"
"Lhoh kok kamu bicara begitu, kan ada Syifa yang nemenin kamu di sana, udah deh,,, kan sudah biasa kita tidak bertemu beberapa minggu,, nanti kalau sudah satu bulan, aa akan jenguk kamu ke sana"
"Aku pengen setiap hari sama kamu a"
"Iya aku tau, aku juga begitu,, tapikan kerjaan aa tidak bisa ditinggalkan terus, cantik."
"Aa harus kerja buat biaya kuliah kamu"
"A,, untuk biaya kuliah sudah papih lunasi sejak aku masuk kuliah.."
"Iya aku tau.. Tapi kan untuk biaya hidup kamu, kebutuhan kamu, untuk makan dan semuanya sudah menjadi tanggung jawabku, sayang. Jadi aku disini kerja cari uang buat kamu, iya kan..? Ii kamu mah berapa kali aa harus jelasin ini hah?"
Zahwa hanya diam, sebenarnya dia tau, tapi sengaja ingin banyak bicara dengannya.
"Ayo kak Zaa,,," ajak Bastian, ia sudah pamitan dengan ayah dan ibunya. Dan pengumuman pesawat akan segera terbang sudah menggema ke seluruh ruangan bandara.
"Iya" Zahwa bangun dari duduknya, diikuti Bayu. Kemudian mereka berhadapan hendak pamitan.
Dagdigdug jantung mereka, karena akan terpisah untuk beberapa waktu.
Cupp.. Bayu mengecup kening Zahwa dengan lembut
"semoga selamat istriku sampai tujuan.." ucap Bayu sambil menatap Zahwa dan tangannya memegang kepala Zahwa.
Zahwa mengangguk dan tersenyum
"Sana.. Bastian sudah duluan tuh.." Bayu menunjuk Bastian dengan matanya.
"Sun dulu" pinta Zahwa
"Muah.. Muah.." ciuman pipi kanan dan kiri dari Bayu
"Lagi.." Zahwa menggodanya dengan senyum genitnya.
"Udah dong sayang, malu.. Banyak orang tuh.."
Kemudian Zahwa mengecup bibir Bayu dengan paksa dan memegang kepala bayu dengan erat, hingga beberapa saat.. Gerrr merinding aku jadinya.
Bayu kaget dengan apa yang dilakukan Zahwa, tapi dia menikmatinya juga.
Bianka dan Briand menutup matanya melihat adegan itu sambil menggeleng.
Lidya dan Mirza hanya terkekeh dan saling pandang.
"Ibu,, seperti ibu waktu muda sering paksa cium ayah kan kalo ayah mau pergi ke luar kota atau luar negri, gak peduli ramai atau sepi.. Ckckck.." bisik Mirza pada Lidya.
__ADS_1
"Sttt... Ayah,," Lidya malu mengakuinya
Kemudian mereka tertawa kecil.
Zahwa menghentikan aksinya dan tersenyum pada Bayu.
"Aaaa.,, aku tidak mau ke turki, Aku bakalan kangen banget sama ciuman suamiku ini..." ucap Zahwa sambil memeluk Bayu dengan erat.
"Heii kamu yang mencium ku sayang..." Bayu membalas pelukan Zahwa.
"Hehe... Aku berangkat ya aa.."
Zahwa melepas pelukannya
"Iya.." Bayu mengangguk.
Cuppp.. Kecupan sekali lagi oleh Bayu dibibir Zahwa disertai senyuman darinya.
Zahwa mencium punggung tangan Bayu dengan lembut.
Kemudian Zahwa pamitan ke ayah dan ibu, serta adik Bayu.
Bayu menjajap sampai beberapa meter sampai dekat pembatas, sambil ia menggandeng tangan Zahwa.
Cup.. Cup.. Cup... Bayu mencium kedua punggung tangan Zahwa.
"Hati hati sayang.."
"Iya aa.. Assalamualaikum"
"Waalaikumsalam.."
Zahwa melangkah dengan berat dan enggan melepas tangan Bayu, hingga akhirnya dia menjauh sampai sesekali melirik Bayu ke belakang yang tengah melambaikan tangan dan tersenyum. Berat banget.. Berat
Sunnah Sunnah Memperlakukan Istri
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam adalah sosok suami yang paling mesra terhadap istri-istrinya. Demikian pula ia memerintahkan umatnya khususnya para suami agar senantiasa menyayangi dan berlaku baik kepada ahlu keluarga khsususnya kepada istrinya. Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, “Yang terbaik di antara kalian adalah yang terbaik terhadap keluarga/istrinya. Dan saya adalah orang yang paling baik terhadap istri/keluargaku.” (HR Tirmidzi).
Berikut ini kami nukilkan beberapa riwayat dari hadits-hadits Nabawi yang akan menjadi tips bagi kita para suami agar bisa memperlakukan pasangan kita dengan baik sehingga keutuhan rumah tangga senantiasa terjaga dalam ridhaNya.
1. Membukakan pintu untuk istri, baik di kendaraan, rumah dan lainnya
Dari Anas radhiyallahu 'anhu , dia berkata: “Kemudian kami pergi menuju Madinah (dari Khaibar). Aku lihat Nabi shallallahu 'alaihi wasallam menyediakan tempat duduk yang empuk dari kain di belakang unta beliau untuk Shafiyyah (istri beliau). Kemudian beliau duduk di samping untanya sambil menegakkan lutut beliau dan kemudian Shafiyyah naik dengan meletakkan kakinya di atas lutut beliau sehingga dia bisa menaiki unta tersebut.” (HR Bukhari)
Subhanallah, dari riwayat diatas kita bisa ketahui bagaimana perlakuan Rasulullah kepada istrinya. Beliau memperlakukan istrinya bak seorang putri raja. Di zaman sekarang, Istilah yang cukup akrab di telinga kita “Ladies First” ternyata sudah dilakukan Rasulullah sejak berabad-abad yang lalu, disaat kebudayaan lain di dunia saat itu menganggap wanita sebagai makhluk hina, bahkan diragukan statusnya sebagai “manusia”.
Pemandangan seperti ini memberikan kesan begitu mendalam yang menunjukkan ketawadhu’an beliau. Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam selaku pemimpin yang berjaya dan seorang Nabi yang diutus- memberikan teladan kepada umatnya bahwa bersikap tawadhu’ kepada istri, mempersilakan lutut beliau sebagai tumpuan, membantu pekerjaan rumah, membahagiakan istri, sama sekali tidak mengurangi derajat dan kedudukan beliau.
2. Sering Mencium Istri
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam adalah sosok suami yang sangat romantis. Sungguh hal yang romantis dan bisa menimbulkan rasa kasih sayang jika kita bisa membiasakan mencium istri/suami ketika hendak bepergian atau baru pulang.
Nabi sering mencium Aisyah dan itu tidak membatalkan puasa. (HR Nasai dalam Sunan Kubra II/204)
Dari ‘Aisyah ra, bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam biasa mencium istrinya setelah wudhu’, kemudian beliau shalat dan tidak mengulangi wudhu’nya.” (HR ‘Abdurrazaq)[1]
3. Makan sepiring berdua
Dari Aisyah radhiyallhu 'anha, ia berkata : “Aku biasa minum dari gelas yang sama (dengan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam ) bahkan ketika haidh, lalu Nabi mengambil gelas tersebut dan meletakkan mulutnya di tempat aku meletakkan mulut, lalu beliau minum.” (HR Abdurrazaq)
Demikian pula dalam riwayat imam Muslim Nabi shallallahu 'alaihi wasallam pernah minum di gelas yang digunakan Aisyah dan beliau juga pernah makan daging yang pernah digigit Aisyah.” (HR Muslim)
4. Suami menyuapi istri
Dari Saad bin Abi Waqosh radhiyallahu 'anhu berkata, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda : “Dan sesungguhnya jika engkau memberikan nafkah, maka hal itu adalah sedekah, hingga suapan nasi yang engkau suapkan ke dalam mulut istrimu.“ (Mutafaqun ‘Alaih)
Apabila seorang isteri makan bersama suaminya dan suami menyuapi makanan tersebut ke mulut isterinya, niscaya ia akan mendapatkan pahala dan hal itu akan memperkokoh kecintaan isterinya. Sesuatu yang tidak bisa dipungkiri, bahwa saling menyuapi dapat menguatkan jalinan kasih sayang antara suami dan isteri.
5. Berlemah lembut, melayani dan memanjakan istri sakit
Diriwayatkan oleh Aisyah radhiyallahu 'anha, nabi shallallahu 'alaihi wasallam adalah orang yang penyayang lagi lembut. Beliau orang yang paling lembut dan banyak menemani istrinya yang sedang mengadu atau sakit. (Mutafaqun ‘Alaih)
6. Bersenda gurau,bermain untuk membangun kemesraan
Dari Zaid bin Tsabit, ia berkata tentang Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam : “Beliau orang yang suka bercanda dengan istrinya.” (HR Bukhari)
Aisyah dan Saudah pernah saling melumuri muka dengan makanan. Dan Nabi shallallahu 'alaihi wasallam tertawa melihat tingkah keduanya. (HR Nasa’i)
Umul Mukminin Aisyah Menceritakan : “Pada suatu ketika aku ikut bersama Rasulullah dalam sebuah lawatan. Pada waktu itu aku masih seorang gadis yang ramping. Beliau memerintahkan rombongan agar bergerak terlebih dahulu. Mereka pun berangkat mendahului kami. Kemudian beliau berkata kepadaku, “Kemarilah! sekarang kita berlomba lari.” Aku pun meladeninya dan akhirnya aku dapat mengungguli beliau.
Beliau hanya diam saja atas keunggulanku tadi. Hingga pada kesempatan lain, ketika aku sudah agak gemuk, aku ikut bersama beliau dalam sebuah lawatan. Beliau memerintahkan rombongan agar bergerak terlebih dahulu. Kemudian beliau menantangku berlomba kembali. Dan akhirnya beliau dapat mengungguliku. Beliau tertawa seraya berkata, “Inilah penebus kekalahan yang lalu!” (HR. Ahmad)
7. Memberi hadiah
Dari Ummu Kaltsum binti Abu Salamah, ia berkata, “Ketika Nabi shallallahu 'alaihi wasallam menikah dengan Ummu Salamah (ibunya), beliau bersabda kepadanya, Sesungguhnya aku pernah hendak memberi hadiah kepada Raja Najasyi sebuah pakaian berenda dan beberapa botol minyak kasturi, namun aku mengetahui ternyata Raja Najasyi telah meninggal dunia dan aku mengira hadiah itu akan dikembalikan. Jika hadiah itu memang dikembalikan kepadaku, aku akan memberikannya kepadamu.”
Ia (Ummu Kultsum) berkata, “Ternyata keadaan Raja Najasyi seperti yang disabdakan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, dan hadiah tersebut dikembalikan kepada beliau, lalu beliau memberikan kepada masing-masing istrinya satu botol minyak kasturi, sedang sisa minyak kasturi dan pakaian tersebut beliau berikan kepada Ummu Salamah.” (HR Ahmad)
8. Tiduran di pangkuan istri
Dari ‘Aisyah, ia berkata, “Nabi shallallahu 'alaihi wasallam biasa meletakkan kepalanya di pangkuanku walaupun aku sedang haidh, kemudian beliau membaca al-Qur’an.” (HR ‘Abdurrazaq)
Mengajak istri makan di luar
Anas radhiyallahu 'anhu menceritakan bahwa ada tetangga Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam -seorang Persia- sangat pandai membuat masakan gulai. Pada suatu hari dia membuatkan masakan gulai yang enak untuk Rasulullah n. Lalu dia datang menemui Rasululiah shallallahu 'alaihi wasallam untuk mengundang makan beliau. Beliau bertanya: “Bagaimana dengan ini? (maksudnya Aisyah).” Orang itu menjawab: “Tidak.” Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam berkata: “(Kalau begitu) aku juga tidak mau.” Orang itu kembali mengundang Rasulullah,,,,,, ,,,,,,, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam kembali bertanya: “Bagaimana dengan ini?” Orang itu menjawab: “Tidak.” Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam kembali berkata: “Kalau begitu, aku juga tidak mau.”
Tidak lama kemudian, orang itu kembali mengundang Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dan beliau kembali bertanya: “Bagaimana dengan ini?” Pada yang ketiga kalinya ini orang Persia itu mengatakan: “Ya.” Akhirnya mereka bangun dan segera berangkat ke rumah laki-laki itu.” (HR Muslim)
Mengajak istri jika hendak ke luar kota.
Aisyah berkata : “Biasanya Nabi shallallahu 'alaihi wasallam apabila ingin melakukan suatu perjalanan, beliau melakukan undian di antara para istrinya. Barangsiapa yang keluar nama/nomor undiannya, maka dialah yang ikut pergi bersama beliau.” (HR Bukhari dan Muslim)
Menghibur diri bersama istri ke luar rumah (entertainment)
__ADS_1
Dari Aisyah radhiyallahu 'anha, dia berkata: “Pada suatu hari raya orang-orang berkulit hitam mempertontonkan permainan perisai dan lembing. Aku tidak ingat apakah aku yang meminta atau Nabi shallallahu 'alaihi wasallam sendiri yang berkata padaku : ‘Apakah engkau ingin melihatnya?’Aku menjawab: ‘Ya.’ Lalu beliau menyuruhku berdiri di belakangnya. Pipiku menempel ke pipi beliau. Beliau berkata : ‘Teruskan permainan kalian, wahai Bani Arfidah (julukan orang-orang Habsyah)!’ Hingga ketika aku sudah merasa bosan beliau bertanya: ‘Apakah kamu sudah puas?’Aku jawab: ‘Ya.’ Beliau berkata : ‘Kalau begitu, pergilah!.” (HR Bukhari dan Muslim)
Suami mengantar istri
Kadang banyak dari kita malas mengantar istri kita bepergian. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana jika istri saya keluar rumah sendirian, ada masalah di jalan dia kebingungan.
Shafiyyah, istri Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, menceritakan bahwa dia datang mengunjungi Rasulullah ketika beliau sedang melakukan i’tikaf pada hari sepuluh yang terakhir dari bulan Ramadhan. Dia berbicara dekat beliau beberapa saat, kemudian berdiri untuk kembali. Nabi shallallahu 'alaihi wasallam juga ikut berdiri untuk mengantarkannya.”
Dalam riwayat lain diceritakan, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam sedang berada di masjid. Di samping beliau ada para istri beliau. Kemudian mereka pergi (pulang). Lantas Nabi berkata kepada Shafiyyah "Jangan terburu-buru, agar aku dapat pulang bersamamu.” (HR Bukhari dan Muslim)
Suami istri berjalan dimalam hari
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam datang pada malam hari, kemudian beliau mengajak Aisyah berjalan-jalan dan berbincang-bincang (HR Muslim)
Panggilan khusus pada istri
Di antara keelokan budi pekerti Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dan keharmonisan rumah tangga beliau ialah memanggil istri-istrinya dengan panggilan kesayangan. Dan beliau sering mengabarkan kepada istri-istrinya berita yang menggembirakan bahkan membuat jiwa serasa melayang-layang.
Nabi shallallahu 'alaihi wasallam juga memanggil Aisyah dengan Humairah artinya yang kemerah-merahan pipinya. Terkadang beliau juga suka memanggil sebutan “aisy/aisyi”, dalam culture arab pemenggalan huruf terakhir menunjukan panggilan manja/tanda sayang. Mungkin serupa dengan kata 'sayang' yang terkadang diucapkan 'Ayang'.
Aisyah radhiyallahu 'anha menuturkan, “Pada suatu hari Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam berkata kepadanya, ‘Wahai ‘Aisy (panggilan kesayangan ‘Aisyah), Malaikat Jibril ‘alaihissalam tadi menyampaikan salam buatmu.” (Muttafaq ‘alaih)
Memberi sesuatu yang menyenangkan istri
Dari Said bin Yazid, bahwa ada seorang wanita datang menemui Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, kemudian Nabi bertanya kepada ‘Aisyah : “Wahai ‘Aisyah, apakah engkau kenal dia?” ‘Aisyah menjawab: “Tidak, wahai Nabi Allah.” Lalu, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: “Dia itu Qaynah dari Bani Fulan, apakah kamu mau ia bernyanyi untukmu?”, maka kemudian bernyanyilah qaynah itu untuk ‘Aisyah. (HR. An Nasa’i)
Memperhatikan perasaan istri
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda : “Sesungguhnya ketika seorang suami memandang istrinya dan begitu pula dengan istrinya, maka Allah memandang mereka dengan penuh rahmat, manakala suaminya merengkuh telapak tangan istrinya dengan mesra, berguguranlah dosa-dosa suami istri itu dari sela jemarinya.” (HR Maisarah dari Abu Sa’id Alkhudzri )
Segera menemui istri jika tergoda.
Dari Jabir, sesungguhnya Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, “Wanita, kalau menghadap, ia menghadap dalam rupa (godaan) setan. Bila seseorang di antara kamu melihat seorang wanita yang menarik, hendaklah ia datangi istrinya, karena pada diri istrinya ada hal yang sama dengan yang ada pada wanita itu.” (HR Tirmidzi)
Membantu pekerjaan rumah tangga
Umul Mukminin Aisyah pernah ditanya : “Apa yang dilakukan Nabi shallallahu 'alaihi wasallam di rumahnya?” Aisyah menjawab: “Beliau ikut membantu melaksanakan pekerjaan keluarganya.” (HR Bukhari)
Mendinginkan kemarahan istri dengan mesra
Nabi shallallahu 'alaihi wasallam biasa memijit hidung Aisyah jika ia marah dan beliau berkata, “Wahai ‘Aisy, bacalah do’a: ‘Wahai Tuhanku, Tuhan Muhammad, ampunilah dosa-dosaku, hilangkanlah kekerasan hatiku, dan lindungilah diriku dari fitnah yang menyesatkan.” (HR. Ibnu Sunni)
25. Mandi romantis bersama pasangan
Aisyah radhiyallahu 'anha berkata,“Aku biasa mandi berdua bersama n dari satu bejana.” (HR. Al-Bukhari)
Disisir istri
Dari ‘Aisyah radhiyallahu 'anha, ia berkata, “Saya biasa menyisir rambut Rasulullah n.” (HR Ahmad)
Makan dan minum bergantian pada tempat yang sama
Dari ‘Aisyah, dia berkata, “Saya biasa minum dari muk yang sama ketika haidh, lalu Nabi mengambil muk tersebut dan meletakkan mulutnya di tempat saya meletakkan mulut saya, lalu beliau minum, kemudian saya mengambil muk, lalusaya menghirup isinya, kemudian beliau mengambilnya dari saya, lalu beliau meletakkan mulutnya pada tempat saya meletakkan mulut saya, lalu beliau pun menghirupnya.” (HR ‘Abdurrazaq)
Sedangkan dalam riwayat yang lain, Aisyah berkata, “Suatu ketika aku minum, dan aku sedang haidh, lantas aku memberikan gelasku kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dan beliau meminumnya dari mulut gelas tempat aku minum. Dalam kesempatan lain aku memakan sepotong daging, lantas beliau mengambil potongan daging itu dan memakannya tepat di tempat aku memakannya.” (HR. Muslim)
Membelai istri
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam tidak melewatkan kesempatan sedikit pun kecuali beliau manfaatkan untuk membahagiakan dan menyenangkan hati istri melalui hal-hal yang dibolehkan.
Aisyah mengatakan “Adalah Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam biasa mengelilingi kami semua (istrinya) seorang demi seorang. Beliau menghampiri dan membelai kami meskipun tidak mencampuri kami.” (HR Ahmad)
Demikian sekelumit gambaran romantisme junjungan kita dalam rumah tangganya. Semoga risalah yang singkat ini mampu memberikan suasana baru dalam kehidupan rumah tangga kita. Amin.
“Dan bergaullah dengan mereka (para istri) secara patut. Kemudian jika kamu tidak menyukai sesuatu dari mereka maka bersabarlah, karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.” (An-Nisa: 19)
Wallahu a’lam bish shawab.
__ADS_1