Cinta Sesudah Menikah

Cinta Sesudah Menikah
Briand arsitek


__ADS_3

"Maaf kak Luna, apa ada kak Boy di sini? " tanya Adit.


Kemudian Boy sembunyi di balik kursi agar ketahuan adit. Namun anak anak kecil itu memberi tahu adit


"Ada, kak adit"ucap mereka


Aahh sial, kenapa mereka kasih tau adit. Batin Boy


"Kak Boy keluar, ngapain di situ" ucap Luna, ia keheranan melihat Boy jongkok di bawah


"Oh ini, kancing, iya kancing baju lepas. Hehe"


Alasan Boy


Luna mengerutkan dahinya, perasaan kancingnya nempel semua di bajunya. Batin Luna curiga


"Kak Boy ngapain di sini, ayo cepat pak haji juki sudah menunggu " ucap adit memaksa, kemudian ia segera keluar lagi


"Oh iya iya adit, ayo.. " ucapnya sambil mengikuti adit keluar "dah Luna".


"Oh. iya kak Boy"


Kemudian Luna melanjutkan mengajarnya dan Boy juga ikut mengaji dengan adit, sebenarnya Boy sudah pandai mengaji, hanya saja sejak bekerja di kantor, ia jarang mengaji, sekaranglah kesempatan untuk belajar lagi. Sampai sore hari Boy berada di panti itu, karena saking betahnya ia berada di sana dan pulang malam hari.


******


Sementara di rumah Lidya sedang bersama ketiga adiknya boy, seperti biasa mereka selalu berkumpul di ruang keluarga.


Briand sedang memainkan ponselnya, Bianka sedang melukis sambil bernyanyi nyanyi, Bastian sedang memainkan laptopnya karena ada tugas dari sekolahnya.


Sedangkan Lidya duduk termangun memikirkan sesuatu


Briand melihat ibunya itu diam terus dari tadi, kemudian ia bertanya "ada apa Bu? Bengong aja" ucap Briand


"Gini loh Bray, ibu sedang memikirkan bagaimana bagusnya desain untuk toko rotinya kak Luna" ucapnya


"Oh ntar Briand bikinin ya" ucap Briand.


"Memangnya kamu bisa? " ucap Lidya meragukan Briand.


"Ibu lihat saja nanti ya, tapi gak gratis ya Bu hehe"


"Em kamu bikinnya juga belum, ibu mau lihat dulu, baru nanti kalau ibu suka ibu akan bayar semuanya"


"Oke deal, ibu akan terpana melihatnya nanti"


"Ibu tunggu janjimu itu. "


"Siap"


Apa iya Briand bisa membuat desainnya.? Batin Lidya masih ragu.


*****


Hari sudah berganti, hari ini mereka melakukan aktifitas seperti biasa. Pagi itu Lidya menagih janji yang diberikan Briand padanya waktu kemarin

__ADS_1


Tuktuktuk. "Briand, boleh ibu masuk? " tanya Lidya sambil mengetuk pintu kamar Briand.


"Masuk saja Bu, tidak dikunci" ucapnya dari dalam


Dan pintu dibuka oleh Lidya. Ia melihat briand sedang memegang pensil dan kertas kertas yang berantakan di meja belajarnya.


"Kamu lagi apa Bray? " tanya Lidya kemudian ia melihat desain desain rumah, gedung, hotel dan bangunan lainnya didalam kertas tersebut.


"Ini kamu yang buat Briand? Maa syaa Allah Briand ini bagus bagus sekali, ternyata ibu salah menilaimu kemarin" ucapnya ia tidak menyangkan dengan kemampuan Briand


Briand tersenyum bangga. "Ibu lihatkan sekarang"


"Iya iya, terus kamu bikin apa itu yang di pegang? Kenapa di sembunyikan? " tanya Luna ia melihat kertas besar yang dipintalkan oleh briand di tangannya.


"Oh ini, rahasia lah Bu, hehe"


", sini ibu mau Lihat" kemudian ia memaksa mengambilnya dari tangan Briand.


Briand pasrah karena kertasnya sudah ditangan Lidya dan Lidya melihatnya. Lidya membelalakan matanya dengan Bulat, ia melihat sebuah bangunan yang sangat Luas dan terlihat sangat indah dengan menara yang menjulang tinggi, Briand menggambarnya dengan sangat apik dan teliti.


"Briand kenapa kamu bisa sampai berimajinasi sepertu ini? Kamu mau buat istana hah? Ini ini Luas bangunannya bisa sampai sekampung lo" ucapnya ia terpana dengan buatan Briand.


"Hahaha, ibu bisa aja si, iya kan siapa tau aja Briand nanti jadi sultan. Hahaha. Ibu Lihat itu nanti di dalamnya akan ada lapangan bola, terus di atas istana itu akan ada tempat untuk landasan pesawat pribadinya Briand.. Hahaha" ucap briand sambil tertawa dan menunjuk nunjuk gambar istana itu


"Ya ampun briand ternyata cita citamu sungguh luar biasa. Bagus bagus, kamu sangat luar biasa.. Ya sudah ini simpan ya. " ucap Lidya sambil mengembalikan kertas tersebut.


"Hebat kan Briand? "


"Iya kamu memang hebat, kamu harus kembangkan kemampuan mu ya, ibu akan mendukungmu"


"Hmm ibu setuju, terus mana desain untuk toko rotinya kak Luna nanti? "


Kemudian Briand membuka laci di meja belajarnya dan mengambilnya.


"Ini bu, kecil lah membuat yang begituanmah" ucapnya Dengan bangga


Kemudian Lidya melihatnya dan ia menyukai desain toko roti tersebut. "Waaw, ini yang ibu mau. terimakasih ya nak"


"Sama sama ibu, sesuai perjanjian, ini gak gratis ya Bu" ucap Briand


"Baiklah, kamu hargai berapa kertas ini? " tanya Lidya


"Berhubung aku menjualnya pada ibu, aku hargai 25 juta saja Bu, "


Luna menganga mendengar ucapan Boy


"Whatt? Yang benar saja Briand? Mahal sekali ckck ck.. "


"itu sudah pas Bu, aku buatnya pakai hati loh biar ibu puas dengan hasilnya"


"Haah baiklah berhubung ibu sangat butuh desain ini, jadi ibu bayar kontan, nanti uangnya ada di kamar ibu, kamu kesana aja ya"


"Oh siap ibu" ucapnya senang


"Terimakasih Briand, e tapi uangnya buat apa Briand? Awas aja kalau di pakai poya poya"

__ADS_1


"Sama sama bu, bukan dong bu, Briand mau nabung buat bikin istana iitu, hehe


"Hmm seperti itu? baiklah"


"Ibu keluar dulu" ucapnya sambil keluar dari kamar Briand.


"Oke".


*****


Hari itu Ira ke rumahnya Lidya karena ada tugas baru dari Lidya.


"Selamat pagi nyonya, ada tugas apa hari ini?" tanya ira ketika ia baru sampai dan Lidya sudah menunggu di ruang tamu


"Pagi ira, kamu ambil kertas ini, ini adalah desain toko Luna, saya ingin toko tersebut selesai secepatnya ya".


Ucap Lidya sambil menyerahkan kertas tersebut dan ira menerimanya


"Oh baiklah Nyonya, ira akan urus semuanya, ira akan menyuruh orang yang sudah profesional dalam membangun" ucapnya


"Bagus" ucap Lidya dengan senyuman


"Kalau begitu saya pergi dulu nyonya"


"Baik ira".


Kemudian ira pergi dan melaksanakan tugasnya hari itu juga.


*****


Sementara di rumah Luna, ia sedang siap siap untuk berangkat ke kampungnya, tidak lupa Rani sudah belanja dahulu untuk dibagikan ke tetangganya dan saudaranya di kampung serta untuk cucu nya nanti. Mereka pergi bersama seorang sopirnya, namun ketika hendak naik ke mobil ada mobil yang parkir di halamannya dan di dalamnya ada tiga orang body guard yang bertubuh kekar dan gagah mereka turun dari mobil itu dan menghampiri Luna dan Rani.


"Kalian siapa? " tanya Rani


"Kami di suruh Nyonya Lidya untuk mengawal anda Nyonya" ucap salah satu body guard itu


"loh tapi kenapa? " tanya Rani kembali


"Untuk memastikan kalian baik baik saja selama perjalanan dan di sana nanti"


Luna dan Rani saling pandang, mereka tidak menyangka dengan kedatangan Body guard itu untuk mengawalnya.


"Oh baiklah kalau begitu, kita berangkat sekarang" ucap Luna. Ia pasrah saja dengan keberadaan Body guard itu.


"Baik nona" kemudian mereka masuk ke mobil dan berangkat ke kampungnya Luna.


Beberapa jam kemudian Luna sampai di kampungnya


Para tetangga terlihat kaget dengan kedatangan Rani dan Luna karena mereka di kawal dan menaiki mobil mahal. Tetangganya langsung berkerumun dan terlihat senang dengan kedatangan Luna dan Rani. Dan Rani bercerita banyak pada tetangganya itu juga ke keluaganya di sana. Rendi juga datang menyambut Rani dan Luna, ia bersama istrinya yang bernama nina serta Elma dan Elga anaknya Rendi juga ikut.


Tidak lupa Rani membagikan bingkisan untuk mereka. Dengan suka cita tetangga dan keluarganya menerimanya.


Namun Nina bukannya senang karena Rani sekarang sudah punya segalanya, tapi dia malah jadi iri dan semakin tidak suka pada Luna. Karena memang dari dulu Nina tidak suka pada Luna, karena Rani selalu membanding bandingkannya dengan Luna.


Luna menghabiskan waktu dua hari di kampungnya. Ia juga berziarah ke makam ayah Luki dan mamah Rena dan juga ke makam bapak Ahmad.

__ADS_1


Terbayar sudah kerinduannya pada kampung halamannya. Dan dua hari kemudian Luna harus kembali ke kota. Karena sekarang ia akan tinggal selamanya di kota dan akan mulai usaha di toko roti bekas peninggalan ayahnya itu.


__ADS_2