
"Bos,, itu bukannya nona Luna ya?" tanya Willy sambil nunjuk ke arah Luna.
Kemudian Boy melihat ke arah yang ditunjuk Willy
"Benar Will, sedang apa dia di sana.. Ayo cepat samperin" ucap Boy
"Siap Bos"
Willy membelokan mobilnya dan terparkir di tepi jalan taman itu. Mereka turun dan menghampiri Luna. Boy melihat Luna sangat ceria sekali dengan anak anak itu.
"Sayang.. " sapa Boy pada Luna, ia berdiri di belakang Luna
Seketika Luna mendongakan kepalanya, dan melihat Boy dibelakangnya, kemudian ia tersenyum dan berdiri
"Lhoh a,, kenapa di sini?" tanya Luna sambil menyalami dan mencium punggung tangan Boy.
"Aku mau mengajakmu makan siang, neng sedang apa di sini? Duduk di bawah, kotor itu!!" ucap Boy, ia memutar tubuh Luna, melihat siapa tau baju Luna kotor. Tapi tidak, karena mungkin rumputnya bersih.
"A,, Aku habis bagiin kue sama mereka" ucap Luna sambil menunjuk ke anak anak itu, anak anak itu tersenyum kepada Boy dan Boy membalas senyuman nya.
"Oo begitu, lalu apa sendirian kamu ke sini?"
"Iya,, a.. Karyawan ku lagi sibuk.. Jadi aku berjalan kaki sendiri ke sini"
"Apa???" boy kaget
"Jadi kamu berjalan kaki bawa barang berat sambil bagiin makanan sendiri?
Tidak tau diri karyawan mu itu, mereka tidak mengantarmu,, kamu panas panasan di sini sedangkan mereka adem di toko"
"Willy!! Kamu tegur mereka" titah Boy pada Willy
"Oh, baik Bos" jawab Willy
"A jangan gitu lah.. Aku gak masalah kok,, aku yang menyuruh mereka jaga toko karena lagi rame banget tadi". Ucap Luna, ia memegang kedua tangan Boy mencoba menenangkannya supaya tidak marah.
"Tidak,, sayang. Mereka sudah keterlaluan,, ayo pergi dari sini" Boy menarik Luna
"Willy antar kita ke restoran Bayu dulu".
"Baik Bos."
"Adek adek,, kak Luna pamit dulu ya.. Assalamualaikum "
Segera Luna berpamitan pada anak anak Itu
"Iya kak waalaikumsalam" jawab mereka.
Luna berlalu dari sana dan masuk ke dalam mobil
Diperjalanan..
"A udah dong.. Larang kak Willy gak usah tegur karyawan ku.." pinta Luna
"Nggak" singkat Boy.
Luna hanya mendengus kesal
"Kak Will,, awas ya kalau kamu berbuat kasar pada karyawanku." ancam Luna
"Hehe tenang saja nona" ucap Willy santai sekali
Kayak gak tau aja kalo Willy negur itu gak bisa lembut. Galaknya udah kayak beruang gunung kelaparan, tapi setelah itu biasa dia minta maaf.
Beberapa menit kemudian, mobil sampai di restoran Bayu. Luna dan Boy masuk ke dalam. Sementara Willy melaksanakan tugas dari Boy, ia pergi ke toko Luna.
Restoran dengan bernuansakan timur tengah milik Bayu. Semua masakan di sana juga khas timur tengah.
Boy sudah memilih tempat duduk di sana. Mereka duduk dan melihat apa saja menu yang ada di sana.
"Nah,, ini restoran baru beberapa minggu ini buka. Kita cobain ya, ada menu apa saja di sini" Boy ajak bicara Luna.
"Oouh gitu,, ini menu nya aneh aneh, baru tau aku. Hehe" ucap Luna, ia melihat lihat dan mencari menu yang menurutnya menarik.
"Iya sayang, aku jadi bingung.. Kita panggil Bayu nya aja ya, biar tau mana yang paling enak di sini"
"Iya a"
Kemudian Boy memanggil Bayu, dan Bayu datang menghampiri karena kebetulan ia lagi ada di sana.
__ADS_1
"Hai kak, hai kak Luna" sapa Bayu
"Hai dek.."
"Nah coba kamu beri tau,, masakan mana yang paling enak di sini" pinta Boy
"Semua enak kok kak,, yang paling baru ini adalah steak unta, permintaan papih har, dan banyak peminatnya juga" jelas Bayu
Boy tertawa
"Jadi Om Har memintamu untuk mengadakan steak unta juga di sini?" tanya Boy
"Iya kak,, tapi papih Har belum nyobain kesini. Ya maklum kan dia di luar negri"
"Iya iya.. Gimana sayang, kamu mau yang mana?" Boy menoleh pada Luna
"Ya udah itu saja a.. Kita cobain steak untanya" ucap Luna
"Baiklah, Bayu buatkan dua porsi oke"
"Baik kak,, tunggu sebentar ya"
Bayu kembali ke dapur untuk menyiapkan pesanan kakaknya itu.
"A kok sepi di sini" ucap Luna, ia heran karena tidak ada pengunjung ke sana
"Iya,, sengaja aku pesan tempat ini hanya untuk kita berdua" ucap Boy dengan senyumnya
"Apa?? Kenapa a?"
"Supaya kamu bisa makan dengan santai dan membuka cadarmu. Tenang saja di sini tidak ada kamera cctv kok" ucap Boy
"Oo baiklah,, jadi tempat ini dipesan khusu buat kita, kalau gitu aku buka cadarku ya"
"Iya sayang"
Kemudian Luna membuka cadarnya dan terlihatlah wajah cantik putih yang pipinya kemerah merahan serta bibir tipis yang merah alami, ketika tersenyum membuat Boy diabetes.. Hehe
"Aa kenapa liatin Luna begitu?" tanya Luna, karena Boy terus memandangnya sambil tersenyum.
"Siapa yang tidak terpana melihat istrinya begitu menawan dan seksi" goda Boy sambil menopang dagunya dengan tangan.
"Aa bisa aja si" Luna malu malu, dan pipinya tambah merona
Mereka makan dengan tenang dan menikmati steak tersebut karena rasanya memang enak. Sambil berbincang beberapa hal.
Pada akhirnya hampir selesai makan, Willy datang ke sana, dan segera Luna memakai kembali cadarnya.
"Bos" sapa Willy, ia ikut gabung di sana.
"Lama sekali kau will" ucap Boy
"Biasa lah bos.. Hehe"
"Ya sudah cepat makan dulu kamu"
"Oke Bos"
Willy makan siang di sana besama sama.
"O ya a, besok kan akhir pekan, jadi nanti malam kita nginap di rumahku kan?" ucap Luna
"O iya ya,, baiklah, tapi nanti kita ke rumah ibu Lidya dulu ya, aa mau bawa beberapa barang dan laptop, soalnya banyak tugas yang harus dibereskan" ucap Boy "sekalian pamit dulu sama ibu" sambungnya.
"Bos, biar saya saja yang kerjain tugas" pinta Willy
"Tak usah lah will,, kau urus saja kedua wanitamu itu" ucap Boy
"Maksudnya apa Bos?" ucap Willy dengan senyum senyum.
"Eh will, jadi siapa yang akan kau pilih hah? Hana apa shafiyah?" tanya Boy
"Aku belum tau bos, kedua duanya sangat baik, shafiyah.. Dia gadis baik dan soleha. Aku juga udah dapat sinyal baik dari Ustadz Hasan. Dia merestuiku dengan shafiyah. Hana, dia baik bos, ibuku ingin dia menikah denganku.. Aku bingung Bos" Willy menggaruk garuk kepalalanya.
"Kak will, kalau kamu tidak memilih shafiyah, kamu akan menyesal, dia gadis yang istimewa, calon ustadzah.. Aku yakin itu.. Aku kenal banget sama Shafiyah, walaupun bercadar, dia itu gadis yang cantik. Dan kakaknya itu sangat menjaganya. Kalau sampai Ustadz Hasan kecewa karena kak Will hanya memberi harapan palsu.. Dia tidak akan tinggal diam" ucap Luna
"Iya nona, tapi aku kasian sama Hana juga" Willy bingung dan galau jadinya
"Kalau begitu kau nikahi dua duanya" ucap Luna dengan santai sambil memotong steaknya dengan pisau
__ADS_1
Willy membelalakan matanya dan berhenti mengunyah. Lalu memandang Boy seolah bertanya tanya.
"Apa bisa saya nona?" tanya Willy, ia masih ragu
"Ya harus bisa dong. Kalau kamu mencintai dua duanya, dan jika mereka juga ikhlas di madu" jelas Luna
Willy hanya terdiam dan mencerna kata kata Luna.
Luna tersenyum melihat ekspresi Willy begitu juga Boy.
"Sayang,, jika aku menikah lagi, apa kamu juga setuju" ucap Boy, ia menguji Luna
Willy dan Luna kaget dengan pertanyaan Boy
Glekk.. Luna menelan salivanya.
Seketika ia berhenti mengunyah ketika sedang asiknya makan, ia kaget dengan pertanyaan Boy
"Menikah lagi? Silahkan.. Silahkan saja.." ucap Luna dengan raut wajah datar.
Kenapa hatiku sakit sekali mendengar suamiku, menikah lagi?? Aku rasa tidak ikhlas. Batin Luna
Ia menghela nafas dengan berat dan mendorong piringnya, ia merasa tidak nafsu makan sekarang.
Boy tersenyum melihat ekspresi Luna. Ia tau Luna tidak setuju
"Benarkah? Apa kamu tidak masalah?" tanya Boy kembali
Luna memalingkan wajahnya
"Ya.. Tapi kau harus menikahi wanita yang lebih baik dariku, yang lebih cantik dariku, yang lebih hebat dariku, supaya aku bisa belajar banyyak padanya" ucap Luna dengan berat hati. Kemudian ia menusuk nusuk steaknya dengan pisau karena kesal
"Hey,, ayolah sayang.. Aku hanya becanda. Habiskan makananmu" ucap Boy sambil ia membelai pipi Luna dan tersenyum
Namun Luna tidak peduli, baginya ucapan Boy tadi sudah membuatnya membara.
Willy melihat ekspresi Luna, ia tau juga Luna tengah kesal pada Boy
"Kau berani bermain api dengan nona, bos!" ucap Willy
"Aku hanya becanda will" ucap Boy sambil memelototi Willy.
"Aku mau ke toilet dulu" ucap Luna, ia bergegas ke toilet. Ia ingin sekali membasuh wajahnya yang terasa panas karena menguap dari hati yang membara.
Willy dan Boy melanjutkan makannya. Boy merasa tidak enak pada Luna.
Di kamar mandi Luna membasuh wajahnya yang memerah, dan ia memandang dirinya di cermin.
A boy,, apa benar ia ingin menikah lagi? Bagaimana jika benar. Dan aku tidak mungkin melarangnya, aku tidak bisa memaksanya untuk hanya mencintaiku. Hak nya dia ingin menikah lagi, karena ia tidak akan kekurangan dengan harta, bahkan jika ia memiliki sepuluh istripun akan sanggup ia nafkahi. Tapi hatiku berat sekali untuk dimadu. Batin Luna, tidak terasa air matanya tidak terbendung lagi. Ia menangis di sana dan terus memikirkan ucapan Boy.
Sekitar lima belas menit berlalu, Luna belum datang juga. Boy dan Willy sudah selesai makannya.
"Kenapa Luna lama sekali" ucap Boy bertanya tanya sambil melihat jam di tangannya.
Willy hanya mengangkat bahunya, ia juga tidak tau.
Kemudian Boy menghampiri Luna ke kamar mandi dan ia dapati Luna tengah menangis di depan cermin.
Boy segera memeluk Luna dari belakang
"Ya ampun sayang.. Sedang apa di sini? Kenapa menangis hm?.. Apa karena ucapanku tadi? Maafkan aku sayang.. Sudah ku bilang kan, aku hanya becanda tadi" ucap Boy.
Kemudian Luna menyeka air matanya, dan Boy memutar badan Luna hingga mereka berhadapan sekarang.
"Hei lihat aku" Boy mendongakan wajah Luna dengan menarik dagunya, kemudian mencium kedua matanya yang merah. Ia merasa bersalah pada Luna
"Aku tidak mungkin menduakan hatiku untuk wanita lain, sedangkan kamu sudah sempurna untukku, percayalah sayang, aku tidak akan menikah lagi" ucapnya, kemudian memeluk Luna untuk menenangkannya.
Luna hanya terdiam dalam pelukan Boy.
"A, jikapun benar ingin menikah lagi, silahkan saja. Aku tidak mungkin melarang mu, itu hak mu" ucap Luna
"Ssttt .. Jangan katakan itu, aku tidak mungkin melakukannya" ucap Boy
"Dan jangan pikirkan ucapanku tadi ya" pintanya
Luna kini berfikir positif. Ya sebenarnya ia sangat tidak ingin jika di madu.
__ADS_1
Tidak butuh waktu lama, Luna kembali ceria setelah Boy merayu nya. Dan kini ia baikan lagi.
Kemudian selesai makan siang, mereka menuju toko Luna, karena Luna ingin melihat keadaan karyawannya karena tadi Willy habis menegurnya, Luna takut jika Willy berbuat kasar