
Siangnya Boy terus menanyakan bagaimana keadaan Luna. Ketika waktu senggang, Boy menyempatkan untuk vc an sama Luna.
"Hallo" Boy tersenyum sambil melambaikan tangan dari tempatnya
"Hai a.. Lagi apa? Sepertinya bukan di kantor?". Ucap Luna dari tempat tidurnya
"Iya,, aku lagi di luar kota sayang, lagi ada proyek sama rekan bisnisku"
"O ya,, kok gak bilang tadi pagi?"
"Maaf sayang,, aku takut kamu kuatir tadi.. Gapapa kan?"
"Iya gapapa,, yang penting aa baik baik aja kan disana?"
"O tentu dong,, kamu gimana siang ini? Sudah mendingan..?"
"Sudah a,, aku di kasih vitamin dan suplemen makanan oleh dokter"
"Ooh syukurlah.. Terus apa gejalanya?"
Luna tersenyum
"Mmm.. Ada dehh.."
"Loh kok gitu?"
"Kalau mau tau, cepat pulang lah"
"Iya,, tunggu saja oke.. Aku mungkin pulangnya malam sayang.."
"Oo.. Iya.. Hati hati saja di sana ya,, semoga lancar proyekmu"
"Tentu sayang.. Terimakasih ya"
"Iya.. "
"Nanti lagi ya sayang.. Aku mau mengontrol lagi pegawainya"
"Baik a.. "
"Assalamualaikum"
"Waalaikumsalam"
Tuuuutt... VC ditutup. Emangnya berbunyi? 😁
Walau hanya lewat vc, setidaknya mereka tenang setelah mengetahui kondisi masing-masing.
Tidak butuh waktu lama, berita kehamilan Luna sudah menyebar oleh Lidya, ia awalnya hanya memberi tahu Mirza, kemudian pelayan di rumahnya tau dan mulai bergosip, dan adik adiknya Boy juga tau.. Dan dari merekalah berita menyebar ke mana-mana. Hanya Boy yang belum tau saat itu. Kemudian karyawan Luna di toko juga menanyakan kenapa Luna tidak ke toko hari itu, Luna tidak mungkin berbohong kan, akhirnya ia cerita lah,kalau ia tengah hamil muda. Begitu bahagianya para karyawan Luna setelah mendengar berita itu.
Lidya juga memberitahu Rani serta keluarganya di kampung.
******
Malam hari tiba, kini saatnya Boy pulang dari luar kota. Auto kebut semalam saat itu, karena ingin segera bertemu dengan Luna. Dengan raut wajah letih dan lelah,, ia masuk ke rumah seraya mengucap salam. Dan disambut oleh Lidya dengan wajah sumringah.
"Kamu sudah pulang nak" sapa Lidya yang tengah berdiri di ruang itu.
"Iya bu, bagaimana istriku..?" tanya Boy sambil ia melepas jas dan sepatunya,lalu memakai sandal. kemudian pelayan pribadinya membantu untuk menyimpannya.
"Lihatlah,, dia di kamarnya"
"Ohh. Iyaa"
Kemudian Boy segera ke kamarnya, untuk memastikan kondisi Luna.
__ADS_1
Pintu kamar di buka, Ia dapati Luna tengah duduk bersandar di tempat tidur sambil membaca buku
"Sayang" sapa Boy, sambil menutup pintu.
"Hei a" ucap Luna ia tersenyum manis kepada suaminya itu.
Kemudian Boy menghampiri dan duduk di sebelah Luna. Luna mengendus-endus tubuh suaminya, ada bau tidak enak di sana
"Emm.. Bau keringat kamu a, mandi dulu gih" pinta Luna sambil ia menutup hidungnya dengan mencubitnya.
"Aku mau cium kamu dulu" Boy main nyosor aja
"Nggaaak" Luna mendorong tubuh Boy.
"A mandi dulu gih,, aku gak kuat bau badanmu.. Wekk" Luna serasa ingin muntah.
"Yang.. Kok gitu sih" Boy memelas dan cemberut
"Iya nanti kalau sudah mandi boleh cium sepuasnya kamu,, tapi sekarang jangan dulu"
"Baiklah.. Muahh.. Aku mandi dulu"
Boy berhasil mengecup pipi Luna sekilas, kemudian ia bergegas mandi.
Luna menggeleng seraya senyum tipis dibuatnya.
Kemudian ia menyiapkan baju untuk Boy pakai. Setelah kurang lebih lima belas menit, Boy selesai mandinya, ia memakai baju sampai rapih, dan kini sudah berbau harum. Plus lagi tamVan
Kemudian Luna mencium bau harumnya dan menyandarkan kepalanya di dada Boy.
"Emm... Wangi sekali a" ucap Luna
"Iya dong.. Kan habis mandi" ucapnya dengan tersenyum. Kemudian memeluk Luna sambil berhadapan dengan cermin
"Sekarang katakan, apa yang kamu rahasiakan dari tadi hm?"
"Ketika ada seseorang menitipkan sesuatu kepadamu, apa aa akan menjaganya?"
"Yaa tentu saja,, itu kan akan menjadi tanggung jawab ku, selama sesuatu itu berada padaku
"Ketika Allah titipkan janin dalam tubuhku,, apa aa siap menanggung amanahnya?"
Boy senyum-senyum
"Insyaallah sayang,, apa nih? Kamu hamil ya?" Boy menduga duga. Jantungnya dagdigdug sampai Luna merasakannya.
Luna tersenyum dan mengangguk
Langsung saja Boy serasa sangat bahagia hatinya dan bersujud syukur saat itu juga, seraya mengucap syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa.
"Terimakasih sayang.. Kau hamil,, kau hamil anakku" cupp.. Cupp.. Cuppp... Kecupan di wajah Luna
Dan memeluk erat Luna, kebahagiaan yang tiada tara. Setelah sembilan bulan penantian, akhirnya Luna hamil juga.
Sejak saat itu Boy sangat perhatian pada Luna, dan Luna semakin manja pada suaminya.
********
Turkey
Ayah Mirza sedang mengatur rencanannya untuk pulang dulu ke tanah air. Di hotelnya ia tengah berbincang empat mata dengan Bastian di sofa.
"Basti.. Ayah lihat semakin hari kamu semakin bagus kemampuanmu dalam mengurus perusahaan, bagaimana menurutmu? Apa kamu siap menggantikan posisi ayah?" tanya Ayah Mirza
Bastian diam sejenak dengan kepalan tangan menutup mulutnya. Ia masih ragu
__ADS_1
"Mm. Ayah.. Bastian masih ragu, bagaimana jika nanti Bastian tidak bisa"
"Jangan bilang begitu nak, ayah sudah puas dengan kemampuan kamu, kamu bisa kuliah terus bekerja juga bantu ayah, tenang saja.. Kan ada sekretaris Ummar yang akan bantu kamu"
"Iya ayah.. Tapi apakah kakak dan adik Bastian akan setuju jika Bastian yang melanjutkan perusahaan ini?"
"Nak.. Ini sudah dibahas sejak dulu. Cuma kamu yang mau meneruskan perusahaan ayah ini kan. Kak Boy mengurus yang di indo, kak Bayu sudah sukses bisnis kulinernya. Briand, jangankan mau berbisnis, datang ke kantor saja gak mau, dia gak tertarik dengan bisnis. Sementara Bianka sama saja dengan Briand. Mereka berdua hobinya menggambar dan punya cita cita masing masing.."
"Baiklah ayah, in syaallah Basti siap, tapi ayah jangan sepenuhnya dulu melepaskan tanggung jawab pada Basti, ayah harus tetap bimbing Bastian."
"Bastian, ayah ini sudah tua, ayah ingin pensiun. Untuk urusan bimbingan ayah akan serahkan sepenuhnya pada Ummar"
Bastian menghela nafas
"Baiklah, jika itu mau ayah.. Aku nurut saja sama ayah"
Mirza tersenyum
"Bagus.. Ayah akan mengurus secepatnya penyerahan perusahaan ini padamu" ucapnya sambil menepuk pundak Bastian.
Mirza senang sekali karena sudah puluhan taun bergelut dalam dunia berbisnis, kini akhirnya ia akan segera pensiun.
Di tengah suasana bahagia, ponsel Bastian berbunyi
Krriiingg....
Bastian menengok sekejap ponselnya, panggilan dari Wulan. Tapi Bastian malah menelungkupkannya.
"Kenapa gak diangkat? Dari siapa?" tanya ayah Mirza
"Mm.. Wulan ayah" ucapnya malu malu
"Angkatlah, siapa tau penting"
"Tak usah.. Nanti saja, aku kan lagi ngobrol sama ayah"
Sampai akhirnya bunyi telpon tidak terdengar lagi
"Basti, ayah perhatikan kamu sering sekali menghubungi Wulan, kamu ada hubungan dengan dia?"
"Tidak ayah, kami hanya teman baik saja"
"Tapi perasaan ada kan??" goda Mirza
"Belum tau ayah,, Bastian belum bisa memberi kepastian, dan juga tidak mau berharap lebih sama Wulan. karena Wulan sepertinya juga ada lelaki lain yang menunggunya"
"Basti,, kalau kamu suka sama anaknya paman Sam itu, kamu jujur saja.. Dan perjuangkan dia, masa kamu kalah sama lelaki lain"
"Apa?? Memangnya ayah setuju jika Bastian sama Wulan?"
"Kenapa tidak? Dia anaknya paman Sam, dan ayah tau siapa Wulan"
Bastian tersenyum
"Terima kasih ayah, tapi biarlah semua berjalan dengan alurnya, Bastian tidak mau menjalin hubungan dulu.. Bastian mau fokus dulu mengurus perusahaan"
"Ayah setuju Basti,, tapi ingat, jangan seperti kak Bayu. Tau tau dia sudah melamar anaknya Har. Kaget ayah tau.."
"Hehe,, Bastian tidak akan seperti itu, Bastian akan minta restu dulu sama ayah dan ibu"
"Ayah bangga sama kamu.. "
"O ya.. Nanti sore ayah akan pulang dulu ke tanah air, apa kamu mau ikut bareng?"
"Ohh.. Iya ayah, mm.. Pulang saja, sudah lama kan ayah tidak pulang. Tapi Bastian tidak bisa pulang dalam waktu dekat, taun ini insyaa Allah Bastian wisuda ayah, jadi harus lebih giat lagi kuliahnya"
"Emm.. Iya ayah faham.. Kamu semangat ya kuliahnya"
__ADS_1
"Pasti ayah.. Titip Salam buat semuanya, terutama kakak ipar, aku senang sekali akan punya keponakan"
"Iya Bastian, akan ayah sampaikan"