
Saat itu juga, orang tua dan adik-adik Boy, juga Bayu dan Zahwa datang kembali ke rumah sakit.
Pintu dibuka oleh Bastian seraya mengucap salam.
"Assalamualaikum kak" ucap Bastian dan ia tidak sengaja melihat Luna tidak memakai jilbab dan cadar.
Sontak saja Luna dan Boy tersadar dan kaget, mereka menatap ke arah Bastian
"Aaaa..." teriak Luna
kemudian Luna menutup wajahnya dengan telapak tangannya.
"Basti!! Keluar kamu!" bentak Boy yang tengah tiduran dipangkuan Luna
"Maaf.. Maaf kak.. Aku gak sengaja.." ucap Bastian sambil menutup matanya. Kemudian ia kembali menutup pintu.
"Ada apa basti?" tanya ibu Lidya
"Mm kita tunggu sebentar" ucap Bastian agak gelagapan
"Kenapa? Sedang apa kakakmu? Apa mereka sedang...?" tanya ibu Lidya menduga duga sambil membelalakan matanya
"Apa bu?.. Itu kak Luna tidak pakai jilbab tadi. Jadi kaget dia"
"Ooh... Salah kamu juga sii, tidak mengetuk pintu dulu". Tegur ibu Lidya
"Hehe.. Iya, Basti lupa bu"
Sementara di dalam Luna kelabakan memakai jilbabnya dengan cepat.
"Sayang,,, pelan-pelan..." Ucap Boy sambil membetulkan jilbabnya karena agak miring.
Kemudian Luna memakai cadarnya.
"Huhh" Luna menghela nafas.
"Bastian itu yaa.. Main nyelonong aja ke dalam!" ucap Boy dengan kesal sambil menatap pintu.
"Gimana sekarang? Gapapa mereka masuk?"
Luna mengangguk
"Kamu kok seperti tegang begitu sayang?"
"Aku kaget a.."
"Mmm.. Gapapa ya, namanya juga tidak sengaja."
Ucapnya sambil menatap Luna
"Iya"
"Masuk..." Boy sedikit teriak mempersilahkan mereka masuk.
Kemudian Lidya dan semuanya masuk seraya tersenyum pada Boy dan Luna.
"Sudah aman sekarang Boy?" tanya Ibu Lidya sambil berjalan mendekati Boy dan Luna di sofa
"Aman ibu" jawab Boy
"Maaf ya kakak ipar, aku tidak sengaja tadi" ucap Bastian dengan senyumnya, kemudian ia duduk di samping Boy
"Gapapa adik.." ucap Luna sambil merunduk. Dia malu auratnya sudah di lihat oleh Bastian.
"Basti, lain kali kalo mau masuk, ke mana saja ucap salam dulu dan ketuk pintu! Biar gak kayak tadi" ucap Boy dengan agak kesal.
"Iya kak,, maaf.. Basti lupa" ucap Bastian
__ADS_1
"Kakak sekarang udah bisa jalan?"
"Hm.. Belum sih, masih pakai kursi roda, tadi habis nengok Willy, dia sudah sadar sekarang.."
"Benarkah Boy?" tanya ibu Lidya terlihat senang
"Alhamdulillah.."
"Iya bu.."
"Nanti kita tengok Willy ya basti, ayah..semuanya?"
Ajak Lidya pada semuanya.
"Let's go..." ucap ayah Mirza
"Aku kesini sekalian pamit sama kak Boy, nanti sore mau berangkat ke turki lagi.. Kakak cepat sembuh ya"
Ucap Bastian
"Ooo.. Kamu berangkat nanti Basti?"
"Iya.. Kamu baik baik disana ya,, wahh calon presdir muda kamu ya.." ucap Boy terlihat bangga pada Bastian. Seraya ia menepuk bahu Bastian.
Bastian tersenyum.
"Iya kak.. Doakan saja supaya Bastian bisa"
"Iya dong.. Kamu pasti bisa.. Harus bisa oke" Boy memberi semangat
"Iya kak"
"Aku juga mau pamit kak ipar.. Semoga lekas sembuh ya kak ipar" ucap Zahwa pada Boy.
"Oo Zahwa mau barengan berangkat ke turki sama Bastian?"
"Iya kak ipar"
"Kak Boy seneng banget sih kayaknya" ucap Bayu agak cemberut.
"Ah enggak.."
"Ekhm.. Boy mau pulang saja hari ini bu, mau di rawat di rumah aja, udah bosen juga di rumah sakit, gak betah"
"Pulang Boy?.. Ya oke boleh saja jika dokter sudah mengijinkan" ucap Lidya
"Sudah bu" jawab Boy
"Oke.."
"Kalau gitu kita tengok Willy yuk ayah, habis ini kita jajap Bastian ke bandara"
"Sekalian kamu pamit juga sama paman dan bibi ya Basti.."
"Iya ibu" ucap Bastian
"Oke.. Ayo bu.." ajak ayah Mirza berjalan duluan menuju ruang rawat Willy.
"Kita kesana dulu ya kak.." ucap Bayu sambil menggandeng Zahwa, mereka mengikuti
Ibu dan ayahnya
"Oke.." jawab Boy.
******
"Dengar dengar kak Basti ini calon direktur utama ya kak" ucap Wulan pada Bastian. Bastian mengajak ngobrol Wulan di halaman rumah sakit. seusai menjenguk Willy. Mereka duduk di kursi berdua.
__ADS_1
"Iya Wulan. Semoga saja" jawab Bastian seraya tersenyum pada Wulan yang terus menunduk dari tadi.
"Emm.. Semoga lancar ya kak,, o ya, kapan acara penyerahan perusahaannya kak?"
"Iya.. Aamiin.. "
"Mm.. Rencananya nanti kalo kandungan kak Luna sudah kuat, supaya bisa semuanya datang ke turki."
"Oo begitu.."
"Wulan juga harus datang ya.."
"Hah?.. Oh. Iya insyaallah.." Wulan kaget dengan ucapan Bastian, ia tidak menyangka Bastian berharap ia datang ke acaranya nanti.
Hening...
Bastian ragu-ragu ingin menyampaikan sesuatu pada Wulan.
"Wulan" panggilnya
"Iya kak?" Wulan melirik Bastian sekejap
"Mm.. Apa kamu.. Mm" Bastian garuk-garuk kepalanya
Wulan menunggu apa yang akan disampaikan Bastian
"Wulan apa kamu menyukai fakih?"
"Mm.. Aku gak tau kak, orang dianya juga gak ada kabar"
"Kamu berharap pada fakih?"
"Tidak juga, kenapa kak Bastian bertanya begitu?"
"Tidak, tidak kenapa kenapa.."
Bastian mulai gugup
"Wulan, jika aku menyukaimu, apa kamu akan menungguku?"
"Hah??" Wulan kaget kemudian dia hanya diam.
Bastian menunggu jawaban Wulan
"Apa kak Bastian serius?"
"Aku serius Wulan"
"In syaallah kak.." jawab Wulan seraya tersenyum sambil menunduk
Bastian terlihat senang sekarang dan menarik nafas dengan lega, hatinya seperti berbunga bunga atas jawaban Wulan
"Huuh.." bastian melepas udara
"Terimakasih wulan".
Wulan mengangguk.
"Aku harus segera pergi, ibu pasti sudah menunggu"
"Wulan, sampai jumpa mungkin beberapa bulan lagi" ucap Bastian sambil berdiri menghadap Wulan
"Oh iya, kak Basti,, semoga selamat sampai tujuan, sampai jumpa." Wulan tersenyum dan melambaikan tangan pada Bastian.
"Iya, aamiin.. assalamualaikum.."
"Waalaikumsalam"
__ADS_1
Kemudian Bastian berlalu dari sana dengan sedikit lari kecil untuk menemui ibunya yang mungkin sudah menunggu di parkiran.
Wulan hanya menatap punggung Bastian yang menjauh dari sana. Kemudian ia tersenyum senyum sendiri mengingat kata kata Bastian.