
Selepas sholat berjamaah, Luna saling sapa dengan warga setempat di halaman masjid. Mereka pangling dengan sosok Luna yang sekarang. Jika dulu Luna sering di pandang sebelah mata oleh warga, tapi sekarang keluarga Luna bisa di bilang orang yang terpandang di kampung itu. Dan itu berkat Lidya.
Kemudian Boy menghampiri Luna, dan Luna memperkenalkan suaminya itu pada warga. Mereka mengobrol basa basi dengan ramah. Ketika itu juga sahabat kecil Luna, yaitu amelia dan ica menghampiri Luna
"Neng Lubis,,, aaaa neng kita ketemu lagi.. " teriak amelia sambil memeluk Luna.
"Neng kita kangen banget sama kamuu.. " ucap ica juga memeluk Luna
Sontak saja Luna kaget dengan kehadiran sahabatnya itu.
"Amelia, ica.. Ya ampun.. Kalian masih ingat sama aku, aku kangen juga sama kalian.. " Luna membalas pelukan mereka. Hingga beberapa saat kemudian mereka melepas pelukan bahagia itu.
"Iya atuh neng, neng Lubis yang baik hati ini selalu kami rindukan tau" ucap Amelia sambil terus tersenyum lebar pada Luna.
"Neng Lubis apa kabar? " tanya Ica
"Alhamdulillah aku baik, kalian sepertinya baik juga benar kan?".
Luna tersenyum membalas mereka
"Iya neng alhamdulillah.. " ucap mereka.
"Neng Lubis pangling lhoh sekarang" kata ica
"Iya.. Cantiknya plus plus ya sekarang" amel memujinya juga.
"Kalian bisa aja.. Kalian juga pangling ko, apa kalian masih pada jomblo hm? " tanya Luna menggoda mereka.
"Yeeyy, kita sudah punya calon dong.. Amel sama ica ta'arufan sama anaknya pak lurah,, amel sama a Angga, ica sama adiknya kak Angga yaitu Andi, bulan syawal nanti kita mau nikah lhoh.. " amel menjelaskan sambil tertawa bahagia dengan ica.
Luna dibuat terkejut dengan perkataan Amel
"Apa?? Apa itu benar ica?.."
"Benar neng Lubis, kita gak boong" jelas ica
" Masyaa Allah.. Kalian berta'aruf dengan adik kaka, anaknya pak Lurah.. Luar biasa,, luar biasa.. Jangan lupa undang aku oke"
"O pastinya dong neng.. Hehe" ucap Amel
Saking asiknya mengobrol, Luna lupa mengenalkan Boy pada mereka
"Ekhmm,, " Boy berdehm sambil memalingkan wajahnya dan tersenyum manis
"Aku tidak dikenalkan pada mereka sayang? " ucapnya pada Luna.
"Ohh iya, aku lupa," Luna menepuk jidatnya "maaf ya suamiku"
"Ica, amel, ini adalah suamiku.. Namanya Boy". Ucap Luna memperkenalkan Boy
Kemudian Boy melihat sekilas pada amel dan ica sambil melambaikan tangan dan tersenyum, ia menjaga pandangannya sekarang, karena takut Luna marah lagi.
"Ohh iya,, hai kak Boy, saya Amel" ucap Amel
"Dan saya ica.. " ucap ica. Mereka juga melambaikan tangannya.
Setelah basa basi sebentar, Amel dan Ica pergi pamit karena ia harus kembali ke pesantren untuk ikut mengajar anak anak santri di sana bersama ustadzah Arum. Amel dan Ica guru muda di sana, kepintaran mereka tidak jauh beda dari Luna, sama sama pintar dalam urusan agama.
Kemudian Boy dan Luna berjalan menuju rumahnya sambil bercanda ria berdua.
"Sayang, kenapa mereka memanggilmu neng Lubis?"
Tanya Boy.
Luna tersenyum
"Aku juga tidak tau, itu panggilan iseng mereka dari dulu. Katanya Lubis singkatan dari Luna Bilqia Salma. begitu katanya" jelas Luna
__ADS_1
"Oo gitu, terus tadi warga pada memangilmu neng"
"Iya sayang,, warga di sini biasa memanggil ke anak gadis dengan sebutan neng, dan memanggil ke seorang lelaki atau pemuda dengan panggilan aa" jelas Luna.
"Kalau begitu kak Boy boleh dong panggil Luna neng? "
"Oo ya boleh dong, Luna juga mau panggil kak Boy,, aa yah.. "
Luna tersenyum padanya.
"Jadi kita neng aa ya.. " Boy tertawa di buatnya
"Oke,, itu akan menjadi panggilan baru kita. Aa Boy"
Ucap Luna.
"Tentu neng Luna" ucap Boy.
"O ya ngomong ngomong, kak Willy kemana? Gak kelihatan dari tadi" tanya Luna sambil ia melihat ke sekeliling mencari Willy.
"Gak tau ya sayang.. Tumben si Willy ngilang.. Yasudahlah nanti dia juga nyusul" ucap Boy.
Kemudian mereka melanjutkan berjalannya. Sementara Rani dan yang lainnya mungkin sudah sampai di rumah, karena dari tadi mereka jalan duluan.
Ketika Luna dan Boy sampai di dekat pintu pagarnya, Willy muncul dengan berlari kecil ke arah Boy dan Luna dengan raut wajah kelelahan dan ngosngosan Kemudian Boy dan Luna menoleh ke arah Willy dan bertanya
"Kenapa kamu Willy? " tanya Boy keheranan
"Iya kak will, kayak habis ketauan mencuri saja"
Luna tertawa
"Gila.. Ampun.. Hah haahh" Willy mengatur nafasnya dan menekukan tangannya di lutut.
"Aku tadi habis deketin cewe bercadar di dekat rumahnya dan ternyata sudah punya suami.. Suaminya datang dari rumahnya dan marah marah sama saya, karena saya menggoda istrinya itu.. Mana saya tau kan dia sudah punya suami atau belum.." jelas Willly dengan nafas masih ngosngosan
"Willy Willy,, rasain kamu, godain cewe sembarangan si" ucap Boy sambil menertawai Willy
"Kak Willy,, makannya kenali dulu siapa yang kamu dekati. Jadi gini ya,, di kampungku mudah mengenali mana gadis yang sudah menikah dan mana yang belum.. Gini aku kasih tau ya. Yang sudah menikah itu wajib di tangannya mengikatkan kain berwarna merah di tangan kanannya. Dan yang masih gadis itu biasa mengikatkan kain berwarna biru di tangan kanannya juga. Begitulah cara membedakannya"
"Kok ada peraturan seperti itu sih nona? "
"Iya ada lah,, entah sejak kapan.. Tapi dari dulu sudah ada peraturan seperti itu, dan hanya berlaku bagi warga yang tinggal menetap di sini" jelas Luna.
"Oo pantaslah dulu kamu juga sering mengikatkan kain berwarna biru di tanganmu ya, itu berarti menandakan kamu belum menikah begitu? " tanya Boy. Ia teringan sewaktu Luna menjadi cleaning servis di kantornya sering menggunakan kain biru di tangannya
Luna tersenyum dan menjawab
"Iya A.. "
"Tunggu,, maksud Bos apa? Dulu nona Luna sering menggunakan kain biru di tangannya? " Willy bertanya tanya karena ia tidak tahu kalau ternyata Luna yang menjadi istrinya Boy sekarang itu adalah Luna yang pernah menjadi cleaning servis di kantor mereka.
Boy tersenyum dan ia merangkul bahu Luna
"Willy, istriku ini adalah Luna cleaning servis itu, kamu ingat kan?
Willy kaget mendengar ucapan Boy dan ia membelalakan matanya
"Apa??. Jadi,, jadi nona Luna ini adalah Luna yang tiga tahun lalu itu?.. Oh my god.. " willy merasa tidak percaya.
"Bagaimana ceritanya ini Bos? "
Luna hanya tersenyum melihat ekspresi Willy
"Ceritanya panjang Will,, sudahlah malas aku menjelaskan nya".
Kemudian Boy menggandeng Luna dan masuk ke dalam rumah. Meninggalkan Willy yang berdiri mematung dekat pagar dan masih bertanya tanya.
__ADS_1
*******
Malam hari tiba, udara dingin malam itu mulai terasa menusuk ke tubuh Willy dan Boy, udara yang tak biasa mereka rasakan sebelumnya. Karena udara di kota dan di kampung teramat berbeda rasanya. Namun Luna sudah terbiasa dengan suasana seperti itu.
Malam itu mereka tengah berada di balkon rumahnya yang berada di lantai atas. Di sana tersedia kursi panjang yang terbuat dari bambu serta meja panjangnya juga.
Willy tengah asyik dengan laptopnya, memeriksa beberapa laporan dari kantor. Ia sudah tidak memikirkan soal Luna, yang penting dia sudah tau sekarang kalau Luna itu adalah Luna yang tiga tahun lalu itu.
Sementara Boy dan Luna malah asyik pacaran, mereka memandang langit yang penuh bintang malam itu. Mereka bercanda sambil menebak nebak bintang yang berjajar seperti membentuk suatu benda.
"A Boy, udah lama kamu gak gombalin aku lho" ucap Luna.
"Mm neng Luna mau di gombalin sama aku ternyata"
Luna tersenyum sambil memandang langit
"Baiklah sayang, ayahmu dulu menanam tebu ya?"
" Enggak, a, emangnya kenapa?"
" Soalnya makin lama, kamu makin manis"
"Eaaa.. " luna tertawa
"sayang, waktu kecil kamu tinggal di kutub utara ya?"
"Ah a Boy ada-ada saja. Abi kan tahu aku asli sunda"
"Soalnya hatiku jadi adem kalau dekat kamu"
"Oo yaaa..adem karena di sini udaranya dingin "
" Sayang, kamu bawa magnet ya? "
"Enggak. Ada apa sayang?"
" Kok, aku jadi kepingin dekat kamu terus. Seperti ketarik". Kemudian Boy merangkul bahu Luna, dan ia memandangnya penuh cinta
" Bolehkah aku tegaskan kepadamu satu kali lagi bahwa aku begitu merasa beruntung memiliki kamu.
Aku harap kamu jangan pergi lagi ya? karena, bila aku berpisah dengamu sedetik saja bagaikan 1000 tahun rasanya." Boy mengucapkan itu penuh perasaan.
Willy hanya menahan tawanya di belakang. Kemudian ia menutup matanya dan memakai hadset.
Ampun si bos, makin tergila gila aja kayaknya sama Nona Luna. Batin Willy
"Aku gak minta lebih dari kamu, karena bisa mengenal mu adalah hal yang terindah dalam hidup ku." lanjut Boy.
"Seberapa besar cintamu padaku suamiku? "
"Jika kamu bisa mengitung seluruh ikan yang ada di laut, di tambah lagi seluruh bintang yang ada dilangit, di tambah juga seluruh rumput yang ada di darat. ketahuilah itu adalah jumlah rasa cintaku ku terhadap dirimu" jelas Boy. Luna meleleh di buatnya seperti mentega di atas wajan panas
"Seperti itukah suamiku? "
"Iya sayang, Sejak kenal kamu, bawaanya pengen belajar terus deh. Belajar jadi yang terbaik buat kamu, "
"Itu harus dong, kita harus menjadi teladan yang baik buat anak anak kita nanti" ucap Luna.
"Aku sangat berharap kamu tau, kalau aku tidak pernah menyesali cintaku untuk mu, karena bagiku memiliki kamu sudah cukup bagi ku." sambung Luna.
"Terima kasih sayang" Boy mencium kedua tangan Luna penuh cinta. Kemudian mereka tersadar ternyata ada Willy di belakang. Ketika mereka melihat willy. Willy tengah memakai hedset dan fokus pada laptopnya . Dan willy pura pura tidak mendengar apa yang di katakan Boy dan Luna.
Karena malam sudah makin larut. Mereka kembali ke kamarnya untuk tidur malam itu.
Boy dan Luna berjalan menuju kamarnya
"Willy tidurlah, sudah malam" ucap Boy sambil berlalu dari sana
__ADS_1
"Oh iya Bos, sebentar lagi" jawab willy