
Pagi hari selesai sholat subuh, Boy sudah terlihat rapih dengan pakaian kantornya, hari ini Boy akan sibuk sekali mengerjakan tugas di kantornya. Dia ingin selesai hari ini juga sebelum menghadiri hari pernikahan Bayu adiknya itu. Boy dan Luna tengah berbincang di kamarnya.
"Aku akan sibuk hari ini, bahkan mungkin lembur, kamu tunggu di rumah ya,, cupp" ucap Boy dan kecupan di dahi Luna ketika Luna sedang merapikan dasinya.
"Iya kak Boy, kau suka sekali menciumku" ucap Luna dengan senyumnya.
"Ciuman pagi" ucapnya
"eh tapi tadi ibu bilang mau ngajak aku ke butik buat cari gaun, aku boleh ikut kan?
"O begitu, iya pergilah. Jaga diri baik baik ya"
"Iya suamiku"
Mereka tersenyum bersama.
Kemudian Luna mengambil cadarnya dan mereka segera menghampiri keluarganya untuk sarapan pagi itu.
Orang tua Boy dan adiknya sudah menunggu di sana. Mirza nampak sedang banyak pikiran karena diam saja di sana.
"Selamat pagi ayah ibu" sapa Boy padanya tidak lupa kecupan di dahinya setiap pagi. Begitupun pada adik adiknya.
"Selamat pagi kak Boy "
Kemudian Boy duduk di kursinya.
"Ayah kenapa? " tanya Boy
"Mm tidak ada" Mirza berusaha untuk tersenyum
"Ayah tenang saja, Bayu yang sudah siapin semuanya, undangan juga sudah siap, semalam manajer Bayu sudah menyiapkannya dan hari ini sudah siap di antar ke tamu undangan" jelas Bayu
"Apa benar Bayu? Undangannya harus sampai pada orangnya hari ini juga" tanya Mirza.
"Iya ayah tenang saja undangannya akan sampai di orangnya hari ini juga, kita tinggal berangkat saja ke bandung" ucap Bayu
"Memangnya nikahnya di bandung ya kak? " tanya Briand
"Iya dek, sebelumnya sudah di bicarakan kan sama om Har dimana acaranya akan di gelar, dan om Har ingin pestanya di gelar di hotel miliknya di bandung"
"Asiikk.. Bianka bisa jalan jalan di bandung nanti" ucap Bianka dengan senangnya
"O gitu ya, terus kapan kita ke bandung? " tanya Briand
"Besok Briand, hari ini kita nyari gaun dulu untuk dipakai nanti. O ya Bayu kamu sudah menyiapkan cincin pernikahannya kan" ucap Lidya
"O iya dong bu, Bayu sudah menyiapkannya sejak dulu, malah Bayu sama Zahwa yang pilih ketika kita di turki"
"Kok kamu tidak beri tahu ibu si? "
"Hehe, cuma aku sama Zahwa yang tau ibu"
"Hmm kamumah, yasudah ayah kita mulai saja sarapannya keburu siang"
"Iya ayo kita makan dengan tenang hari ini, jangan lupa baca doa dulu oke" ucap Mirza
"Oke ayah" jawab mereka dengan kompak.
Sampai selesai sarapannya.
Boy pamitan pada ayah dan ibunya, sementara Briand dan Bianka sudah duluan untuk berangkat sekolah.
"Aku berangkat dulu ayah ibu, assalamualaikum , " ucap Boy dan menyalami ayah dan ibunya.
"Iya Boy, waalaikumsalam " jawab mereka.
"Hati hati kak" ucap Bayu yang masih duduk di kursi makannya.
"Iya bayu".
Kemudian Boy bergegas keluar diantar oleh Luna menuju mobilnya. Dan Willy sudah menunggu di samping mobil.
"selamat pagi Bos, nona" sapa Willy pagi itu ketika Boy dan Luna sampai di terasnya
__ADS_1
"Selamat pagi Willy" jawab Luna
Boy berpamitan pada Luna. Segeralah Willy memalingkan wajahnya. Malas sekali dia melihat adegan seperti itu
"Aku berangkat dulu sayang, " cupp. Boy mengecup kening Luna.
"Iya suamiku, hati hati di jalan dan semangat kerjanya " ucap Luna dengan senyumanya. Dan mencium tangan Boy
"Iya, kau tidak mau menciumku, ini" Boy mendekatkan pipinya ke bibir Luna. Dan cupp. Luna menciumnya pertama kali. Rasanya jadi berdebar kembali jantung Luna. Dan ia terpaku di sana
Boy senang sekali ia merasa ingin terbang ke angkasa memetik bintang bintang.. Sayangnya dia tidak punya sayap
"Haha,, terima kasih sayang, aku berangkat ya Assalamualaikum "
"Iya, waalaikumsalam " jawab Luna.
Kemudian Boy masuk ke dalam mobilnya. Dan Willy menutup mobilnya lalu tersenyum dan menunduk hormat pada Luna setelah itu dia masuk ke mobil untuk menyetir.
Dan Mobil berlalu dari halaman rumah itu.
Kemudian Luna masuk ke dalam untuk siap siap pergi ke butik bersama Lidya.
******
Boy dan Willy di perjalanan
Boy nampak sedang memikirkan sesuatu.
"Kenapa kau Bos? " tanya Willy. Ia melihat Boy dari kaca spionnya sedang melamun.
"Willy, bagaimana caranya agar aku tau kalau Luna mencintaiku atau tidak? " tanya Boy dengan serius
"Hahaha.. Bos bos. Memangnya nona Luna tidak pernah menyatakannya? " Willy malah menertawainya
"Ck kau malah tertawa, aku sudah menanyakannya tapi Luna bilang dia tidak tau"
"Tapi kelihatannya nona Luna sangat bahagia sama kamu Bos"
"Iya pasti lah, tapi aku cuma ingin tau dia mencintaiku atau tidak "
"Gimana caranya"
"Kau harus dekati wanita lain Bos"
"Kau sudah gila ya!! " bentak Boy
"Maksudku bukan begitu bos, gini ya kau ajak ngobrol wanita lain kemudian kau suruh nona Luna menemuimu, lihatlah reaksinya ketika kamu duduk berduaan dengan wanita lain, apa dia cemburu atau tidak, kalau dia cemburu berarti dia mencintaimu Bos. Kalau tidak cemburu berarti dia tidak mencintaimu. Begitu Bos" jelas Willy.
"Apa itu akan berhasil Will? "
"Kita lihat saja nanti hasilnya"
"Oke lah kalau begitu kau harus membantuku "
"Siap Bos ku, o ya tadi aku dapat undagan dari Bayu, buat ayah Sam juga. Apa bener nikahnya tiga hari lagi itu Bos? "
"Iya Willy, tadi malam Om Har datang kerumah menentukan semuanya. Dan pada akhirnya auto kebut semalam bikin undangan si Bayu. Hahaha"
Ucap Boy.
"Oh begitu ya Bos, tuan Har emang suka begitu ya Bos, bikin acara tiba tiba, pergi tiba tiba, apa apa tiba tiba". Willy tersenyum tipis
", iya Willy, aku tau itu"
*****
Luna dan Lidya kini sudah sampai di sebuah butik langganannya yaitu butik Rio.
Butik yang dari dulu sudah berdiri sewaktu Lidya dan Mirza baru nikah pun sudah ada.
Lidya dan Luna masuk ke sana dan sudah di sambut ramah oleh Rio.
"Selamat pagi kaka ipar" sapa Rio pada Lidya.
__ADS_1
"Wah ini istrinya Bos muda Boy ya, senang bertemu denganmu nona" sapa nya pada Luna juga dan Luna membalas senyumnya.
"Rio aku bukan kakak iparmu, kenapa kau suka sekali memanggilku seperti itu! " gerutu Lidya.
"Hehehe,, ada apa nyonya Lidya datang kemari? "
"Hey kamu lupa ya? Semalam kan sudah ku beri tau. Sudah pikun apa kau? " ucap Lidya sambil berjalan ke dalam
", o iya aku lupa nyonya, kau menelponku tengah malam dan aku sudah tidur waktu itu, jadi aku lupa lagi. Hehe"
", ya sudah, di mana baju pesananku yang sebulan yang lalu aku pesan"
"Ada nyonya, mari ada di ruangan ini" Rio menunjuk ke ruangan di sebelah kirinya.
Kemudian mereka masuk ke sana. Dan sudah terpajang gaun yang indah untuk tiga orang wanita dan lima pasang jas untuk laki laki dengan warna yang serasi.
"Naah ini dia, lihatlah Luna ini gaun untukmu" ucap Lidya memperlihatkan gaun yang indah untuk Luna.
"Maa syaa Allah, indah sekali ibu, mm tapi ini terlalu ketat sepertinya bu" Luna terpana namun karena ketat jadi Luna enggan untuk memakainya.
"Kamu bagaimana sih Rio, mantuku ini tidak suka gaun yang ketat. Kenapa kau buat ketat hah? " Lidya kesal pada Rio.
"Ma maaf nyonya, saya tidak tau kan waktu itu nyonya cuma nyuruh saya buat bikinin gaun yang panjang lengannya dan bawahnya begitu kan"
"Iya, tapi ini terlalu ketat gimana dong!! "
"Mm ibu, gapapa Luna pakai gaun yang lain aja yang lebih syar'i ada kan om Rio? " tanya Luna
"Oh kebetulan ada nona, warnanya juga senada dengan gaun ini, hanya saja coraknya berbeda. Gimana nyonya? Tidak apa? "
Tanya nya pada Lidya.
"Luna gimana? Ga papa gak sama coraknya? " tanya Lidya meminta pendapat Luna.
", tidak apa bu, yang penting gaunnya syar'i "
Luna dengan senyumnya
"Ya sudah. Ambilkan Rio! " titah Lidya
"Oh baik nyonya, sebentar "
Kemudian Rio pergi ke ruangan lainnya mengambil gaun yang di maksud olehnya.
Beberapa saat kemudian Rio datang membawa gaun tersebut
"Nah ini nona, silahkan di coba" ucap Rio menyerahkan gaun tersebut
"Maa syaa Allah ibu, ini gaunnya sangat indah sekali. Luna suka"
Lidya tersenyum dan ia juga suka gaunnya
"Iya kalau begitu kamu coba dulu ya, Rio kau keluar dulu".
"Oh baik nyonya"
Rio keluar dari ruangan itu dan Luna mencoba gaunnya,dan ternyata sangat pas di tubuhnya, Luna sangat menyukai gaun tersebut.
"Kamu cantik sekali dengan gaun itu Luna" Lidya terpana melihat Luna yang sangat anggun.
"Terima kasih ibu, Luna sudah cocok dengan gaun ini, kalau gitu Luna ganti baju lagi ya. " ucapnya dengan senang hati
"Iya nak".
Dan selesailah mereka di butik tersebut, gaun dan jas sudah di bungkus untuk dibawa pulang. Dan nantinya akan digunakan saat pernikahan Bayu.
Tidak hanya beli satu pasang, tapi beberapa pasang dengan warna yang senada untuk semua anggota keluarganya.
Kemudian mereka ke salon dulu untuk perawatan, setelah itu membeli keperluan lainnya. Mereka tidak berdua, Lidya membawa lima pelayannya untuk membantu membawa barang belanjaan. Selesai semuanya mereka langsung pulang dan istirahat di rumahnya.
*****
Bastian sampai siang ini belum bisa pulang ke tanah air karena ia kini yang bertanggung jawab penuh di perusahaan ayahnya di turki, karena Mirza tidak bisa datang dan ia hanya mengontrol lewat laptopnya mengenai pekerjaan di turki.
__ADS_1
Bastian kewalahan mengurus pekerjaannya , karena sekretaris pribadi ayahnya sedang sakit. Dan Bastian tidak sanggup jika tidak ada sekretarisnya. Mirza menyuruhnya untuk tetap tenang dan mengerjakan semuanya, namun Bastian menyerah karena ia masih pemula mengenai bisnis itu dan belum banyak pengalaman.
Bastian menunggu waktu yang tepat untuk bicara dengan Mirza.