Cinta Sesudah Menikah

Cinta Sesudah Menikah
Amarah Boy


__ADS_3

Boy di halaman masjid ia langsung menuju mobilnya, ia hendak masuk kemudian di panggil oleh Willy dan Lidya.


"Bos" ucap Willy.


"Boy" ucap Lidya.


Kemudian Boy melihat ke arah Lidya.


"Ada apa Bu? " tanya Boy dengan raut wajah kesal


"Kamu baik baik saja kan? " tanya Lidya.


"Seperti yang ibu lihat, BOY SANGAT BAIK BAIK SAJA" ucapnya sambil menekankan kata katanya kemudian ia masuk di depan untuk mengemudi.


"Willy kamu ikuti Boy" ucap Lidya ia kuatir pada Boy


"Baik nyonya" kemudian Willy langsung masuk dan duduk di samping Boy.


Boy tidak peduli dengan kehadiran Willy. Ia mengemudi dengan kecepatan tinggi.


Dan Lidya masuk lagi ke dalam masjid dan melanjutkan mendengar tausiah selanjutnya.


Kemudian Boy menghentikan mobilnya di sebuah taman hijau di dekat balai kota, namun ia menabrakannya ke sebuah tiang lampu taman. Duaarr suara mobil menabrak. Willy dan Boy terdorong ke depan badannya, untungnya Willy dan Boy memakai sabuk pengaman. Dan sontak saja Willy kaget. "Kau sudah gila ya Bos!! " ucap Willy dengan nada tinggi hampir jantungan rasanya. Dan Willy langsung melihat mobil itu penyok bagian depan serta tiang lampu taman itu sedikit miring


Boy langsung keluar dan berlari ke arah danau buatan di dekat taman hijau itu dan ia berteriak kencang di sana "AAaaaaaaaa" ucap Boy, suaranya menggelegar ke arah danau itu. Dia sangat emosi karena Ustadz Hasan itu.Kemudian Willy menyusul Boy, tapi ia hanya diam memerhatikan Boy dari belakang sambil menyilangkan tangannya di dadanya.


Boy ingin melempar sesuatu ke danau itu namun tidak ada batu atau apapun yang bisa ia lemparkan.


Akhirnya ia melemparkan ponsel yang ada di sakunya dengan kencang ke danau itu.


Willy kaget melihat Boy melemparkan ponselnya ke danau. Dan ia menghampiri Boy "kau sudah gila ya Bos, kenapa tidak sekalian saja kau yang nyemplung Bos" ucap Willy sambil terlihat geram pada Boy.


"Diam kau Will" ucap Boy kemudian ia mendorong Willy, tapi Willy berhasil menahan dirinya agar tidak jatuh dan hanya mundur sedikit saja. Dan Boy menendang nendangkan kakinya ke udara sambil teriak teriak. "Aaaaaaa"


Orang orang yang ada di taman itu nampak ketakutan dan terus melihat ke arah Boy, mereka pikir bahwa boy sudah stres. Mereka berbisik bisik di sana.


Boy sadar ada yang memerhatikan ia langsung memarahi orang orang itu. "Apa kalian liat liat? Pergi kalian dari sini, PERGI!!!!! " ucap Boy sambil teriak teriak dan menendang kursi taman di sana.


Kemudian orang orang itu pergi menjauh dari tempat Boy itu.


"Maaf ya mengganggu kalian, beruang gunung sedang ngamuk ini" ucap Willy kepada orang itu sambil meledek Boy.


"Willy, apa maksud kamu bicara begitu hah? Beraninya kau" ucap Boy tambah kesal pada Willy.


Namun Willly santai saja, ia malah membeli ice cream dua biji di dekat sana.


"Mending duduk dulu Bos, tenangkan pikiranmu "


Ajak Willy menarik Boy duduk di kursi taman itu dan memberikan ice cream itu pada Boy satu. Willy mulai memakan ice cream miliknya dengan tenang. Boy juga membuka ice cream itu namun Boy malah melumatkannya ke wajah Willy. Langsung saja wajah Willy belepotan


"Hahahahahaaaaaa" ucap boy ia tertawa terpingkal pingkal melihat willy belepotan


"Apa apaan kau Bos, senang kau lihat saya belepotan begini hah" ucap Willy tidak terima. Kemudian ia mengambil saputangan dari sakunya dan mengelap wajahnya.


Namun Boy hanya menertawainya. "Salah sendiri kau berikan yang begituan padaku, memangnya aku mau apa? "


"Resek kau Bos! " ucap Willy dengan kesal. Kemudian Willy pergi ke toilet untuk membersihkan bajunya.


Beberapa menit kemudian Willy datang lagi duduk di sana. dan ia melihat Boy kali ini terlihat murung. Dan Willy masih terlihat kesal pada Boy


"Will, bagaimana jika ustad itu tadi melamar Luna di depan jamaah? "


"Syukurlah kalau begitu" ketus Willy


"Will, jahat sekali kau" ucap Boy dengan cemberut.

__ADS_1


"Kau juga jahat Bos" ucapnya ketus lagi.


"Segitu doang kau marah haah. Terus saya harus gimana nih Willy "


"Ya kau lamar juga lah bos! Segitu aja susah bener! " ucap Willy "kau tanya sama Luna siapa yang Luna pilih, kau atau Ustadz Hasan "


"Kau benar will, ayo kita samperin Luna"


Belum Willy dan Boy beranjak dari sana, Lidya menelpon Willy. Kemudian Willy mengangkatnya


"Hallo nyonya"


"Hallo Will, dimana Boy? Kenapa telponnya gak diangkat? "


"Ponsel si Bos nyemplung nyonya"


"loh kok bisa? "


"Iya lagi pengen berenang mungkin" ucap Willy becanda


"Serius lah Willy!! "


"Hehe, maaf nyonya. Tadi si Bos ngamuk, terus ponselnya dia lempar ke danau"


"Ck, anak itu, yasudah cepat antar Boy pulang, Luna ada di rumah saya"


"Oh begitu ya nyonya, baik nyonya. "


"Iya, saya tutup dulu, assalamualaikum "


"Waalaikumsalam "


Tutututt.ponsel di tutup.


"Apa kata ibu? " tanya Boy


"Yang benar Will? Ayo!! " ucap Boy semangat dan ia beranjak mendahului Willy


"Tunggu Bos! Kita pulang naik apa? Mobil kau rusakan "


"Ya ampun! " boy menepuk jidatnya.


"Kita naik taksi, biar cepat". Ucap Willy dan Boy menyetujuinya.


*****


Di rumah Lidya, Luna terlihat senang karena ia kini bisa berkunjung ke rumahnya Lidya. Rani juga terpana melihat rumah besar bak istana milik keluarga Mirza itu


"Rumah ibu besar sekali" ucap Luna ketika duduk di sofa bersama rani dan ira juga Lidya


"O ya Luna? Rencananya rumah ini mau di renovasi loh biar lebih besar lagi, karena anak anak ibu sudah pada besar sekarang. Hehe" ucap Lidya


"Waw, jadi ini kurang besar? " ucap Luna tidak menyangka


"Hm ya biar sedikit luas lagi saja. Hehe"


Ketika sedang asik berbincang, Boy datang dan memberi salam. Ia langsung mendekat pada Luna dan berbicara padanya. Ia bertekuk lutut di lantai


Lidya kaget,dan yang lainnya hanya menyimak saja


"Luna, aku mau kamu menjadi istriku. Kamu mau kan? "


Apa apaan si bos? Norak banget, hahaha. Batin Willy


"Ma maksud kak Boy apa? Luna gak bisa"

__ADS_1


Ucap Luna gugup


"Luna apa kamu sudah di lamar oleh Ustadz itu? Sekarang aku juga akan melamarmu, kamu mau milih siapa? "


"Tidak, tidak ada yang melamar Luna, Luna belum siap menikah kak Boy"


"Aku mohon Luna, jangan terima lamaran ustad itu, kau harus menikah denganku.


"Tapi Luna belum siap menikah kak Boy"


"Kapanpun Luna, aku akan menunggumu"


"Dua tahun lagi" ucap Luna


"Apa,? Apa itu tidak terlalu lama? "


"Ibu setuju Boy" timpal lidya


"Ibu setuju Luna"


"Kok gitu sih ibu? " ucap Boy sambil menatap Lidya


"Memangnya kau sudah siap membina rumah tangga? " tanya Lidya


"Mm, baiklah Boy tunggu dua tahun lagi" ucap Boy karena sebenarnya dia kini belum siap untuk menikah


"Jadi nak Boy ini juga menyukai Luna? " tanya Rani


"Iya tante, jangan sampai Luna dinikahkan sama orang lain, dia harus nikah sama saya! " ucap Boy sambil memandang Luna.


"I, iya nak, baik" ucap Rani. Sebenarnya ia setuju setuju saja sama siapa saja luna menikah asalkan itu yang terbaik untuk Luna.


"Kalau gitu Luna mau kak Boy tidak bertemu Luna selama dua tahun itu, luna hanya mau melihat keseriusan kak Boy" ucap Luna


"Apa? " Boy kaget


"Ibu setuju Boy, kalau kamu serius kamu harus bisa jaga hati kamu agar tidak mencintai wanita lain selama dua tahun itu. "


"Tapi bu, masa Boy tidak boleh bertemu Luna? "


"Luna hanya ingin menguji keseriusanmu, benar kan Luna? " tanya Lidya


"Iya ibu" ucap Luna membenarkan.


"Baiklah aku siap" ucap Boy.


Jadilah hari itu pertemuan terakhir mereka sampai akhirnya nanti Boy dan Luna menikah


*****


Satu bulan kemudian Ustadz Hasan kembali menemui Luna, memastikan apa Luna menerimanya apa tidak.


Kala itu Ustadz Hasan sudah menanyakannya


"Maaf Ustadz, saya tidak bisa, sekali lagi saya minta maaf, " ucap Luna


"Oh baiklah luna, tidak apa" ucap Ustadz Hasan dengan lapang dada meski sebenarnya sangat kecewa. Penantianku selama ini sia sia? Ashtaghfirullah tidak ada yang sia sia disisi Allah, semua pasti ada hikmahnya. Batin ustadz Hasan


setelah kejadian itu, ustadz Hasan akhirnya memilih untuk menikah dengan Amelia, teman waktu SMP Luna. Karena Amelia juga wanita sholeha sama seperti Luna. Mereka bertemu ketika Ustadz Hasan pulang dari rumah Luna, Ustadz Hasan membawa mobil kala itu dan tidak sengaja menabrak Amel di jalan. Kemudian Ustadz Hasan membawanya ke rumah sakit karena Amel terluka kakinya.


Ustadz Hasan menemaninya di sana karena orang tua amel sedang berada di luar kota, dan amel sendirian kala itu. Kemudian Amel menyatakan perasaanya pada ustadz Hasan yang selama ini ia pendam, dan Ustadz Hasan tidak menyangka itu, namun Ustadz hasan belum menjawabnya. Setelah beberapa hari Ustadz Hasan menemui orang tua Amel dan mengajak amel untuk menikah dengannya, betapa senangnya hati amel dan langsung saja mereka tidak lama kemudian menikah. Luna juga datang ke pernikahan amel dan Ustadz Hasan, ia senang melihat amel bersama Ustadz hasan.


Setelah itu pula toko roti milik luna sudah selesai di bangun, semuanya sudah lengkap dan siap untuk digunakan. Luna terpana melihat toko yang sangat bagus menurutnya, itu karena Lidya yang memberikan semuanya. Ia sangat senang sekali


Mulailah Luna membuka toko roti tersebut, pada awalnya dia hanya memiliki tiga karyawan yang di pilihkan oleh Rendi dari kampungnya Luna. Mulai saat itu Luna sibuk di toko Rotinya dan sudah punya pelanggan walau baru beberapa hari di buka.

__ADS_1


Begitupun Boy, ia menyibukan dirinya untuk berbisnis saja dan membangun perusahaan selama dua tahun itu. Sampai sampai ia hampir lupa pada Luna sa


__ADS_2