
Pagi hari di kediaman Tuan Mirza,
Kala itu mereka hendak sarapan, semuanya sudah siap di ruang makan dan Boy keluar dari kamarnya menghampiri ayah ibu dan adiknya, ia menyapa mereka.
"Selamat pagi ayah, ibu.. Muah" ucap Boy sambil mengecup dahi ayah dan Ibunya,
"Hei Boy, selamat pagi"ucap Lidya disertai senyum Mirza pada Boy
kemudian ia bergilir menyapa adik adiknya dan mengecup dahi mereka dan mereka sudah terbiasa dengan Kebiasaan Boy setiap pagi.
Setelah itu Boy duduk dikursinya untuk sarapan.
Ketika tengah makan, Boy mencoba kembali merayu Lidya agar diperbolehkan menjenguk Luna.
"Ibu, apakabar Luna hari ini"tanya Boy
"Dia baik Boy" ucap Lidya
"Boy boleh menjenguknya gak? Boy udah berubah Lhoh Bu" ucap Boy, meski sebenarnya Boy masih suka membentak karyawannya di kantor dan Lidya tau itu.
"Nggak Boleh " ucap Lidya singkat dia tidak peduli dengan alasan Boy
Boy nampak kecewa
"Kenapa Bu? "
"Kamu belum pantas bertemu Luna,, oya Boy kamu sudah pernah melihat wajah Luna? " tanya Lidya
"Sudah Bu, waktu hari pertama Luna di rumah sakit."
Lidya mengerutkan dahinya "lancang sekali kamu Boy!! " ucap Lidya sedikit membentak
"Boy enggak sengaja Bu"
Kemudian Lidya mengangkat kedua alisnya
Dan dia berfikir untuk menguji Boy dengan mencoba memanasinya "o ya ayah, Luna sangat cantik Lho, kayaknya cocok sama Bayu" ucap Lidya dengan senyum menyeringai pada mirza
"O ya Bu? Kalau begitu ayah setuju aja" ucap Mirza dia mengerti maksud Lidya
Boy membelalakan matanya. Brakk. Boy memukul meja makan. Dia tidak terima dangan ucapan Lidya dan terlihat kesal padanya
Semua orang disana terperanjat kaget dan membelalakan mata pada Boy
"Ibu apa apaan sih, boy gak terima Bu kalau Luna sama Bayu" ucapnya dengan raut wajah kesal pada Lidya.
"Ya ampun kak, bikin jantungan aja tau gak" ucap Briand.
Kemudian Boy menghentikan sarapannya dan langsung pergi dari meja makan dan langsung pergi ke kantor. Dia pergi dengan perasaan kesal dan marah
Lidya hanya cekikikan melihat tingkah Boy, dia tau bahwa boy tengah cemburu. Mirza melihat Lidya dan ia hanya menggelengkan kepalanya
"Kok bisa semarah itu sih kak Boy" ucap Bastian dia tidak menyangka
"Hahahaa..Lihat tuh ayah kak Boy, padahal kan ibu hanya becanda" ucapnya dengan puas setelah mengerjai Boy
"Ibu,, ibu, kasihan tau si Boy" ucap mirza
"Gapapa ayah, itu tandanya Boy mencintai Luna,,
Sudah sudah ayo lanjutkan sarapannya, kak Boy hanya sedang cemburu saja" ucap Lidya pada adik adinya Boy
"Biy kaget tau bu" ucap Bianka dengan cemberut.
Sementara Lidya tersenyum lebar melihat ekspresi anak anaknya.
Setelah selesai sarapan Lidya meminta izin kepada Mirza untuk pergi ke rumah sakit menjemput Luna dia akan mengantar Luna pulang ke rumah barunya. Adik adiknya Boy juga sudah berangkat sekolah.
"Ayah mau ikut ke rumah sakit? " tanya Lidya
Waktu itu mereka sedang duduk di sofa
__ADS_1
"Wahh, ayah tidak bisa bu, ayah sudah berjanji sama Boy mau menemaninya meeting dan akan bertemu rekan Bisnisnya. Ayah ingin tau seberapa pandai Boy dalam Bisnisnya"
"Oh baiklah ayah,, kalau begitu ibu berangkat dulu ya. Kebetulan Ira sudah datang" ucapnya dengan semangat
"Iya Bu, hati hati ya" ucap mirza dengan senyumnya
"Iya ayah"
Kemudian Lidya mengalami Mirza dan mencium tangannya, dan Lidya berjalan keluar menuju mobil untuk pergi ke rumah sakit.
Kamu sangat bahagia sekali Lidya bertemu dengan Luna. Entah apa yang kamu rencanakan. Yang penting kamu bahagia dan aku senang melihatnya. Batin Mirza sambil tersenyum memerhatikan Lidya yang berjalan keluar
Tidak lama kemudian Mirzapun pergi ke kantornya Boy
******
Sampailah Lidya di ruang rawat Luna, ia melihat Luna sudah ceria dan sehat. Dia sedang berbincang dengan Rani. Kemudian Lidya menghampirinya
"Kamu sudah sehat nak" ucap Lidya dengan lembut pada Luna
"Iya ibu, alhamdulillah,, terimakasih untuk semuanya ibu dan emak kalian sudah merawatku dengan baik" ucap Luna sambil memeluk Lidya dan tersenyum pada Rani.
"Iya sayang, sama sama" dan mereka tersenyum bahagia.
"Aku ingin cepat pulang, aku sudah tidak betahh disini" pinta Luna
"Iya sayang, ibu akan pinta dokter untuk memeriksa ulang kamu, untuk memastikan kamu benar benar sudah sembuh oke,, "ucap Lidya disertai anggukan Luna.
Kemudian dokter dipanggil dan langsung memeriksa Luna, dokter mengatakan bahwa Luna sudah baik baik saja. Ahirnya Lidya puas dengan pemeriksaan dokter dan Luna bisa pulang sekarang.
Luna sangat bersemangat sekali begitupun Lidya dan Rani.
"Kamu biasa memakai ini nak" ucap Lidya ia memakaikan cadar kepada Luna
"Oh begitu ya Bu" ucap Luna, dia merasa bingung
"Iya neng, sejak kecil kamu gemar sekali memakai cadar" ucap Rani
"Emak akan menceritakan semuanya" ucap Rani, sambil membeli lembut Luna.
"Yasudah ayo kita pulang, kita bicara banyak nanti di rumah ya" ucap Lidya pada Rani dan Luna
"O ya Rani, kenapa Rendi belum menjenguk Luna? " tanya Lidya pada Rani
"Dia sangat sibuk nyonya, mengurus perkebunan di kampung, kemarin kemarin dia hendak kesini, tapi tiba tiba anaknya sakit. Kemudia Dia undur lagi rencananya. Mungkin besok nyonya. " jelas Rani
"Ohh begitu ya, yasudah gapapa. Ayo kita berangkat"
Ucap Lidya. Kemudian mereka keluar dari ruang rawat menuju mobil untuk pulang ke rumah.
****
Sesampainya di rumah baru Luna, Rani dan Luna terpana melihat mewahnya rumah yang akan ditempati mereka. Namun masih lebih besar rumah kediaman Boy. Rani tidak hentinya mengucap sukur begitupun Luna, Lidya senang melihat mereka senang.
"Ayo kita masuk" ucap Lidya
"Ini rumah kita mak? Apa dari kecil Luna tinggal di sinia? " tanya Luna penasaran sambil berjalan mengikuti Lidya
"Ini pemberian nyo.. " belum selesai Rani bicara langsung dipotong oleh Lidya "stttt" ucap Lidya agar rani tidak memberi tahu Luna. Kemudian Rani mengerti dengan apa yang dimaksud Lidya dan dia menurut saja.
Luna bingung dengan sikap Lidya dan rani
Lidya tersenyum pada Luna
Sampailah mereka di dalam Rumah disambut Oleh pelayan di dalam "selamat datang Nyonya dan Nona Luna" ucap para pelayan tersebut. Kemudian Lidya dan yang lainnya tersenyum pada pelayan tersebut.
"Rani, Luna,, mereka pelayan kalian kan, dan aku sekarang tamu di sini, kalian pergilah melihat kamar masing masing" ucap Lidya pada Rani dan Luna seraya tersenyum pada mereka
"Baik nyonya, pelayan tolong ambilkan air minum untuk nyonya Lidya" ucap Rani memerintah para pelayan tersebut. Meskipun ia masih kaku
Rani dan Luna diantar Ira menuju kamar mereka masing masing dan berkeliling melihat setiap sudut rumah tersebut.
__ADS_1
Dan Lidya hanya duduk menunggu mereka kembali sambil minum jus lemon kesukaannya. Dan berbalas pesan dengan Mirza menanyakan kabar Boy dan Mirza mengatakan bahwa Boy masih terlihat kesal
******
Sementara di kantor pagi pagi Boy sudah marah marah dan mengacak ngacak berkas di meja kerjanya. Willy keheranan dengan sikap Boy karena sedari tadi berangkat Boy nampak kesal dan tidak bicara ketika berada di dalam mobil.
"Bos, hentikan.. Apa apaan sih Bos? Marah marah begitu gak akan menyelesaikan masalah kau tau!!! "
Kemudian Boy mendengus kesal pada Willy "aku kesal pada ibu Will, dia bilang mau menjodohkan Luna dengan Bayu. Aku tidak terima Will!! "
"Ck.. " ucap Willy sambil memunguti berkas yang berhamburan karena Boy "Baguslah kalau begitu, Luna lebih cocok sama Bayu" sambungnya sambil membentak kesal pada Boy karena Boy membuat berantakan seisi ruangan.
Boy tambah kesal karena ucapan Willy. Sementara Mirza sudah memerhatikan Boy dari balik pintu
Mereka tidak sadar jika ada Mirza di sana
Kemudian Boy hendak mencekik Willy karena saking kesalnya.
"Apa kamu bilang Will? Kau sama saja dengan ibuku hah? Kurang ajar kamu" ucap Boy dengan nada marah pada Willy dan menarik kerah bajunya. Namun Willy tidak takut pada Boy dia menatap Boy dengan tajam.
Mirza tidak menyangka dengan kelakuan Boy, hanya karena cemburu ia berbuat seperti itu
Kemudian ia melerai Boy "hentikan Boy" ucapnya dengan santai.
Boy kaget melihat Mirza tiba tiba datang kemudian ia melepas tangannya dari leher Willy. Kemudian Willy merapihkan dasinya
"Ayah" ucap Boy seraya kaget melihat mirza kemudian ia duduk di sofa
"Tuan sudah sampai di indonesia? Apa kabar tuan? ucap Willy menyapa Mirza dia senang bertemu kembali dengan Mirza "beginilah tuan kelakuan Boy sama saya" sambungnya sambil melirik Boy dengan kesal
"Saya baik Will, iya saya sudah satu minggu di sini dan diam saja dirumah, istirahat.. "Ucap mirza dengan senyum ramah pada Willy "kamu sabarlah Will" sambungnya. Kemudian mereka duduk di sofa bersama Boy
"Iya tuan, sudah jadi santapan saya setiap hari" ucap Willy dengan senyum tipis
"O ya, bagaimana keadaan Sam dan yang lainnya? "
"ayah serta ibu dan adik adiku baik baik saja tuan"
"Katakan pada Sam, nanti sore saya akan ke rumahmu bersama istriku" ucap Mirza
"Ohh benarkah tuan, ayah akan sangat senang sekali begitupun saya, saya tunggu kedatangan tuan" ucap willy dengan senangnya
Mirza tersenyum dan mengangguk pada Willy
"Hei heii, saya dianggap nyamuk oleh kalian? Asik berdua saja" ucap Boy protes karena dia diacuhkan
Mirza dan Willy melirik ke arah Boy. "Lebih baik kau bereskan itu berkas berkas yang kamu berantakan cepat" titah mirza
"Apa? Biar Willy saja ayah" ucapnya dengan santai
"Kau harus bertanggung jawab Boy"
"Gak mau, ini semua gara gara ibu, aku kesal sama ibu"
"Kau cepat bereskan berkas itu Boy! " bentak Mirza
"Biar Willy aja ayah,"
"Kalau begitu ayah akan cepat resmikan perjodohan Luna dengan Bayu" ucapnya menggertak Boy
Boy terperanjat "jangan!! Jangan ayah,, aku mohon" ucapnya memohon pada Mirza "iya oke boy akan bereskan, tapi jangan jodohkan Luna dengan Bayu" sambungnya sambil memunguti berkas tersebut
"Bagus" ucap mirza
Kemudian Mirza dan Willy tersenyum menyeringai pada Boy
"Yang beres Bosku" ucap Willy dengan puas
Boy mendengus kesal pada Willy
"Nanti aku akan ke rumah sakit menemui Luna, apapun caranya, aku harus bertemu Luna dan memohon agar Dia menolak dijodohkan dengan Bayu" ucap Boy dengan semangat kali ini dia akan nekad walau nanti dihadang oleh penjaga. Pikirnya.
__ADS_1