Cinta Sesudah Menikah

Cinta Sesudah Menikah
Melanjutkan perjalanan


__ADS_3

Selesai makan mereka bergegas kembali melanjutkan perjalanan.


Diperjalanan Luna terus mengajak Boy selvi berdua, meski Boy merasa risih karena ia tidak suka sama berfoto foto sebenarnya. Tapi Luna terus curi curi memotret suaminya itu.


"Ayo dong kak Boy senyum dikiiit aja" pinta Luna, ia mengarahkan kamera ponselnya pada Boy.


"Enggak sayang, apa apaan sih.. Aku gak suka" ucapnya sambil memalingkan wajah, tapi ia senyum tipis. Luna terus memotret ekspresi Boy yang terlihat lucu menurutnya.


"Udah dong,, ngapain si"


Luna tertawa..


"Lihatlah ekspresi kamu, Lucu sekali" Luna memperlihatkan hasil potretnya.


Boy membelalakan matanya, ia melihat fotonya lagi manyun.


"Apaan itu jelek banget,, hapus gak! " Boy merebut ponsel Luna tapi Luna menyembunyikannya ke belakang sambil terus ia tertawa.


"Nggak,, aku mau simpan fotonya.. Itu lucu tau"


Boy terus berusaha merebut ponsel Luna, tapi Luna kekeh tidak mau memberikannya. Boy menggelitik Luna, sampai ia memeluknya dan mencubit hidungnya. Luna terus tertawa karena ulah Boy, begitu juga Boy ia ikut tertawa.


Suara kegaduhan di belakang, membuat Willy tidak bisa konsentrasi, ia sedang memeriksa keadaan di kantor melalui laptopnya .


Sang sopir hanya tersenyum lebar mendengar ulah Tuannya.


"Kak Boy, udah cukup dong.. Geli tau.. "


Luna terus tertawa.


"Hapus dulu itu fotonya, awas ya apalagi sampai di upload.. "


"Aku gak mungkin mengupload foto suamiku yang jelek ini,, haha"


Boy malah semakin gemas dengan tingkah Luna.


"Apa kamu bilang aku jelek hm? "


Boy kembali menggelitiknya.


"Ampun ampun.. Nggak, suamiku gak jelek.. Kamu sangat tampan kak Boy. "


Luna lemas karena terus tertawa dari tadi


Kemudian Boy diam


"Sini" Boy menarik tubuh Luna dan memeluknya.


"Kamu simpan potonya, tapi buat kamu sendiri. Jangan di upload ke sosial media kamu ya"


"Kak Boy, aku gak punya sosmed,, beneran "


"Oo ya? Terus akhir akhir ini kamu main ponsel ngapain aja? "


"Buat belajar agama lah sayang, aku mendengar sholawat, dakwah dan lainlain pokonya."


"Emm,, begitu.. Baiklah bagus itu"


"Willy apa ada masalah di kantor? "


"Tidak ada Bos, asistenku butuh bimbingan katanya. Jadi saya memberi arahan sama dia" ucapnya


"Ooh"


Suasana menjadi hening setelah itu, Boy masih memeluk Luna, sambil ia melihat Luna yang tengah menggeser geser ponselnya, melihat foto yang tadi ia potret.


"Kak Boy, lagi banyak kerjaan ya di kantor? Apa kepergian kita ke kampung Luna mengganggu kerjaan ya?


"Nggak lah sayang, kalo kerjaan tiap hari pasti aja ada, kamu lebih penting kan aku sudah berjanji akan mengajakmu ke kampungmu. "


"Maaf ya kak Boy"


"Heii kenapa minta maaf, sudahlah jangan merasa tidak enak begitu. Kak Boy sangat menikmati perjalanan ini" ucapnya sambil tersenyum pada Luna


Dan Luna membalas senyuman Boy.


Tidak terasa mereka sudah sampai di pintu gerbang menuju kampung Luna. Mobil masuk ke sana, jalanan mulai menanjak dan sedikit berkelok kelok. Pepohonan rindang dan udara dingin alam mulai terasa sepanjang perjalanan. Boy sangat menikmati udara di sana dan pemandangan perkebunan yang begitu hijau memanjakan mata. Ia tidak hentinya memandang ke luar lewat kaca mobilnya.

__ADS_1


Luna terkesima melihat ekspresi Boy yang terlihat terus tersenyum sambil memandang ke luar.


Kemudian Mobil menyusuri jalan yang lurus kali ini, perjalanan mulai nyaman kembali setelah berkelok kelok tadi.


"Baru kali ini aku merasakan kenyamanan melihat alam yang seindah ini, " ucap Boy.


"O ya,, kamu akan betah di kampungku kak Boy, aku yakin itu. Lihatlah nanti di sana.. Nah di depan nanti itu ada pesawahan milik warga.. Kalo gak salah musim sekarang pasti lagi hijau hijaunya tumbuhan padi"


"Emm begitu.. Kak Boy tidak sabar ingin melihatnya "


Beberapa menit kemudian mereka sampai di tempat yang di tuju.. Pemandangan pesawahan yang begitu Luas dan berbukit bukit.


Boy terpana di buatnya.


"Maasyaa Allah.. Luar biasa ini" Boy membuka kaca jendelanya. Willy juga menikmatinya. Semua orang menikmati pemandangan itu.



I Love alam..


"Bagus kan? " tanya Luna


"Iya ini indah sekali."


Boy menghirup udara segar di sana


"Kita istirahat dulu di sini"


"Aaa enggak,, Luna udah kangen sama mamah dan ayah, nanti kita ke sini besoknya lagi, ya"


"Yahh.. Yaudah oke, aku nurut aja sama kamu" Boy tersenyum


"Gitu dong, "


Mobil terus melaju melanjutkan perjalanan, kemudian belok kiri beberapa meter kemudian sampai di sebuah pemakaman umum desa setempat. Pemakaman tersebut tidak terlihat menyeramkan karena setiap minggu warga bergotong royong membersihkan pemakaman tersebut.


Luna terlihat sudah tidak sabar ingin turun dan segera pergi ke makam orang tuanya.


"Stop di sini pak" ucap Luna pada supir


"Iya nona"


kemudian Luna dan Boy turun dari mobil.


Luna menarik nafas dan tersenyum pada Boy, ia menggenggam tangan Boy.


Boy melihat Luna


"Sudah siap ketemu ayah dan mamahmu? " tanya Boy


Luna mengangguk


"Ayo kita kesana". Luna bergegas berjalan di depan mengajak Boy ke arah makam orang tuanya. Willy dan pengawal mengikuti dari belakang.


Pertama Luna mengucap salam untuk semua penghuni kubur sambil menyusuri makam makam, hingga akhirnya sampai di tempat yang di tuju.


Di sana terdapat dua makam milik orang tua Luna dan tertulis dalam batu nisan sebuah nama Luki dan sebelah kanannya Rena.


"Ini makan ayah sama mamah ka". Luna langsung berjongkok di sana menghadap makam orang tuanya kemudian Boy juga ikut jongkok di sana. Mula mula Luna mengucap salam dan berdoa di pimpin Boy. Mereka membuka tangannya seraya berdoa. Luna menghayati setiap doa yang di panjatkan Boy, hingga air matanya tidak terbendung karena teringat dengan orang tua kandungnya itu yang bahkan Luna tidak pernah melihat wajahnya sejak lahir. Hanya saja lewat mimpi beberapa terakhir lalu pernah muncul orang tuanya itu.


Willy dan para pengawal ikut memanjatkan doa


Hingga beberapa saat kemudian doa di akhiri dengan alfatihah dan sholawat. Setelah itu Luna curhat kepada orang tuanya itu, walau hanya dari atas kuburan. Air matanya terus mengalir setiap kali Luna bicara sampai cadarnya basah dengan air mata. Boy hanya terdiam sambil ia mengusap punggung Luna dengan Lembut.


"Aya.. ibu..semoga kalian menjadi ahli surga.. "


"Luna sekarang sudah dewasa dan sudah menikah. Luna bahagia dengan suami Luna, ayah.. Ibu"


Ucap Luna dengan sesekali terisak.. Cukup lama Luna mencurahkan isi hatinya di atas kuburan ayah dan ibunya, hingga matahari mulai menampakan teriknya. Untunglah Willy menyediakan payung untuk memayungi Luna dan Boy.


"Sayang, sudah yuk,,, ini udah panas lhoh.. Kita lanjutkan ke rumahmu.. Yah" ucap Boy


Luna mengangguk dan mengusap air matanya dengan tisu. Kemudian Boy memeluknya agar Luna tenang.


"Sudah, jangan nangis" ucap Boy


Kemudian Luna duduk, kebetulan ada tempat duduk di antara kuburan orang tuanya itu yang terbuat dari tembok.

__ADS_1


Ia sekarang meratapi setiap makam yang ada di sana, dan ia seakan teringat akan kematian.


"Kubur adalah tempat menyimpan amal, dan kita akan mengetahuinya ketika kita mati" ucap Luna


"Amal baik atau buruk seseorang akan tersimpan di dalam kubur bagaikan tersimpan di dalam kotak. Amal baik akan datang berupa seseorang yang tampan. Ia akan menjadi sahabat dan penghibur si mayit. Sebaliknya, amal buruk akan datang berupa suatu yang buruk rupa, busuk, dan hanya akan menambah kesengsaraan mayit." Luna memandang ke suatu sisi dengan tatapan kosong.


", tiga hal yang mengiringi manusia sampai ke kuburnya, yaitu hartanya, keluarganya dan amal perbuatannya. Dua hal, yaitu harta dan keluarganya, akan kembali setelah penguburan. Yang tinggal bersamanya hanyalah amal perbuatannya."


"Kak Boy tahukah bagaimana perumpamaan kita dengan sanak saudara kita, harta kita, dan amal perbuatan kita? " tanya Luna


"Katakan, sayang" Boy mendengarkan dengan seksama.


"Perumpamaanya bagaikan seseorang yang memiliki tiga saudara. Menjelang kematiannya, ia memanggil saudara saudaranya dan berkata "saudara saudaraku, kalian telah mengetahui bagaimana keadaanku ini, maka bantuan apakah yang dapat kalian berikan kepadaku saat ini? ". Saudaranya yang pertama menjawab "aku akan merawatmu, aku akan mengobatimu, dan aku akan melayani segala keperluanmu. Jika kamu meninggal dunia, aku akan memandikanmu, mengkafanimu, memikulmu lalu memguburkanmu. Lalu aku akan senantiasa mengingat kebaikanmu". Saudara yang satu ini adalah sanak saudara dan keluarganya.


"Pertanyaan yang sama ia ajukan kepada seorang saudaranya yang kedua. Lalu saudara yang kedua ini menjawab "aku akan bersamamu selama engkau masih hidup. Jika kamu meninggal dunia, aku akan pergi ke orang lain". Saudara yang kedua ini adalah hartanya. "


"Pertanyaan yang sama ia ajukan kepada saudaranya yang ketiga. Saudara yang ketiga ini menjawab "meskipun di dalam kubur, aku akan bersamamu. Di tempat yang menakutkan aku akan menjadi penghibur hatimu dan ketika di hisab aku akan duduk dan memberatkan timbangan amal baikmu". Saudara yang ketiga ini adalah amal sholehnya."


"Kini sebutlah, manakah saudara yang memberi manfaat? " tanya Luna.


"Jelas saudara yang terakhir inilah yang memberi manfaat" ucap Boy. Boy terkesima dengan ucapan Luna.


"pada zaman para sahabat. Syaikh Kumail Rahmatullah 'alaih bercerita "suatu hari aku berjalan bersama sayyidina Ali Radhiyallahu 'anhu hingga tiba di sebuah hutan. Lalu sayyidina Ali mendekati sebuah kuburan sambil berkata " wahai penghuni kubur, wahai penghuni tempat sunyi, wahai yang tinggal sendirian di tempat menakutkan, bagaimanakah kabar dan keadaanmu?, adapun kabar kami di sini, hartamu telah di bagi bagikan setelah kepergianmu, anak anakmu telah menjadi yatim, istri istrimu telah menikah lagi. Inilah berita kami, ceritakanlah sedikit tentang kalian! " Seraya menoleh kepada Syaikh Kumai, Ali berkata "wahai kumail seandainya mereka boleh dan dapat bicara, mereka akan berkata "sebaik baik bekal ialah taqwa". Setelah berkata demikian Ali menangis "wahai Kumail, kubur adalah tempat menyimpan amal dan kita akan mengetahuinya ketika kita mati". Sambung Luna. Dan selesai sudah Luna bercerita, lalu Luna dan Boy melihat ke sekeliling, ke willy dan pengawalnya mereka seperti habis menangis setelah mendengar ucapan Luna.


Luna dan Boy saling pandang dan tersenyum.


Kemudian Luna mengucapkan salam perpisahan kepada orang tuanya itu dari atas kuburan.


Ayah dan mamahmu pasti bangga denganmu sayang. Batin Boy. Ia mengecup kepala Luna dengan lembut. Kemudian Luna bangkit dari duduknya, dan mereka berlalu dari sana. Luna berjalan menjauh dari makam itu sambil sesekali melirik ke belakang, seakan enggan untuk pergi dari sana.


Sampai di dekat mobil, dan mereka masuk ke sana. Dan sopir kembali menyetir untuk melanjutkan perjalanan.


Luna mulai reda dari menangisnya karena mobil sudah sampai de dalam pedesaan yang nampak ramai dengan warga yang mulai beraktifitas hari itu.


Willy terkesima dengan keindahan desa itu, ia tidak berhenti memandang ke luar seraya senyum senyum sendiri.


", gila,,, ternyata cantik cantik gadis di desa ini nona" ucapnya. Ternyata yang menurutnya indah itu adalah gadis gadisnya. Iya karena di sana terlihat gadis gadis tengah berbelanja sayuran di sebuah warung tepi jalan.


"Woy Willy, inget kamu lagi dekat sama yang namanya hana kan? " tanya Boy


", alaaah dia gak akan tau Bos. Hehe. "


Boy hanya menggeleng mendengar ucapan Willy


", tapi Allah tau loh kak Willy " ucap Luna mengingatkan


"Hehe,, nona, saya tidak dekat sama dia, sekedar kagum saja"


"Alaaah boong kamu Will, " ucap Boy. Tapi Willy tidak peduli. Ia malah membuka kaca mobilnya dan tersenyum genit kepada gadis gadis yang ia lewati seraya melambaikan tangan.


"Haiii" sapa Willy pada mereka, sontak saja gadis gadis itu tersipu malu dan mereka berbisik bisik setelah melihat Willy yang berlalu dari sana. Willy tertawa melihat ekspresi gadis gadis itu..


Boy terlihat memerhatikan mereka, karena memang ia akui dari lubuk hatinya gadis gadis itu terlihat cantik. Kemudian ia melihat Luna yang ternyata memperhatikan ekspresi Boy yang tengah memandang ke luar. Luna cemberut dan memasang wajah kesal pada Boy. Boy yang tadinya tersenyum jadi datar ekspresinya


"Kamu kenapa sayang? " tanya Boy pada Luna


"Ngapain kamu tadi, liat liat ke luar,, suka kamu sama mereka hm? ". Luna cemburu ternyata.


"Nggak lah,, aku hanya suka sama kamu" ucap Boy


"Terus ngapain tadi lirik lirik mereka? " ucapnya dengan jutek


"Aku refleks aja, sayang kenapa sii?? Ooo kamu cemburu yaa.. Mm ternyata Luna sangat mencintaiku. Aku bersyukur sekali ya Allah,,, " ucapnya seraya membuka tangannya dan memandang ke atas.


"Nggak,, cintaku turun jadi 30 persen.. " ucap Luna sambil ia memalingkan wajahnya.


"Lhahh kok bisa gitu.. Ee jangan dong.. Maaf deh maaf..ayo dong sayang" Boy merengek sambil mengguncang tubuh Luna.


"Lepasin Luna, ihh. Luna gak mau bicara sama kak Boy" ucapnya, masih cemberut dia.


Willy menertawakan Boy


"Ya ampun Bos, kasian sekali kamu.. Untunglah aku seorang jomblo jadi bebas.. Hahaha" ucapnya seraya tertawa lepas.


"Kurang ajar kau Will". Boy kesal.


Boy terus menggoda Luna agar ia tidak marah lagi, tapi Luna tahan, dan terdiam.

__ADS_1


Sampai mobil sampai di halaman rumah Luna, warga setempat terheran heran dengan kedatangan mobil yang berjejer beberapa di jalan.


__ADS_2