
Siang harinya, Luna tengah menonton televisi, ketika sedang mencari chanel yang menarik, ia dapati suatu berita yang isinya adalah berita tentang proyek yang sedang dibangun oleh Boy dan rekan Bisnisnya. Acara itu di siarkan live di stasiun televisi nasional.
"Heii.. Itu suamiku , kenapa dia tidak memberi tahuku akan ada berita mengenai proyeknya.. Hmm" luna berbicara sendiri sambil tersenyum. Luna terus menyaksikan setiap acaranya sambil ngemil, ia juga memanggil ibu Lidya untuk ikut menonton di sana. Lidya, Mirza, dan Bianka ikut menonton di sana.
Saat itu Boy sedang di wawancarai oleh seorang reporter di tempat proyek yang sedang di bangun. Dengan gagah dan berwibawa, Boy menjawab setiap pertanyaan yang diajukan oleh reporter tersebut, sambil tersenyum dan diselingi tertawa ketika mereka bicara.
Luna ikut tertawa ketika melihat suaminya sedang di wawancarai.
Sementara di tempat proyek ..
Boy sedang menjelaskan tentang proyek yang sedang dibangunnya itu, Willy berada di samping Boy, juga Andra dan Zuno berada di sana. Untuk pak Har, ia sudah terbang lagi ke luar negri karena sangat sibuk hari itu.
Mereka berbincang persis di bawah gedung yang sedang di bangun. Kejadian tak terduga ketika mereka tengah asik berbincang dengan reporter itu, beberapa alat bangunan, yaitu kayu dan lain lain yang berukuran cukup besar yang tengah diangkat ke atas gedung menggunakan alat khusus untuk mengangkat alat-alat bangunan, terjatuh karena kehilangan keseimbangan.
Seaaakkkk.. Suara alat itu bergesek dan terjatuh ke bawah dari ketinggian dua puluh meter.
Saat itu willy menyadari ada yang akan jatuh dari atas, persis ke arah mereka. Benar saja saat Willy melirik ke atas, alat bangunan sudah melayang jatuh ke bawah
"Awas Bos...!!!!" teriak Willy, Dengan sigap ia langsung menarik tubuh Boy, karena Boy lah yang paling dekat dengan sasaran alat tersebut. Willy melindungi tubuh Boy dan mereka terjatuh tertelungkup kemudian Brukkk.. alat bangunan tersebut menimpa Willy dan Boy, willy yang paling parah karena ia berada di punggung Boy.
"Aaaaaaaa... " teriak reporter dan juru kamera serta Zuno dan Andra, mereka berhasil menghindar. Setelah alat bangunan jatuh semua, mereka segera melirik ke arah Boy dan Willy.
Mereka kaget ketika melihat Boy dan Willy terluka dan berlumuran darah. Terutama bagian kepala Willy. Boy dan Willy seketika tidak sadarkan diri. Semua syok melihat keadaannya. Andra dan Zuno segera menolong, Sambil mengangkat alat-alat bangunan itu yang menimpa Boy dan Willy dibantu oleh pekerja yang ada di sana.
Kemudian memanggil ambulance untuk membawa Boy dan Willy ke rumah sakit. Kamera masih live menayangkan kejadian itu, sampai Boy di bawa ke rumah sakit.
Sementara di rumah, mereka yang sedang menonton acara itu kaget, terutama Luna.
"Aaa...." teriak mereka dengan raut wajah syok.
"A Boooyyyy....." teriak Luna histeris
ia langsung menutup wajahnya, ia tidak sanggup melihat kejadian itu. Dan menangis sejadi jadinya.
"Ayah, itu Boy ayah.. Itu Boy dan Willy.." Lidya mengguncang tubuh Mirza sambil menangis.
Mirza hanya terdiam dalam hatinya terasa syok dan sakit melihat hal yang menimpa Boy.
"Kakak" ucap Bianka sambil menangis pula.
Mereka khawatir pada Boy.
Seketika tubuh Luna lunglai dan karena tidak sanggup membayangkan keadaan Boy. ia terus menangis.
Sampai akhirnya pelayang menghampiri majikannya itu, setelah mendengar teriakan mereka. Pelayan bertanya tanya dengan apa yang terjadi. Kemudian Mirza menjelaskan
"Ayo,.. Ayo kita ke rumah sakit sekarang" ajak Mirza
Ia memapah Lidya yang terus menangis menuju mobil, Bianka juga ikut.
Sementara Luna di bantu pelayan, memapahnya menuju mobil.
__ADS_1
Setelah mirza mencari tau di mana rumah sakitnya, mereka berangkat ke sana.
*****
Sementara di rumah sakit, Willy langsung di bawa ke ruang operasi dan akan dilakukan oprasi karena lukanya cukup parah dan harus dilakukan beberapa jahitan di kepalanya.
Untuk Boy, ia hanya di bawa ke ruang rawat dan dilakukan pemeriksaan di sana. Boy hanya mengalami pingsan karena benturan kepalanya ke tanah, dan luka di kaki karena tertimpa alat berat bangunan itu, namun kakinya tidak bisa berjalan karena lukanya cukup parah. Setelah di obati oleh dokter, akhirnya Boy sadarkan diri. Namun masih lemah keadaannya. Dokter meninggalkan ruang rawatnya, kemudian keluarga Boy bisa menemuinya, karena kebetulan mereka sudah sampai di sana.
Luna duduk disamping Boy sambil menangis
"A.... " ucap Luna sambil membelai lembut pipi Boy.
"Sayang..." ucap Boy dengan lirih dan tersenyum pada Luna.
"bagaimana keadaan Willy?" tanya Boy sambil melirik ke arah Mirza dan Lidya.
"Willy di ruang operasi Boy" ucap Mirza dengan haru
"Kenapa Willy ayah? Apa lukanya parah?" tanya Boy dengan ekspresi kaget
"Nak,, kamu jangan pikirkan Willy dulu.. Dia akan baik baik saja" ucap Lidya
"Tidak bu, aku harus lihat kondisi Willy". Ucap Boy, ia hendak bangun. Namun tenaganya masih sangat lemah.
"A..sayang.. Nanti saja, kondisimu belum pulih" ucap Luna menahan Boy
Kemudian Boy merebah kembali dan berusaha tenang.
"Kamu nangis Sayang?" tanya Boy
"Aku.. Aku sangat kuatir sama kamu a" ucap Luna
"Hei jangan nangis lah.. Aku baik baik saja" ucapnya sambil menggenggam tangan Luna seraya tersenyum
"dek.. kamu juga nangis?" tanya Boy pada Bianka
"Iya lah kak.. Aku sayang banget sama kakak, aku syok banget lihat kakak kecelakaan " ucap Bianka sambil menyeka air matanya.
"Sudah,, kakak baik baik saja dek, kalian jangan kuatir"
"Aku lebih kuatir sama Willy, aku ingin melihatnya"
Ucap Boy, ia sangat teringat terus pada Willy.
"Sayang, kamu sepertinya sangat menyayangi Willy" goda Luna sambil tersenyum
"Iya lah sayang,, aku menyayangi Willy, kita bersama sejak kecil, dan sudah kuanggap sebagai adik kandungku sendiri, ya walau dia sering menyebalkan" ucapnya
"Aku terharu sekali" ucap Luna
"Tapi sekaran kita belum bisa menjenguknya, karena dokter masih melakukan operasi pada kak Willy"
__ADS_1
"Iya sayang,, semoga opresainya lancar"
"Aamiin.. " ucap mereka yang ada di sana
Kemudian Boy melirik Andra dan Zuno.
"Kalian tidak kenapa-kenapa kan?" tanya Boy
"Kita baik baik saja Boy" ucap Andra dan diangguki Zuno.
"Syukurlah.."
"Kami ikut prihatin atas kejadian ini Boy, seandainya kita tadi tidak mengajakmu untuk berwawancara di dekat gedung, mungkin tidak akan tertimpa seperti ini"
Ucap Zuno.
"Hei.. Sudahlah,, ini sudah menjadi ketentuan-Nya"
"Iya Boy.."
******
Kedekatan Willy dan Boy diibaratkan sebuah kisah yang terjadi antara Rasulullah shalallahu alaihi wasallam dengan Abu Bakar Rhadiyallahu 'anhu.
Willy dan Boy kedekatan mereka lebih dari seorang sahabat.
Berikut kisah Abu Bakar Rhadiyallahu 'anhu 👇
Kisah penderitaan sayyidina Abu bakar Rhadiyallahu 'anhu ketika menyatakan keislamanya secara terang terangan.
Pada masa awal islam, orang yang masuk islam berusaha sedemikian rupa menyembunyikan keislamannya. Baginda Nabi shalallahu alaihi wasallam sendiri menganjurkan demikian agar mereka tidak mendapat kesusahan dan kesulitan dari orang kafir. Setelah orang islam berjumlah 39 orang, sayyidina Abu Bakar Rhadiyallahu 'anhu meminta izin kepada Baginda Nabi shalallahu alaihi wasallam untuk mendakwahkan agama secara terang-terangan. Pada mulanya, Baginda Nabi shalallahu alaihi wasallam melarang. Tetapi karena sayyidina Abu Bakar Rhadiyallahu 'anhu terus mendesak, akhirnya beliau mengizinkannya.
Sayyidina abu Bakar Rhadiyallahu 'anhu pun mengajak semua orang yang sudah masuk islam untuk pergi ke Masjidil Haram. Kemudian mulailah ia berkhutbah. Itulah khutbah pertama dalam islam. Pada hari itu pula paman Baginda Nabi shalallahu alaihi wasallam, sayyidina Hamzah Rhadiyallahu 'anhu masuk islam. Tiga hari kemudian sayyidina Umar Radhiyallahu 'anhu pun masuk islam.
Ketika sayyidina Abu Bakar Rhadiyallahu 'anhu memulai khutbah, orang-orang kafir langsung menyerang Kaum Muslimin dari empat penjuru. Meskipun abu Bakar Rhadiyallahu 'anhu terkenal sebagai tokoh terkemuka dan dihormati oleh masyarakat Makkah, ia tetap dipukuli. Wajah, hidung, dan telinganya berlumuran darah sehingga wajahnya sulit dikenali lagi. Ia ditendang dengan sepatu, diinjak dengan kaki, dan apa yang semestinya tidak dilakukan, semua me
reka lakukan.
Akhirnya, sayyidina Abu Bakar Rhadiyallahu 'anhu pingsan.
Ketika Bani Taim, kabilah sayyidina abu Bakar Rhadiyallahu 'anhu mengetahui berita itu, mereka segera mengangkat tubuh Abu Bakar Rhadiyallahu 'anhu dari tempat itu. Mereka meyakini sayyidina Abu Bakar Rhadiyallahu 'anhu sulit diselamatkan. Mereka segera masuk Masjidil Haram dan mengumumkan, "jika dalam peristiwa ini Abu Bakar meninggal dunia, maka kami akan membunuh Utbah bin Rabi'ah sebagai gantinya!". Hal itu dikarenakan Utbah bin Rabi'ah bertindak berlebihan dalam peristiwa pemukulan tersebut.
Sampai menjelang petang, sayyidina Abu Bakar Rhadiyallahu 'anhu masih pingsan. Walau sudah dipanggil-panggil namanya, ia belum juga siuman. Baru pada pagi hatinya, ia siuman. Ucapannya pertama kali setelah siuman adalah "bagaimana keadaan Baginda Rasulullah shalallahu alaihi wasallam?". Orang orang marah kepadanya, karena Baginda Rasulullah shalallahu alaihi wasallam yang menyebabkan ia di timpa musibah itu. Sepanjang hari, ia diambang kematian. Begitu sadar, yang pertama kali ditanyakan justru Baginda nabi shalallahu alaihi wasallam. Akhirnya, orang-orang dengan kesal meninggalkannya.
Ternyata sayyidina Abu Bakar Rhadiyallahu 'anhu masih bisa bertahan hidup. Ia mulai dapat bicara. Sebelum pergi, orang-orang berpesan kepada ibu sayyidina abu Bakar Rhadiyallahu 'anhu, ummu khair, agar menyediakan makan dan minum untuk sayyidina Abu Bakar Rhadiyallahu 'anhu. Ibunya menyiapkan sedikit makanan dan membawanya kepada sayyidina Abu Bakar Rhadiyallahu 'anhu. Ibunya memaksa makan. Namun, justru satu hal saja yang diserukan Abu Bakar Rhadiyallahu 'anhu "bagaimana keadaan Baginda Rasulullah shalallahu alaihi wasallam, apa yang menimpa beliau?". Ibunya berkata "aku tidak tau keadaan beliau". Sayyidina Abu Bakar Rhadiyallahu 'anhu berkata "tolong ibu temui ummu Jamil (saudara perempuan sayyidina Umar Radhiyallahu 'anhu) dan tanyakan keadaan Baginda Rasulullah shalallahu alaihi wasallam kepadanya".
Atas permintaan anaknya yang keadaanya sangat memperihantinkan itu, ibu sayyidina Abu Bakar Rhadiyallahu 'anhu pergi ke rumah sayyidatina ummu Jamil Rhadiyallahu 'anha. Setibanya di sana, ia menanyakan keadaan Baginda Rasulullah shalallahu alaihi wasallam kepada sayyidatina ummu Jamil Rhadiyallahu 'anha. Karena saat itu kaum muslimin masih menyembunyikan keislamanya, maka sayyidatina ummu Jamil Rhadiyallahu 'anha menjawab "siapakah Muhammad dan siapakah abu Bakar? Tetapi setelah mendengar keadaan anakmu, aku ikut sedih. Jika engkau mengijinkan aku akan melihat keadaan anakmu, Abu Bakar". Ummu khair pun mengijinkannya. Sayyidina ummu Jamil pun pergi bersamanya. Setelah melihat keadaan sayyidina Abu Bakar Rhadiyallahu 'anhu, ia merasa tidak tega. Tanpa sadar, sayyidatina ummu Jamil Rhadiyallahu 'anha menangis sambil berkata "apa yang telah diperbuat orang orang jahat itu? Semoga Allah Subhanahu Wata'ala membalas perbuatannya!". Lalu sayyidina Abu Bakar Rhadiyallahu 'anhu bertanya kepada sayyidatina ummu Jamil Rhadiyallahu 'anha "bagaimana keadaan Baginda Rasulullah shalallahu alaihi wasallam?". Sayyidatina ummu Jamil Rhadiyallahu 'anha berkata (sambil memberi isyarat dengan mata) kepada sayyidina Abu Bakar Rhadiyallahu 'anhu "nanti dia (ibu kamu) mendengar". Sayyidina Abu Bakar Rhadiyallahu 'anhu menjawab "tidak usah kuatir dengan ibuku!" maka kemudian sayyidatina ummu Jamil Rhadiyallahu 'anha menyampaikan bahwa Baginda Nabi Muhammad shalallahu alaihi wasallam dalam keadaan baik baik saja dan selamat. Sayyidina Abu Bakar Rhadiyallahu 'anhu bertanya "dimanakah beliau?". Sayyidatina ummu Jamil Rhadiyallahu 'anha menjawab "sekarang berada di rumah arkham Rhadiyallahu 'anhu ". Sayyidina Abu Bakar Rhadiyallahu 'anhu berkata "Demi Allah, aku tidak akan makan dan minum sebelum bertemu Baginda Rasulullah shalallahu alaihi!"
Sebenarnya ibunya ingin Abu Bakar Rhadiyallahu 'anhu makan meski sedikit. Tetapi sayyidina Abu Bakar Rhadiyallahu 'anhu telah bersumpah tidak akan makan sebelum bertemu Baginda Rasulullah shalallahu alaihi wasallam. Maka ibunya menanti sampai keadaan sepi, karena jika ia terlihat menjumpai Baginda Rasulullah shalallahu alaihi wasallam, orang-orang kafir tentu akan menyakitinya lagi.
Ketika malam telah lewat, sayyidina Abu Bakar Rhadiyallahu 'anhu pergi ke rumah sayyidina Arqam Rhadiyallahu 'anhu. Setelah bertemu, sayyidina Abu Bakar Rhadiyallahu 'anhu langsung memeluk tubuh Baginda Rasulullah shalallahu alaihi wasallam dan beliaupun memeluk sayyidina Abu Bakar Rhadiyallahu 'anhu. Keduanya menangis. Kaum Muslimin yang berada di tempat itu menangis terharu tidak tahan melihat keadaan sayyidina Abu Bakar Rhadiyallahu 'anhu. Lalu sayyidina Abu Bakar Rhadiyallahu 'anhu meminta Baginda Nabi shalallahu alaihi wasallam agar mendoakan hidayah untuk ibuny, dan mengajaknya masuk islam. Mula-mula Baginda Nabi shalallahu alaihi wasallam medoakan ibunya, kemudian mengajaknya masuk islam. Ibu sayyidina Abu Bakar Rhadiyallahu 'anhu pun masuk islam saat itu juga. (Dari kitab khamis)
__ADS_1
Menyatakan cinta pada saat senang, lapang, bahagia, dan sejahtera, sudah biasa dilakukan oleh banyak orang. Namun cinta dan rindu sebenarnya adalah yang masih kekal pada saat tertimpa musibah dan penderitaan.