
Sore itu juga Boy sudah sampai di rumahnya, ia turun dari mobil sambil menenteng tas milik Luna yang tertinggal di mobilnya sedari pagi.
Ia dapati Lidya tengah duduk di teras bersama Mirza sambil minum kopi sore sore.
Lidya melirik Boy yang pulang sendirian tanpa Luna
"Lhoh Boy,, kenapa pulang sendirian? Mana Luna?"
Tanya Lidya
"Apa?? Aku pikir istriku sudah pulang bu!" Boy nampak kaget.
"Tidak,, dia tidak ada dari tadi, belum pulang" ucap Lidya dan ia merasa cemas sekarang.
"Lalu kemana Luna?" boy panik.
"Ibu juga tidak tau.. Coba kamu hubungi!"
"Ini tasnya aja ada disini bu sama ponselnya juga, tadi pagi ketinggalan di mobil"
Tanpa berfikir panjang Boy langsung masuk lagi ke dalam mobil ketika Willy hendak melaju untuk pulang.
"Ada apa Bos?" tanya Willy pada Boy yang tiba-tiba masuk kembali ke mobil dan duduk di depan.
"Kita cari Luna" ucap Boy dengan ekspresi paniknya
"Memangnya nona belum pulang?" tanya Willy sambil menyetir
"Tidak will.. Dan aku sangat kuatir.. Ayo cepat!"
"Baik,, baik bos, ". Willy dengan cepat mengemudi
Awalnya Willy menuju toko Luna dulu dan sampailah mereka di sana.
"Tokonya sudah sepi bos" ucap willy sambil melihat dari kaca mobil.
"Lalu kemana Luna.. Ayo will, kita ke tempat lain"
"Baik Bos..".
Mereka melaju kembali menuju tempat lain. Sampailah di sebuah taman yang sering Luna kunjungi, disana ada anak anak jalanan yang tengah bermain. Dan Boy menanyakan Luna pada mereka, namun mereka tidak ada yang tau.
Boy semakin cemas.
"Bos,, tanyakan pada Maya" saran Willy
"Ah ide bagus itu,,,"
Kemudian Boy menghubungi Maya lewat ponsel Luna
"Hallo assalamualaikum kak Luna" Maya mengangkat telponnya, ia kira itu dari Luna
"Waalaikumsalam.. Maya! Ini saya Boy, kemana Luna? Apa ada pesan sama kamu dia mau ke mana?" tanya Boy.
"Tidak ada tuan.. Bukannya kak Luna sudah pulang ya? Soalnya tadi saya periksa ke ruangannya sudah tidak ada kak Luna disana"
"Arhh... Dia belum pulang maya!!!" bentaknya
Tuuut.. Telpon ditutup sepihak oleh Boy.
Maya kaget dan ikut panik prihal Luna yang entah kemana menurutnya.
"Bagaimana ini will.. Aku sangat kuatir.." Boy prustasi
"Tenang lah Bos... Kita ke masjid saja dulu, sebentar lagi adzan maghrib.."
Kemudian Boy mengikuti saran Willy dan mereka sholat dulu di masjid. Setelah selesai dia melanjutkan mencari Luna.
"Kemana lagi kita bos..?" tanya Willy
"Mm kita kerumahnya will,, siapa tau dia menemui mah Rani di rumahnya."
"Baik bos.."
Sampailah di rumah Luna, dan Boy sampaikan maksud kedatangannya kesana pada Rani yang kebetulan Rani berada di sana, rencananya akan menghadiri pengajian empat bulannannya usia kandungan Luna nanti seminggu lagi.
"Si neng tidak ada kesini dari tadi nak Boy.." ucap Rani dengan ekspresi panik juga.
"Hahhh.. Ya Allah... Kemana kamu sayaaang..." Boy mengusap wajah dan kepalanya dengan gusar.
"Ayo Will,, kita cari lagi.. Mah, aku pamit ya". Boy segera bergegas kembali menuju mobil.
"Hati-hati nak.. Semoga Luna cepat ketemu ya..." ucap Rani. Dia kuatir jugan
"Iya mah" jawab Boy
"Permisi mak Rani" Willy pamit
"Iya nak Willy"
Willy kembali mengemudi menyusuri jalanan sambil mencari-cari Luna di sekitar jalan. Nihil, Luna tidak juga mereka temui. Sementara Lidya sudah menanyakan terus dari tadi.
"Willy,, kamu pulang saja. Kasian kamu belum pulih seutuhnya kan. Ayo kerumahmu, biar nanti aku lanjutkan mencari sendiri Luna" ucap Boy
"Gapapa Bos,, saya bantu cari"
"Jangan.. Sudah cepat kerumahmu"
"Baiklah kalau begitu Bos"
Willy membelokan mobilnya menuju rumahnya, hingga sampai di gerbang. Willy turun dan kemudi di ambil alih oleh Boy.
"Apa tidak apa Bos"
"Iya will.. Masuklah" Boy menyuruh Willy masuk kerumahnya
"Iya.. Selamat malam bos. Semoga nona cepat ketemu"
"Iya"
__ADS_1
Boy segera mengemudi dengan cepat meninggalkan rumah Willy.
Kemudian Boy kembali melewati toko Luna. Dan ia berhenti di tepi jalan melihat kedalam toko
"Naluriku merasa Luna ada di sini"
Boy melihat lampu lantai atasnya menyala padahal tadi tidak.
"Lampunya menyala? Berarti ada kehidupan di sana.." ucapnya.
Kemudian Boy memarkirkan mobilnya di halaman toko. Ketika Boy turun dari mobil, penjaga menghampiri Boy, kebetulan penjaga itu tinggal di sebuah rumah yang berdampingan dengan toko Luna, sebuah rumah bekas toko roti milik pelaku perusakan toko Luna itu. Sekarang menjadi rumah dan ditinggali penjaga toko roti Luna.
"Bos.. Ada yang bisa saya bantu?" tanya penjaga itu
"Sutt.. Sana" Boy menyuruh penjaga itu kembali lagi ketempatnya.
"Oh baiklah bos.." ucapnya
Penjaga itu kembali ke tempatnya.
Kemudian Boy mengambil tas Luna dan mencari kunci cadangan toko itu di dalamnya, dan benar saja ada kunci cadangan di sana.
Boy senyum senyum sendiri sambil membuka gembok itu dengan pelan pelan supaya tidak terdengar oleh Luna, dia akan memberikan kejutan nanti. Karena ia berfikir Luna terkunci di tokonya sendiri.
Boy berhasil membuka pintunya dan ia masuk dengan mengendap ngendap. Ia mendengar lantunan ayat suci Al'Qur'An yang dilantunkan Luna dengan merdu dari ruangannya.
Kemudian Boy menuju tangganya, ah ia dapati ada sakelar listrik di dekat tangga itu, kemudian Boy mematikannya sampai listrik toko mati semua
"Aaaaaa..." teriak Luna dari ruangannya, Luna kaget sekaligus takut. Ya Luna takut kegelapan.
"Emaaakk.. A booyyy.. Huu huu.." Luna ketakutan dan menangis. Luna melihat keluar jendela, toko lain dan lampu jalan menyala semua
"Kok hanya tokoku yang mati lampu?" Luna bertanya tanya.
Kemudian Luna meraba raba menuju pintu. Ia berniat untuk memeriksa sakelar listriknya.
Sementara Boy cengengesan sambil naik tangga dan berdiri disamping pintu menunggu Luna keluar dari ruangannya.
Tiba tiba suara hujan deras turun dari langit membasahi kota itu. Semakin takutlah Luna, sudah gelap, hujan, ditambah lagi jika nanti ada suara petir. Luna tidak bisa membayangkannya.
Luna membuka pintu dengan hati-hati.
Gepp... Boy langsung memeluk Luna dan menciumnya.
"Aaa... Maling!!! .. Maling!! ... Kamu maling!!!" Luna teriak teriak sambil memukul Boy dengan keras
"Aw.. Aww... Awwww...." Boy kesakitan
"Sayang ini aku.." ucapnya sambil menyalakan ponselnya dan menyorotkannya ke wajahnya.
"Apa?" Luna ngosngosan karena kaget.
Kemudian Boy tertawa dan kembali memeluk Luna.
"Lepasin!!" Luna menghindar
"Kenapa sayang?"
"Ya ampun sayang.. Ini aku Boy.. Sini, mana ada jin setampan aku.." Boy kembali memeluknya.
"Ish.. Menyebalkan.."
Luna merasa dia benar-benar suaminya sekarang
"Kenapa kamu di sini hm? Kenapa tidak pulang?" tanya Boy.
"Aku terkunci di sini a, gak tau gimana tu si Maya gak ngasih tau kalau dia mau pulang, jadi aku terkunci"
"Lhoh tadi Maya bilang kamu sudah tidak ada di toko, dia pikir kamu sudah pulang tadi mungkin"
"Oohh.. Mungkin saja begitu. Mungkin aku tadi lagi di kamar mandi ketika Maya pulang, dan pintu aku kunci dari dalam"
"Ahh ada ada saja tau gak.. Kamu bikin panik semua orang.. Terutama aku!"
"Hehe.. Lagian siapa juga yang mau bikin panik".
"Hmm.. Ya sudah, aku nyalakan lagi lampunya ya."
"Jadi aa yang matiin?"
"Iya.. Hehe"
"Jail banget sii" Luna kesal dan mencubit perut Boy
"Iya maaf,, tadinya aku mau kasih kejutan sama kamu dan berhasiiilll..." ucap Boy dengan riangnya.
"Ck.. Yasudah cepat nyalakan sakelar nya"
"Iya.. Lepasin dong, kan susah turunnya kalo kamu peluk terus"
"Oh iya.. Hehe"
Luna melepas pelukannya
Kemudian Boy turun tangga dan menyalakan kembali sakelar listriknya
Dan kembali lagi menghampiri Luna ketika lampu telah menyala.
Cuppp... Kecupan di bibir Luna dengan lembut dan membangunkan birahinya. Kemudian Boy membawanya masuk ke dalam ruangan.
"Sayang.. Apa tidak sebaiknya kita pulang"
"Tidak usah.. Hujan deras sekali dan ini sudah malam, Kita tidur di sini"
"Apa?? Tapi kan aa belum mandi bukan?"
"Gapapa.. Nanti pelayan datang antar baju dan aku akan mandi di sini.
"Aku mau tidur dulu ayo."
__ADS_1
Boy menarik Luna ke kasur.
"Bukannya lebih enak jika sudah mandi hm? Sekarang masih bau keringat atuh a, mana mau aku kalau aa bau keringat"
"Ahh. Yasudah lah, kita tunggu pelayan kesini dulu"
"Sini"
Boy mengajak Luna tiduran di sampingnya sambil memainkan ponselnya menghubungi ke rumah, memberitahukan bahwa Luna sudah ketemu pada ibu Lidya dan juga Rani. Kemudian ia meminta supaya pelayan membawakan keperluannya ke toko Luna karena ia akan menginap di sana.
Tidak butuh waktu lama, pelayan sampai membawakan keperluan Boy dan Luna, serta makanan. Kemudian pelayan kembali pulang ke kediaman Boy. Tinggalah Boy dan Luna disana.
Kemudian Boy membersihkan diri dan berganti pakaian. Setelah itu makan malam dulu dengan Luna
Selesai makan, Boy melanjutkan hasratnya yang tadi sempat tertunda pada Luna. Dan malam itu berlalu dengan indah di toko Luna.
Jeng jeng jeng....
Pagi harinya, hari sudah menunjukan pukul enam pagi hari. Boy tengah menonton televisi bersama Luna. Akhir pekan pagi itu. mereka menunggu kedatangan Maya, Boy sengaja tidak segera pulang, dia ingin menegur Maya.
Willy menghubungi Boy menanyakan keadaan Luna
"Hallo bos" sapa Willy lewat telponnya
"Hallo will.. "
"Bagaimana nona bos?"
"Ada.. Ditoko dia, terkunci sama Maya"
"Apa? Apa perlu saya tegur si maya bos?"
"Iya,, kau kesini saja.."
"Baik bos.."
Tuuut.. Telpon ditutup.
"Aa mau apain si maya?" tanya Luna pada Boy
"Mm tidak ada, aku hanya ingin bertanya beberapa hal sama dia"
"Awas ya jangan di marahi si Maya, dia kan tidak sengaja mengurungku"
"Oke.."
Padahal Boy sudah merencanakan sesuatu pada Maya.
Tidak lama kemudian Willy datang dan masuk ke dalam, ia berbincang sebentar dengan Boy di ruangan Luna.
Sampai akhirnya Maya datang ke toko. Dia kaget karena sudah ada dua mobil yang terparkir di halaman toko. Ketika hendak membuka pintu toko, ia Kembali kaget karena toko tidak terkunci.
"Willy, itu maya datang.. Kau samperin suruh dia kesini, kita kerjain dia" ucap Boy, ia melihat maya berjalan menuju tokonya sendirian. Kebetulan Luna tengah di kamar mandi saat itu.
"Baik Bos... " Willy segera turun dari atas. Sampailah ia dibawah menunggu Maya masuk. Willy menyilangkan tangannya dan memasang ekspresi marah pada Maya.
Kemudian Maya masuk, dan di dalam sudah ada Willy tengah menunggunya dengan tatapan tajam dan dingin.
Maya gelagapan dan ketakutan melihat ekspresi Willy yang seperti ingin memakannya.
"Mm.. Pagi.. Tuan.. Ada apa,? Kenapa bisa masuk ke sini" Maya memberanikan bertanya dengan gemetar.
Willy mengerutkan dahinya
"Bos menunggumu di atas.. Dia marah karena kamu telah mengunci nona di tokonya sendiri" ucap Willy dengan dingin
Maya kaget
"Ap.. Ap.. Apa tuan? Jadi kak Luna terkunci di sini?" Maya gugup dan ketakutan, pasalnya dia akan menghadapi bosnya langsung.
"Cepat!!" Willy sengaja membentaknya, ingin mengerjainya.
Maya seketika lunglai dan gemetar maju menaiki tangga, keringat dingin bercucuran dan wajahnya seketika pucat.
Sampailah dia di ruangan Luna, dia dapati Boy tidak kalah menyeramkannya dari Willy.
Dan mulailah Boy menceramahinya dengan membentak Maya
"Maya!!! Kamu sengaja mengurung istriku hah!!"
Bentak Boy
Maya merunduk, tidak berani menatap Boy
"Ti.. Ti. Tidak tututuan" Maya gemetar mengatakannya.
Ekspresi ketakutan Maya membuat Willy senyum senyum, maya berhasil membuatnya ingin tertawa.
Tapi dia tahan, ia tidak mau ketahuan jika mereka hanya mengerjainya
Ekspresi Boy dan Willy saat memarahi maya
"Tidak? Apa maksud kamu!!! Kamu bilang istriku sudah pulang!!! Faktanya dia masih di toko dan kamu mennguncinya.. Kamu sudah bosan kerja di sini Maya!!!" Boy kembali membentaknya
Maya menangis dan ketakutan
"Tidak tuan... Saya tidak sengaja mengurung kak Luna, aku pikir dia sudah pulang" ucap Maya sambil sesegukan
"Tidak sengaja tidak sengaja.. Faktanya!!! Kamu mengurungnya.. "
"Tolong tuan.. Maafkan saya" maya merapatkan tangannya seraya memohon ampun pada Boy.
"Kamus sudah membuat saya panik maya!!!!"
"Maafkan saya tuan" Maya terus memohon maaf, sementara boy dan willy menahan tawanya.
Kemudian Luna keluar dari kamar mandi setelah mendengar kegaduhan di ruangannya.
__ADS_1
"Ada apa ini a?"