
Hari sudah berganti, kini di rumah Luna dia sedang merapihkan tempat tidurnya, karena waktu masih pagi, sementara Rani sedang melihat para pelayang di dapur sambil bantu memasak karena Rendi akan datang menemuinya. Luna tampak bingung apa yang harus di kerjakannya, sementara untuk beres beres Rumah sudah ada yang mengerjakan. Ia hanya bengong sendiri di kamarnya.
Beberapa saat kemudian Rani menghampiri Luna
"Neng nuju naon geulis? (Neng lagi apa cantik)" tanya Rani
Suara Rani memecah Lamunan Luna
"Eh emak, Luna lagi kepikiran sama bapak Ahmad bu"
Kemudian Rani duduk disamping Luna, kala itu Luna sedang duduk di sofa.
"Ibu juga tiap malam merindukan bapakmu neng"
"Kapan kita berziarah ke makamnya ya mak? "
"Luna harus minta izin dulu sama ibu Lidya" ucap Rani
"Kalau gitu aku mau nelpon ibu dulu" ucap Luna kemudian ia mengambil ponselnya dan menelpon Lidya.
Sementara di rumah Lidya tengah berkumpul di ruangan bersama anak anaknya menunggu waktu untuk sarapan,mereka sedang berbincang bincang pagi itu
"Ibu, aku mau jenguk kak Luna boleh kan? " tanya Bianka pada Lidya
"Oo iya ya kamu belum pernah melihat kak Luna, oke kapan kapan kita kerumahnya ya" ucap Lidya
"Iya bu, Bastian juga mau ikut, aku mau tau seperti apa kak Luna itu" ucap Bastian
"Aku juga Bu" ucap Briand.
"Oke oke,, kita kesana kapan kapan ya, ayah mau ikut? " ucap Lidya dan ia juga bertanya pada Mirza. Anak anaknya terlihat senang
"Oke, ayah kan belum sempat menjenguknya, kita kesana bareng bareng ya.. " ucap Mirza
"Baik" ucap ketiga adiknya Boy itu
Kemudian Boy datang dari kamarnya, "selamat pagi ayah, ibu, adik adiku,, lagi ngobrol apa si? " tanya boy penasaran,
"Pagi Boy" ucap Lidya
"Pagi Boy" ucap Mirza
"Pagi kak" ucap ketiga adiknya. Mereka tersenyum ke arah Boy
"Kita mau menjenguk kak Luna Lhoh kak" ucap Bianka
Boy cemberut karena gak diajak "Boy juga mau ikut lah bu" pinta Boy
"Kamu gak Boleh Boy, Luna gak mau ketemu kamu" ucap Lidya pada Boy
"Ishh gak adil banget sii, adik adik Boy boleh ikut, masa Boy gak boleh" ucap Boy protes
"Ya karena mereka gak ada salah sama Luna" ucap Lidya. Tengah asik mengobrol ponsel Lidya berbunyi ternyata Luna menelpon, kemudian Lidya mengangkatnya
"Hallo assalamualaikum Luna"
"Waalaikumsalam salam ibu"
Boy terperanjat ia langsung mendekat pada Lidya memastikan itu telpon dari Luna
Lidya menatap Boy sekejap
"Ada apa sayang? " tanya Lidya pada Luna
"Ibu, aku boleh ijin pergi ke kampung gak? " ucap Luna.
Boy terus mendekatkan telinganya ke ponsel Lidya
Kemudian Lidya membekam ponselnya
"Boy ngapain sih kamu" protes Lidya
"Itu, itu Luna kan Bu?" tanya Boy
"Iya ini Luna, mau apa kamu? Sana sana" ucap Lidya mengusir Boy
"Ibu jangan gitu dong. Aku mau denger suara Luna" pinta Boy
Karena merasa tidak ada jawaban
"Hallo bu? " ucap Luna
"Oh iya hallo nak, kenapa? O tadi kamu minta untuk pulang ke kampung dulu ya?.. Ya ampun nak kamu kan harus terapi dulu. Nanti kalau sudah sembuh baru kamu biasa pergi ke kampung mu, sabar ya sayang.. " ucap Lidya memberi perhatian pada Luna
"Oo begitu ya Bu, hmm baiklah, ibu mau ke sini hari ini? " tanya Luna
"Iya ibu akan kesana, nanti siang oke"
"Oh baiklah ibu, aku tunggu ya"
"Iya nak"
Tadinya Boy berencana untuk mengikuti Lidya. Arghh sial, hari ini aku sibuk banget lagi, gak bisa ngikutin diam-diam ibu kerumah Luna. Oke besok saja mungkin ya ya.. Batin Boy
Dan Boy berbisik pada Lidya
__ADS_1
"ibu aku mau ngomong sama Luna"pinta Boy Kemudian ia merebut ponselnya Lidya dan bicara pada Luna. Lidya hanya memerhatikan Boy dan menggelengkan kepala
"Hallo Luna" ucap Boy dengan tersenyum
"Hallo, siapa ini? " tanya Luna dengan suara lembutnya
Mendengar suara Luna membuat Boy berdebar jantungnya
"Aku, aku Boy Luna"
Tuut tuut tuut, telpon langsung ditutup oleh Luna
"Lhoh ko dimatiin sih? " tanya Boy sambil menatap Ponsel tersebut.
"hahahaa,," Lidya menertawai Boy.
"Kenapa sih Bu? " Tanya Boy penasara
"Kan ibu sudah bilang,. Jangankan bertemu, bicara saja dia gak mau kan, luna itu kecewa sama kamu, bunga dari kamu aja ia tidak mau menerimanya setelah ia tau bunga tersebut dari kamu. dia kesal setelah tau yang membuat Luna sakit adalah kamu" jelas Lidya
Boy terlihat murung, "gitu ya bu,, luna belum maafkan Boy ya bu? "
"Dia gak marah Boy, dia cuma kecewa sama kamu, amu harus bekerja keras untuk meluluhkan hati Luna Boy"
Boy menganggukan kepalanya
Kemudian Mirza juga bicara "lagian kamu jahat banget si sama Luna, nyesel kan sekarang? " ucap mirza
"Iya ayah, Boy khilaf, Boy nyesel sekarang" ucap Boy
Dan boy teringat dengan percakapan Luna dan Lidya tadi kemudian ia penasaran
"Maksudnya tadi apa sih bu? luna harus terapi? "
Tanya Boy
"Iya" singkat Lidya
"Memangnya Luna belum sembuh total? "
"Iya Boy"
"Memangnya Luna harus terapi apanya Bu? " tanya Boy
"Ibu gak akan kasih tau, ayo semuanya kita sarapan dulu" ucap Lidyak kepada mereka kemudian ia bangkit dari duduknya . Mirza dan yang lainnya menyetujuinya dan mereka menuju ruang makan
"Lhoh kok gitu sih Bu" ucap Boy ia mengikuti ibunya
"Udahlah Boy, kamu jangan pikirin Luna dulu. Fokus lah pada dirimu dan perusahaan oke"
"Ibu gak mau kasih tau"
"Ayolah bu"
"Cukup Boy, kamu itu masih ibu hukum, jadi ibu tidak akan kasih tau kamu tentang Luna. Dengar? "
"Sampai kapan Boy dihukumnya sih Bu? Boy tersiksa tau gak Bu, boy kangen sama Luna bu" ucap Boy sambil duduk di meja makan. Tapi Lidya tidak menggubrisnya dia bosan dengan pertanyaan Boy. dan Boy tidak kunjung berubah.
"Lebay banget sih kak Boy" ucap Briand meledek
"Iya nih kakak, berisik tau" ucap Bianka, ia sedang menggambar di meja makan, sambil menunggu sarapan dimulai
"Apaan sih anak kecil sewot aja" ucap Boy tidak terima.
"ya tapi kan kakak itu berisik dari kemarin kak Luna lagi, kak Luna lagi. Bosen tau dengernya " ucap Bianka, Briand dan Bastian juga menyetujui ucapan Bianka
"Kalian gak tau ya gimana rasanya jatuh cinta? Makannya cepet gede biar tau" ucap Boy
"gak usah terlalu berlebihan mencintai kak, biar nanti kecewanya juga nggak terlalu sakit" ucap Briand
Semua orang yang berada disana heran dengan ucapan Briand. Kok bisa dia bicara begitu, padahal setau mereka Briand itu masih polos
"Ngomong apa kamu Bray? Emangnya kamu sudah pernah jatuh cinta? " tanya Boy
"Aku ini udah SMP kak, lagi masa masanya puber, udah tau gimana rasanya suka sama lawan jenis. pacar aku banyak Loh kak" ucap Briand dengan santai dan senyum yang menyeringai
Ayah dan ibunya melotot ke arah Briand
Boy, Bastian dan Bianka juga ikut kaget
"Apa?? " ucap mereka
Lidya terlihat marah pada Briand
"Kamu jangan main main Bray!! " ucap Lidya dengan sedikit membentak
Boy mengerutkan dahinya
"Gak Lucu tau gak sih de, kamu masih kecil, main pacar pacaran!! " ucap Boy
Bianka terlihat sinis pada Briand
"Ih kakak, gak nyangka aku tau gak" ucap Bianka
"Pantesan selama ini sering senyum senyum sendiri sambil main ponsel, ckck" ucap Bastian ia juga tidak menyangka
__ADS_1
Mereka menatap Briand dengan serius
Sementara Briand tidak menyangka dengan respon mereka, padahal dia hanya bercanda. Namun Mirza terlihat santai, dia tau sifat Briand seperti apa, Briand memang suka usil.
"Buahaaha,, kalian serius amat sii. Aku cuma becanda Bu, gak pacaran" ucapnya pada Liya "kak bastian aku cuma sekedar berbalas pesan aja sama temen temen cewe. Gitu doang ko" jelas Briand pada Bastian
"Ck, kamu bikin ibu naik darah aja bray" ucap Lidya dengan kesal
"Cuma berbalas pesan Bray?,, kamu nya mungkin biasa saja, tapi temen cewe kamu pasti merasa di beri perhatian Bray. Hati hati kamu!! " ucap Bastian
"Iya bener itu dek" ucap Boy
"Iya iya kak,aku cuma ngobrol biasa aja kok, yang penting kan aku gak kelewat batas aja.. Gitu kan" ucap Briand
"Oke oke, ngobrolnya nanti lagi ya, kita sarapan dulu, gak bakalan kenyang kalo terus mengobrol" ucap Mirza. "Ayah minta kali ini kita makan dengan tenang dan nyaman oke" sambungnya
"Siap ayah" ucap mereka dengan kompak
Kemudian mereka sarapan dengan tenang
****
Sementara di rumah Luna. Dia terlihat kesal setelah mendengar suara Boy.
"Kenapa kamu neng? " tanya Rani
"Ada kak Boy tadi nyahut di telpon" ucap Luna dengan cemberut.
"Ooh, pantesan,, terus kumaha eta (gimana itu) kata nyonya Lidya?
"Katanya aku harus sabar dulu, sekarang kan masih harus terapi"
"Yasudah kita nurut saja sama nyonya, kan dia yang akan membiayai semuanya ya" ucap Rani.
Luna menganggukan kepala dan tersenyum
"Iya mak,, ayo kita sarapan dulu mak"
"Ayo"
Kemudian mereka juga sarapan
Setelah selesai sarapan, Rani dan Luna duduk di sofa sambil menonton televisi mereka menunggu Lidya datang ke rumahnya.
Tidak lama kemudian ada suara pintu diketuk dari luar. Ternyata Rendi yang datang, ia mengucap salam kemudian dijawab oleh Rani dan Luna, "assalamualaikum " ucap Rendi
"Waalaikumusalam " ucap Rani dan Luna
Rani terperanjat "Itu sepertinya a Rendi neng, emak lihat dulu nya" ucap Rani disertai anggukan Luna. kemudian Rani membuka pintu dan melihat rendi seorang diri disana
"Rendi, ya Allah nak, akhirnya kamu kesini a" ucap Rani terlihat senang begitupun Rendi
Dan Rendi mencium tangan Rani
"Iya mak, rendi gak nyangka emak tinggal di rumah sebesar ini mak" ucap Rendi sambil melihat ke sekeliling rumah itu.
Kemudian Rani mengajak rendi masuk "enya a, nyonya Lidya baik pisan sama emak dan Luna, ayo masuk atuh a, Luna juga sudah menunggu" ucap Rani
"Iya mak, Rendi udah kangen sama Luna" ucap Rendi tersenyum dan ia masuk mengikuti Rani.
Sebelumnya Rendi sudah tau kalau Rani dan Luna akan tinggal di kota karena pinta Lidya.
"o nya Rendi, kenapa anak dan istrimu tidak ikut kadieu? (Kesini?)" tanya Rani karena heran Rendi tidak bersama anak dan istrinya
"Emm teu nanaha mak (emm tidak kenapa kenapa mak)" ucap Rendi. Ia terlihat murung
"Hmm pasti istri kamu mah tidak suka kamu menemui Luna sama emak kan? Heuh dari dulu juga diamah tidak suka sama kami, tapi gapapa rendi keun wae (biarkan saja) " ucap Rani dengan nada sedikit kesal pads istrinya Rendi. Kemudian mereka duduk di sofa
"Enya mak, hese pisan dibujuk nateh (iya mak, susah sekali dibujuknya) tapi kan seburuk buruknya dia, dia tetap istri Rendi mak. "
"Kamu yang sabar nya Rendi, sekarangmah kamu makan dulu atuh ya" ucap Rani
"Gak usah mak, Rendi masih kenyang"
"Oh kitu, yasudah atuh"
Sementara Luna segera masuk ke kamarnya untuk mengambil cadar dan memakainya, kemudian menemui Rendi.
"Mak" ucap Luna, ia menghampiri Rani dan Rendi
"Kadieu geulis (kesini cantik) ini a Rendi" ucap Rani
"Iya mak". Ucap Luna, ia duduk disamping Rani
Luna melirik Rendi dan tersenyum padanya.
Rendi terlihat senang karena bertemu Luna dan ia juga tersenyum pada Luna
"Luna, ini aa, kamu apa kabar? " tanya rendi pada Luna
"Alhamdulillah Baik a, aa bagaimana?" tanya Luna
"Alhamdulillah aa juga baik, aa senang melihat kamu, maafin aa ya baru menemui kamu, semoga kamu cepat sembuh amnesianya" ucap Rendi
"Iya a gapapa,, Luna juga senang bertemu aa. Iya semoga ya a" ucap Luna.
__ADS_1
Kemudian Rani meminta pelayan untuk mengambil minuman buat rendi, tidak lama kemudian Pelayan datang mengantar minuman.