
"Besok kita temui Ustadz itu will" ucap Boy
"Kau serius Bos? "
"Aku serius Will"
"Ah baiklah ke ponpes Al-hikmah kan? Siap Bos, sambil saya nyari cewe santri di sana. Hahaha" ucapnya dengan senang
"Senang kau will, saya lagi kesal juga" raut wajah boy datar
"Bukan urusanku Bos. Hahaha"
"Resek kau Will".
*****
Luna hari itu akan pergi ke kostan yang dulu ia tinggali karena barang barangnya masih di sana.
Luna sudah siap untuk pergi. Ia tidak melupakan cadarnya dan berpakaian rapih dan tertutup.
"Mah, Luna pergi dulu ya" ucap Luna sambil menyalami Rani
"Neng mau pergi sendiri? "
"Iya gapapa kok"
"Nya atuh hati hati ya"
"Iya mak, assalamualaikum " ucapnya sambil pergi keluar
"Waalaikumsalam ".
Kemudian Luna pergi bersama supirnya dan tidak beberapa lama akhirnya Luna sampai dan bertemu dengan ibu kost di sana. Kemudian Luna membawa semua barangnya yang disimpan dengan baik oleh ibu kost itu. Luna terlihat senang karena barangnya masih utuh. Luna mengucapkan terima kasih pada ibu kost karena telah menjaga barangnya dengan baik.
Kemudian Luna pulang dari tempat itu dan ia memutuskan untuk mampir dulu di sebuah rumah makan di tepi jalan, karena dari rumah belum makan dulu. Sesampainya di sana Luna bertemu dengan seorang temannya waktu ia smp.
Luna melihat dari kejauhan temannya itu, Fadilla Amelia namanya, biasa di sapa amel ia memakai kerudung berwarna merah muda yang senada dengan bajunya.
"loh itu sepertinya amelia, iya aku yakin itu amelia". Kemudian Luna mendekatinya. Kala itu amelia sedang duduk sendiri disana.
Amelia tinggal di kota sejak ia masuk SMA. dan belum pernah bertemu selama 3 tahun dengan Luna.
"Hai kamu amelia kan? " sapa Luna pada amelia
Amelia terlihat bingung, karena ia melihat wanita bercadar menyapanya, namun ia tidak kenal dengan wanita bercadar itu, yang ternyata itu adalah Luna
"Iya sama amelia, kamu siapa? " tanya Amelia kembali
Luna terlihat senang karena dugaannya benar
"Saya Luna, teman smp kamu amelia"
Kemudian amelia mencoba mengingatnya
"Oh iya, kamu Luna Bilqia salma itu ya? " ucap Amelia juga ikut senang karena ia ingat dengan Luna.
"Iya benar, kamu apa kabar? " tanya Luna sambil duduk di samping amelia dan tersenyum dan bersalaman dengan amelia
"Aku baik, masya allah alhamdulillah ya kita bertemu di sini"
"Iya, sudah lama tidak bertemu amel, aku kangen sekali sama kamu" ucap Luna basa basi
Tidak butuh lama mereka untuk akrab kembali, karena dulu mereka sangat dekat.
"Aku juga Luna, kamu tinggal di kota sekarang? "
"Iya amel, aku baru beberapa bulan tinggal di kota" ucap Luna
"Oh begitu ya, kamu kerja di kota Lun? " ucap amelia dengan senyum manisnya
"Iya amel, rencananya aku mau buka toko roti, dan sekarang sedang di bangun" ucapnya
"Waw hebat kamu Luna, kamu kan memang pintar sekali bikin roti dan kue kuean dari dulu. "
"kamu bisa saja amel, kapan kapan kamu datang ya ke tempat toko rotiku nanti jika sudah buka. Hehe"
__ADS_1
"Ah siap Luna, aku akan ketempat mu kapan kapan"
"Iya amel aku tunggu ya, o ya kamu sudah menikah amel? " tanya Luna penasaran
"Belum lah Lun, kamu tau gak aku masih berharap pada ustadz Hasan, dengar dengar dia masih bujang ya. dulu kan kita sangat ngefans sekali sama ustad itu, kamu ingat kan Luna. Haha. "
Luna terperanjat mendengar ucapan Amelia. Karena kemarin kemarin baru saja Ustadz Hasan mengajaknya ta'aruf, jika Amel tau, bisa sakit hati dia
Raut wajah Luna menjadi datar, tapi dia tidak cemburu karena memang belum ada perasaan pada ustadz Hasan.
"Oh begitu ya amel, kalau begitu aku akan mendukungmu amel" ucap Luna dengan senyum terpaksa, Luna tidak mau Amelia tau kalau Ustadz Hasan mengajaknya ta'aruf.
"Kamu setuju aku sam Ustadz Hasan Luna? Bukannya dulu kamu juga menyukainnya? " tanya Amelia
"Aku, aku setuju mel, hee,, dulu kan aku sekedar suka antara murid kepada gurunya dan tidak lebih" jelas Luna
"Aah kamu baik sekali, terima kasih telah mendukungku" ucap amel dengan tersenyum sambil memeluk Luna sekejap.
"Sama sama amel, kamu main lah ke rumahku di jalan anggrek biru dekat panti asuhan Muara kasih Ibu. "
"O kamu tinggal di sana? Oh baiklah aku akan ke sana kapan kapan" ucap amel. Kemudian amel terus melihat jam di tangannya.
"Luna aku pergi dulu ya, karena mama menunggu di rumah katanya" amel bangun dari duduknya
"Yaah jadi gak nemenin aku makan amel? "
Ucap Luna dengan sedikit cemberut karena ia masih ingin ngobrol dengan amel
"Maaf ya Luna, nanti kapan kapan deh kita makan bareng oke" ucap amel sambil cipika cipiki
"Assalamualaikum Luna, aku buru buru sekali" amel langsung pergi dari sana sambil sedikit berlari
", waalaikumsalam amel hati hati" hmm bahkan aku belum tanya dia tinggal di mana. Batin Luna
Kemudian Luna memutuskan untuk makan saja sendiri di sana. Tidak lupa juga Luna mengajak sopirnya untuk makan di sana, dengan senang hati pak sopir itu menerimanya.
*****
Hari sudah berganti kini Boy melaksanakan rencananya untuk menemui ustadz Hasan itu, ia bersama willy sudah sampai di halaman ponpes Al-hikmah, mereka turun dari mobil dan langsung mencari dimana keberadaan Ustadz Hasan.
"Oh kakak lurus saja nanti ada ruangan berwarna biru sebelah kiri, di sana tempat Ustadz Hasan kak. " ucap santri itu.
"Terima kasih ya dek" ucap Willy sambil tersenyum
"Sama sama kak"
Namun Boy nampak datar raut wajahnya, dia tidak sabar untuk bertemu ustadz itu.
"Ayo cepat Will" ucap Boy sambil berjalan mendahului Willy. Kemudian Willy mengikuti dari belakang.
Sepanjang berjalan banyak santri wati yang terpana dengan ketampanan Boy dan Willy, namun Boy tidak melirik satupun santriwati itu. Tapi willy senyum senyum genit pada santri santriwati di sana.
"Hai" ucap Willy sambil melambailan tangan pada setipa santriwati yang ia lewati sambil tebar senyuman genitnya. Santriwati di sana tersipu malu dan tidak hentinya memandang boy dan Willy.
"Gantengnyaaa" ucap mereka dengan pelan
Boy terlihat risih dengan tingkah willy
"Apa apaan kau will, jijik saya melihatnya tau!!! " ucap Boy dengan mengernyitkan bibirnya.
"Gila, cantik cantik ternyata santriwati di sini" ucap Willly sambil terus tersenyum genit.
Boy hanya menggelengkan kepala melihat tingkah willy. Kemudian mereka sampai di depan ruangan ustadz Hasan.
Tuktuktuk.. Pintu di ketuk oleh willy, karena boy malas untuk menyapanya duluan
"Masuk" ucap Ustadz Hasan
Kala itu ustadz Hasan sedang memeriksa buku tugas murid muridnya.
Kemudian Boy masuk serta Willy, ustadz Hasan melihat mereka kemudian menyimpan buku itu.
"Assalamualaikum Ustadz" sapa willy
"Waalaikumsalam, kalian siapa? " tanya ustadz
__ADS_1
"Saya Willy, dan ini Bos Boy, si Bos ada perlu dengan anda" ucap Willy.
"Oh silahkan duduk, apa ada yang bisa saya bantu? " tanya ustad itu dengan senyum ramah
Boy duduk di sana berhadapan dengan ustadz Hasan
"Iya" ucap Boy dengan datar
"Apa benar kamu Ustadz Hasan? "
"Oh benar sekali tuan"
"Langsung saja ya, saya minta kamu jauhi Luna" ucap Boy dengan santai.
"Apa? Memangnya anda siapanya tuan? " ucap ustadz hasan
"Saya, saya calon suaminya Luna"
"Hah? Apa benar itu? Tapi luna tidak pernah bilang jika dia punya calon suami"
"Sekarang kamu tau kan, saya akan menjadi suaminya kelak. Dan saya minta kau jauhi luna! "
"saya tidak percaya, karena Luna kemarin tidak bilang jika dia punya calon suami". Ucap Ustadz Hasan dengan senyum tipis.
Boy malah terlihat kesal pada ustadz Hasan,
"Kamu tidak dengar ya? Saya pinta jauhi Luna" ucap Boy dengan tegas.
"Ow tunggu tunggu, apa kau juga menyukai Luna? Asal anda tau tuan, saya menunggu luna sudah sejak lama sejak ia remaja, dan saya tidak akan melepasnya begitu saja" jelas ustadz Hasan.
Brakkk. Meja di pukul Boy cukup keras. Ustadz hasan kaget begitupun Willly
"Apa? Beraninya kau membantahku" ucap Boy sambil memelototi ustadz Hasan.
"Hh jika tuan ingin bersaing, bersaing lah dengan sehat, karena saya tidak akan mundur"
"Jaga sikap Bos" ucap Willy yang berdiri di belakang Boy. Namun Boy tidak peduli
"Kau menantangku ustadz!!! Baik kita lihat saja nanti siapa yang akan dipilih oleh Luna ". Kemudian Boy pergi dari ruang itu. Ustadz Hasan tidak menyangka dengan sikap boy yang tidak punya sopan santun.
"Hehe maaf ya ustadz, si bos lagi kumat, saya permisi dulu assalamualaikum " ucap Willy dengan sedikit berbisik takut boy mendengarnya.
"Waalaikumsalam, " ucap Ustadz Hasan ia menggelengkan kepala karena sikap Boy. Kemudian kembali memeriksa buku tugas punya muridnya itu.
Dia tidak takut bersaing dengan Boy. Baiklah aku pasrahkan semuanya pada Allah, siapapun yang di pilih Luna. Semoga itu yang terbaik. Batin ustadz Hasan
Boy dan Willy berjalan menuju mobilnya, boy terlihat kesal pada ustadz Hasan itu.
"Sial!!! Kenapa dia membantahku will? "
"Mana ku tau, kau takut tersaingi bos? "
"Diam kau will, kata siapa aku takut tersaingi hah"
"Ya bisa saja kan. Hahaha"
"Senang? Senang kau sekarang? "
"Bukan begitu bos, ya kau harus benar benar ekstra berusaha untuk mendapatkan hati Luna"
"Aku akan melakukannya Will, kau lihat nanti, Luna akan memilihku" ucap Boy dengan pd nya.
"Kau carikan ustadz terbaik untuk mengajarku agama"
Ucap Boy sambil masuk ke dalam mobilnya.
"Kenapa tidak minta Ustadz Hasan saja yang mengajarmu bos" ucap Willy sambil duduk di depan.
"Willy!!! "Bentak Boy.
"Hehehe,, salah ya Bos, oke baik baik nanti saya carikan ustad terbaik di nusantara ini oke Bosku! " ucapnya dengan sengaja dilembutkan suaranya.
"Kau jangan buatku emosi terus Will! ".
"Baik bos" hahaha. Batin Willy, dia suka sekali mengerjai bosnya itu.
__ADS_1