
Sampai malam hari tiba
Boy baru datang dari kantornya sekitar pukul sepuluh malam.
Boy masuk ke dalam rumah seraya mengucap salam dan keluarganya sudah menunggu di ruang keluarga.
"Assalamualaikum Boy pulang" ucapnya dengan semangat ketika menghampiri mereka
"Waalaikumsalam " jawab mereka
Kemudian Boy duduk di samping Luna dan ia melepas jas serta dasinya. Dan Luna membukakan sepatunya kemudian meletakannya di rak sepatu.
"Terima kasih sayang" ucap Boy dan cupp. Kecupan di dahi Luna.
"Sama sama suamiku " ucap Luna dengan senyumannya.
Ketika itu Bastian menelpon ke Mirza, Bastian juga baru pulang kantor sepertinya.
Kriiiiiinnggg... Bunyi ponsel milik Mirza dan Mirza mengangkatnya
"Hallo assalamualaikum basti"
"Waalaikumsalam ayah, ayah lagi apa? " suara Basti yang terdengar sayu.
"Ayah lagi ngobrol saja sama keluarga di sini, kamu gimana baik baik saja kan? "
"Lumayan ayah, aku kewalahan banget hari ini yah"
"Memangnya ada apa? "
"Ada sedikit kendala ayah, Bastian gak sanggup nanganinya, ayah ke sini bisa gak? " pinta Bastian
Mirza sejenak berfikir.
"Mm, iya baiklah, ayah akan ke sana besok, kamu tenang saja ya" ucap Mirza
"Iya ayah, aku tunggu ya! Udah ya ayah, Basti mau istirahat dulu"
"Iya Basti "
"Assalamualaikum "
"Waalaikumsalam "
Tutututt. Telpon di tutup.
Mirza menghela nafas dengan berat..
"Kenapa ayah? " tanya Boy
"Sepertinya ada sedikit masalah di kantor ayah di turki Boy, ayah harus ke sana besok pagi"
"Apa? nggak ayah, ibu takut nanti ayah terlambat datang nanti ke pernikahan Bayu" Lidya keberatan
"Iya ayah, jangan berangkat ke sana. Biar Boy saja yang tangani semuanya" ucap Boy
Luna kaget dengan ucapan Boy.
"Kamu serius Boy? " tanya Mirza
"Iya, biar Boy saja, Bastian suruh pulang kasian dia belum banyak pengalaman mengurus kantor"
"Ya sudah, ayah percayakan semuanya sama kamu ya Boy"
"Iya ayah, tenang saja, ga papa kan sayang? " tanya Boy pada Luna
"Mm" luna mengangguk berat dan senyum terpaksa.
Kok rasanya berat mau di tinggal kak Boy. Hmm. Batin Luna galau
"Ini sudah malam, Boy istirahat dulu ya ayah, ayah juga istirahat, ibu juga. Kalian semuanya" ucap Boy
"Iya kak Boy"
"Ayo sayang, kita tidur" ajak Boy dan ia menggandeng Luna menuju kamarnya.
"Selamat malam semuanya" ucap Luna pada mereka
"Iya selamat malam nak" ucap Lidya.
Kemudian mereka ke kamar tidur masing masing.
Boy dan Luna di kamarnya sedang berganti baju tidur.
Boy melihat Luna diam saja dan nampak cemberut.
"Kamu kenapa hm? " tanya Boy yang sedang bercermin dan memperbaiki kancing piyamanya.
"Kak Boy lama nanti di turki? "
Tanya Luna dengan cemberut
"Enggak, paling hanya sehari,, kenapa?"
"Gapapa" singkatnya.
Kemudian Boy menghampiri Luna yang sedang duduk di sofanya.
"Luna gak mau di tinggal yaa? " goda Boy padanya
"Bukan, bukan gitu kok, gapapa pergi aja" ucap Luna dengan berat.
Kemudian Boy memeluk Luna dengan erat
"Aku akan sangat merindukanmu sayang" ucapnya
Luna juga merasa begitu kak Boy. Batin Luna.
Dan Luna tersenyum karena ternyata Boy juga merasakan yang sama dengannya.
"Kita tidur kak Boy, Luna sudah ngantuk"
", iya ayo" ucap Boy dan ia menggendong Luna menuju tempat tidur.
__ADS_1
"Tubuhmu semakin hari semakin berat Luna" ucapnya.
"Sepertinya aku doyan makan sekarang, hehe, jadi tubuhku semakin berat"
"Mm begitu ya, baguslah itu artinya kamu bahagia di sisiku"
Dan Luna mengangguk seraya tersenyum.
Kemudian Boy menidurkannya di kasur, dan Boy tidur di sebelahnya, langsung saja Luna memeluk erat suaminya itu.
"Aku mau peluk kak Boy terus sepanjang malam" ucapnya
Boy tersenyum di buatnya
"Iya sayang, peluklah". Boy membalas pelukan Luna
Dan mereka terlelap malam itu dengan bahagia.
*****
Pagi hari tiba, Luna sudah bangun sedari jam tiga tadi,kemudian mandi dan tidak lupa sholat tahajud terlebih dahulu. Sementara Boy masih tertidur nyenyak.
Kemudian ia menyiapkan pakaian untuk Boy pakai dan ia juga memasukan sebagian ke dalam koper untuk dibawa Boy ke turki.
Setelah selesai, Luna menatap suaminya itu dan duduk di sampingnya. Luna menyentuh pipinya Boy dengan lembut
"Aku akan merindukanmu suamiku" ucapnya dengan lembut. Dan Boy tersenyum karena ternyata ia sudah tersadar dari tidurnya.
Sontak saja Luna membelalakan matanya melihat Boy tersenyum sambil tidur.
"Kak Boy? Sudah bangun ternyata" ucap Luna ia terlihat malu malu sudah bicara yang tadi
"Kamu bicara apa tadi hm" tanya Boy dengan senyum menyeringai di bibirnya.
"Nggak, lupakan saja" Luna memalingkan wajahnya, pipinya merah merona
"Ayo katakan sekali lagi" pinta Boy
Luna menggelengkan kepala, namun Boy menarik tubuh Luna ke dadanya. "Kau bilang apa tadi sayang"
Dagdigdug jantung Luna di buatnya
"Mm,, aku akan merindukanmu suamiku" ucap Luna.
Boy tersenyum kembali "aku juga sayang. Hm jam berapa sekarang? " tanya Boy
"Jam empat, sebentar lagi adzan subuh" ucap Luna.
"Masih ada waktu, aku mau tubuhmu pagi ini, ayo kita lakukan" pinta Boy dan menarik Luna berbaring di sampingnya.
"Mm kak Boy aku sudah mandi"
"Bagus dong, tubuhmu akan semakin wangi"
Kemudian Boy melakukan itu pagi itu.
Entah apa ya aku gak ikut ikutan😁.
Singkat cerita, Boy akan segera berangkat ke turki pagi itu, sekitar pukul enam pagi hari. Luna semakin dagdigdug saja akan di tinggal Boy pergi.
Boy dan keluarganya tengah berdiri di ruang tamu.
Luna masih menempel saja pada suaminya itu.
"Kak boy, kita antar ke bandara ya" ucap Lidya.
"Oo gak usah Bu, kalian istirahat saja di rumah, biar aku dan Willy saja berangkat ke sana" ucap Boy.
"Mm baiklah kak Boy, kamu hati hati ya" ucap Lidya
"Iya ibu" ucap Boy dengan senyumnya
Sebelumnya Boy sudah menghubungi willy tadi pas lagi sarapan agar menemaninya pergi ke turki.
"Aku mau antar ke bandara kak Boy" pinta Luna.
"Kamu serius? Gak usah tunggu di rumah ya"
"Ngga enggak, aku mau antar kak Boy ke bandara" ucap Luna kekeh
"Mm baiklah boleh, nanti kamu sama supir pulangnya lagi ya".
Luna tersenyum dan mengangguk.
"Semuanya aku pamit ya, assalamualaikum "
"Waalaikumsalam " jawab semuanya.
Kemudian Boy masuk ke dalam mobil dan sudah ada Willy di sana. Willy duduk di depan bersama supir, Luna dan Boy di belakang berdua.
Luna terus memeluk Boy sepanjang perjalanan.
Dan Boy menciumi kepala Luna dengan lembut.
Kemudian Boy mulai menggombalnya lagi
"Kamu tahu apa persamaan rasa sayangku ke kamu dengan matahari? "
"Apa kak Boy? "
"Persamaannya adalah sama-sama terbit setiap hari dan hanya akan berakhir sampai kiamat."
"Mm so sweet". Boy membuat Luna meleleh
Willy dan supir hanya cengengesan di depan mendengar ucapan Boy
"Kalau bus kota jauh dekat ongkosnya sama, tapi cinta ini dekat-dekat makin saling cinta." sambungnya
Luna tersipu malu. dan tertawa "hahaha"
Dan Boy tersenyum melihat Luna bahagia
"Jika saja aku harus mengorbankan semua kebahagiaanku hanya untuk sekedar membuat kamu tertawa. Aku rela."
__ADS_1
"Oo ya? " tanya Luna
"Iya"
"Kalau begitu buat aku tertawa setiap hari"
.
"Baiklah aku siap, sekarang giliranmu"
"mm oke,, Kalau aku jadi wakil rakyat kayaknya bakalan gagal deh. Gimana aku mau mikiran rakyat kalau yang ada dipikiran aku itu cuman ada kamu."
"Mmm Aku terharu sayang" ucap Boy
Satu tambah satu sama dengan dua. Aku sama kamu sama dengan saling cinta,." sambung Boy.
"Yeee,, hahaha.. Semoga begitu selamanya kak Boy" ucap Luna
"Aamiin"
"Sudah ya, kasian jomblo di depan kepanasan (maksudnya Willy) " ucap Boy.
"Hehehe"
"Santai saja Bos ku, anggap saja saya nyamuk" pakk. Willy menepuk tangan seolah menangkap nyamuk.
"Hahaha,, merasa jug kau Will"
"huh" Willy mendengus kesal.
Hingga akhirnya tiba di bandara. Boy menunggu waktu keberangkatan tiba. Ia dengan Luna dan Willy sedang duduk di sana.
Dagdigdug jantung Luna. Jangan pergiii. Batinnya menjerit. Dia tidak sanggup menahan air matanya. Ntah kenapa tiba tiba tidak mau pisah dengan Boy.
Luna memeluk erat suaminya itu, sampai sesegukan karena menahan tangis
"Hei kamu kenapa sayang? Kok menangis? " Boy melihat wajah Luna yang sudah basah dengan air mata.
Luna hanya menggelengkan kepala.
"Kenapa? Apa aku buat salah sama kamu hh? " tanya Boy kembali.
Luna hanya diam
Willy bangun dari duduknya. "Bos sebentar lagi penerbangan, ayo" ucap Willy.
Luna semakin sedih di buatnya, dia tidak melepas pelukannya.
Kemudian Boy berdiri dan memeluk Luna dengan erat.
"Jangan pergi kak Boy" ucap Luna dengan Lirih.
"Kak Boy gak lama sayang" jawab boy
Willy terharu dengan adegan ini.
"Bos, kita bisa terlambat ayo"
Ucap Willy sengaja mengerjai Boy dan Luna.
Luna malah semakin kencang pelukannya
"Luna, kak Boy terlambat nanti, kasian Bastian menunggu di sana. Kak Boy kan kerja di sana. Nanti kapan kapan kita jalan jalan oke" ucap Boy mencoba menghibur Luna
"Luna gak mau di tinggal kak Boy" ucapnya dengan menangis
"Ya ampun sayang, kenapa gak bilang dari tadi, mungkin kak Boy akan beli tiketnya tiga, supaya kamu ikut"
Luna semakin keras menangisnya
"Huuuu, huuuuu"
Boy panik.
Tapi Willy malah cekikikan melihat ekspresi Boy.
"Sayang jangan nangis dong. Malu diliatian anak kecil tuh"
Namun Luna masih terus menangis dan tidak mau melepas pelukannya
Boy berusaha tenang, hingga beberapa menit kemudian.
"Luna dengerin kak Boy, kak Boy gak akan lama. janji. Hari ini kak Boy akan kembali pulang dan menyusulmu ke bandung" ucapnya sambil berusaha melepas pelukan Luna. Namun Luna tidak peduli
Gila pelukannya kenceng bangeeet. Batin Boy.
"Sayang lima menit lagi pesawat terbang, kak Boy harus cepat masuk" ucapnya
Kemudian Luna melepas pelukannya dengan pelan. Matanya sudah sembab.
"Berangkatlah kak Boy" ucapnya dengan menunduk.
"Lihat kak Boy" Boy meraih dagunya Luna dan mencium matanya Luna dengan lembut dan menghujani wajah Luna dengan ciuman, tidak malu dilihatin orang lain.
"Jangan nangis,, kak Boy pergi dulu sayang. Assalamualaikum " ucapnya pamit dengan terpaksa, sebenarnya ia tidak tega meninggalkan Luna
"Waalaikumsalam " jawab Luna dengan berat.
Kemudian mencium tangan Boy, dengan berat pula ia melepas tangan Boy
"Ayo Will "
"Baik Bos, selamat pagi nona" ucap Willy seraya pamitan pada Luna dengan hormat
Dan Luna hanya mengangguk
Boy dan Willy melangkah menjauh meninggalkan Luna sendiri menuju pesawat dengan sesekali melirik Luna ke belakang yang masih menangis. Maafin aku Luna. Batin Boy.
Luna tidak sanggup melihatnya. Serasa ada yang hilang seketika itu.
Baper aku.
Bersambung
__ADS_1