
Tidak lama kemudian Rani datang membawa minum untuk Luna
"Ini minum dulu neng" ucap Rani sambil menyodorkan air tersebut
"Makasih mah" kemudian Luna meminumnya sampai habis.
"Apa kepalamu masih sakit neng? "
"Nggak mah, hanya sedikit pusing saja, mungkin karena tadi aku berfikir terlalu dipaksakan. Hehe"
Rani tersenyum "syukurlah neng, nanti kita periksa ke dokter nya" ucap Rani
"Enggak usah mah, Luna pasti baik baik saja" ucapnya sambil meyakinkan Rani.
"Hmm yasudah terserah kamu "
Kemudian Rani duduk di samping Luna.
"O ya mah, aku tadi bermimpi bertemu ayah Luki sama mamah Rena, mereka senang melihat ku, mereka bahagia di sana, kemudian Luna memeluk mereka terasa benar benar kenyataan loh mah. Tapi tidak lama kemudian mereka menghilang" ucap Luna menjelaskan mimpinya
"Neng melihat wajah mereka?" tanya Rani
Dan Luna Menganggukan kepalanya
"Mamahmu pasti cantik kan neng? "
"Cantik sekali seperti mak Rani" ucapnya sambil tersenyum
"Ah kamu, Rena itu lebih mirip kamu neng, mulai dari matanya, bibirnya, juga postur tubuhnya juga mirip seperti kamu"
"Hmm, tapi menurut Luna, ia mirip sama mak Rani. Hehe"
"Iya deh terserah kamu"
"Luna gapapa kan sering sering manggil mak Rani dengan sebutan mamah. Hehe"
"Dari dulu kan neng sering manggil mamah sama emakmu ini kalau neng lagi kangen sama Rena"
"O iya ya,, hehe"
"O ya mah, kita kan dulu tinggal di kampung, kenapa sekarang kita tinggal di rumah besar ini? Apa mamah menjual semua yang ada di kampung? " tanya Luna penasaran
"Nya henteu atuh neng, masa emak menjual peninggalan bapakmu. Ini semuanya pemberian nyonya Lidya buat kamu sama emak" jelas Rani
"Jadi, jadi ini pemberian ibu Lidya? " ucap Luna tidak menyangka
"Iya, katanya sebagai permintaan maafnya atas perbuatan nak Boy sama kamu"
"Oh begitu ya mah, Luna jadi minder sama ibu Lidya"
"Loh naha neng? "
"Iya, emangnya mamah gak tau siapa Bu Lidya itu? "
"Emak mana pernah berani bertanya tentang siapa nyonya Lidya itu, yang emak tau nyonya lidya itu orang kaya menurut emak".
"iya memang benar, ibu Lidya itu orang terkaya di negeri ini, dia bukan orang sembarang mah, setau ku nama suaminya itu tuan Mirza namanya. tuan Mirza adalah pendiri perusahaan KHARISMA ADIJAYA GROUP yang kini di teruskan oleh anaknya yang bernama Boy. Begitu mah"
"nu bener neng (yang benar neng?), kok kamu bisa tau? " ucap Rani tidak percaya
__ADS_1
"Luna gak bohong mah, ya dulu kan Luna bekerja di kantornya Bos Boy itu, disanalah Luna kenal dengan Bos Boy" jelas Luna.
"Oh kitu? Kenapa sekarang kamu panggil nak Boy dengan sebutan Bos? "
"Karena dia memang Bos mah, Bos muda tepatnya, dia tampan tapi galak dan keras kepala waktu itu, eh ashtaghfirullah Luna sudah menjelekannya. Luna lupa, hehe".
"Hmm, emak belum pernah melihat wajahnya neng"
"Luna akan serching di google oke, pasti wajahnya akan muncul disana, hehe"
"Iya sok atuh"
Kemudian Luna meraih ponselnya dan mencari tentang Boy di google. Dan Luna memperlihatkan wajah Boy pada Rani.
"Gusti, masya Allah neng, kasep pisan" ucap Rani ketika melihat wajah Boy yang tampan itu.
"Biasa aja melihatnya mah, hehe".
"Ih si eneng, emak kan terpana melihat wajahnya nak Boy"
"Sudah ya" ucap Luna. Namun Rani masih membayangkan wajah Boy sambil senyum senyum sendiri
Kemudian Luna menyimpan kembali ponselnya.
"O nya mah, dulu kan Luna tinggal di kost kostan, apa barang Luna masih di sana? " ucap Luna memecah lamunan Rani.
"Emak mana tau neng, emak gak kepikiran kesana, nanti kamu tanyakan sama nyonya Lidya ya"
"Hmm baik atuh mah".
"Sebentar lagi adzan subuh, neng sholat terus istirahat di kamar nya jangan kemana kemana, emak juga mau subuh dulu"
"O iya, baik mah" ucap Luna sambil tersenyum kemudian Rani keluar dari kamar Luna.
Setelah itu Luna memutuskan untuk mandi dulu sebelum melaksanakan sholat subuh.
Tidak lama setelah itu adzan subuh berkumandang, dan Luna melaksanakan sholat. Setelah itu ia berdoa dan membaca Qur'an beberapa ayat. Kemudian ia memikirkan kembali masa masa dahulunya. Ia juga ingat kepada ustadz Hasan, guru ngajinya waktu dia Smp dan ya memang Luna sempat terpesona pada ustadz Hasan, tapi itu hanya sebatas suka karena ustadz Hasan adalah guru ngaji yang baik. Dan memang banyak yang menyukai ustadz Hasan tersebut. Namun dia masih membujang entah kenapa sebabnya. Kemudian ia teringat dengan ucapan Rendi, bahwa Ustadz Hasan akan melamarnya. Apa itu sebabnya Ustadz Hasan membujang? Dia menungguku dewasa?. Ashtaghfirullah aku kok jadi memikirkan hal itu sih Batin Luna sambil senyum senyum sendiri.
"Dia memang guru yang baik, dia baik juga dalam agamanya dan juga dewasa, tapi aku belum siap untuk menikah. Umurku masih sangat muda, dan ustadz Hasan sudah dewasa, kalau gak salah umurnya sekarang 29 tahun, jauh sekali denganku" ucapnya pada diri sendiri.
*****
Matahari sudah menampakan sinarnya pagi itu,
Rencananya Luna akan memberi kejutan pada Lidya jika nanti Lidya datang ke rumahnya.
Kemudian Luna menghampiri Rani yang berada di dapur ia sedang membantu menyiapkan makanan untuk sarapan pagi mereka.
"hai semua" sapa Luna sambil tersenyum pada Rani dan bi inah, bi inah adalah art yang bagian masak di sana.
"Hai nona Luna," ucap Bi inah membalas senyuman Luna
"Si neng ngapain ke dapur, kan emak suruh diam di kamar tadi! " ucap Rani menegur Luna
"Luna bosan di kamar mak" ucap Luna sambil duduk disamping bi inah yang kala itu sedang memotong sayuran, kemudian Luna membantu memotong sayuran tersebut.
"Hmm si neng mah, terus itu mau apa? Sudah jangan cape cape bantu masak, kamu harus banyak istirahat neng" ucap Rani sambil mengambil pisau yang dipakai Luna.
"Iya nona, nona jangan ke dapur, apalagi bantu masak, ntar kalo nyonya tau kita bisa di marahi nyonya Lidya nanti" ucap Bi Inah ikut menegur Luna.
__ADS_1
"Kalian kenapa sih, Luna kan cuma mau bantu"
"Gak boleh neng, sok atuh enggal ka lebet (ayo cepat masuk ke dalam)! " ucap Rani.
Luna cemberut dan mendengus kesal "hmm yaudah oke oke, kalo gitu luna mau baca buku aja" ucapnya sambil pergi ke dalam.
Kemudian Rani dan Bi Inah tersenyum dan mereka melanjutkan masaknya..
*****
Sementara di rumah Boy, Boy sedang merencanakan sesuatu pagi ini, ia sudah berdandan rapih dan sedang duduk di sofa kamarnya.
Hari ini aku harus bawa apa untuk anak anak panti? Makanan? Mainan? Ah pasti mereka bosan dengan itu itu saja. Bagaimana kalau kali ini aku belikan mereka buku? Oh ya itu ide bagus. Mereka pasti suka. Aku akan borong semua buku yang ada di toko buku.
Dan untuk Luna apa ya?? Mmm. Cokelat? Bunga?. Apa dia akan suka?. Oke baiklah itu saja untuk Luna cokelat dan bunga. Hehe. Gumam boy sambil senyum senyum sendiri.
Kemudian Boy menyuruh Willy untuk membelikan semua buku yang berada di toko buku, karena anak anak panti jumlahnya ratusan jadi bukunya juga harus banyak.
Boy mengambil ponselnya dan mengirim pesan pada Willy.
"Willy, kau belikan semua buku yang ada di toko buku langgananku. suruh orang untuk mengantarnya ke panti". to Willy
Willy
"baik bos"
Boy terlihat senang, kemudian ia keluar dari kamarnya dan menghampiri Lidya serta adik adiknya yang sudah berkumpul di ruang makan. Kemudian mereka sarapan pagi itu.
Singkat cerita
Boy sudah berangkat kerja bersama Willy, mereka sedang di perjalanan.
"Bos kau serius menyuruhku untuk memborong semua buku yang ada di toko buku? " tanya Willy sambil terus fokus mengemudi
"Aku serius Will, apa kau belum melaksanakan nya? "
"Oh sudah, aku tadi sebelum menjemput mu mampir dulu ke sana. Kau tau? Pemilik toko terkejut bos sekaligus senang juga kelihatannya. Hehe"
Jelas Willy.
"Oh begitu baguslah". Boy tersenyum
"Hari ini aku mau ijin kuliah nanti setelah makan siang ya Bos". Ucap Willy mengalihkan pembicaraan
"Iya bolehlah, tapi kau antar dulu saya nanti ke panti" ucap Boy.
"Oh baik bos, nanti kau pulangnya sendiri ya" usul Willy
"Enak saja, kau harus menjemput ku Will"
"Ck, aku pasti sibuk bos"
"Ooh kau mulai berani membantahku ya"
"Iya iya oke Bos, nanti saya jemput kalau bos mau pulang. Kayak anak kecil saja kau bos minta antar jemput, kau kan bisa bawa mobil sendiri" ucap Willy
"Aku bos mu Will, kau lupa ya, kau harus nurut padaku" ucap Boy sedikit membentak
"Aduuh baik bosku, sepertinya aku memang lupa, hahaha"
__ADS_1
"Rese kau Will". Ucap Boy kesal