Cinta Sesudah Menikah

Cinta Sesudah Menikah
Masalah minyak wangi


__ADS_3

Pukul enam pagi hari


Luna tengah membaca buku di sofa sambil memakan potongan buah-buahan guna mengurangi rasa mual yang hampir setiap hari di rasakan. Maklum lah hamil muda.


Selepas rapih dengan pakaian kantornya, Boy menghampiri Luna dan duduk di sampingnya.


"Pagi sayang.." Cupp.. Kecupan di pipi Luna yang tengah asik membaca


Luna melirik Boy dan tersenyum


"Pagi a, kebiasaan ya suka curi curi mencium tiba-tiba" ucap Luna


"Hehe,, neng sedang baca apa?" tanya Boy sambil menyandarkan dagunya di bahu Luna


"Ini baca buku KIA (Kesehatan Ibu dan Anak) aa juga harus baca"


"Oo gitu,, coba sini liat" pinta Boy, kemudian ia membacanya


Dari tadi Luna serasa mencium bau aneh dari tubuh Boy, ia mengendus-ngendus ke arah Boy kemudian menutup hidungnya.


"A ganti parfum ya?" tanya Luna sambil menjepit hidungnya dengan jari


"Enggak,, aku pakai yang lama? Kenapa emangnya?" tanya Boy keheranan


"Baunya kok aneh banget.. Aa ganti lagi parfum inimah ya???" Luna mendesak


"Enggak neng,, ini parfum yang biasa aa pakai kok.."


"Bukan, ini beda banget baunya a,, wekk.." luna merasa mual, kemudian sedikit menjauh.


"A ganti baju gih..


dan jangan pakai parfum yang itu..gak enak banget."


"Aku udah rapih begini sayang, masa ganti lagi baju"


Ucapnya sambil membentangkan tangannya


"Pokoknya ganti, kalo enggak.. Jangan deket deket sama aku!" tegas Luna dengan cemberut


"Lhaah.." boy memelas


Luna menatap tajam


"Iya,, iya oke sayang.. Aku ganti ya"


Kemudian Boy bergegas mengganti pakaian sambil menggerutu dalam hati.


Aneh sekali kamu neng, padahal kemarin-kemarin fine-fine aja dengan parfum yang biasa aku pakai. Batin Boy


Boy sudah mengganti pakaian dan kembali menghampiri Luna.


"Gimana sekarang sayang?" tanya Boy sambil memperlihatkan pakaiannya.


Luna mengangguk-angguk dan tersenyum


"Tapi bagaimana dengan parfum nya? Aku tidak pd jika tidak pakai parfum sayang.." ucap Boy


"Emm... Aha.. Pakain parfum ku aja ya a.." ucap Luna memberi saran, kemudian ia mengambil parfumnya dari dalam tas.


"Ini a..." ucapnya sambil menyemprotkan parfum tersebut pada sekujur baju Boy.


"Emmm.. Wangi.." ucap Luna sambil mencium baunya.


Tapi Boy nampak tidak suka dengan baunya


", sayang.. Ini baunya aneh banget.." ucap Boy dengan ekspresi mengernyitkan bibirnya seolah protes pada Luna.


Luna tertawa


"Sayang ini wangi bunga mawar kesukaanku.." ucapnya sambil terus mencium wangi parfum itu


"Tapi ini bau parfum wanita,,, aneh banget kalo dipakai sama aa.." ucap Boy


"Gapapa a,, pokoknya tiap hari pakai ini, biar samaan wangi parfum nya.." ucap Luna sambil menggerakan parfum di tangannya.


"Ayolah sayang.. Tidak mungkin.. Aku tidak suka baunya" protes Boy.


Mendengar ucapan Boy, Luna nampak kecewa. Ia mematung di sana sambil cemberut dan mendengus kesal


Boy melihat Luna


Kata ibu wanita hamil itu sensitif sekali, baiklah sepertinya aku harus menurut saja... Batin Boy. kemudian ia mengalah dan nurut saja pada Luna


"Huh... Okeh,, aku suka sekali wanginya sayang.. Aku akan pakai ini setiap hari ya.."


"Jangan cemberut dong,, bibirmu makin seksi kalau seperti itu" godanya sambil mencolek hidung Luna yang mungil itu.


Kemudian Luna menepuk dada Boy dengan manja dan tersenyum manis padanya.

__ADS_1


Luna mendekatkan tubuhnya di dada Boy dan mendongakan wajahnya karena tinggi Luna hanya sampai pundak Boy.


"Gitu dong..."


"Aku sangat bosan di rumah" ucap Luna.


"jadi??? ".


Tanya Boy sambil melingkarkan tangannya di pinggang Luna.


"Mmm... Aku boleh ya ke toko?" ucapnya dengan wajah memohon


"Enggak sayang.. Aku takut kamu kecapean di sana"


Boy memberi pengertian.


"Aku tidak pernah cape-capean di toko. Beneran.."


"neng selalu bilang begitu, waktu itu aja neng pergi sendirian jalan kaki bagiin makanan, apa menurutmu itu tidak cape?"


Luna menggeleng..


"Tidak?.. Hei sayang, buatku itu melelahkan.. Sudah ah, pokoknya neng gak boleh ke toko"


"Boleh dong a, aku janji tidak akan cape-capean.. "


"Iii.. Suamiku ini, ini tidak boleh, itu tidak boleh.. Apa yang aku suka juga tidak boleh.. Aku bosan dirumah pengen ngobrol dan banyak cerita sama karyawanku, aku kangen sama mereka.. Nggak faham banget siih.." Luna terus menggerutu sambil mengunyel-unyel pipi Boy dengan gemas sampai merah.


"aaaww.. Sakit tau.." Boy meringis, kemudian ia menempelkan tangannya pada tangan Luna yang sedang mencubit di pipinya.


"Oke aku turutin mau kamu,, tapi cium dulu ini pipiku sakit..". Pinta Boy, kemudian ia sedikit merunduk dan mengarahkan pipinya pada wajah Luna.


Luna tampak senang dan tersenyum, langsung saja ia mencium kedua pipi Boy dengan lembut sampai beberapa kali.


"Muah.." ciuman terakhirnya di dahi Boy.


"Sayang,, ciumanmu membuatku... Aku jadi pengen.." ucap Boy dengan genit


Luna membulatkan matanya


"Pengen apa?? Enggak ah.. Ini sudah siang, ayo kita sarapan" Luna bergegas langsung menarik tangan Boy menuju pintu, tidak Lupa ia memasang cadarnya.


"Ayo dong sayang.." godanya sambil mengikuti langkah Luna.


Kemudian Luna berhenti di depan pintu dan memutar tubuhnya ke arah Boy.


Boy mengangguk dan ia meraih dagu Luna hendak mencium ...


Kring... Kring..


Bunyi ponsel Boy, ada panggilan masuk.


Boy menepuk jidatnya.


"Siapa sih ganggu aja" tanyanya sambil meraih ponselnya dari saku celana. Dan ia melihat layarnya, ternyata Zuno yang menelpon.


"Sebentar ya sayang" cupp.. Ucapnya sambil mengecup dahi Luna.


Luna mengangguk


"Hallo Zuno.. Ada apa? Ganggu aja kamu!" ucap Boy ketika Ia mengangkat telponnya.


"Heii santai dong Bos.. Haha.. Lagi apa kamu? Jangan-jangan lagi ehem ehemm ya sama istrimu.. ini masih pagi Boy.." ucap Zuno sambil tertawa


"Sialan kamu.. Suka suka saya dong.."


Boy tersenyum, karena tebakan Zuno hampir benar


"Ada apa..? Buruan.."


"Aku sama Andra sudah di tempat proyek.. Pak Har sebentar lagi akan datang. Kamu cepat kemari kita ada pertemuan kan hari ini sama Pak Har." jelas Zuno


"Ah.. Sialan, aku lupa.. Iya oke, aku berangkat ke sana"


"Oke Boy,, jangan sampai telat, kau tau kan Pak Har itu seperti apa?. Dia itu baru datang bentar, bisa mendadak pergi lagi.. Buruan!" tegas Zuno


"Iya saya tau.. Yasudah kalo kamu ngajak ngomong mulu kapan saya berangkatnya. Assalamualaikum"


Tuuutt.. Boy menutup telponnya dan menyimpan kembali ke kantong celananya.


Boy menatap Luna yang masih berdiri di depannya.


Sayang, sepertinya kita tidak bisa melakukannya sekarang... Nanti malam oke"


"Yaa... Baguslah.. Ayo kita sarapan". Ajak Luna ia menarik tangan Boy.


"Sayang, sepertinya aku langsung berangkat saja, aku harus berada di sana sebelum pak Har. Aku mengajaknya untuk bekerja sama dalam pembangunan proyek, jadi aku tidak mau mengecewakannya" jelas Boy.


"Oou begitu.. Ya sudah, jangan lupa sarapan nanti di sana.. Aku jajap sampai depan ya" ucap Luna.

__ADS_1


Boy mengangguk


"Pasti"


Mereka sudah sampai di halaman, dan Willy juga sudah siap di sana.


Seperti biasa, berpamitan sebelum berangkat


"Hati-hati suamiku,, semoga proyeknya lancar ya" ucap Luna.


"Iya sayang.. Hari ini kamu dirumah ya, besok saja ke tokonya" pinta Boy


"Baik"


Boy masuk ke mobil, dan Willy segera mengemudi.


Setelah mobil berlalu dari sana, Luna kembali ke dalam menuju ruang makan, tapi ia dapati ruang makan masih kosong. Hanya ada beberapa pelayan yang sedang menata makanan di sana.


"mbak, ayah dan ibu apa sudah selesai sarapan?"


Tanya Luna pada pelayan


"Belum nona, belum ada yang sarapan dari tadi, tuan muda Briand hanya membekal sandwich dan sudah berangkat sekolah" jawab pelayan sambil merunduk hormat


"Ooo begitu.."


Luna mencari ayah Mirza, ibu Lidya dan Bianka ke setiap ruangan. Kemudian ia mendengar teriakan dan tangis Bianka dari kamarnya yang berada di lantai atas.


Bianka di kamarnya..


"Aaa...." ia histeris sambil menangis dan membanting semua barang yang ada di depannya.


"Aku gak terima ibu... Huuuhu..itu udah aku impikan dari dulu.. Kenapa bisa perusahaannya sampai membatalkan kontraknya bu..huu.." ucap Bianka


"Sabarlah sayang.. Ibu juga tidak tau kenapa ini bisa terjadi..jangan nangis nak.. Sudah" ibu Lidya mencoba menenangkan.tapi Bianka berontak dan terus mengacak isi kamarnya


"biy.. Hentikan Biy..." ucap ayah Mirza.


Lidya dan Mirza selalu kewalahan dengan sikap Bianka, Bianka jarang sekali marah dan ngambek, tapi sekalinya ngambek, semua barang bisa hancur.


"Ayaaahhh... Bianka kecewa, kerja keras Bianka selama ini jadi sia sia ayah....huuu.." Bianka duduk dengan gusar di lantai setelah melempar semua lukisan hasil karyanya.


Lidya menatap Mirza dengan raut wajah prihatin dan kecewa juga atas apa yang menimpa Bianka.


"Biy,, kalau urusan itu, ayah akan bantu kamu, kamu bisa membuka pameran tanpa bantuan perusahaan yang mengontrakmu itu, ayah akan membuka pameran yang megah untuk kamu, kamu bisa mengenalkan hasil lukisanmu nanti di sana"


"Tidak ayah.. Ayah tidak tau,,, bagaimana rasanya berhubung langsung dengan seorang seniman terkenal dan itu favorit aku.. Tapi sekarang semuanya gagal, kontraknya di batalkan.. Aaaa.... Aaa" Bianka terus menangis sampai suaranya serak


Kemudian Luna mengetuk pintu kamar Bianka. Ia ingin tau apa yang terjadi pada Bianka.


Tuktuktuk..


Lidya membukakan pintu.


"Kamu nak,, ayo masuk"


"Iya ibu"


Luna masuk dan terkejut ketika melihat kamar bianka yang berantakan.


"Ada apa ini ibu?" tanya Luna


"Ada sedikit masalah menimpa Bianka" ucap Lidya dengan raut wajah sedih


"Ya ampun dek, kasian sekali kamu"


Luna menghampiri Bianka yang tengah duduk gusar di bawah, kemudian ia mengajaknya duduk di kasur.


"Katakan,, ada apa dek,, siapa tau kak Luna bisa membantu"


"Hiks....


"Kak Luna, perusahaan yang mensponsori pameran lukisanku membatalkan kontraknya."


"Sebulan yang lalu, aku dapat tawaran untuk ikutan dalam pameran Lukisan yang ia adakan di perusahaanya, waktu itu pemilik perusahaan sangat mengagumi karyaku. Dia itu seniman favorit aku kak, hingga aku dapat kesempatan untuk memperkenalkan hasil karyaku dibantu oleh perusahaannya lewat sekolah, piihak sekolah sangat kendukungku, jika lukisanku banyak yang minat, aku akan menjadi bagian dari perusahaan itu kak, pameran akan diadakan satu minggu lagi... Tapi tadi pagi aku dapat panggilan kalau semua kontraknya dibatalkan.. Aaaaaa... Aku kecewa kak..."


"Ya Allah dek.. Sabarlah sayang, mungkin belum rezeki mu dek"


"Gak bisa kak Luna,, aku sudah mengimpikannya sejak dulu"


"Kejadian yang menimpamu ini tidak seberapa dek, dengan kisah orang terdahulu yang lebih menyedihkan" ucap Luna


"Maksud kak Luna apa?"


"Begini dek"


Aduh.. Moodku lagi ambyar.. Aku mau refresing dulu. Biar bisa berfikir dengan jernih sambil mencari ide baru untuk kelanjutan ceritanya.


Maaf bila ada kata yang tidak menyenangkan 😓

__ADS_1


__ADS_2