Cinta Sesudah Menikah

Cinta Sesudah Menikah
Satu bulan kemudian


__ADS_3

Perut Luna sudah mulai terlihat membuncit, padahal usia kandungannya baru satu bulan setengah. Hari itu Luna habis memeriksakan kandungannya pada dokter, diantar oleh Boy. Dokter menyatakan kandungannya baik baik saja, namun ada hal yang dokter sembunyikan. Dokter menyembunyikan sesuatu tentang kehamilan Luna, alasannya agar Luna menikmati kehamilannya dengan santai.


Dan benar saja Luna sangat menikmati masa masa kehamilannya itu.


Keesokan harinya..


"Willy,, aku akan ajak istriku makan siang di restoran dekat sini. Kau siapkan tempatnya" titah Boy pada Willy


"Ohh.. Siap Bos" Willy faham dengan perintah Bosnya itu. Segeralah Willy mencari tempat yang di maksud Boy. Setelah sampai, Ia meminta pemilik restoran itu untuk mengosongkan sebuah tempat untuk dipakai makan siang oleh Boy dan Luna. Pemilik restoran faham dan melaksanakan perintah Willy saat itu juga. Dan tempat sudah siap di gunakan


Willy kembali ke kantor dan memberitahukan bahwa tempat sudah disediakan. Kemudian mereka berangkat ke tempat itu.


Boy turun di sana


"Will, kau jemput istriku di rumah. Saya tunggu di sini" ucap Boy


"Baik Bos". Dengan segera Willy melaju untuk menjemput Luna di rumahnya.


Ketika Boy duduk di sana, pemilik restoran menghampiri Boy, wanita cantik berambut panjang menutupi punggungnya.


"Hai Boy" sapa wanita itu dengan senyum ramahnya


Boy menatap ke arah yang memanggil kemudian tersenyum


" Hai Kirana ya.." ucapnya


"Iya,, boleh aku duduk di sini?" tanya kirana


"Oh boleh, silahkan.." Boy mempersilahkan


Kirana duduk di sebelah Boy


"Boy apa kabar kamu?" tanya Kirana


"Aku baik,, alhamdulillah.. Kamu apa kabar?" tanya balik Boy.


"Yaa,, seperti yang kamu lihat, aku sangat baik baik.." ucapnya dengan senyuman


"Sudah lama kita tidak bertemu, Bos muda"


Kirana tertawa kecil


"Ahh.. Jangan panggil aku bos muda lah,, kau terlalu formal"


Kemudian mereka berbincang cukup lama, basa basi membicarakan soal pekerjaan dll. Kirana adalah teman sewaktu kecil Boy, dia sudah menikah dan punya anak. Dan mereka sangat akrab walau sudah jarang bahkan tidak pernah bertemu setelah keduanya menikah dan mempunyai pasangan.


Sampai asyik Mereka mengobrol, tidak disangka Luna dan willy sudah sampai di sana. Luna diantar Willy menuju tempat dimana Boy duduk.


"Silahkan nona" ucap Willy menyuruh Luna berjalan duluan.


"Iya kak Will". Luna berjalan duluan ke tempat Boy



Kala itu Boy dan Kirana masih sedang mengobrol. Kirana meminta poto bareng dengan Boy, untuk kenang kenangan, meski sebenarnya Boy tidak mau, tapi Kirana memaksa. Jadinya Boy nurut saja


Ketika Luna sampai di dekat sana, ia melihat pemandangan yang membuatnya cemburu, melihat Boy dekat sekali dengan seorang wanita. Hatinya membara melihat kedekatan Boy dengan wanita itu,


Sepertinya suamiku benar benar ingin menikah lagi. Batin Luna berkecamuk, matanya memerah menahan air mata



Ya ampun.. Ini terlalu nempel ya visualnya xixixi..


Luna terdiam di ambang pintu masuk, seketika melirik ke arah Willy dengan tatapan tajam.


"Willy!!! Kau kesini untuk memperlihatkan kepadaku pemandangan seperti ini!!!" Bentak Luna.


Kemudian Willy melirik ke arah Boy, dan membelalakan matanya


"Ti tidak nona, tadi si Bos ngajak makan siang denganmu nona, itu.."


Bukk... Luna menginjak kaki Willy dengan cukup keras sambil menangis, lalu Luna pergi dari sana.


"Awwww... " seketika Willy kesakitan dan berjinjit memegangi kaki yang diinjak Luna


"Nona..!" panggilnya pada Luna yang menjauh dari sana


" Aww keras banget lagi nginjaknya, itu si bos ngapain lagi deket deket sama pemilik restoran" gerutu Willy. Kemudian ia menghampiri Boy. Kirana sudah pergi dari tempat Boy kala itu.


"Bos,, nona Luna, pulang lagi" ucap Willy sambil menggerakan kakinya karena masih sakit


"Kenapa dia pulang lagi Willy?" tanya Boy keheranan


"Ya dia cemburu lah liat Bos sama pemilik restoran tadi, ngapain sih Bos?" ketusnya


Boy terperanjat


"Ya ampun Will,,, Luna pasti salah faham,, saya tadi cuma ngobrol dan dia minta foto bersama, gitu aja.."


"Ayo cepat kita susul Luna!"


Boy bergegas menuju keluar untuk mencari Luna. Willy mengikuti dari belakang

__ADS_1


Setelah sampai di halaman, ia tidak mendapati Luna.


"Mana istriku will?" tanya Boy sambil melihat ke sekeliling dengan perasaan kuatir.


"Sudah dari tadi Bos dia pergi" ucap Willy, ia juga mencari ke sekeliling restoran itu


"Arhh,, siall!!!".Boy menendangkan kaki ke udara.


"Ayo kita cari will!!" ucapnya sambil menuju mobil.


Ketika berjalan mendekati mobil, tiba tiba telpon masuk pada ponsel Boy, panggilan dari seseorang


Boy mengangkatnya


"Hallo Andra... Ada apa?" tanya Boy, ternyata panggilan dari Andra, rekan Bisnisnya.


"Hallo Boy,, bantuin saya sekarang juga!" ucap Andra dengan serius pada Boy


"Lhohh ada apa dra?"


"Pokoknya kamu kesini sekarang juga, ini darurat Boy.. Saya mohon" ucap Andra


"I.. Iya.. Iya.. Saya kesana sekarang.. Tunggu oke"


"Oke Boy,, thanks"


Tuuut. Telpon ditutup oleh Boy


"Will, kita harus ke kantor Andra sekarang juga, sepertinya Andra butuh bantuan kita" ucap Boy sambil masuk ke mobil


"Tapi bos,, gimana nona?"


"Kau lacak, kemana dia pergi"


"Oh baik Bos"


Willy masuk ke mobil untuk mengemudi


Sebelumnya Willy melacak dulu keberadaan Luna lewat GPS


"Nona pergi menuju rumah Bos" ucapnya ketika berhasil mendapati keberadaan Luna.


"Syukurlah,, aman dia di sana"


"Apa nona akan baik baik saja jika kita tidak menemuinya sekarang?" tanya Willy


"tenang,, istriku kalau marah tidak akan lama" ucap Boy.


"Oh... Baiklah kalau begitu"


Sementara Luna dalam mobil taxi, ia menangis karena mendapati suaminya sedang berdekatan dengan wanita itu, Luna salah faham. Ia fikir wanita itu adalah calon istri barunya dan akan diperkenalkan pada Luna


Sampai mobil taxi tiba di kediamannya. Luna membayar, kemudian turun dari sana dan bergegas masuk ke dalam rumah sambil menangis sesegukan.


Lidya mendengar tangisan Luna, ia segera menghampiri Luna


"Kamu kenapa nak?" tanya Lidya kuatir


"Sepertinya kak Boy benar benar ingin menikah lagi bu" ucap Luna. Ia pergi ke kamarnya tanpa menunggu Lidya bicara lagi.


"Apa?? Tidak mungkin" ucap Lidya pelan.


"Lu.. Luna.. Tunggu nak" panggilnya pada Luna, namun Luna keburu mengunci pintu kamarnya.


"Heuhh.. Apa yang di lakukan Boy pada Luna" gerutunya sambil mengetik ponsel untuk memanggil Boy. Kemudian Lidya menempelkan ponselnya ke telinga, menunggu panggilan dari Boy.


Boy mengangkatnya


"Hallo bu"


"Hallo Boy, dimana kamu? Kenapa Luna datang datang menangis? Kamu apain dia?" tanya Lidya dengan tegas


"Dia salah faham bu, sudah ya.. Nanti aku ceritain, aku lagi sibuk sekarang.." jawab Boy


"Boy!!!... Pokoknya kamu pulang sekarang juga!" tegas Lidya


"Boy tidak bisa bu,, ada urusan penting ini, nanti aku pulang ko" ucap Boy dengan cepat.


"Assalamualaikum "


Tuuutt.. Boy menutup telpon sepihak


"Boy..!!" Lidya meneriaki Boy


"Iissh... Anak ini.." ia gregetan pada Boy sambil memandangi ponselnya.


Kemudian Lidya mendatangi kamar Luna, dan berusaha membujuknya. Namun Luna mengurung diri di kamarnya. Lidya kuatir karena Luna tengah hamil muda.


******


Sampai malam hari tiba, hampir mendekati makan malam. Boy baru datang dari kantor Andra. Ia langsung bergegas masuk ke rumah dan menuju kamarnya, di tengah rumah ia dicegat Lidya dengan raut wajah datar


"Dari mana kamu?" tanya Lidya ketus sambil menyilangkan tangannya didada

__ADS_1


"Boy habis bantuin Andra bu, dia lagi ada masalah di kantornya" ucap Boy


"Kamu tau!! Istrimu dari tadi siang tidak keluar dari kamar.. Kamu kok tega banget sih!.. Kamu apain dia sampai bisa nangis seperti itu?" tanya Lidya


"Dia salah faham Bu, tadi aku sedang mengobrol dengan Kirana da mungkin Luna pergoki aku sedang foto berdua dengan kirana" jelas Boy


Lidya membelalakan matanya


Bukk.. Lidya memukul bahu Boy


"Siapa kirana?" tanya Lidya dengan memelototi Boy


"Aww.. Ibu,, sakit.." Boy mengusap bahunya


"Kirana itu lho temen kecil Boy, tetangga kita dulu, tadi kita ketemu lagi di restorannya,, udah ahh,.. Boy mau nemui Luna dulu"


Boy meninggalkan Lidya yang berdiri di sana


Lidya hanya menggeleng sambil mengingat ngingat Kirana


******


Boy memanggil manggil Luna sambil mengetuk pintu kamarnya. Tapi tidak ada jawaban dari Luna.


Tuktuktuk...


"Sayang.. Buka dong"


Tuktuktuk...


"Neng.. "


"Aku pulang nih,, kita bicara yuk"


Hening dari dalam kamar


Luna tengah meringkuk di sofa, mendengarkan lantunan ayat Al'Qur'An menggunakan headset. Jadi dia tidak dengar Boy memanggil.


"Sayang..."


Boy terus memanggil Luna


Tuktuktuk...


Sampai beberapa kali, Luna tetap tidak ada jawaban


Sampai Boy pegal berdiri di depan pintu.


Kemudian Lidya menghampiri lagi Boy, ia ikut kuatir pada Luna.


"Nak.. Apa istrimu masih marah?" tanya Lidya


"Mungkin bu"


Boy terlihat murung di sana


Lidya meraih ponselnya dan memanggil Luna.


Luna mengangkatnya


"Hallo bu" ucap Luna dengan pelan


"Sedang apa nak? Kita makan malam yuk"


"Mm.. Nanti saja bu"


"Ayo nak, kasian janin kamu butuh nutrisi, dan ibunya harus makan.. Ayo sayang" ucap Lidya dengan lembut


"Iya bu"


Luna nurut saja karena ia kuatir calon bayinya kekurangan nutrisi.


Lidya mengakhiri telponnya.


Boy tersenyum


"Apa Luna mau keluar bu?"


"Iya"


Boy terlihat senang sekali


Kemudian Luna membuka pintu kamarnya dan ia dapati Boy tengah tersenyum padanya di samping pintu.


Luna memalingkan wajahnya dan langsung meraih tangan Lidya dan pergi dari sana.


"Sayang" panggil Boy, ia meraih tangan Luna tapi Luna menepisnya


Boy menghela nafas dan semakin murung dengan sikap istrinya itu, Boy sangat merindukannya .


Lidya menengok ke belakan


"Kamu mandi dulu saja Boy" ucapnya

__ADS_1


Setor...


Dikit, nanti lagi ya. 😉


__ADS_2