
Sampailah Lidya di kediamannya dan disana Mirza dan Boy juga sudah sampai duluan. Kemudian Lidya pergi ke kamarnya untuk membersihkan diri karena mirza sudah siap untuk pergi ke rumah Sam. Mirza menunggu di sofa bersama ketiga anaknya mereka ingin ikut ke rumah Sam. Sementara Boy sedang berada di kamarnya dia tidak ingin ikut.
Setelah tiga puluh menit Lidya selesai mandi dan sudah berdandan rapih. Kemudian ia menghampiri Mirza dan ketiga anaknya dan Boy keluar dari kamarnya
Lidya langsung menggandeng tangan Mirza dan tersenyum
"Ayo yah kita berangkat" kemudian Lidya melihat Boy masih berbaju santai " , Lhoh Boy kamu gak ikut? " tanya Lidya
Boy menggeleengkan kepala "Gak mau! " ucap Boy dengan cemberut
"Kenapa? " tanya Lidya
Sementara adik adik Boy sudah duluan menuju mobil
"Ibu kenapa gak bilang sama Boy kalau Luna sudah pulang dari rumah sakit tadi, Boy mau bertemu Luna Bu.. "
Ucap Boy
"Oo jadi ceritanya kamu lagi kesal sama ibu karena ibu gak kasih tau kalau Luna sudah pulang , terus kamu gak mau ikut kerumah paman Sam? Oke gapapa "
"Yaaa.. Enggak sih, Boy gak kesal sama ibu, oke boy akan ikut ke rumah paman Sam, tapi ibu harus beri tahu Boy dimana alamat rumah Luna" pinta Boy.
Lidya mengerutkan dahinya, dia tidak mau kalah sama Boy.
"Tidak, ibu tidak mau beri tahu" ucapnya dengan santai "kau ikut ke rumah paman Sam atau ibu akan menjodohkan Luna dengan Bayu!! " sambungnya berbalik mengancam Boy
"Ibu, kok malah berbalik mengancam Boy si bu, pokoknya Boy minta dulu alamat rumah Luna baru Boy mau ikut"
Lidya menggelengkan kepala. "Sekali lagi!! Kau ikut kerumah paman Sam atau ibu akan menjodohkan Luna dengan Bayu!!! "
Boy mendengus kesal, lalu ia langsung pergi keluar menyusul adik adiknya dengan gusar dan masih memakai baju santainya tapi dia tidak peduli, dia tidak bisa melawan ibunya itu. Dan Boy tidak berhasil mendapatkan alamat Luna. Melihat tingkah Boy, Lidya dan Mirza tertawa cekikikan. Menurutnya tingkah Boy seperti anak kecil
"Lihat tuh ayah, sepertinya Boy menyukai Luna"
"Kamu benar Bu, yasudah ayo kita pergi" kata mirza
Kemudian mereka berangkat dengan dua mobil dan dua supir mereka.
Empat puluh menit kemudian mereka sampai di rumah milik Sam. Sam menyambut Mirza dan keluarganya dengan hangat dan senang. Tidak ada ikatan darah antara Sam dan Mirza mereka hanyalah sebatas sekretaris dan majikan namun sudah seperti keluarga. Sam memiliki istri yang bernama Ayu dan anak anaknya yaitu Willy yang pertama kemudian Wulan dan Wanda adiknya Willy. Rumah Sam cukup luas juga halamanya tidak jauh beda dengan rumah milik Mirza.
Mirza dan keluarganya memberi salam pada Sam dan ayu kemudian mereka masuk ke rumah.
Lidya, mirza, sam dan ayu mereka mengobrol hangat di ruang tamu dengan raut wajah senang dan tidak berhentinya terus tersenyum. Sementara Boy dan Willy duduk di taman mereka mengobrol berdua sedangkan adik adiknya mereka pergi ke belakang untuk melihat tempat berlatih beladiri keluarga Sam di sana juga terdapat tempat untuk belajar memanah Mereka asik dengan kegiatan mereka masing masing
Setelah cukup banyak mengobrol, Mirza menyampaikan maksud sebenarnya ia datang ke rumah Sam
"Jadi sebenarnya maksud kedatanganku begini Sam, sebelumnya saya berterima kasih karena kau sudah menjaga dan bersabar dalam menghadapi Boy, dan sekarang karena istriku sudah tinggal kembali di indonesia jadi saya memberhentikan mu dari pekerjaanmu sebagai penasehat Boy" jelas mirza "sekarang kau sudah bebas dan tinggal fokus pada keluargamu Sam" sambung mirza dengan tersenyum hangat
"Wahh, saya sangat senang karena dipercaya tuan sebagai penasehat Bos Boy, saya tulus melakukannya, dan jika itu keputusan tuan untuk memberhentikan saya, saya menerimanya dengan senang hati dan terima kasih atas semua kepercayaan tuan pada saya" ucap Sam
"Iya Sam, saya puas dengan kerja kerasmu, saya akan memberikan imbalan yang sepadan untukmu" ucap mirza
__ADS_1
"Iya paman Sam, saya juga berterima kasih karena paman telah menjaga Boy selama kami di luar negri" ucap Lidya dengan tersenyum hangat pada Sam
"Iya nyonya, tuan, saya berterima kasih banyak sekali atas semuanya" ucap Sam
Dan Ayu juga terlihat senang atas perbuatan baik tuan Mirza dan Lidya "kami sangat menyayangi Boy nyonya, dia sudah dianggap sebagai anak kami sendiri, karena dia sejak kecil sering main kesini kan yah" ucap ayu.
"Iya benar sekali, sampai sekarang mereka terus bersama, semoga Willy setia membantu Boy" ucap Lidya
"Saya doakan juga seperti itu" ucap Ayu
"Kita ingat ketika Boy kecil bersama Willy, mereka sangat suka sekali usil dan nakalnya barengan ya.. Hahaha" ucap Mirza mengingat Boy dan Willy waktu kecil
"Itu benar sekali tuan, saya teringat waktu itu mereka suka sekali menjahili adik adiknya dia menyuruh Willy untuk melakukannya dan Willy nurut saja, karena dia takut dengan ancaman Boy. Jika Willy tidak nurut Boy akan memberikan laba laba kecil, karena Willy takut sekali sama laba laba waktu itu. Haah.. Tapi sekarang Boy sangat menyayangi adik adiknya itu." ucap Sam
Lidya dan Mirza tersenyum lebar mendengar cerita Sam
"Iya, Boy sangat menyayangi adik adiknya, karena dia trauma ketika mengetahui aku istriku dan keempat adik boy kecelakaan. Dia sangat takut kehilangan kami waktu itu" ucap Mirza mengingat masalalu
"Iya tuan"
Kemudian mereka kembali berbincang tentang hal yang lainnya. Sementara Willy dan sam ia mengobrol serius di taman.
"Bos kenapa kau terlihat kesal terus? "Tanya Willy penasaran
"Kau tau Will, ibu terus mengancamku kalau dia akan menjodohkan Luna dengan Bayu setiap aku membangkang padanya, aku kesal will. " ucap Boy
Willy malah menertawai Boy
Boy menatap Willy sekejap "memangnya kenapa kalau aku suka sama Luna?" ucapnya dengan sedikit sewot.
"Wiss santai Bos, jadi kau benar benar menyukai Luna? " tanya Willy memastikan
"Iya" singkat Boy
Willy teringat dengan Bunga yang sering di beli Boy
"Jadi bunga yang kau beli setiap hari itu untuk Luna? "
"Iya"
"Wihh keren keren,, aku sudah mendugannya. o ya Bos kau ingat tidak waktu kau dan Luna berantem di pinggir jalan waktu Luna habis melawan pencopet, kau ingat apa yang dikatakan nya? "
Kemudian Boy berfikir "iya iya, aku ingat itu dia pernah mengata ngataiku dan mengancamku"
"Nah itu dia Bos, ucapannya sekarang jadi kenyataan, sekarang kau menyesali perbuatan mu padanya sampai kau juga mencintainya sekarang, begitu kan? Namun Luna tidak mau bertemu denganmu bahkan nyonya melarangmu bertemu dengannya, sampai kau terus memaksa ingin bertemu dengan Luna, kasihan sekalii kau bos, hahaha" ucap Willy meledek Boy
Boy terlihat kesal pada Willy "sial kau will, puas kau menertawaiku hah? " kemudian Boy kembali mengingatnya dan Willy menahan tawanya
"Iya Will, aku benar benar menyesal telah melukai Luna, tapi aku ingin bertemu Luna Will, aku ingin minta maaf dan bicara sama dia itu saja, tapi ibu melarangku. Ntah kenapa. " raut wajahnya menjadi muram
Willy hanya menganggukan kepalanya. Kemudian Boy punya ide "kau harus membantuku mendapatkan alamat Luna Will" pinta Boy dengan semangat
__ADS_1
Namun Willy menggelengkan kepala
"Nyonya sudah melarangku untuk tidak mencari tahu tentang Luna apalagi mencari alamatnya Bos" jelas Willy
Boy terperanjat dan mengerutkan dahinya
"Haah apa? Apa ibu berkata seperti itu Will? "
"Iya Bos"
"Aarhhh sial,, kenapa sih ibu melakukan itu? " ucap Boy dengan sedikit teriak.
"Aku tidak tau Bos"
"Pokoknya kau harus membantuku menemukan Luna. Oke Will" pinta Boy
"Iya iya Bos, terserah kau, kalaupun aku menolak kau akan memaksa begitu kan? "
"Bagus!! "
Sementara di belakang rumah, Bastian dan Wulan sedang berlatih bela diri. Kala itu Wanda seumuran dengan Briand. Mereka sudah akrab sejak dulu, namun ketika Bastian dan adiknya pergi ke luar negri mereka hanya berinteraksi lewat ponsel. Dan sekarang mereka kembali akrab.
"Wulan aku mau melihat keahlianmu bela diri, ayo lawan saya"ucap Bastian
"Oke" ucap Wulan. Tanpa aba aba wulan langsung menyerang Bastian hingga bastian kewalahan. Namun dengan cepat pula Bastian melawan Wulan mereka sangat fokus sekali saling serang. Hingga beberapa saat.
Bianka dam Wanda melihat kakak kakaknya saling lawan, mereka takjub dengan kemampuan kakaknya itu dalam bela diri
Sementara Briand fokus main ponsel dan ketawa ketawa sendiri di sana. Sepertinya dia sudah punya pacar. Dalam kisah ini Briand di kenal sebagai seorang yang playboy.
Wanda terus menangkis pukulan Bastian begitupun Bastian, hingga akhirnya Wulan kelelahan dan ia lengah sampai mau terjatuh, namun Bastian dengan sigap menangkap Wulan dan menariknya hingga tidak sengaja memeluknya. Deggg jantung wulan berdegug karena kaget
"Waaaw"ucap Bianka dan Wanda melihat Bastian memeluk Wulan. Mereka tersenyum lebar prokprokprok.. Mereka bertepuk tangan kemudian tertawa "hahahaha"
Kemudian Bastian tersadar dan langsung melepas pelukannya dan meminta maaf pada Wulan
"Maaf wulan, maaf saya tidak sengaja" ucap Bastian
Pipi Wulan memerah merona karena malu
"Oh gapapa kak bastian," ucapnya terengah karena kelelahan
"Kamu hebat Wulan" Bastian memuji Wulan.
"Kakak juga"
Kemudian mereka istirahat duduk di sana.
Briand tidak memerhatikan mereka, ia hanya pokus pada ponselnya.
Tidak terasa waktu sudah malam hari dan mereka memutuskan untuk pulang ke rumahnya
__ADS_1