
Setelah beberapa jam, Lidya sampai di kampung halaman Luna setelah melewati jalan yang berliku dan menanjak dan menurun, ira mengemudi dengan hati hati. Pemandangan di kampung Luna sangatlah indah dan sejuk, mereka melewati hamparan sawah yang berbukit bukit dan hijau. Kemudian mereka sampai di sebuah perumahan yang sederhana namun terlihat rapih dan bersih suasana disana. ia menuju rumah Luna, dengan mudah rumah Luna ditemukan karena dekat dengan jalan raya.
"Waaw sangat indah nyonya" ucap ira sambil memperhatikan pemandangan sekitar
"Kamu benar ira" Lidya pun menikmati pemandangan itu
(Ini pemandangannya diambil dari kampung halamanku guys. Hehe)
Dan mereka sampai di halaman rumah Luna, namun Lidya dan Ira keheranan kenapa rumahnya nampak begitu ramai oleh orang orang.
"Nyonya ini benar kan rumahnya Nona Luna?"tanya ira sambil melihat ke arah orang ramai itu di halaman rumah Luna.
"Iya ira, ada apa kira kira ya? Ko ramai begitu. Ayo kita turun Ira" ucap Lidya.
"Mari nyonya"
Kemudian ira turun dan membukakan pintu untuk Lidya dan Lidya pun turun dan memperhatikan sekitar begitu pula para pengawal Lidya, mereka berjaga di sana
Orang orang disana memandang ke arah Lidya, mereka takjub dan bertanya tanya siapa yang datang itu,dan ternyata itu adalah Lidya wanita cantik berpakaian rapih namun terlihat elegan dan tidak hentinya tebarkan senyuman pada setiap orang. Turun dari mobil mewah beserta ira yang terlihat tegap dan menatap serius ke semua orang dengan senyum tipisnya. Di belakangnya berdiri empat orang laki laki gagah dengan pakaian yang seragam terlihat menyeramkan karena perawakannya yang tinggi dan kekar serta ekspresi wajah yang dingin. Mereka berempat memakai kecamata hitam. Orang orang mulai berbisik bisik.
"Saha itu nya, asa lain urang dieu (siapa itu ya sepertinya bukan orang sini) "ucap salah seorang dari mereka dengan logat sunda
"Enya mani herang mencrang tur bodas bari jeung geulis deui. Tapi itu anu opat lalakina meni siga galak kitu. meni seram (ya sangat cerah berkilau juga puti dan juga cantik lagi. Tapi itu yang keempat lelakinya sepertinya galak sekali. Sangat seram) " ucap yang lainnya
"Huss kade ulah sembarangan (huss awas jangan sembarangan) saya tau orang seperti itu teh. Jangan sampai mereka dengar pembicaraan kita. Mereka itu bukan orang sembarangan" ucap yang satunya
"Ihh si jeng, biasa bae atuh (biasa saja dong) kita cuma terpana dan jarang pisan melihat orang sapertos kitu (jarang sekali melihat orang seperti itu)", ucap ibu ibu yang pertama
"Atos atos, ulah nyarioskeun batur. Pamali!! (Sudah sudah, jangan bicarakan orang lain, pamali!!) " ucap seorang ustadzah di sana.
"Uhun (iya) bu ustadzah ucap mereka yang tadi membicarakan Lidya. Dan mereka terus melihat ke arah Lidya dan ingin tau apa yang akan Lidya lakukan
Kemudian Lidya bertanya kepada bapak bapak yang lewat di hadapan Lidya
"Permisi pak, maaf apa saya boleh bertanya"
"Oh mangga-mangga nyonya (oh boleh boleh nyonya) , apa ada yang bisa saya bantu? " ucap bapak tersebut dengan logat sunda yang khas
"Iya pak, benarkah ini rumahnya Luna? Dan kenapa ramai sekali disana? "
"Oh benar sekali nyonya, bapaknya neng Luna sudah meninggal dan baru saja sehabis di makamkan oleh keluarganya. nyaah teuing (sayang sekali) neng Luna belum ada kabar dan kemungkinan Luna belum tau kalau bapaknya sudah meninggal" jelas bapak tersebut
__ADS_1
Lidya terperanjat dan nyaris tidak percaya dengan apa yang di dengarnya.Tubuh nya tiba tiba lunglay dan lemas, Lidya mencoba menahan air matanya, dia hampir terjatuh namun ira dengan sigap menahan tubuh Lidya.
"A apa? Bapaknya Luna meninggal? luna kasihan sekali kamu nak, aku tidak bisa bayangkan bagaimana jika nanti kamu tau kalau bapakmu sudah meninggal, sedangkan kamu lagi sakit Luna" ucap Lidya dalam hati. Air matanya mulai tumpah "Innalillahii wainna illaihi rozi'un" ucap Lidya dengan lirih
"Nyonya tidak apa apa? "Tanya ira
Lidya hanya menggelengkan kepala dan menangis tanpa suara.
Kemudian bapak bapak tersebut nampak bingung karena Lidya tiba tiba menangis dan ia bertanya kembali
"Maaf nyonya ini siapa dan dari mana? "Tanya bapak tersebut
"Saya Lidya dari jakarta, Kami mau melayat pak"
kemudian Lidya dan ira menghampiri rumah Luna tanpa menunggu bpak tadi bicara lagi. Dan Lidya menghapus air matanya dan berusaha tersenyum, Kebetulan Lidya sudah tau seperti apa wajah emak Luna dan keluarganya karena Willy memberi informasi dengan rinci.
Bapak yang tadi terlihat bingung kembali
Perasaan keluarga Luna tidak ada yang berada di jakarta. Tapi nyonya tadi... Ah sudahlah bukan urusanku. Batin bapak tersebut.
Lidya sudah sampai di depan pintu rumah Luna dan ia memberi salam pada orang yang berada di sana kemudian ia menyalami satu persatu orang tersebut seraya melempar senyum yang manis meski nampak bingung orang di sana itu.
"Saya ingin bertemu dengan emaknya Luna, apa ia ada di dalam? "Ucap Lidya pada orang yang ada di sana. Kebetulan ibu ibulah yang paling banyak disana itu
"Oh iya, mak Luna ada di dalam, silahkan masuk saja" ucap salah seorang dari mereka
Dan orang itu mengangguk serta membalas senyuman Lidya
"Assalamualaikum" ucap Lidya memberi salam dan terlihat seorang wanita yang sedang menangis diruang tengah ditemani Rendi beserta istri dan anaknya. Rani adalah nama emak Luna dan Rendi adalah kakaknya Luna. Rani menatap ke arah Lidya dan menjawab salamnya diikuti Rendi beserta anak dan istrinya "waalaikumusalam" ucap mereka
Lidya langsung menghampiri Rani dan memeluknya dengan erat kemudian menangis. Ira berdiri di belakang Lidya. Sementara Rani nampak bingung pada Lidya karena ia tidak mengenalnya begitupun rendi dan yang lainnya.
"Maaf maaf, anda ini siapa? "Tanya Rani pada Lidya sambil berusaha melepaskan pelukan Lidya
Kemudian Lidya melepas pelukannya dan menatap rani dengan pilu
"Saya Lidya, saya turut berduka cita atas meninggalnya bapak Luna" ucap Lidya
"Terima kasih, tapi apa anda kenal dengan Luna? Dan kenapa anda bisa tau kalau bapaknya Luna sudah meninggal? " tanya emak Luna
"Saya kenal dengan Luna, saya datang kesini untuk memberitahukan keadaan Luna pada kalian, namun ternyata tadi saya dengar bapaknya baru saja meninggal. Saya turut prihatin" ucap Lidya
Rani terperanjat mendengar penjelasan Lidya
__ADS_1
"Hah dimana dimana Luna, kenapa dia tidak ikut dengan anda kesini jika anda mengenalnya? " ucap Rani dengan nada agak tinggi
"Maaf bu rani, tolong bicara sopan pada nyonya Lidya, panggil dia nyonya" ucap ira protes pada sikap emaknya Luna. Rani menatap ke arah ira dan ia merasa tidak enak hati
"Sudah ira, tidak apa" ucap Lidya
"Oh ba baiklah. Saya minta maaf nyonya" ucap Rani kemudian ia menunduk.
"Tidak perlu minta maaf Rani, em maaf saya panggil rani saja boleh, karena sepertinya kita seumuran" ucap Lidya sambil mengusap bahu Rani
"Oh iya tentu saja nyonya"
"Baiklah, saya akan jelaskan kenapa Luna tidak ikut dengan saya kesini. Karena dia sedang sakit dan sedang di rawat di rumah sakit dan saya kesini ingin memberitahukan keadaan Luna pada kalian, karena Luna akan sangat membutuhkan kalian terutama emaknya, tapi ternyata keadaanya harus seperti ini dan saya tidak menduganya." jelas Lidya
Mendengar penjelasan Lidya, Rani kembali menangis begitupun Rendi dan istrinya, "Lunaa" ucap Rendi seraya berteriak memangil Luna, ia tidak menyangka kalau Luna sedang sakit
"Apa?? Luna sakit" ucap Rani dengan terisak "dia sakit apa nyonya? " sambungnya
Lidya merasa tidak enak karena telah mengatakan itu disaat keluarganya sedang berduka.
"Saya tidak bisa menjelaskannya sekarang, tapi apakah mak Rani bisa ikut dengan saya ke jakarta sekarang? " ucap Lidya
"Tapi apakah yang dikatakan nyonya itu benar?" ucap Rani dengan sedikit ragu pada Lidya
"Apa mak Rani tidak percaya pada saya,? Baiklah saya akan melihatkan foto Luna yang sedang di rawat" ucapnya sambil membuka ponselnya dan segera mengirim pesan pada suster yang sedang merawat Luna di sana agar mengirimkan poto Luna saat itu juga. beberapa detik kemudian suster tersebut mengirimkan foto Luna yang sedang berbaring di rumah sakit.
"Ini fotonya" ucap Lidya dengan mengarahkan ponselnya pada Rani. Rani terperanjat dan menutup mulutnya "ya Allah, Lunaa.. Kamu kenapa nak, diperban seperti itu, Lunaa kasihan sekali kamu anak emak. Huu huuhuu" ucap Rani dengan menangis
Begitupun orang disana ingin melihat foto Luna yang sedang berbaring itu.
"Saya harus melihat keadaan Luna, tapi disini bagaimana? " ucap Rani dan ia menatap ke arah Rendi. Rendi memeluk emaknya "pergilah mak, biar Rendi yang urus semua di sini" ucap Rendi meyakinkan Rani.
"Kamu yakin nak, tidak apa ibu tinggal? Karena emak sangat kuatir sekali dengan Luna" ucapnya
"Iya mak. Tidak apa.. Rendi titip Luna,semoga Luna lekas sembuh" ucap rendi dan melepas pelukannya.
Kemudian Lidya tersenyum pada mereka. Keluarga Luna yang lain kemudian menyuguhkan makanan untuk Lidya, namun Lidya menolaknya karena merasa tidak enak. Dan mereka berbincang bincang ringan sambil menunggu Rani yang sedang siap siap. Rani membawa tas besar berisi pakaian dan yang lainnya. Setelah siap semuanya kemudian mereka pamit pada keluarganya terutama Rendi dan istrinya. Mereka berjalan menuju mobil untuk pergi ke jakarta disertai isak tangis keluarganya.
Setelah sampai di depan mobil, Lidya menyerahkan amplop berisi uang pada Ira untuk diberikan kepada kakaknya Luna untuk biaya keperluan tahlilan dan keperluan lainnya.
Sementara Rani sudah masuk ke dalam mobil.
"Ira tolong berikan ini pada Rendi" ucap Lidya dan menyerahkan amplop tersebut
__ADS_1
"Baik nyonya". Kemudian ira menghampiri Rendi dan menyerahkan amplop tersebut.
Setelah selesai semuanya.mereka pergi meninggalkan rumah Rani dan berangkat kembali menuju ibukota. I