
Sementara di kediaman Mirza, mereka sudah selesai sarapan dan adik adiknya Boy juga sudah berangkat sekolah, serta Boy sudah berangkat ke kantor.
Tinggalah Lidya dan Mirza.
Mirza sedang siap siap karena ia akan pergi untuk mengontrol ke kantor cabang di luar kota dan Lidya menunggu suaminya berangkat. Mereka tengah duduk di sofa dan mengobrol
"Ayah gapapa kan aku gak ikut"ucap Lidya
"Gapapa Bu, ibu kan juga ada kegiatan, katanya mau ke panti dan mengantar Luna terapi kan? "
"Iya ayah, ibu sudah kangen sama anak anak panti, kemarin ibu gak sempat menengok mereka, o ya ayah rumah yang berada di belakang panti itu Lho sekarang ditinggali Luna"
"Oo jadi Luna tinggal disana sekarang? rumah yang dulunya kamu akan berikan pada ira itu kan? "
"Iya ayah, gapapa kan? "
"O gapapa dong, ayah malah senang, tapi emangnya pengurus panti gak ada yang mau tinggal di rumah itu? "
"Mereka gak mau ayah, katanya tinggal di panti sudah sangat nyaman karena mereka rasa semua yang ada di panti sudah mewah, mereka cuma ikut menjaga rumah itu saja dan sesekali membersihkan rumah itu bersama anak anak" jelas Lidya.
"Oo begitu ya, hmm baiklah, padahal tadinya kan sayang kalau sampai terbengkalai, tapi sekarang sudah ada Luna yang mengisi, bagus itu bu"
"Iya ayah" ia senang suaminya menyetujuinya
Ketika asik mengobrol, tiba tiba Bayu menelpon kemudian Mirza mengangkatnya
"Hallo ayah" ucap Bayu dengan nada kesal
"Hallo bay, ucap salam dulu kek, kenapa terdengar kesal seperti itu pagi pagi? " ucap Mirza
"Oh maaf ayah, Assalamualaikum " ucap Bayu
"Waalaikumusalam"
"Ayah kapan kembali ke turki, bayu pusing yah ngurus kantor disini, pelajaran Bayu banyak yang tertinggal gara gara ngantor mulu, ayah cepat lah kesini, "ucap Bayu dengan kesal
"Ya ampun Bayu, disini ayah juga lagi sibuk, belum selesai pekerjaan ayah, kamu sabarlah beberapa hari lagi, kan disana ada sekretaris Heri yang bantuin kamu"
"Gak mau ayah, bayu cape, pokoknya ayah kesini cepat, ada yang mau bayu bicarakan juga empat mata sama ayah"
"Ck, iya iya oke, ayah kesana besok. Tapi ingat kamu harus urus dulu kantor disana hari ini ya"
"Iya oke, aku tunggu ayah. Udah ya bayu tutup dulu telphon nya, Assalamualaikum "
"Iya bay,, waalaikumsalam"
Kemudian telpon di tutup oleh bayu
"Huh anak ini, disuruh urus kantor sebentar saja sudah cape katanya" ucap Mirza sambil melihat ke arah ponselnya.
"Ayah sadar gak sih kalau bayu itu tidak tertarik sama bisnis ayah disana. Sementara Ibu rasa kalau bastianlah yang menginginkan berbisnis disana"
"Masa sih bu, apa iya bayu tidak mau? "
"Iya yah, waktu di turki saja kan Bastian sering ikut ke kantor menemani ayah, setelah nanti lulus SMA dia juga ingin segera berkuliah di turki, sementara Bayu sepertinya dia punya cita cita lain"
"Hmm begitu ya bu. baiklah Nanti ayah pertimbangkan lagi semuanya"
"Itu lebih baik ayah. "
Kemudian Mirza bangun dari duduknya
"Ayah sudah siap berangkat, ayah berangkat dulu ya"
"Oh baik ayah, hati hati ya"
"Iya bu", ucap Mirza sambil tersenyum dan mengecup dahi Lidya
Lidya juga tersenyum dan bahagia
Kemudian Mirza berangkat bersama supirnya dan Lidya juga berangkat bersama ira, kebetulan ira sudah sampai disana
*****
Sementara dirumah Luna, Rendi nampak bicara serius pada Luna
"Neng, kamu tau gak kalau guru ngaji kamu sekarang suka nanyain kamu sama aa"
"Siapa a? Luna gak inget"
"Namanya ustadz Hasan, dia itu guru ngaji paforit kamu waktu kamu SMP, aa ingat Lhoh neng. Tapi waktu itu ustadz Hasan masih biasa saja sama kamu dan menganggap kamu sebagai muridnya saja, tapi sekarang dia nampak menyukaimu neng"
__ADS_1
"Yang bener kamu Ren, ustadz hasan itu pan kasep pisan nya, tapi masih membujang, padahal usianya sama seperti kamu"
"Iya bener mak, bahkan dia meminta pendapat sama aa katanya 'bagaimana kalau saya melamar Luna dan ta'aruf sama Luna' begitu bu" ucap Rendi
"Apa iya ren? Emak sih setuju setuju aja, tapi bagaimana dengan Luna? "
"Apa sih emak, Luna gak mau, Luna masih kecil dan gak tau Luna sama ustadz Hasan Luna gak inget."
"Kamu pasti akan tau kalau nanti kamu sudah sembuh amnesianya nya" ucap Rendi
"Bener neng, ustadz Hasan itu bageur pisan sama emak waktu di kampung juga"
"Iya mak, tapi Luna gak mau ya kalo sampe nikah muda" ucap Luna
"Emak gak akan maksa kamu buat nikah muda dan siapa saja yang nanti jadi suami kamu semoga itu yang terbaik buat neng nya"
"Aamiin mak, mak doain Luna setiap saat ya"
"Iya, emak selalu do'ain neng"
"A rendi sangat setuju jika neng nikah sama ustadz hasan nanti, dia orangnya soleh neng, banyak Lho yang naksir sama dia"
"Ah aa bisa aja, Luna gak mau bahas pernikahan dulu. Luna mau sembuh dulu aja
"Iya neng, kamu semangat ya untuk sembuh" ucap Rendi
*****
Sementara Lidya dan ira sudah berjalan menuju panti asuhan, ia sudah berbelanja dulu ia membeli sesuatu untuk anak anak panti yang nantinya akan dikirim oleh orang suruhannya nanti. Setelah selesai berbelanja, Lidya dan ira pergi ke panti asuhan miliknya itu.
Diperjalanan Lidya dan ira mengobrol
"Ira, kapan kamu menikah? Usiamu sudah tiga puluh tahun ira" tanya Lidya
"Saya tidak mau nikah bu"
"loh kenapa? " tanya Lidya penasaran
"Hmm saya takut nanti kalau sudah menikah kemudian punya anak dan nyonya memberhentikan saya lagi"
"Loh kok kamu bicara begitu ira? kamu itu cantik ira, Emangnya kamu gak mau berumah tangga? "
"Jangan begitu ira, kamu harus berumah tangga. Jika saya nanti berhentikan kamu itu karena saya ingin kamu fokus mengurus anakmu nanti"
"Haah nyonya mah, saya tidak tertarik sama laki laki" ucap ira
"Kamu itu, mau jadi perawan tua kamu? "
"Ya nggak mau lah nyonya. Saya kan sudah lima tahun bekerja sama nyonya, mana mudah saya berpisah sama nyonya? , jarang sekali ada orang sebaik nyonya"
"Ishh kamu, pokoknya kamu harus berumah tangga ira. Mau saya jodohkan? "
"Iya nyonya, kapan kapan, dijodohkan nyonya? Ah tidak usah repot repot nyonya. Hehehe"
"Hm oke, kalau begitu kamu cari lah laki laki"
"Siap nyonya"
****
Sampailah mereka di panti asuhan Muara Kasih Ibu, mereka disambut hangat oleh pengurus panti dan anak anak panti yang ada disana. Ada sekitar tiga ratus anak yatim yang tinggal disana. Serta pengurusnya juga banyak. Namun ketika Lidya datang, sebagian anak anak panti itu sedang sekolah. Panti asuhan tersebut sangat Luas dan berlantai dua serta halamannya juga luas, panti tersebut dibangun di atas tanah milik Lidya, tanah tersebut tadinya bekas rumah alm. orang tua Lidya yaitu Liana ibunya dan Adijaya ayahnya. lidya sangat memanjakan anak anak panti, ia tidak ingin ada kekurangan sedikitpun pada mereka. Mereka diberi pasilitas yang cukup mewah serta selalu memberikan hadiah kepada pengurus panti dan anak anak. Di belakang panti asuhan tersebut ada rumah yang kini di tempati Luna, sebelumnya Ira sudah memberitahukan kepada pengurus panti bahwa rumah tersebut akan ditinggali oleh seseorang. Pengurus panti sangat antusias membantu membersihkan rumah tersebut sebelum ditinggali Luna.
"Assalamualaikum semuanyaa" ucap Lidya ketika mendapat sambutan dari anak anak panti tersebut
"Waalaikumsalam ibu Lidya" ucap semua orang yang ada disana dengan rersenyum lebar pada Lidya
Kemudian anak anak panti itu bergiliran menyalami Lidya dengan senang dan bahagia
"Ustadzah Rumi, apa kabar? " tanya Lidya pada kepala pengurus panti tersebut
"Alhamdulillah baik sekali Nyonya, saya senang sekali nyonya berkunjung kesini"
"Iya ustadzah, saya sangat merindukan anak anak ini. Mereka sudah pada besar ya "
"Benar sekali nyonya, setiap hari mereka menanyakan nyonya"
"Benarkah ustadzah? Maa Syaa Allah saya sangat senang, sepertinya kakak kakaknya sedang pada sekolah ya"
"Iya nyonya, adik adinya ini belum pada sekolah karena masih kecil, mari duduk nyonya, biar saya ambilkan minum dulu ya" ucap ustadzah Rumi disertai anggukan Lidya
Kemudian Lidya duduk di sofa, sedangkan ira mengajak anak anak kecil itu bermain.
__ADS_1
"biar saya saja yang mengambilkan minum untuk Nyonya" ucap Elsa, ia adalah pengurus panti juga.
"Oh yasudah Elsa, tolong ya" ucap Ustadzah Rumi
"Iya Ustadzah Rumi" ucap elsa dengan senang
Setelah itu mereka mengobrol banyak sekali
Tidak lama kemudian barang belanjaan yang sudah di kantongi datang diantar oleh orang suruhan Lidya. Kemudian Lidya menyerahkan bingkisan tersebut pada ustadzah Rumi untuk dibagikan kepada anak anak nantinya. Mereka sangat senang sekali menerima bingkisan itu. Tidak lama kemudian Lidya dan ira pergi dulu ke rumah Luna
Tuktuktuk. Ira mengetuk pintu rumah Luna
Kemudian Luna membukanya. Ia terlihat senang melihat Lidya datang
"Assalamualaikum nona Luna"ucap Ira dengan senyumnya
"Waalaikumusalam " ucap Luna "ibu ahirnya sampai" sambungnya dengan tersenyum dan memeluk Lidya. Lidya membalas pelukan Luna.
"Iya nak, kamu kangen ya sama ibu"
"Iya bu, ayo masuk"
"Ayo"
Mereka masuk ke rumah beserta ira mengikuti dari belakang
Lidya melihat ada Rendi dan Rani duduk di sofa kemudian mereka saling sapa. Tidak lama kemudian Lidya mengajak Luna untuk pergi terapi, mereka akan mendatangi dokter, dan pergilah mereka sedangkan Rani menemani Rendi di rumah.
Setelah selesai dari dokter, Lidya mengajak Luna jalan jalan ke mall serta pergi ke salon untuk perawatan. Luna terlihat senang karena begitu perhatiannya Lidya padanya.
Lidya juga mengajak Luna ke toko buku. Ia mencari buku panduan wanita muslimah untuk Luna. Luna juga mencari buku seputar dunia muslimah yang ia inginkan.
"Luna, kita beli buku ini, ibu juga mau membacanya" ucap Lidya melihatkan buku yang dipegangnya
"Iya bu aku juga mau" ucap Luna
"Kita pelajari bareng bareng oke"
"Siap bu"
"Ira kamu beli apa? " tanya Lidya pada Ir
"Saya membeli buku panduan istri shalihah, hehehe"
"Haha, bagus itu ira, kamu tinggal cari calon suaminya ya"
"Baik nyonya"
Mereka terlihat senang hari ini.
Sejak hari itu Luna mulai berubah, mulai dari cara bicaranya juga cara berpakaian nya dia terlihat cantik dengan pakaian yang cerah dan tertutup, kalau dulu dia sering menggunakan pakaian serba hitam dan terlihat tomboy. Tapi kini Lidya akan merubahnya.
*****
Sementara di kantor waktu itu Boy dan Willy sehabis makan siang dan sedang beristirahat diruanganya. Boy nampak merencanakan sesuatu
"Willy, besok kita buntuti ibu dari belakang, aku ingi tau ibu pergi ke mana" ucap Boy
"Kamu yakin Bos? Gak takut ketahuan sama nyonya nanti? " tanya Willy
"Aku yakin Will, ya jangan sampai ketahuan lah"
"Baiklah Bos, sekarang kita selesai kan tugas hari ini oke"
", kok jadi kau yang ngatur Will? "
"Karena Bos dari tadi cuma ngelamun"
"Dasar kau Will, aku tadi bekerja Lah"
"Kerja apaan muter muter pulpen doang? Itu berkas masih numpuk belum di tanda tangani kan? " ucap Willy sedikit sewot sambil menunjuk berkas dengan matanya
"Alah kamu, segini doang" ucap Boy dengan menyentil berkas tersebut
"Iya segitu, selebihnya kan saya yang selesaikan"
"Itu kamu tau, hahaha"
"Ck, tega kamu Bos"
"Biarin" ucap Boy santai. Kemudian mereka kembali bekerja.
__ADS_1