
"Boy,, ayah mau menemui paman Sam dan bibi Ayu, mereka pasti sedang menunggu Willy yang tengah di operasi" ucap Mirza
", iya ayah" ucap Boy dan mengangguk
Kemudian ayah Mirza keluar untuk menemui Paman Sam dan bibi Ayu.
"Boy, kita juga mau pamit pulang dulu" ucap Zuno
Sambil melirik Andra, karena mereka sepakat akan pulang dulu
"Iya Boy, kita akan selesaikan masalah di proyek dan menyelidiki apa penyebab alat bangunan itu bisa jatuh" sambung Andra.
"Baik.. Kalian istirahat saja dulu, besok lagi kalian lanjutkan.. Aku serahkan semua urusannya pada kalian untuk beberapa hari, mungkin. Karena.. Kalian lihat kondisiku kan?" ucap Boy.
"Iya Boy,, kami mengerti .. Akan kami urus semuanya, kau istirahat lah, semoga lekas sembuh Boy." ucap Zuno disertai anggukan Andra
"Aamiin.. "
"O ya,, satu lagi. Kalian urus media. Aku tidak mau berita kejadian yang menimpaku dan Willy terus meluas" pinta Boy.
"Baik Boy, itu bisa diatur" ucap Andra
"Kami pamit dulu, assalamualaikum"
Zuno dan Andra berpamitan seraya tersenyum manis pada mereka yang ada di ruang rawat Boy.
"Waalaikumsalam" jawab mereka
Kini tinggal Boy, Luna, Lidya dan Bianka
Bianka duduk di sofa sambil memainkan ponselnya, ia menghubungi kakak-kakaknya memberitahukan kejadian yang menimpa Boy.
Ibu Lidya dan Luna mengobrol di samping Boy. Luna sambil menyuapi Boy dengan bubur yang telah di sediakan suster untuknya.
"Sayang, kamu juga makan" pinta Boy pada Luna sambil ia mengunyah makanannya
"Aku masih kenyang a" ucap Luna
"Jangan boong, ini sudah lewat waktunya makan siang lho.. Kalian belum makan kan?" tanya Boy pada Lidya dan Luna
"Iya,, nanti pelayan akan antar makanan kesini,, tenang saja" ucap Lidya
"Oohh. Iya.. Baguslah"
Boy tersenyum dan terus melirik Luna
Luna ikut tersenyum dibuatnya
"Kenapa aa liatin Luna seperti itu?" tanya Luna
"Kamu ingat gak sayang, tiga tahun yang lalu.. Waktu kamu dirawat, ya di sini ruangannya.. Ya kan Bu?"
Lidya mengangguk
"Mm,, oya? .. Tapi sepertinya iya.. Hehe.. Lalu kenapa?" tanya Luna
"Waktu itu, kepalamu diperban dan sekarang kepalaku juga di perban. Keadaan ini sama seperti yang kamu alami dulu, seperti ucapanmu waktu malam itu, kamu bilang segala sesuatu yang kita lakukan akan menimpa kita kembali. Kamu dulu terluka karena perbuatanku, dan sekarang aku harus menerima balasannya.. Iya kan?" jelas Boy
"Aa kok bicara begitu.. Luna udah lupain kejadian itu, udahlah.. Jangan bahas itu.." ucap Luna nampak cemberut.
"Hehe.. Iya oke sayang"
Luna kembali menyuapi suaminya
"A.. Waktu itu kan aku pingsan ya, siapa yang membawaku ke rumah sakit?" tanya Luna
"Ya aku lah sayang. Aku menggendongmu" ucapnya sambil tersenyum
"Oya? "
"Iya,, aku juga melihat wajahmu waktu neng belum sadarkan diri"
Luna kaget
"Apa?.. Jadi aa sudah melihat wajahku dulu?"
Boy mengangguk sambil tersenyum
"Lalu apa yang aa lakukan?" tanya Luna
"Mm.. Aku, aku menciummu karena kamu sangat cantik" ucap Boy
Luna membelalakan matanya dan mencubit perut Boy
__ADS_1
"Iiihh... Aa ini.. Lancang sekali!" ucapnya kesal
"Aww...."
"Hahaha.. Enggak lah sayang, aku mana berani menciummu, emangnya aku lelaki apaan"
Lidya hanya terkekeh mendengar ucapan Boy
"Ibu, apa benar a Boy sempat melihat wajahku waktu itu?" tanya Luna memastikan pada Lidya
"Iya nak,, dua kali malah,, itu kata Boy nya sendiri" ucap Lidya
"Heii jangan manyun begitu, aku kan sekarang jadi suamimu, jadi tidak masalah kan dulu aku pernah melihat wajahmu"
Boy tau saja kalau Luna tengah manyun setelah tau Boy pernah melihat wajahnya dulu.
Kemudian Luna tersenyum
"Iya a.. Kamu sekarang menjadi suamiku" ucapnya
"Ibu,, aku sangat bahagia sekali karena ibu telah menyatukan kita. Terima kasih ibu.." ucap Boy pada Lidya
"Iya nak,, ibu sangat bahagia karena kalian sekarang menjadi suami istri yang romantis. Ibu bersyukur sekali, tidak sia-sia perjuangan ibu kan?"
"Benar ibu,, aku sangat mencintai Luna" ucap Boy sambil melirik dengan senyuman pada Luna.
"Aku juga mencintaimu a.."
Ucap Luna.
Mereka tersenyum.
"Bagaimana kabar calon anak ayah.. Hmm?" tanya Boy sambil mengelus perut Luna.
"Aku sehat ayah,,," ucap Luna seolah ia menjadi calon anaknya.
"Hehe.."
"Syukurlah sayang.."
Mereka terus berbincang sampai selesai Boy makan dan meminum obat.
*******
Kala itu Briand masih di sekolahnya, baru saja mau pulang sekolah.
"Briand,, gue duluan ya" ucap Alvin sambil bersalaman dan tos dengan Briand. Ketika mereka berada di parkiran
"Oh.. Iya Al." ucap Briand.
Kemudian Alvin berlalu dari sana menuju mobilnya.
Ketika Briand hendak membuka mobilnya,ia melihat Mikha sedang berjalan sendiri menuju gerbang sendirian.
"Mik,, mika,, tunggu mik" ucap Briand dengan sedikit teriak memanggil Mikha.
Mikha menoleh pada Briand dan menghentikan langkah kakinya karena Briand menghampirinya.
"Ada apa Briand?" tanya Mikha.
"Ayo, aku antar kamu pulang" ucapnya dengan senyumannya
"Enggak Briand, makasih" tolak Mikha
"Ayolah mik,, kali ini saja, sebagai permintaan maafku sama kamu karena tadi pagi sudah membuat kamu dihukum sama pak Mubin"
"Gak usah Briand, aku bisa pulang sendiri"
"Ayo mik.. Kamu jangan menolakku, memangnya kamu mau jalan kaki lagi pulangnya?"
"Enggak,, aku mau naik taksi, kakiku masih sakit ini"
"Ya ampun mik,, makannya aku antar, ayoo.." Briand memaksa dan menarik lengan Mikha.
"Briand,, gak usah lah" Mikha kekeh menolak dan berusaha melepas tarikan Briand
"Mikha,, mau aku gendong kamu?" gertak Briand
"Enggak.. Apaan sih Bray"
"Yaudah ayo.." Briand menarik lengan Mikha sampai ke mobil.
Nadia dan teman wanita Briand yang lain nampak tidak suka dan kesal pada Briand, karena baru kali ini mereka melihat Briand mengajak wanita satu mobil dengannya. Cemburu mereka, padahal tidak ada hubungan apapun dengan Briand. Hanya saja yang suka baperin mereka kemarin-kemarin.
__ADS_1
Mikha dan Briand sudah berada di mobil. Dengan perasaan tidak enak Mikha karena satu mobil dengan Briand, Mikha memasang sabuk pengamannya.
Dan Briand siap mengemudi
"Baca doa dulu mik.. Biar selamat selama perjalanan kita" ucap Briand. Kemudian ia menengadahkan tangannya seraya berdoa.
"Oh.. O iya,," ucap Mikha agak gugup. Dan ia ikut mengaminkan doa Briand.
Ternyata Briand cukup bagus juga untuk urusan agamanya, ketika waktu shalat saja ia tidak pernah meninggalkannya, dan selalu berdoa ketika mau mengerjakan apapun. Aihh... Aku kok jadi kagum sama dia, hmm tapi memang pantaslah dia banyak dikagumi banyak cewe, selain tampangnya yang lumayan.. Ia juga bagus agamanya
E tunggu.. Apa? Tampangnya Lumayan? Kenapa aku bisa berfikiran begitu..? tapi memang begitu sih.. Briand,, Briand.. Ternyata kamu Playboy beriman.. Haha. Batin Mikha ketika selesai berdoa sambil melirik Briand sekilas dan tersenyum tipis pada
Briand yang tengah menyalakan mesin mobilnya.
Dredddd.... Dreddddd... Ponsel Briand berdering
Briand melirik ponselnya yang di letakan di dekat kemudinya. Dan ia melihat ada telpon dari Bianka
"Hallo kak Briand,," ucap Bianka ketika telponnya diangkat oleh Briand.
"Hallo dek, asslamualaikum.. ada apa? Tumben" jawab Briand.
"Mm.. Eh.. Waalaikumussalam.. Hehe.. Maaf kak, Bianka lupa ucapin salam duluan.."
"Iya gapapa.. Ada apa sih?"
"Kakak ke rumah sakit sekarang" ucap Bianka
"Lho.. Memangnya ada apa?"
"Kak Boy, sedang dirawat. Dia kena kecelakaan waktu di proyek"
"Apa??" Briand kaget..
"Iya.. Iya.. Dimana rumah sakitnya?"
Briand langsung kuatir.
"Dirumah sakit medika utama kak"
"Oke.. Tunggu kakak ke sana sekarang"
Tuuut... Briand mengakhiri telponnya
Dan ia mengemudi dengan segera dengan perasaan kuatir dan cemas mengingat keadaan Boy.
"Briand Hati-hati dong.. Kenapa sih?" tanya Mikha, ia ketakutan karena Briand mengemudi dengan cepat.
"Kak Boy kecelakaan waktu diproyek mik,, aku kuatir sekali" ucap Briand.
"Ya Allah,, iya tapi pelan pelan saja mengemudinya Briand.."
Briand tidak menghiraukan mikha dan terus mengemudi dengan kecepatan tinggi sampai ke rumah sakit.
******
Ya ampuun.. Briand membawa ku ke rumah sakit,, itu artinya aku juga harus ikut menjenguk kakaknya? Omg.. Aku malu sekali.. Aku harus cari cara supaya tidak ikut masuk ke dalam rs.. Batin Mikha.
Mobil telah sampai di halaman rumah sakit
Briand berhenti disana dan keluar, kemudian membukakan pintu mobil buat Mikha yang tengah mencari cara supaya bisa pulang saja.
"Ayo mik,," ajak Brian sambil mengulurkan tangannya pada Mikha
"Hah?? Ma mau kemana Bray?" tanya Mikha dengan gugup
"Ya ke dalam lah mik.. Aku mau lihat dulu keadaan kak Boy, setelah itu aku antar kamu pulang.. Ayo" Boy menarik paksa Mikha dan menggandennya masuk ke dalam Rs.
"Briand,, aku mau pulang saja" ucap Mikha. Ia mulai gugup bila nanti bertemu dengan orang tua Briand dan keluarganya.
"Tidak,, aku sudah berjanji akan mengantarmu pulang.. Tapi nanti"
Briand terus menariknya sampai ke depan pintu ruang rawat Boy.
Kemudian Briand melepas tangan Mikha
"Kamu ikut ke dalam?" tanya Briand sambil menunjuk pintunya
"Tidak,, tidak.. Aku tunggu di sini aja Bray" ucap Mikha,kemudian ia tertegun di depan pintu. Jantungnya sudah degdegan jika nanti sampai bertemu dengan orang tua Briand.
"Yasudah ". Briand bergegas masuk ke dalam, ia sudah tidak sabar ingin melihat kondisi Boy
Sementara Mikha berdiri membelakangi pintu ruang rawat Boy.
__ADS_1