
Hari sudah berganti, waktu itu Lidya sedang berada di rumahnya Luna beserta ira, mereka sedang mengobrol hangat kala itu.
"Ibu, Luna baru inget sekarang, dulu kan Luna tinggal di kostan ya, apa barang barang Luna masih di sana? " tanya Luna pada Lidya
"Haha,, kamu baru menanyakan sekarang? Kenapa tidak dari kemarin? Iya barang kamu sudah ibu titipkan di sana sama ibu kost, ira yang menyuruh ibu kost itu untuk menyimpannya"
"Oh begitu ya, apa Luna bisa mengambilnya kapan kapan? "
"Iya bisa dong, memangnya ada yang penting? "
"Iya bu, ada barang peninggalan mamah Rena di sana yang selalu Luna bawa kemanapun Luna pergi"
"Oo begitu ya, baiklah kapan kapan kamu ambil ya"
"Iya Luna mau mengambilnya"
Ketika sedang asik mengobrol pintu ada yang mengetuk dari luar. Kemudian Rani membukanya dan ternyata Rendi dengan ustadz Hasan datang ke sana.
Rani nampak senang dengan kedatangan anaknya
"Assalamualaikum mak" ucap Rendi sambil menyalami Rani
"Assalamualaikum " ucap Ustadz hasan sambil tersenyum pad Rani
"Waalaikumsalam ". Ucap Rani membalas senyuman ustadz Hasan
"Ayo masuk a, ustadz "
Kemudian Rendi dan Ustadz Hasan masuk ke dalam. Mereka melihat Lidya, ira dan Luna. Dan menyapa mereka dengan senyuman. Luna tidak menyangka dengan kedatangan Rendi dan Ustadz Hasan. Untungnya Luna selalu siap dengan cadarnya
"Rendi sama siapa itu? " tanya Lidya pada Rendi ketika ia melihat seorang lelaki bersamanya dan terlihat tampan menurut Lidya. Begitupun ira, ia penasaran
"Ini ustadz Hasan nyonya, teman saya" ucap Rendi
Dan ustadz Hasan tersenyum pada Lidya sambil menunduk hormat, begitupun Lidya membalas senyumannya.
Kemudian ustadz itu duduk bersama mereka di sana, dan menanyakan keadaan Luna
"Apa kabar neng Luna? Kemarin waktu neng di kampung saya belum sempat bertemu kamu ya" ucapnya sambil tersenyum pada Luna
Luna di kampungnya biasa dipanggil Neng oleh warga sekitar terutama bapak dan mak Rani
"Alhamdulillah sehat saya ustadz, bagaimana dengan ustadz? " tanya balik Luna
"Alhamdulillah saya juga baik" jawab ustad Hasan.
"Silahkan minum dulu ustadz " ucap Rani sambil menyodorkan minumannya
"Oh terima kasih mak Rani"
"Iya ustadz, ini buatmu a rendi" ucap Rani pada Rendi
"Iya terima kasih mak"
"Iya, " kemudian Rani duduk di samping Luna
Tanpa menunggu lama Ustadz Hasan menyampaikan apa maksudnya menemui Luna Ke rumahnya
"Begini mak Rani, saya ada maksud baik datang ke sini, saya ingin melakukan ta'aruf pada Luna, apa Luna mau berta'aruf dengan saya? " tanya ustadz hasan pada Luna
Sontak saja ucapan ustadz Hasan membuat Lidya dan Ira sangat terkejut begitupun Luna
. "Uhukk,, uhukk,, uhukk,, " Lidya keselek salivanya karena kagetnya.
Melihat reaksi Lidya semua yang ada di sana juga kaget.
"Nyonya tidak apa? " tanya Ira
Dan Lidya hanya mengangguk, dadanya terasa sesak, wajahnya juga pucat setelah mendengar ucapan ustadz Hasan, karena tidak menyangka Luna ada yang mengajaknya ta'aruf. Namun Rani dan rendi terlihat senang kepada Ustadz Hasan
Tapi Luna ragu ragu menjawabnya.
"Maaf ustadz Hasan, Luna belum bisa menjawab sekarang" ucap Luna, karena Luna belum ada perasaan spesial untuk laki laki, hatinya masih suci dari urusan cinta mencintai. Namun Rani terlihat kecewa dengan jawaban Luna. Pasalnya dia itu berharap sekali ustadz Hasan menjadi suami Luna kelak, karena Ustadz Hasan itu orang sholeh dan baik hati menurutnya.
"Em begitu, gapapa neng Luna saya tunggu jawabanmu ya" ucap Ustadz Hasan dengan senyumnya.
Dan Luna mengangguk.
Lidya merasa tenang mendengar ucapan Luna, Syukurlah Luna.. berarti ada kesempatan Boy untuk mendekati Luna. Batin Lidya kemudian ia menarik nafas dengan lega.
"Neng, Ustadz Hasan ini sudah menunggu neng lama loh" ucap Rendi
"O iya, tapi maaf ya Luna belum bisa memutuskan"
"Gapapa neng" ucap Ustadz Hasan mungkin suatu saat nanti, semoga luna bersedia menikah denganku. Batin ustadz Hasan.
"Kalau begitu saya pamit dulu ya mak Rani dan semuanya"
__ADS_1
"Loh kenapa buru buru pisan Ustadz Hasan? " tanya Rani
"Ini loh mak, ustadz hasan ada undangan dari pemilik pondok pesantren Al-hikmah di kota ini, jadi dia akan tinggal di pondok itu mulai hari ini dan sekarang ia harus segera ke sana karena sudah di tunggu" ucap Rendi
Apa? ustadz itu akan tinggal di kota?. dan berarti Boy sekarang ada saingan? Batin Lidya ia tidak menyangka
"Oh begitu, yasudah hati hati nya di jalannya. " ucap Rani
"Iya mak Rani, assalamualaikum" ucap Ustadz Hasan
Pada mereka
"Waalaikumusalam" ucap semuanya.
Kemudian Ustadz Hasan dan rendi bangun dari duduknya
"A Rendi kamu mau ikut sama Ustadz Hasan? "
Tanya Rani
"Oh iya mak Rendi harus antar, biar Rendi tau pesantren nya di mana" ucap Rendi.
"Oh begitu, iya atuh berangkatlah"
Kemudian Rendi dan Ustadz Hasan pergi menuju pondok pesantren Al-hikmah itu.
sementara Lidya nampak melamun, ia memikirkan ucapan Ustadz Hasan itu, bagaimana jika Luna memilih ustadz itu? Aku yakin lelaki itu telah dewasa dan luna bisa saja nanti menyukainya. Boy harus benar benar berusaha keras agar ia bisa mendapatkan Luna. Aku tidak rela jika nanti Luna memilih ustadz hasan menjadi suaminya kelak. Batin Lidya.
"Ibu kenapa melamun? " tanya Luna
"Oh tidak kenapa kenapa nak" ucap Lidya sambil tersenyum walau terpaksa. Sebenarnya hatinya terasa berat setelah mendengar kenyataan tadi
*****
Singkat cerita
Boy sudah pulang dari kantornya, kala itu malam hari
Lidya segera menghampiri Boy untuk menyampaikan kejadian tadi siang di rumah Luna.
Lidya masuk ke kamar Boy dan Boy sedang rebahan kala itu di kasurnya. Kemudian Lidya duduk disamping Boy.
"Ada apa ibu? Tumben mau bicara empat mata saja sama Boy? " tanya Boy
"Boy kamu tau gak? Kalau Luna ternyata ada yang mau meminangnya tadi, namanya Ustadz Hasan, dia mengajak ta'aruf sama Luna tadi siang"
"Apa? " ucap Boy tidak menyangka "yang benar bu? Tidak tidak, itu tidak boleh terjadi" Boy sangat takut kehilangan Luna.
"Terus bagaimana dengan Luna? Apa dia menerimanya? "
"Tidak Boy, Luna masih memikirkannya"
"Arhh,, kenapa Luna tidak menolaknya saja Bu"
"Mana ibu tau, bisa saja Luna juga mau kan sama Ustadz Hasan, tapi Luna masih ragu"
"Itu tidak boleh terjadi Bu, Boy akan melabrak itu ustadz, berani beraninya dia merebut calon istri Boy"
"Kamu harus hati hati Boy, dia bukan orang sembarangan, dia itu Ustadz jangan macam macam kamu"
"Boy tidak peduli bu. " ucap Boy terlihat emosi
"Boy dengarkan ibu, kalau kamu berbuat kasar sama Ustadz Hasan, Luna akan semakin tidak suka sama kamu. Kalau kamu berbuat kasar. Ingat itu!!
"Arhh,, iya iya oke" padahal aku berencana akan menghajarnya nanti, tapi ibu benar, kalau sampai Luna tau aku mau menghajar ustadz itu, bisa benci luna sama aku. Batin Boy. Ia nampak prustasi.
"Kamu ternyata ada saingannya Boy, Semangat ya kamu untuk mendapatkan Luna. Hahaha"
"Ibu kok malah terlihat senang sih? "
"Karena ibu ingin tau seberapa besar perjuanganmu untuk mendapatkan Luna".
"Boy akan Buktikan kalau Boy benar benar serius pada Luna, diman ia tinggal Bu? "
"Hmm baguslah, kalau gak salah mulai hari ini katanya dia tinggal di ponpes Al-hikmah, kamu tau kan ponpes itu? "
"Iya boy tau itu, Boy kan donatur yang rutin tiap bulan menyumbang ke ponpes itu, jadi ustadz itu di sana sekarang? "
"iya Boy, sudah ya ibu keluar dulu"
"Iya, makasih Bu"
"Oke"
Kemudian Lidya keluar dari kamar Boy, dan Boy memikirkan suatu rencana untuk mendapatkan Luna serta bagaimana caranya agar Luna tidak memilih Ustadz Hasan. Boy menyuruh Willy agar mencari tahu siapa ustadz Hasan itu, ia menelpon Willy
"Hallo Willy"
__ADS_1
"Hallo Bos ada, udah ngantuk ni, huamm" ucap Willy dengan menguap karena matanya sudah lima watt karena ngantuk.
"Dengarkan saya! Kamu cari tau siapa ustadz Hasan itu"
"Haah ustadz Hasan? Iya siapa itu Bos? "
"Dia lelaki yang berani beraninya mengajak ta'aruf sama Luna, kamu cari tau siapa dia"
"Hahaha,, jadi si Bos ada saingannya sekarang. Bos bos, kasihan sekali kau. Hahaha"
"Heh kau malah ketawa, aku sedang emosi Will"
"Iya iya oke bos sorry, " ucap Willy sambil cengengesan. Kantuknya seketika hilang
"Terus gimana nyarinya melihat wajahnya saja gak pernah Bos"
"Dia tinggal di ponpes Al-hikmah, kamu tau kan tempat itu? "
"Oh dia tinggal di sana, baiklah besok aku cari tau dia"
"Bagus"..
Tuttututttt. Telpon di tutup sepihak oleh Boy.
"Dasar si bos, makasih kek apa kek, ini main di mati matiin aja. Huhh ". Ucap Willy. Kemudian ia kembali tidur..
****
Siang hari telah tiba, boy kala itu sedang berada di kantornya bersama Willy, Boy tengah memeriksa beberapa berkas dan Willy sedang mengerjakan tugasnya di laptop.
Tanpa menunggu lama orang suruhan Willya datang memberika informasi tentang siapa ustadz hasan itu.
Orang itu masuk ke ruangan Boy, namanya andik
"Permisi Bos" ucap andik
"Masuk" ucap Boy
"ngapain kamu kesini? Tanya Boy sambil memandang andik dengan dingin
"Dia saya suruh buat mencari tau siapa ustadz Hasan itu Bos" ucap Willy.
Kemudian Boy menyimpan berkasnya dan duduk dengan rapi di kursi kerjanya.
"Oh, duduklah, cepat ceritakan" ucap Boy
Dan andik duduk berhadapan dengan Boy
Willy juga ikut mendengarkan
"Begini Bos, jadi nama lengkapnya adalah Hasan Al-Fatih, Ustadz itu berasal dari kampung TelukAsih.. "
"Hah dia dari kampung ternyata? Hahaha" ucap Boy terlihat senang karena Ustadz itu ternyata orang kampung.
"TelukAsih itu nama kampungnya Luna loh bos" ucap Willy
"Apa? dari mana kamu tau Will? " ucap Boy tidak menyangka kalau Willy tau kampungnya Luna
"Dulu kan saya disuruh nyonya buat cari tau di mana alamat Luna, dan saya tau lah"
"Ishh kenapa kau tidak beri tahu dari awal Will"
"Kau tidak pernah nanya Bos"
"Yasudah lah, ayo lanjut andik" ucap Boy
Kemudian andik melanjutkannya
"Baik Bos, usia ustadz itu 29 tahun, masih bujang, anak dari seorang kyai yang terkenal di daerahnya yang memiliki sebuah pesantren yang bernama ponpes Darul Hudda kampung TelukAsih itu, dan Ustadz Hasan adalah penerusnya, namun kini ustad itu sedang di kontrak selama satu tahun untuk mengajar di ponpes Al-hikmah. lalu.. "
"Sudah sudah cukuplah andik, sekarang kau boleh pergi" ucap Boy ia rasa sudah cukup. Boy berfikir bahwa cukup berat juga saingannya itu, karena Hasan adalah seorang ustadz dan pastinya bagus dalam agamanya, sedangkan Boy hanya setipis rambut ilmu agamanya.
Bagaimana jika luna memilih lelaki itu? Ahh tidaktidak bileh!!. Batin Boy
"Oh baik Bos" ucap Andik
"Terimakasih andik" ucap Willy.
"Sama sama tuan, saya permisi dulu"
Kemudian andik keluar dari ruangan Boy
"Biasakan ucap terima kasih dan ucap tolong kek Bos, kau ini tidak punya sopan santun apa? " ucap Willy namun tidak digubris oleh boy karena Boy sedang melamun.
"Kenapa kau Bos? Kaget setelah tau siapa ustadz hasan itu hah? " tanya willy kembali
"Berisik banget sih Will"
__ADS_1