
Hari itu juga Zahwa tengah galau, ia tertegun di dekat jendela kamarnya sambil menopang dagunya dengan tangannya, memandang ke taman. Karena sore harinya nanti ia akan di antar ke bandara oleh Bayu. Karena harus kembali kuliah di turki. Bayu tengah mempersiapkan sendiri apa yang akan dibawa Zahwa, di bantu oleh Syifa.
Ketika Bayu bertanya mau membawa apa, Zahwa hanya menjawab terserah, dan begitu seterusnya. Bayu faham bahwa Zahwa tengah galau. Kemudian Bayu ikut duduk di samping Zahwa dan mendengar apa ingin Zahwa katakan.
"Jelek banget tau gak manyun begitu" ledek Bayu pada Zahwa. Ia berusaha tenang meski sebenarnya ia berat juga ditinggal Zahwa.
Zahwa semakin cemberut dibuatnya
"A.. Zahwa gak mau pergi.. " rengeknya
"Cantik... Kamu harus selesaikan kuliahmu dulu, udah lama lho kamu cuti.. Dengerin aa ya, kamu harus semangat supaya tahun ini cepat wisuda dan kamu bisa segera kembali lagi ke tanah air"
Zahwa merengek seolah menangis
"A boleh ya kuliahnya pindah ke sini aja, biar deket gitu,, Zahwa gak mau jauh dari a Bayu" ucapnya sambil mengguncang tangan Bayu
"Tidak,, sayang.. Papih Har juga tidak akan ngijinin. Sudah bagus kuliah di sana,, tinggal kamunya lah fokus.. Zaa.. Aa janji bakalan tengok kamu sesering mungkin"
"Tapi a.. "
"Aa tidak mau dengar alasan lagi, aa mau ke dapur dulu siapkan makan siang untukmu ya"
Bayu meninggalkan Zahwa di sana, dan pergi ke dapur. Zahwa kembali tertegun di sana, terlintas dalam fikirannya untuk pura pura sakit agar keberangkatannya di undur lagi.
Ya.. Hihi... Sepertinya itu ide bagus. Batin Zahwa. Dan ia mulai menyusun rencananya.
******
Sampai waktunya makan siang, mereka makan bersama di ruang makan.
Ketika selesai makan, Zahwa memulai dramanya, ia mengeluhkan sakit kepala dan terus memijit keningnya. Seketika saja Bayu panik dan segera membawa Zahwa ke kamar. Zahwa dibaringkan di sana.
Bayu membeli kepala Zahwa dengan lembut, wajah Zahwa terlihat pucat, pandai sekali Zahwa bersandiwara.
"Sayang, kok bisa sih sampai sakit kepala,, kamu mikirin apa sih hm? Aku kan udah bilang jangan banyak fikiran lah..begini kan jadinya,, aku panggilkan dokter ya"
"Eee.. Jangan,, jangan gausah.. A bayu aja obatin Zahwa, temani Zahwa disini." pintanya.
Bayu tersenyum
"Baiklah sayang.. Kamu mau apa, biar a Bayu siapkan"
"Peluk" ucapnya dengan manja sambil men
Bayu tidak bisa menolaknya, akhirnya ia ikut berbaring di sana dan memeluk Zahwa, sambil menghibur dan bercanda dengannya.
Sikap Bayu yang dewasa telah membuat Zahwa semakin enggan untuk meninggalkannya. Begitu juga Bayu, ia sangat mencintai istrinya itu, karena sikapnya sangat manja dan menggemaskan, sampai dia tidak ingin jauh darinya. Tapi keadaan menuntut untuk berpisah sementara.
"Hei sepertinya kamu tidak sakit" ucap Bayu. Karena Zahwa terlihat ceria saat itu
"Aku sakit a,,inii kepalaku,, aww" zahwa hampir saja lupa kalau dia sedang bersandiwara.
"Oo baiklah.. Baiklah.. Istriku sedang sakit.. Ummhhh kacian sekali" ucapnya, Bayu menggoda Zahwa dengan manja. Ia merasa bahwa Zahwa hanya pura pura.
Beberapa saat kemudian..
"Cantik.. Kita ke rumah ibu sebentar yuk" ajak Bayu
"Ayo.. Aku kangen sama ibu.. Udah lama gak ketemu.. Hehe". Zahwa menyetujuinya dengan semangat
"E tunggu, kepalanya masih sakit?"
"Mm..sedikit sih.. Tapi aku mau ketemu ibu Lidya dulu.. Ayo"
Bayu tersenyum melihat tingkah Zahwa yang seketika bersemangat sekali
"Ya sudah ayo kita berangkat".
Mereka beranjat dari tempat tidur segera berganti pakaian dan siap siap berangkat ke Rumah Lidya.
******
Briand
Dia tengah keluar dari gerbang sekolahnya dengan mengendarai mobil sendiri.
Mika sedang berjalan sendiri di tepi jalan, tiba tiba ada sebuah ojol lewat dan tidak sengaja menyerempet Mikha dari belakang
Brukkk...
seketika Mikha jatuh di sana dan kesakitan. Namun ojol itu malah pergi, tidak bertanggung jawab.
Briand membelalakan matanya karena melihat adegan itu. Dengan cepat ia berhentikan mobilnya di samping mika, ia turun dan menghampiri Mikha, ia melihat pergelangan kaki mika lebam.
"Woyyy..... " Briand berusaha memanggil ojol yang kabur itu. Namun sudah terlanjur jauh
"Ya Allah,, lo gapapa Mik?" tanya Briand, ia berjongkok di sana
"Gapapa gimana, lihat tuh kaki gue sakit" ucapnya dengan sedikit membentak sambil meringis kesakitan.
Gila ni cewe,, galak banget lagi kesakitan juga. Batin Briand
"Ya sudah sini gue bantu" Briand meraih tangan Mikha, hendak menolongnya. Namun Mikha malah menolaknya dan mengibaskan tangannya
"Gak usah! Dan jangan pegang-pegang gue! Gue bisa sendiri!"
ucapnya dengan jutek
"Gue cuma mau bantu lo!"
__ADS_1
"Coba, coba lo berdiri bisa gak?"
Ucap Briand, ia berdiri dan menyilangkan tangannya di dada. Ingin melihat apa Mikha bisa melakukannya
Mikha berusaha berdiri, namun sepertinya lukanya cukup parah dan terjatuh berkali-kali karena tidak sanggup berdiri.
Ahhh sial.. Batinnya
Kemudian Briand tersenyum tipis sambil memalingkan wajahnya.
"Nah gak bisa kan? Makanya jangan so jual mahal kalo ada yang mau nolong.. Udah sini,, gue bantu lo"
Ucap Briand dan ia menggendong Mikha dan memasukannya ke dalam mobil.
Seketika Mikha ngamuk karena tanpa seijinnya Briand menggendong dirinya. Ia memukul mukul Briand.
"Turunin gue! Ngapain lo main gendong gendong aja hah?" ucapnya dengan kesal dan melotot pada Briand
"Heh lo mau bawa gue kemana?"
Mika sudah duduk di kursi dan Briand siap mengemudi.
"Brisik banget sih lo Mik!! udah diem!! Gue anter lo ke rumah!" ucapnya
Kemudian ia mendekati mika, hendak meraih sabuk pengaman
"Ngapain Lo!!! Mau apa Lo!!". Mikha membelalakan matanya karena curiga pada Briand
"Ck.. Gue cuma mau pasangin sabuk pengaman buat lo, ****!"
"Gue juga bisa sendiri.. Sana! " Mikha mendorong tubuh Briand.
"Satu lagi ya! Jangan deket deket ama gue!". Ucapnya sambil memasangkan sabuk pengaman dengan gusar.
"Siapa juga yang mau deket deket sama cewek pampir kayak lo!!". Ucap Briand meledek
"Heh bisa gak sih lo gak ngata ngatain gue terus.. Rese banget sih.. Kalo gak ikhlas nolong gue ya gapapa.. Gue turun!!" ucapnya dan ia hendak membuka kembali pintu mobilnya.
"Eee jangan.. Jangan.. Yaudah oke sorri. Gua anter Lo pulang,, tapi sebelumnya kita ke rs dulu ya?"
Briand dengan cepat mengemudi.
"Gak usah.. Langsung ke rumah aja, emangnya lo punya duit apa, mau bawa gue ke rs..?"
"Heii mik,, duit gue banyak, sembarangan lo mengira gue gak punya duit apa?"
"Cihh.. Duit orang tua lo!"
"Heh gue punya duit sendiri tau.. Gue gak pernah minta sama ayah ibu!"
"Serah lo!!" Mikha tidak percaya
Briand tersenyum tipis
Pesawat mainan maksudnya.. Wkwkwkwk.. Batin Briand. Ia tertawa dalam hati.
Mikha menatap Briand sekilas
"Songong banget sih lo"
Selama perjalanan Mikha terus diajak ngobrol sama Briand, sampai hal gak penting juga ia bahas. Itu membuat Mikha risih dan tidak nyaman. Sengaja Briand ingin banyak tau tentang Mikha, namun Mikha masih saja jutek seolah tidak suka pada Briand.
Sampainya mobil di halaman rumah Mikha, Briand membukakan pintu mobil buat Mikha, dan hendak memapah Mikha, Mikha kembali menolaknya.
"Ayo" ucap Briand,ia meraih bahu Mikha
"Lepasin gue!"
" Bi inaaaa... Bi inaaaa.... " teriak Mikha pada art di rumahnya.
Briand memutar matanya, karena Mikha keras kepala banget mau di tolong juga
Sampai beberapa kali dipanggil bi ina tidak muncul juga.
"Berisik banget Mikha, mungkin bi ina nya gak ada di rumah.. Udah sini gue bantu" ucapnya.
Akhirnya Mikha pasrah dan ia turun dipapah oleh Briand, meski dengan raut wajah kesal pada Briand.
Sesampainya di dalam, ayahnya Mikha keluar dari kamarnya dan melihat Mikha tengah dipapah oleh Briand.
"Lho Mikha kamu kenapa?" tanya aryo, ayahnya Mikha.
"Mikha di serempet motor om" jelas Briand.
Mikha hanya meringis kesakitan.
"Untung ada saya om, Mikha seneng banget di tolong sama saya" ucapnya dengan percaya diri.
"Heh resek banget sih lo Bray!!! Kata siapa gue seneng di tolong ama lo!" ucap Mikha, ia melepaskan dirinya dari Briand. Dan bi ina sudah ada di sana menolong Mikha.
Briand hanya tersenyum pada Mikha.
"Mikha!! Kamu gak boleh bicara seperti itu, harusnya kamu berterima kasih sama Briand!" ayahnya Mikha sedikit membentak
"Ogah yah, cowok resek.. Pulang sana!" ucap Mikha kembali jutek, ia segera pergi ke kamarnya dipapah sama bi ina.
"Mikha!!!" bentak ayahnya.
Namun Mikha tidak peduli dan berlalu dari sana
__ADS_1
Briand dan aryo hanya menatap punggung Mika
"Sudah om gapapa,, Mikha memang begitu ya,, gengsian.. Tapi asik loh om.. Hehe" ucap Briand
Aryo menghela nafas panjang sambil membetulkan kacamatanya.
"Maafkan Mikha ya Briand"
"Santai saja om"
"Ayo duduk dulu"
Mereka duduk di sofa ruang tamu dan mengobrol ringan di sana.
"Sebelumnya om berterima kasih kamu sudah menolong Mikha"
"Iya sama sama om,, santai saja, saya senang kok membantu dia, yaa walau dia itu jutek banget kalo di tanya..kenapa ya om? Emangnya saya kurang tampan?apa gimana? Heran saya" tanya Briand
Aryo tersenyum
"Kamu sudah tampan Briand, ya mungkin Mikha nya saja yang gengsian,, dia gak pernah bawa teman laki laki ke rumah, baru kamu lho yang pertama kali antar Mikha ke sini, yaa walau ini hanya kebetulan karena kamu menolongnya"
"Oo begitu ya om.. "
Briand tersenyum menyeringai
"O ya om,maaf nih ya Briand banyak nanya, tapi Briand penasaran aja.. kenapa dia itu pendiam banget tapi kalo bicara bisa galak,, apalagi sama saya?"
"Ntahlah Briand,, dia memang tidak banyak bicara di rumah juga" ucap Aryo terlihat murung mengingat Mikha.
"Emm,, o ya ibunya Mikha ke mana om?"
Aryo menatap Briand, karena Briand menanyakan soal ibunya Mikha, dengan berat Aryo menjawab
"Mikha tidak pernah mendapat kasih sayang mamahnya, Bray.. Sejak bayi saya yang urus"
Briand kaget
"Apa begitu om? kemana mamahnya? Apa sudah meninggal?"
"Ibunya masih ada,, ia menikah lagi, dan tinggal di inggris dengan suaminya. Ya kita bercerai karena kesalahan saya sebenarnya.. Saya sangat menyesal"
"Sabar lah om.."
Hening
"Ya mungkin memang, Mikha kurang sentuhan ibunya, tapi apa ibunya tidak menanyakan kabar Mikha atau semacamnya gitu om? "
"Tidak pernah Bray"
Briand menghela nafas, ia merasa iba mendengar tentang Mikha.
"Om,, kenapa tidak nikah lagi saja, supaya Mikha ada yang perhatian"
"Saya tidak pernah berfikiran ke sana Briand, saya takut menyakiti istri saya lagi nanti"
"Jangan begitu lah om, om harus belajar dari kesalahan, yang lalu biar menjadi pelajaran dan sekarang berfikir bagaimana caranya untuk membahagiakan pasangan dan berubah.. Hehe.. Maaf ya om saya jadi banyak bicara"
"Ah tidak apa,, kamu memang benar Briand"
"Iya om, siapa tau Mikha bisa menjadi wanita yang lembut dan bersikap layaknya wanita biasa jika ada ibu yang mendampinginya. Dia itu cantik loh om.. Hihi"
Aryo tersenyum
"Baiklah Briand, terima kasih sarannya.. Akan saya pikirkan soal menikah lagi.."
"O ya.. Apa kamu menyukai Mikha?"
Briand menggaruk kepala
"Gak tau ya om.. Saya juga bingung. Saya cuma penasaran aja sama Mikha, karena dia unik dan berbeda dari wanita lain. Hehe"
"Tapi om setuju jika kamu suka sama Mikha"
"Yang benar om? Saya tidak mau berharap sama Mikha, saya ingin dia yang mengejar ngejar saya om.. Hahaha"
"Akan saya pastikan Mikha menyukaimu juga. Kamu jangan menyerah untuk mendapatkan Mikha oke"
Briand tidak menyangka mendapat sinyal bagus dari Aryo.
"Wah baiklah om,, terima kasih dukungannya"
"Sama sama".
Sepertinya Aryo sangat setuju jika Mikha dengan Briand. Ya semoga saja
"Ayahhhh..... " teriak Mikha memanggil Aryo dari kamarnya
"Sebentar mik.. "
"mmm.. Saya pulang dulu ya om.. Sepertinya Mikha lagi butuh om.. Semoga lekas sembuh Mikha nya"
"Oh,, iya Briand.. Hati hati di jalan ya"
"Iya om,, assalamu'alaikum"
Briand menyalami om Aryo
"Waalaikumussalam". Jawabnya dengan senyuman
__ADS_1
Briand beranjak dari sana dan pulang menuju rumahnya.
Mereka sangat akrab sekali setelah bertemu waktu pernikahan Bayu dan Zahwa