Cinta Sesudah Menikah

Cinta Sesudah Menikah
Kejadian tak terduga


__ADS_3

Pagi harinya Luna mengajak Boy ke suatu tempat, disana pemandangan nya sangat bagus. Tempatnya berada di kaki gunung gadung. Di sana mereka berhenti di sebuah bukit dan menikmati pemandangan sejauh mata memandang, meskipun pemandangannya sebagian masih tertutup kabut pagi. Tidak lupa mereka membekal banyak makanan dan cemilan.


Boy dan Willy kembali dibuat terpana dengan pemandangan di sana. Rasanya mereka ingin teriak melepas kepenatan.



😄😄😄


"Nona, apa boleh saya teriak di sini? " tanya Willy


"Oh boleh kak Will, silahkan saja" ucap Luna


Kemudian Willy teriak dengan sekeras kerasnya dan setelah itu ia tertawa puas dibuatnya.


"Eh berisik kau Will!!! " ucap Boy protes dia


"Hah.. Asik sekali Bos.. Hahaha"


"Terserah kau saja.. "


"Kau juga harus mencobanya Bos,, "


"Ogah.. Berisik tau"


Tapi Willy kembali berteriak sampai puas..


Tidak lupa Luna membawa panahan. Ntah kenapa, Luna sangat terobsesi sekali dan ingin sekali memanah di sana.


"Neng kamu kemana mana bawa panahan, emangnya mau memanah apa hm? Burung? " tanya Boy


"Ih a,, masa manah burung,, bukanlah.. Kasian burung itu mahluk Allah dan berhak hidup mereka.. Aku mau memanah itu tuh.. "


Luna menunjuk sebuah buah pinus yang berada di ranting atas ujung pohon pinusnya. Sambil ia mengarahkan busur panahnya ke sana.


Di bukit itu banyak pohon pinus dan Luna memanah buah buah pinus di sana


"Mana sayang" Boy melirik lirik ke atas pohon mencari sasaran yang Luna tunjuk


"Itu a.. " Luna menunjuk dengan anak panahnya


"Aku gak melihatnya" ucap Boy.. Kemudian ia menempelkan pipinya di pipi Luna sambil memeluk dari belakang Luna yang tengah membidik sasaran.


Luna melirik Boy sekilas dan tersenyum


"Modus ya kamu, nyari nyari kesempatan " ucap Luna.


"Ya kan biar kelihatan apa yang kamu bidik itu" alasan Boy dengan senyum genitnya. Benar saja tebakan Luna, Boy hanya mencari kesempatan untuk memeluknya


"Oke kamu lihat ya.. Aku akan memanahnya"


"Satu... Dua... Tiga..." shoott...anak Panah melesat pas mengenai buah pinus dan terjatuh ke bawah. Kemudian Luna mengambilnya dari balik semak semak..


"Taraaa.... Ini dia.. Hehehe" Luna memperlihatkan buah pinus yang menancap di panahnya itu.


"Hebat kamu sayang" puji Boy.


Kemudian Luna asik sendiri memanah sedangkan Boy dan Willy mengobrol berdua di sana sambil ngopi dan ngemil. Tidak lupa Willy selalu membawa laptopnya, menunggu informasi dari asistennya dari kantor. Meskipun sudah ada Lidya yang memantau di sana, tapi Willy tetap harus on setiap waktu.


Mereka membawa kursi lipat untuk duduk mereka, dan pengawal memanyungi dengan payung karena matahari mulai menampakan sinarnya dan panas mulai menyengat pagi itu.


"Sayang,, a.. Aku mau ke sebelah sana ya" Luna menunjuk ke tempat yang lebih rindang pepohonan di sana, tapi banyak sekali semak belukar di sana.


Boy melihatnya saja terkidik.


"Janganlah,, takutnya nanti ada binatang buas di sana.. Bahaya.. Udah di sini aja! " ucap Boy


"Ayo lah.. Aku kenal sekali tempat ini.. Tidak ada binatang buas di sini".


"Sayang.. Itu tempatnya mengerikan sekali.. "


"Nggak ko, boleh dong. Sebentar saja.. Aku ingin ke sana"


Luna terus merengek


"Nggak boleh! " tegas Boy.


"Jahat banget sih, aku janji cuma sebentar saja oke.. Kamu tau gak ini tuh tempat bermain aku dari dulu, di sana ada kebun punya mak Rani juga. Yah.. Yahh.. Boleh yaa"


Luna merengek sambil mengguncang tangan Boy seraya memohon. Boy hanya diam saja, ia fokus pada laptop yang tengah di pegang Willy. Kala itu Willy tengah terhubung langsung dengan asistennya.

__ADS_1


"A Boy... "


"A Boy.. "


Luna terus merengek..


"Hmm" sahut Boy


"Boleh ya sayang aku ke sana sebentar" Luna tersenyum genit sambil mengedipkan matanya pada Boy agar diijinkan. Boy melirik Luna dan tersenyum


"Oke lah sayang,,, berisik kamu merengek terus.. Hati hati ya, dan sebentar saja oke" ucap Boy.


"Aaaa.. Terimakasih suamiku.. Oke siap cuma sebentar kok"


Luna senang sekali. Kemudian ia mencium tangan Boy dan pergi ke tempat yang di tuju. Boy memperhatikan Luna yang tengah berjalan ke sana, Luna terus melirik ke arah Boy seraya tersenyum dari balik cadar hitamnya.. Ntah kenapa Luna tampak berbeda hari itu. Dan Boy merasakan ada yang aneh dengan perasaannya.. Ia seketika takut kehilangan. Kemudian Boy menyuruh satu pengawal nya mengikuti Luna. Dan pengawal itupun mengikuti Luna.


Beberapa menit kemudian Luna berada di tempat yang di tuju. Ia asik memanah di sana. Luna membawa anak panah beberapa yang diletakan di punggungnya. Luna memanah ke atas pohon, mencari sasaran yang menurutnya menarik.


Tiba tiba ada suara auman binatang, seperti auman harimau.. Luna melihat ke sekeliling tapi tidak ia dapati hewan buas apapun karena semak belukar dan ilalang yang tingginya sampai pusar Luna, hanya ada belalang dan burung kecil yang ia dapati di sana.


Ah itu mungkin hanya perasaan ku saja. Batin Luna. Ia kembali fokus memanah dan melesatkan panah tersebut ke ranting pohon.


Tiba tiba suara itu kembali terdengar, kali ini Luna mendengarnya dengan jelas, yang tak lain itu adalah suara harimau.. Ia mulai merasa ketakutan. Dan terus mencari ke sekeliling..


Sementara di tempat Boy. Rani dan warga nampak tergesa gesa menghampiri Boy di sana, dengan nafas ngosngosan Rani sampai di dekat Boy bersama warga yang sengaja Rani ajak ke sana.


"Lhoh mah ada apa ini? " tanya Boy kuatir, karena Rani nampak gelisah


"Nak,, kalian ngapain ke sini dan tidak bilang bilang sama emak? " tanya Rani dengan nada sedikit tegas.


Luna tidak bilang bilang akan ke bukit itu pada Rani, karena pagi itu Rani sudah berangkat ke ladang mengantar makanan untuk pegawainya yang sedang bertani di sana.


"Mana si neng? Di sini bahaya nak"


"Iya kang.. Akhir akhir ini sering ada maung turun ke sini dari gunung gadung itu. Sudah banyak warga yang jadi korban" ucap salah seorang warga..


"Apa?? " Boy kaget dan membelalakan matanya.


"Lun,, luna luna di sana Mah" Boy menunjuk ke sebuah tempat yang di datangi Luna.


Seketika itu juga terdengar teriakan dari arah sana


"Aaaaaaaaaa....................... " tak lain adalah suara Luna.. Menggelegar karena Luna mendapati dua ekor harimau di hadapannya yang siap menerkam. Dengan badan gemetar Luna hendak memanah harimau itu, tapi sayang panahnya telah habis di lesatkan olehnya. Kemudian Luna mundur pelan pelan, ia menangis sejadi jadinya karena takut, dan harimau itu semakin mendekatinya. Ketika mendengar teriakan Luna, pengawal yang mengikutinya dari kejauhan langsung menghampiri Luna dan ia dapati harimau itu tengah siap menerkam Luna,


Pengawal dan harimau itu bergulat di sana, untungnya ia membawa pisau belati dan melawan harimau kelaparan itu dengan belatinya sampai harimau itu mati karena tusukan dan sayatan yang dilakukan pengawal itu, sayangnya pengawal itu juga terkena cakaran dan membuatnya berdarah darah dan menggelepar di sana


Rani dan Boy juga yang lainnya segera lari ke arah teriakan, sampai beberapa meter mereka sampai di tempat itu. Mereka dapati pengawal itu tengah kritis karena mengeluarkan banyak darah, serta harimau di sisinya sudah mati mengenaskan


Boy panik dan ia menangis teringat keadaan Luna yang tidak ada disana. Semua orang di sana ikut panik dan segera menolong pengawal itu. Mereka terus berishtighfar menyebut nama Allah


"Di mana Luna??...... " tanya Boy pada pengawal itu.


Pengawal itu menunjuk ke arah dimana Luna berlari


"Ha.. Ri... Mau" ucapnya dengan terpotong potong.


"Aaaa........ " teriak Boy. Ia sudah berfikir bahwa Luna di kejar harimau yang lain.


Rani ikut histeris dibuatnya, dia kuatir dengan keadaan Luna. Tubuhnya terkulai seketika


Pengawal yang lain langsung menggotong pengawal yang kritis itu, mereka membawanya ke puskesmas di bantu warga juga. Untunglah mereka ke sana membawa mobil, hingga cepat pengawal yang tadi di bawa ke puskesmasnya.


Sementara Boy dengan yang lain mencari Luna, menyusuri hutan itu. Sambil teriak memanggil Luna. Mereka dibagi beberapa kelompok. Takutnya ada banyak harimau di sana jika seorang seorang yang menyusuri hutan itu.


"Lunaa.... Kamu di mana sayang... " teriak Boy sambil terus menangis. Ia membawa pemukul untuk berjaga jaga. Ia bersama Willy dan Rani juga beberapa pengawal dan warga.


"Nona.... " teriak Willy


"Neng... Ya Allah. Nakk... Kamu di mana" Rani histeris karena takut Luna kenapa kenapa.


*****


Sementara Luna di suatu tempat terus berlari karena harimau terus mengejarnya.. Ya Allah, aku pasrahkan hidupku,, jika aku harus mati. Matikanlah aku dalam keadaan husnul khotimah. Batinnya. Ia terus membaca doa sambil berlari ke sembarang arah.. Auman harimau itu semakin mendekat. Luna melempar benda yang ia pegang untuk mengusir harimau itu, tapi tetap saja harimau kelaparan itu masih mengejar Luna. Luna terus berlari dengan cepat Sampai beberapa ratus meter Luna terus menyusuri hutan yang lebat itu karena semak belukar dan ilalang yang tinggi membuatnya tidak memperhatikan arah. Sampai wajah Luna terkena ranting pohon yang tajam dan membuat cadarnya tersangkut di ranting tersebut dan wajahnya tergores sampai terluka.


Sampai akhirnya Luna sampai di suatu lembah yang curam..ia tidak dapati tempat untuk berlari, karena harimau mendekat dan siap meloncat menerkam Luna. Luna memegangi wajahnya yang sakit dan kakinya juga terluka karena menginjak batang pohon yang berserakan di bawah dan duri duri tajam banyak sekali di sana. Bajunya pun sobek sobek terkena kaitan duri dan ranting pohon


Luna mundur dengan pelan mendekati jurang itu, ia tidak ada pilihan lain selain meloncat. Dengan tubuh gemetar dan ketakutan.


Tanpa menunggu lama harimau itu loncat dan hendak menerkam Luna, seketika Luna juga meloncat ke arah samping dan di sana terdapat pohon yang menempel di tepi jurang, Luna bergelayut di sana. Sementara harimau itu jatuh ke jurang yang di pastikan ia mati karena saking tingginya dan di bawah itu banyak sekali bebatuan.

__ADS_1


Luna berusaha sekuat tenaga berpegangan pada pohon itu. Sampai akhirnya ia ada tenaga dan naik kembali ke atas, dan besyukurnya ia selamat dari sana. Tapi kini ia bingung harus pergi ke arah mana.


Ia ingin teriak. Namun suaranya tidak sanggup berteriak, karena lemas dan membawa tubuhnya saja sangat berat. Luna berjalan dengan tertatih tatih. Ia terus berjalan sambil menahan sakit ia menyesal tidak mendengarkan Boy. Ia sangat merindukan Boy, ia ketakutan di sana. Ia terus menyusuri hutan sambil meringis dan menangis... Luna berjalan tidak memperhatikan jalan, hingga akhirnya ia terperosok ke sebuah sumur tua yang kering yang letaknya agak jauh dari tepi jurang, karena terhalang oleh rumput yang menjalar di atas sumur itu dan membuat Luna terjatuh ke dalam yang tingginya sekitar tujuh meter, sampai ia tidak sadarkan diri di dalamnya. Ukuran sumur itu cukup lebar sekitar dua meter lebarnya. Kemudian atasnya sumur itu kembali tertutup oleh rumput menjalar itu.


"Lunaa...... "Teriak Boy. Tidak hentinya ia terus berteriak memanggil Luna. Sampai suaranya serak.. Ia sangat menyesali kenapa ia tadi tidak menemani Luna.


Ia prustasi dengan keadaan itu, Boy pergi dulu ke atas bukit mencari keberadaan Luna dari sana, tapi tidak ada tanda tanda Luna dari sana.



Boy turun lagi ke bawah, Mereka melihat jejak, cukup jauh ternyata Luna berlari. Mereka mengikuti ilalang yang tertelungkup karena hasil pijakan orang yang melewati tempat itu, yang dipastikan itu jejak Luna.


Sampai sore, mereka tidak juga mendapati Luna. Dan akhirnya Willy memerintahkan pengawal agar memanggil tim sar. Beberapa jam kemudian tim sar datang dengan membawa anjing pelacak ke sana.


Willy berdiskusi dengan tim sar dan mereka bersama mencari Luna. Boy hanya menangis dan terus menangis begitu juga Rani.


"Bos, istirahat dulu lah di sini" ucap Willy. Ia merasa lelah karena beberapa ratus meter mereka berjalan.


"Apa Will???... Tidak bisa.. Luna harus ketemu dalam keadaan hidup!!!... " ucap Boy, ia nampak prustasi dengan keadaan itu.


"Baik,, baiklah Bos". Ucap Willy.


Rani menangis dan terus memanggil Luna


Mereka melanjutkan perjalanan bersama tim sar, sampai malam hari tiba Luna belum juga di temukan.


Tim sar yang berjalan di depan mendapatkan beberapa petunjuk, mereka mendapatkan sendal dan cadar Luna, juga darah yang tergores di ranting pohon. Mereka menyerahkan benda itu pada Boy. Semakin histeris Boy dibuatnya. Apa Luna telah tewas atau tidak masih menjadi tanda tanya bagi mereka.


Sampailah mereka di tepi jurang, senter menyorot ke bawah, memastikan apa luna terjatuh atau tidak. Mereka kaget melihat harimau yang menggelepar di bawah sana, sepertinya mati, pikir mereka. setelah memeriksa ke bawah dengan turun menggunakan tali, tim sar mereka tidak dapati Luna di sana.


"Tuan sebaiknya kita kembali lagi, menacari ke arah lain" ucap salah seorang tim sar.


"Pak apa anda yakin nona luna tidak terjatuh ke bawah? " tanya Willy


"Saya yakin, nona tidak jatuh ke bawah, karena hanya ada harimau yang tergeletak di atas batu di bawah" ucapnya


"Cari Luna sampai ketemu pak..! " ucap Boy dengan lirih. Ia nampak kelelahan dan lemas tubuhnya.


"Baik tuan, akan kami usahakan"


Anjing pelacak mencium bau darah yang tergoreskan oleh kaki Luna ke tanah dan dedaunan kering. Anjing itu mengikuti bau itu diikuti tim sar. Seorang warga yang ikut bersama rombongan itu teringat bahwa di dekat sana ada sumur kering. Dan ia memberitahukan kepada mereka, segera mereka pergi ke arah sana bersama anjing itu yang ternyata ia mencium bau darah itu menuju sumur yang dimaksud.


Sampailah mereka di sana, anjing menggonggong menandakan bahwa korban ada di sana. Segera tim sar mengibaskan rerumputan yang menjalar di atas sumur itu. Dan benar saja,setelah di senter ada Luna yang tergeletak tidak sadarkan diri di bawah sana.


Boy melihatnya, ia kembali histeris..


Begitu juga Rani.. Mereka tidak kuasa menahan kesedihan, melihat keadaan Luna.


"Lunaaa... Sayang.. Bertahanlah kamu sayang.... " ucap Boy ia menangis sejadi jadinya.


"Cepat..!!! Tolong Luna.. " teriak Boy. Pada tim sar.


Tim sar dengan sigap menyiapkan tali dan membawa alat untuk mengangkat Luna nantinya ke atas.


Boy sendiri ikut turun ke bawah bersama satu orang tim sar. Boy tidak mau Luna di sentuh oleh orang lain.


Sampailah Boy di dasar sumur. Ia melihat wajah Luna yang terluka dan sudah pucat. Boy menangis karena keadaan Luna yang mengenaskan, ia memeluk dan memeriksa denyut nadinya, Luna masih hidup. boy langsung Menidurkan Luna ke keranjang evakuasi dan mengikatnya,


Kemudian Luna di tarik ke atas dengan hati hati oleh mereka yang berada di atas. Kemudian Boy dan tim sar yang di bawah juga naik.


Sesampainya di atas, Rani tidak kuasa menahan tangis melihat keadaan Luna. Boy terus memeluk Luna yang tidak sadarkan diri itu


"Bangun sayang... Bangun sayang... Ini aku suamimu.. Maafkan aku sayang.. Seandainya tadi aku mencegahmu pergi.. Mungkin kamu tidak akan seperti ini" Boy terus menyesali keadaan.


Karena Luna sudah di temukan, sampai akhirnya warga menemui lokasi ditemukannya Luna. Mereka ikut prihatin.


Boy melihat sekitar. Entah dari mana ada kamera yang menyorot wajah Luna dengan kemera yang di bawa oleh wartawan, mungkin ia ikut bersama tim sar dari kota.


Kemudian Willy membanting kamera itu


"Jangan sampai kau sebarkan berita ini ke media!!! " tegas Willy pada sang wartawan itu.


Wartawan itu kaget dan ia nurut saja pada Willy. Akhirnya ia tidak dapati berita yang hebat itu.


"Kubur sumur ini malam ini juga!!! " tegas Boy. Ia takut ada orang lain menjadi korban yang jatuh selanjutnya ke dasar sumur.


"Baik"


"Baik tuan"

__ADS_1


Ucap warga.mereka bergotong royong mengubur sumur itu dengan tanah.


Sementara Boy menggendong Luna kembali ke tempat dimana mereka singgah sebelumnya. Luna di bawa oleh mobil ambulan menuju rumah sakit.


__ADS_2