
Hari sudah berganti..
Pagi hari itu masih terasa dingin merasuk ke dalam tubuh orang yang tengah tertidur nyenyak, tapi karena sudah terbiasa bangun lebih awal, rasa dingin tidak akan menjadi halangan untuk Boy, ia bangun lebih dulu dan ia melihat Luna masih tertidur pulas di pelukannya. Ya terkadang Luna yang bangun duluan atau Boy.
Boy melepas pelukannya dengan pelan dan ia bergegas untuk mandi wajib pagi itu. Waktu menunjukan pukul tiga pagi hari. Selepas mandi Boy memakai baju koko, sarung dan pecinya, udah kayak ustadz aja gitu, kemudian sholat tahajud beberapa rakaat dan berdoa. Ia sengaja tidak membangunkan Luna, karena Luna terlihat nyenyak dan Boy enggan membangunkannya.
Kemudian Boy pergi ke rumah belakang menemui pelayan. Entah apa yang ia bicarakan dengan pelayan. Dan pelayan hanya menuruti tugas dari Boy itu.
Boy kembali lagi ke kamarnya dan ia melihat Luna sudah terbangun dan masih di tempat tidur.
"Sayang sudah bangun" tanya Boy seraya tersenyum
Dan duduk di samping Luna
"Ia ka, aku terbangun karena a Boy tidak ada di sini, habis dari mana? "
"Aku habis dari dapur. Minum.. Hehe"
"Oohh.. Oh iya aku lupa siapin air minum ya tadi malam. Maaf ya"..
"Gapapa sayang... "
Luna tersenyum, tapi kelihatannya masih ngantuk, ia merebahkan kembali tubuhnya ke kasur. Karena ia tidur tadi pukul satu dini hari karena Boy pulang kerja jam segitu, terus ia melayani Boy hingga akhirnya tertidur dan bangun tadi jam setengah empat tadi
"Sayang masih ngantuk ya"
"Hmm" jawab Luna.
"Bangun dong, bentar lagi adzan lho. "
"Lima menit lagi boleh ya"
"Hei segera mandi lah, nanti setelah subuh kita berangkat ke kampung halamanmu, katanya mau berkunjung ke sana. Ayoo"".
Seketika Luna membelalakan matanya dan gerubug langsung bangun.
"Apa?? Setelah subuh? Pagi ini? " tanya Luna
"Iyaa sayang" Boy tersenyum melihat ekspresi Luna.
"Kok mendadak banget sii. Aku kan belum siap siap"
"Siap siapnya sekarang.. Mau aku undur lagi waktunya? "
"Ya jangan dong.. Oke Luna bangun sekarang.. Yeeee... Aku akan pulkam... Tunggu aku ayah mamah... Aku kangen kaliaaan.. " ucapnya dengan semangat dan bahagia seperti anak kecil yang mendapat uang jajan tambahan dari ibunya..
__ADS_1
"Terima kasih suamiku.. Muah muah... " Luna melingkarkan tangannya ke belakang pundak Boy dan mencium kedua pipinya.
Boy tertawa dan membalas ciuman istrinya itu.
Kemudian Luna bergegas mandi . setelah selesai ia berpakaian dan setelah itu ia menyiapkan pakaiannya dan juga pakaian Boy untuk di bawanya ke kampung nanti. Boy hanya memperhatikan tingkah Luna yang gelagapan karena diburu waktu. Luna takut ada yang tertinggal keperluan suaminya nanti.. Sampai beberapa menit kemudian ia selesai dan adzan subuh berkumandang. Mereka sholat berjamaah dulu kemudian tidak lama Willy datang menjemput, willy selalu di bawa ke manapun Bos nya pergi.. Willy pagi itu masih terlihat mengantuk karena pulang kerja bareng dengan Boy, dan sepagi itu sudah harus siap di rumahnya Boy. Karena kantuk, willy tidak memungkinkan baginya untuk menyetir. Hingga akhirnya Willy nanti di mobil duduk di depan Bersama supir dan Boy di belakang bersama Luna.
Boy dan Luna sudah siap berangkat, mereka pamit pada Lidya dan adik adiknya.
"Kak Boy kamu hati hati ya, jaga istrimu baik baik, " ucap Lidya dengan perhatiannya.
"Iya ibu"
"Kak Boy, Biy mau ikut, tapi Biy lagi ujian hmmm" Biy cemberut..
"Kapan kapan ya sayang.. Kakak akan ajak kamu di lain kesempatan" ucap Boy sambil ia menekuk lututnya ke lantai dan berbicara pada Bianka.
Bianka hanya manyun dan mengangguk meski berat.
"Hati hati ya kak, wah kapan kapan Briand juga harus berkunjung ke kampungnya kak Luna" ucap Briand basa basi
"Tentu lah dek, kamu akan betah jika sudah berada di sana" ucap Luna dengan senyum di balik cadarnya.
"Hmm iya kak, semoga begitu., " ucapnya sambil tersenyum pula
"Assalamualaikum"
"Waalaikumsalam " jawab mereka.
Lalu Boy dan Luna masuk ke dalam mobil dan siap untuk berangkat.
"Baiklah sekarang kita baca doa dulu.. Semoga selamat sampai tujuan.. Aamiin.. Kita baca doa bareng bareng ya. Bismillahirrohmaanirrohim
سُبْحَانَ الَّذِىْ سَخَّرَلَنَا هَذَا وَمَاكُنَّالَهُ مُقْرِنِيْنَ وَاِنَّآ اِلَى رَبِّنَا لَمُنْقَلِبُوْنَ Subhaanalladzii sakkhoro lanaa hadza wama kunna lahu muqriniin wa-inna ilaa rabbina lamunqalibuun.
Maha suci Allah yang telah menundukkan untuk kami (kendaraan) ini. padahal sebelumnya kami tidak mampu untuk menguasainya, dan hanya
kepada-Mu lah kami akan kembali ”
Semua yang ada di dalam mobil mengikuti Luna dan mengucap amin. Kemudian supir segera mengemudi meninggalkan kediaman Boy, menyusuri jalanan yang masih agak gelap pagi itu.
Luna di belakang nampak sumringah, ia tidak hentinya tebarkan senyuman pada Boy yang berada di sampingnya. Kejutan pagi ini sungguh membuatnya bahagia.
Sepanjang perjalanan Luna mengisinya dengan banyak bercerita di dalam mobil.
"Suamiku, aku ingin menceritakan sebuah kisah boleh ya"
__ADS_1
"Tentu sayang,, silahkan" ucap Boy dengan senang hati Willy dan sang supir juga mendengarkan dengan seksama.
"Kisah perjalanan Baginda Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam ke thaif
Selama sembilan tahun, sejak masa kerasulan, Baginda Nabi Muhammad saw telah berusaha menyampaikan ajaran islam dan mengusahakan hidayah serta perbaikan kaumnya di mekkah. Namun, kebanyakan orang orang mekkah selalu menyakiti, memperolok olok, dan berbuat semena mena terhadap Baginda Nabi muhammad SAW dan para sahabat, kecuali kelompok kecil orang yang sudah masuk islam.
Paman baginda Nabi Muhammad SAW , Abu Thalib, termasuk orang yang baik hatinya, meskipun belum masuk islam. Dia selalu membantu Baginda Nabi Muhammad saw dalam segala bentuk. Pada tahun ke sepuluh kenabian, ketika Abu Thalib meninggal dunia, kaum kafir mendapat kesempatan untuk mencegah perkembangan islam dan menyakiti kaum muslimin secara lebih leluasa.
Baginda Rasulullah Saw pun pergi ke thaif yang didiami kabilah tsaqif yang berjumlah besar, dengan harapan apabila kabilah itu masuk islam, kaum muslimin akan terbebas dari berbagai penderitaan dan thaif akan menjadi pondasi penyebaran agama. Setibanya di thaif, Baginda nabi langsung menemui tiga orang yang di tokohkan. Beliau berbicara dengan mereka, mengajak mereka kepada agama Allah Subhanahu Wata'ala dan agar mereka mau membantu Baginda Nabi Muhammad. Akan tetapi, mereka bukannya menerima atau paling tidak berlaku sopan kepada tamu yang baru datang sebagaimana adat bangsa arab yang terkenal dengan memuliakan tamu, bahkan mereka tanpa basa basi menyambut beliau dengan sikap dan akhlak yang sangat buruk. Bahkan merekapun tidak rela baginda Nabi Muhammad SAW tinggal di situ. Padahal, orang yang dianggap sebagai tokoh seharusnya berbicara dengan sopan dan berakhlak mulia.
Salah seorang dari mereka berkata, "oh, kamukah orang yang diutus oleh Allah sebagai Nabi? ", yang ke dua berkata "apakah Allah tidak menemukan selain kamu untuk diutus sebagai rasul? ". Yang ketiga berkata "aku tidak mau bicara denganmu, sebab jika kamu memang seorang nabi seperti pengakuanmu, lalu aku menolakmu, Tentu aku tidak lepas dari musibah. Jika kamu berbohong, maka aku tidak mau bicara dengan pembohong". Akan tetapi, Baginda Nabi Muhammad saw mempunyai hati yang begitu teguh laksana sebuah batu karang, beliau tidak berputus asa dan terus berusaha untuk mendekati masyarakat umum, tetapi tidak seorang pun yang mau mendengarkan beliau. Jangankan menerima, bahkan mereka menghardik "tinggalkan segera kota kami! Pergilah kemana kamu suka! "
Ketika baginda Nabi Muhammad SAW sudah tidak bisa mengharapkan mereka dan bersiap siap untuk kembali, maka mereka menyuruh anak anak kota thaif membuntuti Baginda Nabi Muhammad saw. Mereka lalu mengganggu, mencaci dan melempari Baginda Nabi Muhammad saw dengan batu sehingga kedua sandal beliau berlumuran darah. Dalam keadaan seperti itulah Baginda Nabi Muhammad saw meninggalkan thaif. Di tengah perjalanan, tatkala sudah merasa aman dari gangguan anak anak nakal itu, beliau berdoa kepada Allah Subhanahu Wata'ala "ya Allah, aku adukan kepada-Mu lemahnya kekuatanku, habisnya upayaku, dan kehinaanku dalam pandangan manusia. Wahai Yang Maha Penyayang melebihi sekalian penyayang, Engkaulah Tuhan orang-orang tertindas. Dan Engkaulah Tuhanku. Kepada siapakah Engkau serahkan aku? Kepada orang asing yang akan memandangku dengan muka masam atau kepada musuh yang Engkau kuasakan kepadanya segala urusanku? Tiada keberatan bagiku, asalkan Engkau tidak murka kepadaku. Perlindungan-Mu sudah cukup bagiku. Aku berlindung kepada-Mu dengan nur Dzat-Mu yang menyinari segala kegelapan, dan dengannya menjadi baik segala urusan dunia dan akhirat, aku berlindung dari turunnya kemarahan-Mu kepadaku atau kemurkaan-Mu kepadaku. Aku sanggup berbuat apa saja, hingga engkau ridha, Tiada daya dan upaya melainkan dengan-Mu".
Allah Subhanahu Wata'ala penguasa seluruh alam pun memperlihatkan keperkasaan-Nya dan mengutus Malaikat jibril Alaihis salam datang memberi salam kepada beliau dan berkata "Allah Subhanahu Wata'ala mendengar ucapanmu dan jawaban kaummu, dan Dia mengutus kepadamu malaikat penjaga gunung agar siap melaksanakan apapun perintahmu kepadanya." Malaikat penjaga gunung itu pun datang dan memberi salam kepada Baginda Nabi Muhammad saw seraya berkata "apapun yang engkau perintahkan akan kulaksanakan. Bila engkau suka, akan kubenturkan gunung gunung yang ada di sekitar kota ini sehingga siapa saja yang tinggal di antaranya akan hancur binasa. Atau apapun hukuman yang engkau inginkan". Baginda Rasulullah SAW yang bersifat penyayang dan mulia ini menjawab "aku hanya berharap kepada Allah Subhanahu Wata'ala, seandainya saat ini mereka tidak menerima islam, semoga kelak di antara keturunan mereka akan lahir orang orang yang menyembah dan beribadah kepada Allah Subhanahu Wata'ala. "
Luna menarik nafas dan menghembuskanya lalu ia tersenyum
"Begitulah akhlak Baginda Nabi Muhammad saw yang mulia. Kita mengaku sebagai pengikutnya, namun seketika sedikit kesulitan atau celaan menimpa kita, kita langsung marah, bahkan menuntut balas seumur hidup. "
"Kamu menyinggungku sayang" Boy merasa. Begitu juga Willy, ia hanya diam seribu basa di depan
"Bukan maksudku menyinggungmu suamiku.. Karena kezaliman di balas dengan kezaliman itu memang tidak baik. Sambil kita terus mengaku sebagai umat Baginda Nabi Muhammad saw. Lihatlah Nabi Muhammad SAW, Meskipun mengalami penderitaan dan kesusahan yang berat, Baginda Nabi Muhammad saw tidak berdoa buruk dan tidak menuntut balas.
Aku jadi ingat perbuatanku dahulu.. Ashtaghfirullah "
"Ashtaghfirullah " Willy dan Boy juga ikut beristighfar. Pak supir juga ikutan. Mereka sangat menikmati kisah yang di ceritakan Luna.
Luna terus menguap dan ia bersandar di bahu Boy, tidak lama kemudian ia terlelap..
Boy masih memikirkan ucapan Luna tadi sambil terus tersenyum
"Nona bagaimana kelajutannya? " tanya Willy ia ketagihan dengan ceritanya
Tapi Luna diam saja karena ia tertidur.
Boy melirik ke arah Luna dan ia dapati Luna sudah tertidur
"Stttt will, istriku tertidur".
"Oohh hehe"..
Seketika suasana hening, hanya suara kendaraan yang melintas di jalanan..
Lanjut..
__ADS_1