
Hari sudah berganti kini Boy mulai menjalankan rencananya kembali untuk mengikuti Lidya yang hendak pergi ke rumah Luna.
Pagi itu adalah ahir pekan, Boy libur kerja dan adik adiknya juga libur sekolah. Sehabis sarapan Boy pergi ke ruang kerja di rumahnya, ia pura pura sedang mengerjakan tugas kantor.
Sementara Lidya dan adik adiknya Boy berencana untuk menemui Luna. Dan mereka sudah siap untuk berangkat, kemudian Lidya pamit dulu pada Boy
"Boy, ibu berangkat dulu ya" ucap Lidya pada Boy dari ambang pintu.
"Oh iya Bu, hati hati ya" ucap Boy sambil fokus pada laptopnya.
"Iya" ucap Lidya dengan tersenyum kemudian ia menutup pintu tersebut.
Setelah itu Boy berjalan ke arah pintu kemudian ia membuka sedikit pintu tersebut ia mengintip dari balik pintu memastikan Lidya sudah berangkat.
Boy melihat Lidya sudah masuk ke dalam mobil bersama adik adiknya dan mereka berangkat.
Kemudian Boy segera mengambil kunci mobilnya dan ia berlari ke gerasi mobilnya dan membawa mobil keayangannya yang jarang ia gunakan. Dan Boy mengikuti Lidya. Hingga beberapa saat Boy mengikuti Lidya, ternyata mobil Lidya berhenti di depan sebuah panti, Lidya dan adik adiknya Boy masuk ke dalam panti tersebut
"Loh ini kan pantinya punya ibu, apa Luna tinggal disini? " tanya Boy pada dirinya sendiri
Kemudian Boy memarkirkan mobilnya tidak jauh dari panti itu dan ia berjalan menuju panti dengan hati hati agar tidak ketahuan oleh Lidya.
Lidya , ira dan anak anaknya disambut oleh semua anak anak panti dengan bahagia dan Luna juga sudah ada di sana ia berada di dapur panti itu
"Assalamualaikum semuanya,, " ucap Lidya dengan tersenyum lebar pada anak anak panti tersebut
"Waalaikumsalam ibuu" ucap anak anak panti dengan bahagia. Mereka biasa memanggil Lidya dengan panggilan ibu
Sementara anak anaknya Lidya terlihat kaku pada anak anak panti tersebut.
"Kalian masih ingat kan Sama anak anak ibu, yang ini namanya Bastian, yang ini Briand dan yang ini Bianka" ucap Lidya sambil menunjuk ketiga anaknya itu.
kemudian anak anak panti itu bersalaman dengan ketiga B itu. Tidak butuh lama mereka menjadi akrab dan mengobrol. Walau hanya sebagian anak panti yang ada disana. Karena yang lain sibuk dengan kegiatan mereka
Kemudian Luna keluar dari dapurnya, seperti biasa ia selalu memakai cadarnya, dan ia melihat Lidya, ia langsung menghampiri Lidya yang sedang duduk di sofa bersama ira dan pengurus panti "Eh ibu sudah ada disini?" tanya Luna pada Lidya sambil duduk disamping Lidya
"Iya nak, kamu habis apa di dapur? " tanya Lidya kembali
"Aku habis minum ibu, haus sekali tadi. Hehe" ucap Luna sambil tersenyum.
"Oo begitu, o ya adik adiknya Boy mau bertemu denganmu loh nak" ucap Lidya kemudian ia memanggil ketiga B itu "Bianka, Briand, Basti ayo sini dulu nak" ucap Lidya sedikit teriak pada mereka karena berisiknya disana. Kemudian ketiga B itu menghampiri Lidya.
Luna tersenyum pada ketiga B itu
"Ada apa ibu? "Tanya Bastian
"Ini loh kak Luna yang kalian tanyakan terus" ucap Lidya sambil merangkul bahu Luna.
"O ini kak Luna?" ucap Bianka terlihat senang "aku bianka ka" sambung Bianka sambil menyalami luna.
"Hai adik bianka, kamu sangat cantik sekali" ucap Luna sambil tersenyum pada Bianka.
"Hai aku bastian kak Luna"
"Aku Briand" ucap Bastian dan Briand juga tersenyum pada Luna.sambil melambaikan tangan
"Hai" ucap Luna sambil tersenyum pula.
"Waw ternyata kak Luna bercadar ya, hehe" ucap Briand. Luna hanya mengangguk. Kemudian mereka duduk di sofa.
ketika sedang asyik bicara, ternyata Boy memperhatikan dari ambang pintu, ia tersenyum melihat ke arah Luna dan belum ketahuan oleh Lidya. Kemudian Luna juga melirik Boy, namun dia belum tau kalau itu Boy.
Ya tuhan, akhirnya aku melihat Luna juga, iya aku yakin itu pasti Luna. Batin Boy.
Kemudian Boy masuk dan mengucap salam
"Assalamualaikum " ucap Boy. Sambil berjalan menghampiri Luna dan Luna membulatkan matanya karena Boy mendekat.
Dan mereka yang berada di dalam terkejut melihat Boy terutama Lidya.
"Waalaikumsalam " ucap semuanya
"Haaa, Boy kenapa kamu disini?" tanya Lidya ia tidak menyangka
Ira menutup mulutnya karena melihat Boy.
Kemudian Boy tersenyum pada Lidya.
__ADS_1
"Kenapa Bu? Aku cuma mau ketemu Luna" ucap Boy dengan santai.
kemudian Luna menyembunyikan kepalanya di belakang Lidya. "Itu kak Boy bu? " tanya Luna sambil berbisik pada Lidya.
"I. Iya nak" ucap Lidya.
Luna terus bersembunyi di belakang Lidya.
Ya allah, ternyata itu kak Boy, mau apa dia kesini?. Batin Luna
Bianka penasaran "kak Boy, jadi tadi ngikutin kita? " ucapnya
Briand juga nyahut "wah bener kak Boy nekat banget pengen ketemu kak Luna" ucapnya
Boy nampak cuek saja sama adik adiknya itu
Sedangkan pengurus panti hanya diam, karena dia belum faham. Mereka hanya menyimak pembicaraan Boy
Kemudian Boy bertekuk lutut di dekat kaki Luna. Semua orang disana kaget dengan apa yang dilakukan Boy
"Luna, kenapa kamu sembunyi? Aku cuma ingin tau keadaanmu, kamu baik baik saja kan? " ucap Boy. Entah kenapa aku sangat merindukan mu Luna. Batin Boy.
Namun Luna hanya diam, ia nampak gemetar karena Boy sangat dekat dengannya dan Luna tidak berani menatapnya.
Lidya pasrah sekarang karena Boy datang kesana dan Lidya melihat reaksi Luna, ia merasa kasihan pada Luna "Boy kamu jangan mendekat begitu, Luna takut sama kamu" ucapnya sambil mengerutkan dahinya.
"Kenapa takut sama saya Luna, saya tidak akan menyakitimu" ucap Boy pada Luna. Namun luna hanya menggelengkan kepalanya
"Boy sudah Boy, kamu duduk disana" ucap Lidya menyuruh Boy duduk dikursi.
"Nggak bu, aku mau Luna bicara dulu"ucap Boy
"Luna tidak mau bicara, kalau kamu mendekat begitu, kamu Lihat Luna ketakutan jika kamu dekat seperti itu" ucap Lidya
"Oh, oke oke, aku menjauh sekarang"ucap Boy sambil menghela nafas kemudian duduk di kursi disamping adiknya, dan berhadapan dengan Luna. Boy heran dengan reaksi Luna, karena Luna dulu itu orangnya berani, tapi sekarang ia nampak ketakutan. Ada apa dengan Luna?. Batin Boy
Lidya mencoba menenangkan Luna
"Luna, sayang kamu jangan sembunyi begitu, Boy sudah menjauh tuh" ucap Lidya
"iya gapapa" ucap Lidya.
Tanpa menunggu lama Boy langsung bicara lagi pada Luna "Luna maafkan saya ya" ucapnya Sambil tersenyum
"Iya gapapa kak Boy" ucap Luna sambil menunduk
"Bagaimana keadaanmu sekarang? " tanya Boy
"Aku belum ingat semuanya" ucap Luna
"Maksudnya apa Luna? " tanya Boy penasaran
Kemudian Luna memandang ke arah Lidya dan Lidya hanya diam saja. Karena Lidya tidak memberi tahu Boy kalau Luna amnesia.
Namun Bianka lah yang menjawab "kak Luna kan amnesia kak Boy" ucapnya
Lidya kaget dengan apa yang diucapkan Bianka, begitupun pengurus panti dan yang lainnya
"Haah Biy kamu tau dari mana kalau ka luna amnesia?" Tanya Lidya
"Hehe dari ayah bu"
Ya ampun ayahhh. Batin Lidya "jadi ayah memberi tahu kamu? ".
"Iya bu"
Boy sangat kaget mendengar ucapan Bianka dan Lidya
"Apa? " kemudian ia mendekat kembali pada Luna dan memegang kedua bahunya dengan tangannya dan menatap lekat mata Luna sambil menekukkan lututnya ke lantai. "maafkan aku luna, apa lukamu sangat parah sampai kamu amnesia, aku sungguh menyesal Luna, tolong maafkan aku" ucap Boy dengan lirih
Luna membelalakan matanya karena disentuh oleh Boy. Jantungnya langsung berdebar kencang dan tubuhnya gemetar, karena baru kali ini setau dia disentuh laki laki yang bukan mahromnya.
Tidak sempat menjawab karena mulutnya kaku dan badanya tiba tiba lemas, kemudian ia jatuh pingsan ke pangkuan Lidya karena syok disentuh Boy.
Lidya terlihat kaget melihat Luna pingsan begitupun orang orang yang ada di sana "Ashtaghfirullah Luna, bangun nak" ucap Lidya mencoba membangunkan Luna dengan mengusap lembut pipinya.
Boy juga terperanjat melihat luna tidak sadarkan diri.
__ADS_1
"Ya ampun, kenapa dengan Luna? " ia bertanya pada dirinya sendiri.
"Apa yang kamu lakukan sih Boy? Ibu kan tadi bilang jangan mendekat pada Luna, ini kamu malah memegangnya, lihatkan Luna jadi pingsan" ucap Lidya dengansedikit membentak.
"Maaf maafin Boy ibu, Boy refleks tadi menyentuh Luna" ucap Boy
"Sudah sudah, kamu duduk disana" ucap Lidya sambil menunjuk kursi.
Kemudian ustadzah Rumi mengambilkan kayu putih untuk Lidya dan membuka sedikit cadarnya kemudian mengoles sedikit kayu putih tersebut. "Ya ampun dek, ko sampe pingsan sih kamu" ucap Ustadzah Rumi keheranan
"Saya juga tidak menyangka ustadzah " ucap Lidya.
Bianka terlihat cemberut kepa Boy "gara gara kak Boy ini, lihat tuh kasian kan kak Luna"ucap Bianka.
"Iya kak Boy! " ucap Bastian
"Apa sih de, kakak kan gak sengaja tadi"
"Lagian ibu sih kenapa gak kasih tau Boy dari dulu kalau Luna amnesia "
"Kenapa? Kamu nyesel baru tau sekarang? , ibu cuma gak mau kamu mengganggu Luna dan kembali menyakitinya" ucap Lidya sambil membelai lembut kepala Luna
Boy kemudian duduk, ia hanya menghela nafas dan terdiam.kemudian ia menutup wajahnya dengan telapak tangannya
ya Allah, ternyata aku jahat sekali, sampai sampai luna amnesia karena perbuatanku. Kenapa? Kenapa aku berbuat bodoh seperti itu, pantaslah ibu sangat marah padaku. Aku memang tidak pantas untuk di maafkan. Ampuni aku ya Allah. Batin Boy dengan penuh penyesalan
"Apa harus saya panggilkan mbak Rani nyonya? " tanya Ira
"Tak usah ira, nanti dia kuatir, sebentar lagi juga Luna pasti sadar" ucap Lidya
"Oh baiklah nyonya"
Lidya terus memanggil manggil Luna agar sadar, hingga akhirnya Luna tersadar kembali dan mereka yang ada di sana terlihat senang "alhamdulillah " ucap mereka.
Luna mencoba membuka matanya, kepalanya terasa pusing ia mencoba mengingat masalalunya. Namun ingatannya masih kabur, luna terus memijit kepalanya
"Kenapa kamu nak? " tanya Lidya
"Gapapa ibu" ucap Luna sambil kembali duduk dan ia melihat Boy, kemudian Luna terperanjat karena takut Boy menyentuhnya lagi.
"Tenang Luna, saya tidak akan apa apain kamu kok" ucap Boy mencoba menenangkan
"Luna maafin saya ya" sambungnya
"iya gapapa" ucap Luna Sambil terus memijit kepalanya.
Dan Boy tersenyum tipis, ia merasa bersalah
"Ira, kamu antar Luna ke rumahnya ya" ucap Lidya menyuruh ira
"Oh baik nyonya" ucap ira
"Kamu istirahat ya nak" ucap Lidya pada Luna
"Iya ibu" ucap Luna
"Aku fikir luna tinggal di sini bu" ucap Boy
"Bukan Boy" ucap Lidya
"Terus dimana? "
"nanti kamu juga tau Boy"
"Hmm,, baiklah"
"Biar aku antar ya Luna" ucap Boy pada Luna
"Enggak, aku gak mau" ucap Luna
"Hmm" ucap Boy nampak cemberut
Kemudian Ira mengantar Luna ke rumahnya.
Boy hanya menatap Luna yang pergi menjauh dari pandangannya.
nnnnnnbbbvdvdgdjemsnsgejejs
__ADS_1