Cinta Sesudah Menikah

Cinta Sesudah Menikah
Mundur dikit, gantengnya kelewatan


__ADS_3

Sesampainya di toko


Karyawan sudah berjejer di hadapan Luna,ketika Luna sampai di sana. Mereka merunduk dan seperti ketakutan, chef mona juga ikut di sana.


Luna heran dengan sikap karyawannya itu


"Ada apa ini? Maya kenapa kalian merunduk seperti Itu? Apa kak Willy tadi berbuat kasar pada kalian?" tanya Luna.


"Tidak,, tidak kak.." jawab Maya , ia tidak berani mengatakan yang sebenarnya pada Luna, karena Willy ada di sana sambil senyum senyum sinis ke arah mereka.


"Ayolah, jujur.. Katakan apa yang dilakukan kak Willy pada kalian" ucap Luna sambil memandang Willy dengan sinis. Namun Willy memalingkan wajahnya seolah tidak merasa bersalah


"Dia hanya menegur biasa kak, dan kami memang bersalah telah membiarkan kak Luna pergi sendiri tadi" ucap Maya


"Maafkan kami kak"


"Sudahlah Maya, aku kan yang meminta kalian jaga toko tadi. Jadi kalian tidak bersalah"


"Tapi tetap bersalah.. Maafkan kami"


"Iya.. Iya oke.. Aku maafkan kalau gitu, padahal kan kalian gak salah. Ya sudah lupakan yang tadi ya. Kalian bekerja lagi" ucap Luna


"Baiklah kak.. Terima kasih" ucap mereka.


"Iya"


Karyawannya kembali ke kegiatan mereka


Luna menghampiri Willy sambil menyilangkan tangannya di dada.


"Kamu berhasil membungkam mulut karyawanku, aku tau kamu habis habisan marah sama mereka kan? Aku melihat mereka ketakutan sekali tadi"


Willy tersenyum


"Ishh nona, jangan seudzon, gak baik" ucapnya


"Aku tidak seudzon, aku tau siapa kamu kak Will"


Ucapnya sambil melengos menjauh dan naik ke atas ke ruangannya, menghampiri Boy yang tengah beristirahat di sana.


Willy hanya melihat langkah Luna yang pergi menjauh dan berkata dalam hati. Benar saja tebakanmu nona, hahaha.. Aku hanya ingin karyawanmu berbuat hati hati jika bersamamu, karena keselamatanmu tanggung jawabku juga. Jika aku tidak tegas, bisa saja orang di sekitarmu berbuat seenaknya padamu. Batin Willy.


Baginya keselamatan tuannya adalah tanggung jawabnya, seandainya ia lalai, maka harus siap dengan teguran tuan Mirza. Ya begitulah kehidupan mereka.


******


Sore harinya Luna dan Boy pamitan kepada Lidya karena akan menginap di rumah Luna. Karena setiap akhir pekan mereka menginap di sana, sejak Rani memutuskan tinggal di kampung. Ketika di tinggalkan rumah Luna hanya ditinggali dua art dan empat satpam. Rumah yang di berikan oleh lidya itu cukup besar memang dan harus ada penjagaan ketat.


Sesampainya di sana, kala Itu sudah malam hari. Boy tengah memeriksa beberapa berkas sambil berkutik dengan laptopnya di sofa. Ia nampak serius sekali sampai tidak sadar Luna tengah menunggunya di samping.


"Aa"


"Hmm" jawab Boy


"Serius banget sih?"


"Kenapa sayang?" ucap Boy sambil fokus pada laptopnya.


"Mm,, kenapa kita tidak tinggal di sini saja setiap malam?"


Seketika Boy menghentikan aktifitasnya. Kemudian memandang Luna dengan serius.


"Apa kamu ingin tinggal di sini?" tanya Boy.


"Ya jika bersama suamiku lah"


"Sayang dengarkan aku, aku tidak bisa meninggalkan ibu Lidya, sekarang saja Bayu sudah menikah dan punya rumah sendiri. Bastian akan tinggal di luar negri. Briand, aku yakin dia juga ingin punya rumah sendiri dan tinggal mandiri setelah ia lulus nanti. Sementara Bianka, dia akan dibawa suaminya kelak jika sudah menikah. Aku tidak bisa jauh dari ibu, sayang.. Jika adik adiku sudah punya kehidupan sendiri, mungkin saja akan sibuk dengan lehidupan mereka masing masing.. Jadi tidak apa kan kalau kita tinggal terus bersama ibu dan ayah?" tanya Boy


Luna terharu dengan penjelasan Boy


"Iya a, aku setuju saja kita tinggal bersama ibu, itu kewajiban kita untuk mengurus mereka" ucap Luna


"Iya sayang, bantulah aku supaya selalu berbakti pada ibu dan ayah" ucap Boy sambil memeluk Luna


"Tentu a, aku selalu mendoakanmu"


Malam itu mereka lalui dengan bahagia dan di siang harinya mereka habiskan untuk jalan jalan menikmati akhir pekan bersama.


*******


Beberapa hari telah berlalu, sepulang sekolah Briand mampir dulu ke toko roti milik Luna untuk memberi beberapa potong kue yang akan di berikan kepada seseorang.


"Siang.. " Sapa Briand kepada karyawan yang tengah bertugas di sana, Briand masuk sambil ia menunduk dan memainkan ponselnya



pesona Briand


Karyawan Luna terpana melihat ketampanan Briand. Mereka terdiam sambil terus memandang wajah Briand. Mereka tidak berkutik ketika Briand bertanya pun.


"Hellow" ucap Briand sambil menggerakan tangannya


Briand keheranan karena karyawan itu malah diam.


Kemudian Luna keluar dari ruangan tempat ia belajar memanah.


"Briand,, sedang apa?" sapa Luna, ia melihat Briand tengah terdiam kebingungan dan karyawan Luna yang malah terdiam pada pembeli

__ADS_1


"Kak ipar, aku mau beli kue, tapi aku bingung sama sikap mereka ini" Briand menunjuk ke para karyawan itu.


"Ya ampun.."


Brakkk.. Luna memukul meja. Sontak saja karyawannya itu terperanjat karena kaget.


"Ashtaghfirullah " ucap mereka.


"Kalian ini ya, ada yang mau beli malah pada bengong" tegur Luna dengan senyumannya, ia tersenyum melihat ekspresi karyawan nya itu.


"Maaf maaf.. Kak.. Ganteng banget ini orang.hehe.." ucap salah satu dari mereka


Briand serasa melayang tinggi dibuatnya.


"Iya iya.. Aku tau itu.. Cepatlah aku mau beli kue yang paling enak di sini" ucap nya


Kemudian karyawan itu berebutan ingin mengambilkan kue tersebut, Luna kembali bingung dengan sikap mereka


"Heii udah dong satu orang saja, kalian kenapa si?" tanya Luna.


"Biar aku saja kak" pinta Maya


"Iya siapa saja yang penting jangan berebutan begitu" ucap Luna.


Briand hanya tersenyum melihat tingkah mereka


"Ini kue nya kak" ucap Maya sambil memberikan kue tersebut


Kemudian Brian menerimanya.


"Makasih berapa harganya?


"Seratus lima ribu kak" ucap Maya


Dan Briand membayarnya pas.


"Kak ipar, aku pamit dulu ya" ucap Briand.


"Iya dek, hati hati ya" ucap Luna


"Tentu"


Ketika sudah beberapa langkah menuju ke luar. Maya dan karyawan yang lain menggodanya


"Kak mundur dikit kak.." ucap Maya sambil merekamnya lewat ponsel


"Kenapa?" tanya Briand dan menengok ke belakang


"Gantengnya kelewatan"


Briand hanya menggeleng dan tersenyum menyeringai pada mereka. Kemudian ia melanjutkan jalannya menuju mobil.


Luna hanya terkekeh melihat tingkah karyawannya itu.


******


Briand hendak menemui Mikha karena beberapa hari ini dia tidak masuk sekolah. Briand datang ke rumahnya dengan membawa kue spesial buat Mikha.


Dia sampai di rumah Mikha. Ia mengetuk pintu seraya mengucap salam


Di sambutlah oleh Aryo yaitu ayahnya Mikha.


Dan mereka mengobrol di ruang tamu.


"Om,, apa kabar?"


"Baik Bray.. Kamu gimana?"


"Baik juga om, bagaiman keadaan Mikha, kenapa udah tiga hari gak sekolah?"


"Huhh.. Iya Bray.. Mikha ngamuk dan tidak mau sekolah setelah om menikah lagi"


"Apa?? Jadi om udah menikah lagi? Kapan?"


"Baru tiga hari ini Bray, sejak saat itu Mikha tidak mau bicara dengan om."


"Ya ampun om.. Mungkin karena Mikha belum bisa menerima ibu barunya itu"


"Benar Briand"


"Tapi saya yakin Mikha akan menerimanya cepat atau lambat"


"Iya,, semoga saja.. O ya. Om panggilkan dulu istri om yang baru ini ya"


"Iya om"


Dengan senang hati Briand jug ingin bertemu ibu barunya Mikha itu.


Kemudian Aryo memanggil istrinya itu dan tidak lama ia datang menghampiri. Seorang wanita berjilbab panjang dan terlihat masih muda, umurnya masih tiga puluhan


"Ada apa mas?" tanya wanita itu


"Kenalin, ini temennya Mikha, namanya Briand"


"Hallo tate, saya Briand" ucap Briand sambil menyalami wanita itu


"Oh. Hallo.. Saya Rosa.. Istrinya mas Aryo sekaligus ibu baru Mikha.. Hehe" ucapnya dengan ramah

__ADS_1


"Oh,, iya tante.. Mm sebelumnya saya ucapkan selamat atas pernikahan om dan tante.."


"Terima kasih Briand" jawabnya


Mereka berbincang beberapa saat, sebelum Briand menemui Mikha. Rosa sangat asik sekali diajak ngobrol, Briand yakin Mikha akan senang jika Bersama ibu barunya itu, cepat atau lambat.


"Maafkan Mikha ya bun, mas yakin dia akan menerimamu secepat mungkin" ucap Aryo, ia memanggil bunda pada Rosa


"Iya, tenang saja mas, serahkan semua didikannya padaku. Aku yakin sikap kerasnya itu karena kurang sentuhan seorang ibu, aku pernah jadi ibu mas, walau hanya sebentar" ucap Rosa. Ya dia adalah janda, suami dan anaknya sudah meninggal.


"Iya Bun, semoga kamu bisa meluluhkan hati Mikha"


"Sekarang kita pikirkan bagaimana sikap kerasnya itu menjadi sebuah kebaikan" ucap Rosa


"Maksud tante gimana?" tanya Briand


"Begini nak, watak seseorang itu fitrah dari lahir yang tidak dapat diubah sebagaimana disebutkan dalam ungkapan 'gunung mungkin berpindah tempat, namun watak seseorang mustahil berubah'. Sesuai dengan sabda Nabi sholallahu alaihi wasallam "jika kalian mendengar ada gunung berpindah tempat, maka percayailah. Namun jika kalian mendengar watak seseorang berubah, maka janganlah mempercayainya". Hal ini seakan-akan menunjukan bahwa perubahan watak seseorang itu mustahil daripada berpindahnya gunung dari suatu tempat ke tempat lain. Nah sekarang kita berniat bukan untuk merubah wataknya Mikha, tapi yang berubah itu penyaluran wataknya itu. Contohnya, maaf ya mas.. Mikha itu kan pemarah, jika kita berusaha memperbaiki wataknya dengan bermujahadah agar watak itu hilang, itu tentu akan sulit. Namun yang semestinya dilakukan adalah mengubah penyaluran kemarahannya. misalnya nih ya, jika sebelumnya ia marah karena kebendaan sehingga ia berbuat aniaya, takabur, dan lain lain, maka sekarang watak pemarah tersebut disalurkan untuk memarahi orang orang yang ingkar atau menentang perintah Allah Subhanahu Wata'ala. Begitu maksudku mas..


Seperti yang terjadi pada diri sayyidina Umar Radhiyallahu 'anhu, sebelum masuk islam ia sangat memusuhi kaum muslimin. Namun setelah beriman kepada Allah Subhanahu Wata'ala dan Rasul-Nya, watak pemarah tersebut ia arahkan kepada orang orang kafir dan fasik. Demikian juga dengan watak watak yang lain. Semoga Allah Subhanahu Wata'ala mengganti keburukan dengan kebaikan untuk Mikha. Yaitu dengan mengubah penyaluran watak dari keburukan menjadi kebaikan" jelas Rosa


"Wah luar biasa sekali tante, saya setuju.. Tante seperti kakak opar saya, dia sangat bijak sekali. Hehe"


Ucap Briand


"Berarti om tidak salah pilih kan dengan istri pilihan om ini?" tanya Aryo


"Om,, sangat beruntung.. " ucap Briand sambil mengacungkan kedua jempolnya.


"Ah kalian bisa saja" ucap Rosa sambil malu malu


"Saya sangat suport tante, semoga Mikha bisa akrab dengan tante"


"Terima kasih nak Briand"


Briand mengangguk


"O ya Om, Mikha nya di mana sekarang?" tanya Briand


"Dia lagi di taman, kamu temui gih" pinta Aryo


"Beneran gapapa om?"


"Oya lah.. Sana.. Dia butuh temen pasti"


"Baik om.. Dengan senang hati.. Hehe"


Briand beranjak dari sana


"O ya.tamannya di mana om?"


"Itu di belakang.. Kamu lurus aja.. Terus belok kiri. Nah di sana taman"


"Baik om.. Permisi"


Briand nampak senang sekali.


Rosa dan Aryo juga senang. Karena Aryo tau bahwa hanya Briand yang berani datang ke rumahnya, sebelumnya Mikha tidak pernah mengajak temennya jangankan cowo, temen cewenya aja gak pernah diajak main ke rumah.


Sesampainya di taman, Briand dapati Mikha tengah bengong sendirian di kursi ayunan. Briand menghampiri dan langsung duduk di samping Mikha.


"Tamannya bagus ya mik" ucap Briand sambil menikmati indahnya taman itu.


Mikha kaget dengan kedatangan Briand.


"Ngapain lo kesini?" ketus Mikha


"Om Aryo yang nyuruh lah, katanya kamu nungguin aku" Briand suka sekali usil pada Mikha


"Amit amit ya... Gue gak pernah nungguin lo.. Ihhh.." Mikha bergidik sambil memalingkan wajahnya dan menarik sudut bibirnya.


"Udah lah mik, ngaku aja si.."


"Pergi sana lo". Mikha masih memalingkan wajahnya dan memeluk tiang ayunan itu. Ia nampak galau dan ternyata menangis.


Briand melirik Mikha, merasa kasian juga dia.


"Hei mik.. Lo bisa cerita sama gue.."


"Ogah" ketusnya, sambil terisak


"Aku tau kamu lagi kesal sama ayahmu kan, karena dia nikah lagi"


"So tau kamu"


"Kenapa sih mik,, aku yakin ibu barumu itu akan sangat menyayangimu"


"Nggak.. Ibu baruku akan merebut ayah, ayah bisa saja tidak sayang lagi sama aku dan lebih memilih wanita itu" ucap Mikha


"Emm... Jadi itu alasannya.. Kamu sudah seudzon duluan sih mik.. Gak baik itu.. Cobalah kamu buka pintu hatimu, dan lihat sebenarnya gimana ibu barumu itu"


"Berisik kamu Bray.. Aku gak percaya dia akan peduli padaku" ucapnya, Mikha meninggalkan Briand dan masuk ke dalam.


Dasar keras kepala. Batin Briand sambil melihat langkah kaki Mika yang menjauh dari sana.


"Lhaa ini kuenya.. Haduh pake lupa gue kasih lagi. Yaudah nanti titipin aja ke om Aryo"


Sejenak ia duduk di taman, setelah itu pamit karena Mikha mengurung diri di kamarnya

__ADS_1


__ADS_2