
Satu minggu kemudian..
"Tuan Willy, syukurlah.. Anda sudah sadar sekarang setelah melewati masa kritis anda satu minggu ini" ucap Dokter susan usay memeriksa Willy
"Apa dokter? Satu minggu?" tanya Willy dengan ekspresi kaget
"Benar tuan, sekarang tinggal waktunya pemulihan.. Saya permisi dulu tuan, nyonya dan nona" ucap dokter Susan pamit
"Baik dokter.. Terima kasih..." ucap ibu Ayu, kini ia terlihat sumringah atas kesadaran Willy.
Kemudian Dokter keluar dari ruangan itu untuk memeriksa Boy, ya dokter susan selalu bergantian memeriksa Willy dan Boy.
"Alhamdulillah naak.. Ibu senang sekali kamu sadar bang.." ucap Ibu ayu sambil mengusap kepala Willy
Willy tersenyum pada mereka, pada adiknya dan ayah Sam. Dan mereka tersenyum pada Willy
"Iya bu, bagaimana keadaan bos Boy ibu? Apa dia baik baik saja?" tanya Willy
Sam menjawab
"Bos Boy, baik baik saja, hanya cedera kakinya dan kepala" jelasnya
"Apa?" Willy kaget, dia ingin bergerak, tapi sekujur tubuhnya masih lemas dan sakit
"Ah..." Willy kesakitan
"Sudahlah bang.. Jangan bergerak dulu..." ucap Wulan
"Aku ingin bertemu dengan bos, ayah" pinta Willy
"Kamu ini!! Coba saja kalau kamu bisa!" ucap Sam seolah menguji Willy
"Tidak bisa ayah,,"
"Yasudah,,, diam dulu.. Baru juga sadar kamu!" tegas Sam.
"Iya ayah.."
Willy diam, dan hanya mulutnya yang bisa ia gerakan.
"Nak, kamu makan dulu ya.." ucap Ibu Ayu sambil membawakan bubur dan menyuapi Willy.
Willy mengangguk saja dan makan dari suapan Ibu Ayu.
"Ibu,, sini biar Wulan yang suapin abang" pinta Wulan dan ia mengambil alih posisi duduk ibu Ayu, dan menyuapi Willy dengan senang hati.
Ayu tersenyum saja dan menyetujuinya
*******
Sementara di ruangan Boy.
Boy sudah kuat duduk dan bergerak lebih leluasa, luka dikepalanya sudah agak mendingan.
"Tuan, anda sudah mulai pulih sekarang, tuan bisa menggunakan kursi roda sekarang, jika mau jalan jalan.." ucap dokter Susan selepas memeriksa Luka Boy
"Iya dokter.. Saya senang sekali.. Saya ingin melihat willy sekarang" ucapnya.
"Silahkan tuan.. Tuan Willy sudah siuman sekarang" ucap dokter
"Oh.. Benarkah dokter? Alhamdulillah.." ucapnya sambil mengusap wajahnya diikiti luna,, mereka senang sekali mendengarnya.
Kemudian Boy dibantu perawat laki-laki untuk duduk di kursi roda. Kemudian Luna mendorongnya untuk menuju ruang rawat Willy. Adik-adik Boy sudah pulang, karena sudah mulai lagi masuk sekolah. Sementara Lidya dan Mirza mengurus kantor Boy. Sementara Bastian berada di rumahnya, rencananya ia akan berangkat lagi ke turki, karena sudah seminggu di tanah air.
Sesampainya di ruang rawat Willy.
Boy dan Luna masuk seraya mengucap salam pada mereka.
Mendengar Boy masuk, Willy pura-pura tertidur dan belum sadarkan diri. Sebelumnya ia memberi kode pada Wulan bahwa dia akan pura-pura tidur dan wulan bekerja sama dengannya.
"Paman,, bibi.." panggil Boy pada Sam dan Ayu.
"Tuan muda... Sudah bisa Jalan-jalan sekarang? Syukurlah.." ucap Sam dengan senyum ramahnya pada Boy dan Luna.
"Iya paman,, bagaimana keadaan Willy?" tanya Boy
"Yaa seperti inilah.." Sam melirik Willy yang tengah memejamkan mata, sam keheranan karena tadi Willy tengah bangun dan mengobrol dengan mereka, tapi kini tertidur.
Kemudian Boy menghampirinya, ia tau Willy tengah pura-pura tidur.
"Woyy.. Bangun.. Dasar kamu!!" ucap Boy dengan tegas.
Willy hanya diam saja sambil menahan tawanya.
"Willy,,, aku tau kamu sudah sadar.. Bangun!!!"
"Ckk..." Boy gemas pada Willy.
Kemudian Willy membuka matanya dengan pelan dan melihat ke arah Boy dengan sayu.
"Bos.. Ma af kan sa ya.." ucapnya sambil dibuat terpotong potong
"Mung kin u mur sa ya ti dak la ma lagi.." sambungnya
"Brisik kau will.. Dasar ya.!!! ." Boy tertawa sambil mencubit perut Willy karena kesal Willy mengerjainya
"Aaawww... Bosss.. Hahahaaa" Willy tertawa lepas karena kegelian, dengan ekspresi imutnya
Seperti itulah..
"Kurang ajar kau Will,, kau mengerjaiku hah?, makan sudah habis semangkuk begitu, pake pura-pura belum sadar!" tukas Boy seraya tertawa kecil sambil menunjuk mangkuk bekas bubur yang dimakan Willy
"Hehe... Maaf bos.."
"Bagaimana keadaanmu Bos?" tanya Willy
"Ck.. Kau gagal menjagaku will,, lihat nih kepala dan kakiku terkena tibanan alat bangunan itu!" ucap Boy.
"Maaf bos..." ucap Willy seraya tersenyum
"Willy,, kalau kau waktu itu tidak menolongku. Mungkin saja aku sudah mati.. Terima kasih willy" ucap Boy setulus hati
Willy tersenyum lebar sekarang
"Iya Bos,, itu sudah kewajiban saya bukan?"
Boy mengangguk dan tersenyum.
"Kak Will.. Kau tau, suamiku sangat menghawatirkanmu.. Sampai dia nangis teringat keadaanmu" ucap Luna sambil menatap Boy
"Sttt" bisik boy , ia malu mengakuinya
Willy kaget
"Waaww... Benarkah nona?"
__ADS_1
"Oh Bos,, kau sangat peduli ternyata padaku.." ucapnya.
"Tidak will,, aku tidak peduli padamu.." ucap Boy sambil memalingkan matanya dan menyembunyikan senyumnya.
"Bang Willy juga sangat menghawatirkanmu bos muda, sampai dia nekad ingin melihat keadaanmu tadi, padahal dia sendiri belum bisa bangun.." ucap Wulan
"Iya kan bang?" sambungnya sambil mengangkat alisnya dan tersenyum.
"Ahh.. Tidak juga.." tukas Willy sambil memalingkan wajahnya.
"Heii kalian ini saling sayang.. Tapi gengsi mengakui didepan orangnya ya hah?" ucap Luna sambil menatap Boy dan Willy.
"Tidak!" ucap Boy dan Willy dengan kompak sambil menatap Luna.
"Ah sudahlah.. Mengaku saja" desak Luna
Mereka hanya diam dan menutup mulut.
Willy dan Boy sama sama menyembunyikan perasaan yang sebenarnya, ya memang keduanya saling sayang. Seperti seorang adik dan kakak.
"Baiklah baiklah... Kalian malu mengakuinya, tapi kita sudah tau kebenarannya.. Ya kan paman?" ucap Luna seraya melirik keluarga Willy, seolah meminta persetujuan.
"Betul nona" ucap Sam sambil tersenyum
tuktuktukk...
"Assalamualaikum.." ucap seorang gadis sambil membuka pintu dan tersenyum pada mereka yang tengah mengobrol di dalam. Gadis itu berdiri di dekat pintu, ia memakai gaun syar'i berwarna biru muda dan bercorak putih dengan jilbab panjangnya.
Semua yang di dalam tertuju pada gadis itu.
"Waalaikumsalam.." jawab mereka
"Hana" ucap ibu Ayu sambil menghampiri Hana.
Ternyata Hana yang datang. Ia membawa seikat bunga yang telah dirangkai dengan indah dan sebuah parsel buah-buahan.
"Ibu.. Apa kabar?" ucap Hana sambil cipika cipiki dengan ibu Ayu. Hana biasa memanggil Ayu dengan sebutan ibu. Mereka sudah sangat akrab sekali
"Baik, sayang.. Mari masuk nak". Ibu Ayu menggandengnya menuju Willy.
Willy sudah senyum-senyum saja melihat kedatangan Hana.
"Hai.. Bang Willy" sapa Hana sambil melambaikan tangan seraya tersenyum manis padanya.
"Hai.." Willy membalas senyumannya.
Hana juga menyapa Boy, Luna, ayah dan adik-adik Willy.
"Mmm.. Bagaimana keadaan mu bang?" tanya hana dengan gugup.
"Alhamdulillah.. Baik, Hana" ucap Willy, ia tidak melepas pandangannya pada Hana, karena Hana sangat mempesona
Boy agak berbisik pada Luna
"Sayang,, sepertinya kita akan mengganggu di sini. Ayo duduk di sofa" ajak Boy pada Luna, Luna mengangguk dan mendorong kursi roda menuju sofa di ruang itu. Mereka mengobrol dengan paman Sam.
Hana tertunduk malu karena tatapan Willy yang sangat indah.
"Mm.. Sebelumnya Hana minta maaf baru bisa menjenguk sekarang,,," ucapnya sambil menatap ibu Ayu yang berdiri di sampinya. Ayu mengangguk dan tersenyum.
"Hana baru sampai dari manado, habis menjenguk nenek disana" sambungnya.
"Iya sayang.. Tidak papa.." ucap ibu Ayu dengan lembut
"Bagaiman keadaan nenekmu dan keluargamu disana sekarang?"
"Alhamdulillah ibu,, sehat semua keluarga di sana"
"Syukurlah.."
"O ya,, Hana bawakan buah-buahan buat bang Willy, buat semuanya.." ucapnya sambil malu-malu menatap Willy.
Willy mengangguk dan tersenyum
"Dan ini bunga untuk kak Willy". Hana menyerahkan rangkaian bunga itu kepada willy. Dan Willy menerimanya dengan senang hati.
Willy sedikit kaget karena bunga yang diterimanya adalah bunga mawar hitam yang di mix dengan bunga indah lainnya dan beraroma wangi.
Mawar hitam??. Seperti dalam mimpiku. Batin Willy sambil dahinya mengkerut seolah bertanya tanya.
"Apa bang Willy tidak suka bunganya?" tanya Hana, ia merasa Willy tidak menyukainya karena ia diam saja.
"Oh.. Bukan Hana, aku sangat menyukainya.. Aku sangat suka sekali bunga" ucap Willy sambil terus mencium aroma bunga tersebut.
"Oh syukurlah.." Hana terlihat senang mendengarnya.
"Ekhmm ekhmm.." Wulan mendehem ketika melihat Hana dan Willy saling tatap dan malu malu.
Hana kemudian melirik Wulan dan tersenyum padanya.
"Kak Hana, bagaimana perkebunan bungamu? Apa sudah pada mekar semuanya?" tanya Wulan
"Alhamdulillah Wulan, sekitar satu bulan lagi bunganya akan bermekaran. Kamu harus datang ke perkebunanku" ucap Hana
"Oya kak?"
"Iya.."
"Kamu menanam bunga apa nak?" tanya Ibu ayu
"Mm.. Aku sekarang sedang membudidayakan bunga mawar hitam, bunga kesukaanku, ibu" ucapnya.
"Oohh.. Bagus itu.. Sudah langka sekali kan bunga mawar hitam?"
"Benar ibu, karena cukup sulit juga membudidayakannya."
"Emm.. Iya iya..".
"Assalamualaikum..". Salam seorang tamu selanjutnya memasuki ruang rawat Willy. Dia adalah seorang ustadz dan seorang gadis. Serta mamah Rani juga Rendi dan keluarga kecilnya.
Semua mata kembali tertuju pada tamu yang datang itu seraya menjawab salam.
"Waalaikumsalam"
Willy membelalakan matanya karena yang datang adalah ustadz Hasan dan shafiyah, Rani dan Rendi juga nina dan anaknya.
"Mamah... A rendi" ucap Luna, memanggil Rani dan kakaknya itu. Kemudian ia menghampirinya dan memeluk Rani.
"Mamah... Luna kangen sekali,, akhirnya mamah kesini juga.. A rendi, teh nina, Naila dan Nazlan.." ucap Luna menyapa mereka
Rani dan Rendi tersenyum bahagia bertemu Luna juga nina dan ponakan Luna itu
"Kita tadi mencari ke ruang rawat nak Boy, perawat bilang kalian di sini, ya mamah sama ustadz Hasan kesini saja bareng." ucap Rani. Luna dan rani berbincang dan berkenalan dengan Ayu dan semua yang ada di sana, terutama menyapa boy dan menanyakan keadaanya.
Ayah sam kaget, pasalnya ia tau siapa ustadz Hasan itu.
"Lhohh.. Ini Ustadz Hasan yang kondang itu kan? Willy?" tanya nya pada willy sambil melihat Ustadz Hasan dan Willy.
__ADS_1
"Ii.. Iya ayah" ucap Willy dengan gugup.
"Tuan bisa saja" ucap Ustadz Hasan seraya tersenyum pada Sam dan mereka saling sapa di sana dan berkenalan
Sam menyalami Ustadz Hasan, ia sangat senang sekali bertemu ustadz Hasan. Karena Ustadz Hasan adalah salah satu orang yang digemari Sam. Ustadz Hasan sering menghadiri acara tabhligh akbar di setiap pengajian di kota.
Sementara Shafiyah hanya berdiri saja di belakang Ustadz Hasan sambil merunduk, karena dia gadis pemalu.
"Kamu kenal dimana dengan ustadz ini Will? Kenapa tidak beritahu ayah hah?" tanya Ayah Sam pada Willy, dengan tangannya tidak lepas dari bahu Ustadz Hasan.
"Emmm.. Ada lah.. Ayah.. Ceritanya panjang" jawab Willy. Jantungnya dagdigdug gak karuan, karena ada dua gadis yang mempesonanya di sana.
Luna dan Boy terkekeh melihat ekspresi Willy yang begitu gugup memandang Hana dan Shafiyah. Sementara yang lain terlihat santai saja karena mereka belum tau.
Kemudian Luna menyapa Shafiyah yang diam saja di sana
"Shasha.. " sapa Luna pada Shafiyah seraya tersenyum manis
"Teteh Lubis" jawabnya. Kemudian mereka berpelukan
"Apa kabar kamu dik?"
"Alhamdulillah luar biasa teh"
"Syukurlah..".
Mereka berbincang basa basi di sana.
"Ayo aku kenalkan pada calon mertuamu" goda Luna sambil berbisik pada Shafiyah. Luna merangkul bahu Shafiyah dan mengajaknya berkenalan dengan ibu Ayu, seraya mensenyumi Willy yang tengah menganga melihat aksi Luna yang memperkenalkan Shafiyah pada ibunya
Shafiyah hanya tersenyum dan merunduk.
"Bibi,, kenalkan ini Shafiyah" ucap Luna.
"Hai nak.. Manis sekali kamu..." ucap Ayu pada Shafiyah sambil cipika cipiki dan senyum ramahnya.
"Hai tante,," jawab Shafiyah seraya tersenyum dari balik cadarnya
Nanti deh aku ceritain kisahnya di depan, gimana pertemuan pertama Willy dengan shafiyah pas waktu di kampung Luna.
Kemudian Shafiyah juga berkenalan dengan Hana dan adik-adik Willy. Setelah itu, ia kembali lagi berdiri di belakang Ustadz Hasan
"Kak Luna, apa itu Shafiyah yang ditaksir bang Willy ya?" tanya Wulan pada Luna sambil berbisik
Luna mengangguk dan tersenyum
"Haaah?" wulan membulatkan bibirnya sambil menutupnya dengan tangan.
"Bagaimana kabarmu brother?" tanya Ustadz Hasan pada Willy sambil berjabat tangan.
"Alhamdulillah kang Ustadz, seperti inilah kondisi saya" jawab Willy sambil tersenyum. Mereka sudah sangat akrab sekali, karena Willy sering menghubungi Ustadz Hasan sekedar mendengar tausiah darinya.
"cepat sembuh lah brother., dan cepat nikahi Shasha oke, kau sudah berjanji bukan?" ucap Ustadz Hasan menggoda Willy
Willy semakin membelalakan matanya atas ucapan ustad Hasan dan ia hanya mengangguk pelan
Sontak saja ibu Ayu kaget dan bertanya tanya dalam hatinya dan memelototi Willy, seolah bertanya apa maksudnya
Mereka di sana juga kaget. Luna dan Boy kembali terkekeh melihat ekspresi willy yang pucat pasi
"Uhukk.. Uhukk.." Hana keselek salivanya
Apa ini. Apa maksudnya? Bang Willy akan menikahi Shafiyah?. Batin Hana. Hatinya serasa disambar geledek dan hancur. Pasalnya dia sangat mencintai Willy, walau tidak ada status apapun dengan Willy
"Kamu gapapa nak?" tanya ibu Ayu
Hana menggeleng
"Aku keluar dulu, ibu".
Hana berlari keluar ruangan, kemudian Wulan mengejarnya setelah diberi kode oleh Ayu agar mengejarnya
Willy ingin menegur Hana dan menjelaskannya, tapi dia tidak bisa berkutik sekarang
"Tuan Sam, brother Willy pas waktu dikampung saya sempat menanyakan calon untuknya. dan dia tertarik pada adik saya ini, Shafiyah.." ucap Ustadz Hasan sambil menunjuk Shafiyah dibelakangnya
"Oo ya? Benar Willy?" tanya Sam
Willy hanya tersenyum yang dipaksa
"Benar-benar kamu Willy, kenapa tidak memberitahu ayah?" ucap sam sambil menggeleng
"Willy!!" ibu Ayu menatap Willy tajam seolah ingin menerkamnya.
Willy menelan salivannya dengan berat
Ustadz Hasan tersenyum
" Shasha, kamu tidak mau menyapa kak Willy?" ucap Ustadz Hasan sambil melirik Shafiyah.
"Mm... Iya, hai.. Kak Willy" ucap Shafiyah malu-malu pada Willy
"Hai Shasha.." ucap Willy dengan senyum manisnya.
Wajah Willy seketika pucat dan ia salah tingkah ketika melihat Shasha, kemudian melirik Hana.
"Brother saya tidak bisa lama di sini, nanti selepas dzuhur saya ada acara mengisi tausiah di masjid agung al-hikmah" ucap Ustadz Hasan sambil melirik jam ditangannya.
"Apa masjid al-hikmah di kota ini Ustadz?" tanya Sam
"Benar tuan" ucap Ustadz hasan sambil mengangguk
"Wah ... kalau begitu saya juga akan ke sana" ucap sam dengan semangatnya.
"Ohh.. Mari tuan, saya senang sekali jika tuan bisa hadir"
"Tentu saja, saya juga senang bisa berjumpa langsung denganmu Ustadz.."
Mereka tersenyum
"Shasha.. Ada yang mau kamu sampaikan pada kak Willy?" tanya Ustadz Hasan pada Shafiyah
Shafiyah mengangguk dan maju dengan malu-malu.
Ia berhadapan dengan Willy
"Mm. Kak Willy cepat sembuh.. Ini untuk.. Kak Willy" ucap Shafiyah dengan gugup dan gemetar menyerahkan setangkai mawar merah yang berbunga tiga buah.
"Terimakasih Shasha..." ucap Willy sambil menerima bunganya, hampir saja tangannya menyentuh tangan Shasha dan Shasha langsung menarik tangannya.
"Maaf" ucap Willy
Shafiyah mengangguk.
Kemudian mereka pamitan karena Ustadz Hasan akan menghadiri tausiah di masjid yang dimaksudnya tadi.
"Ibu, ayah berangkat dulu ya" ucap Sam pamitan pada Ayu yang tengah bengong disana
__ADS_1
"Oh.. Iya ayah.." ucapnya sambil mencium punggung tangan Sam, tatapannya kosong, ia masih tidak percaya dengan ucapan Ustadz Hasan tadi.
Kemudian Ustadz Hasan, Sam, dan shafiyah pergi dari sana seraya mengucap salam.