Cinta Sesudah Menikah

Cinta Sesudah Menikah
Wulan dan Bastian


__ADS_3

Setelah berbincang cukup lama di ruang rawat Willy, Lidya memutuskan untuk kembali ke ruangan Boy.


Bastian berjalan dibelakang mengikuti Lidya yang sudah masuk ke ruang rawat Boy bersama Bayu, Zahwa, dan Bianka, serta Har juga kembali ke ruangan Boy karena ingin bertemu Mirza.


Ketika Bastian hendak masuk, ia melihat Wulan tengah berjalan sendiri menuju ke luar sambil menunduk


"Wulan mau ke mana?" tanya Bastian sambil tersenyum.


Wulan mengangkat kepalanya dan tersenyum pada Bastian


"Aku mau belikan soto buat ibu, dia gak mau makan dari kemarin, semoga saja ibu mau kalau makan soto kesukaannya" jawab Wulan.


"Oohh.. Kalau gitu aku antar, ayo" ajak Bastian


"Gak usah kak Bastian, nanti ngerepotin lagi"


Tolak Wulan


"Ya enggak lah,, ayo.. Sekalian aku mau cuci mata lihat-lihat keramaian ibu kota. Hehe"


"Oh.. Iya.. Gapapa nih? Tempanya jauh lhoh" ucap Wulan


"Gapapa,, ayo.."


Bastian berjalan duluan sambil menenteng jasnya, karena merasa gerah, eh belum mandi juga dari kemarin sore. Tapi gapapa masih tetap wangi dan cool.. Menurutnya. Hehe


Wulan senang saja dan ia mengikuti Bastian dari belakang.


"Tunggu!" Bastian menghentikan langkahnya dan berbalik ke belakang


"Aku lupa, tidak bawa mobil.. Aku pinjem dulu punya ayahku ya.."


Dengan jurus seribu langkah Bastian berlari kembali menuju ruang rawat Boy dan minjam kunci mobil punya ayah Mirza.


Wulan mematung saja di sana sambil membelalakan matanya dan terkekeh melihat tingkah Bastian


Kemudian Bastian kembali lagi menghampiri Wulan setelah mendapat kunci mobilnya.


"Huhh.. " Bastian melepaskan udara


"Ayo Wulan.."


"Iya kak.."


Wulan mengikuti lagi dari belakang


Sampailah di mobil dan mereka melaju ke tempat yang dituju.


Butuh waktu sekitar tiga puluh menit menuju tempat yang dimaksud. Yaitu tempat penjualan soto yang populer di daerahnya.


Ketika di dalam mobil, mereka hanya diam saja dan fokus pada pikirannya masing masing. Degdegan dan saling membisu, padahal kalau lagi ngobrol via telpon atau vc, mereka akrab banget malah saling becanda.


"Mm.. Wulan" panggil Bastian membuka pembicaraan


", hmm?" jawab Wulan


"Kamu.. Taun ini lulus sekolah sma kan? Apa ada rencana untuk kuliah?" tanya Bastian sambil sesekali melirik Wulan dan fokus mengemudi


"Rencana sih ada ya,, tapi tidak tau mau kuliah dimana, semua universitas bagus soalnya, jadi aku bingung milihnya. Hehe"


"Emm.. Begitu.. Di turki aja, gimana?"


"Ah.. Kayaknya enggak deh, jauh soalnya, dan aku gak bisa jauh dari ibu dan ayah.., jadi mungkin di indo aja" jawabnya dengan mata fokus ke depan.


"Oo" Bastian membulatkan bibirnya.


"Yaa. Di indo banyak ya universitas bagus,, dimana aja yang penting kamu nyaman kan?"


"Iya.. Betul itu"


Hening....


Hening....


Gujlekkk.. Ban mobil melintas lobang di jalan, hingga membuat penumpang terperanjat dan kaget.


"Ashtaghfirullah" ucap Wulan sambil mengelus dadanya


"Oh my god.. Sorry Wulan,, aku gak lihat ada lubang di jalan"


"Is oke gapapa kak"


Kemudian mereka tertawa


"Aku jadi kaku begini ya, apa gara gara ada wanita cantik di sebelahku" goda Bastian sambil matanya fokus ke depan


Wulan hanya diam, tapi berhasil membuat pipinya merona. Tapi dia tidak mau kegeeran.


"Fokuslah mengemudinya kak, jangan melamun" ucap Wulan


"Jujur aku gak bisa fokus tau gak" ucap Briand


"Kenapa kak?"


"Karena di pikiranku cuma ada kamu"


Ea ea ea...


Wulan terkekeh dibuatnya


"Sa ae kamu.." ucapnya sambil menutup mulut dan tersenyum.


"Beneran.." ucap bastian


"Wulan cita citanya jadi apa si?"


"Mm.. aku bingung kak, semua cita-cita aku mau.. Hehe"


"Bagaimana kalau kita berdua jadi komplotan perampok?" Bastian memberi usul


"Apa?" wulan kaget


"Iya.. Aku merampok hatimu dan kamu merampas hatiku." ucapnya sambil terkekeh


"Aihh... Kirain beneran ngajak ngerampok


Bastian tertawa.

__ADS_1


"Kamu ada spidol gak?"


"ada, buat apa? ". Wulan mencari spidol ke tasnya


"Buat warnaian kalender, biar gak ada kata libur untuk mencintaimu."


Sontak saja Wulan terdiam.


"Kak yang bener dong..!" ucap Wulan


"Gombal mulu ih.."


"Tapi kamu suka kan?" Bastian melirik Wulan


"Au ah.."/wulan malu-malu.


"O ya kak Bastian kok kurusan ya sekarang?"


Wulan mengalihkan pembicaraan


"Masa sih? Tapi gapapa"


"Orang kurus itu setia, makan aja tidak pernah


nambah apalagi pasangan." ucapnya sambil menatap Wulan, Wulan malah memalingkan wajahnya dan menggeleng seraya tersenyum


"Iya deh,, setia ya" wulan mengangguk


Bastian berhenti dulu di pom bensin dan mengisi bahan bakar di sana sampai selesai dan membayar cash.


"Murah ya sekarang harga bensin, dulu sempat naik kan? " ucap Bastian sambil kembali mengemudi


"Iya kak, di turki gimana?" tanya wulan


", aku gak tau, biasanya sekretaris Ummar yang mengurus"


"Emmm"


"Cukup harga bensin saja yang turun ya wulan, perasaanmu jangan."


"Apa sih maksudnya kak basti.. Ih.." Wulan bingung dan malu malu


"Pura pura kamu,, kamu suka kan sama orang ganteng di sampingmu ini?" ucap Bastian dengan pdnya.


"Apa sihh.. Ng gak.. " ucap Wulan


"Yahh. Oke deh.. Aku pikir kamu suka"


Wulan hanya diam menahan perasaannya, yang sebenarnya..


"Wulan gak mau nanya gituh, apa cita citaku atau apa gitu?"


"Oohh kak Bastian pengen ditanya?"


Bastian mangguk-mangguk


"Mm.. Oke, apa cita cita yang sebenarnya selain bisnis kak?"


"sebenarnya aku pengen jadi atlet"


"Oya? Atlet apa?"


"Kalau gitu pernah gak lari maraton?"


"Pernah,, dulu sama kak Bayu tanpa sepengetahuan ayah dan ibu. Kita lari berdua sampai finish"


"O ya??" wulan tidak menyangka


"Iya.. Bahkan Aku sanggup ikut lomba lari keliling dunia"


"Ah yang bener kak Basti?" tanya wulan nampak takjub


"Iya.. asalkan engkau yang menjadi garis finishnya."


Goda bastian


Aweuu


Wulan kembali terkekeh dan menggeleng, kemudian memukul bahu Bastian sambil tertawa


"Aduh kak... Kirain beneran"


"Aku beneran Wulan"


"Udah ah" wulan pegal senyum terus


"Cita-citaku kan pengen jadi atlet lari, tapi sekarang berubah lah.."


"Kenapa?"


"Karena setelah mengenalmu, cita citaku berubah jadi ingin membahagiakanmu saja"


Bastian tertawa


"Iiihh... " wulan mencubit bahu bastian karena gemayy


"Shh.. Awww.. Sakit wulan."


Bastian mengusap bahunya


"Habisnya gombal terus tau gak..."


"Ya udah oke,, sorry.. O ya tolong kencangin ACnya dong, gerah nih"


"Oke.. " wulan menyalakan ACnya dan wusssshh. Udara dingin keluar dari ac.


"Wulan Kamu tau gak apa persamaannya kamu sama AC?"


"Apa emangnya?


" Sama-sama bikin aku sejuk."


"Bisa aja.. "


Tidak terasa mereka sudah sampai di tempat tujuan, mereka melihat warung soto itu penuh banget dengan pembeli.


"Huuhh padat banget kak" ucap wulan sambil melirik ke arah warung itu

__ADS_1


"Iya lah,, mereka juga butuh sandang pangan kan"


"Hmm"


"nah kalo orang kebutuhan primernya ada tiga yaitu sandang pangan dan papan, tapi kalau aku kebutuhannya kamu, kamu, kamu."


"Udah ah kak bastii.." wulan agak cemberut sambil menyembunyikan senyumnya. Baper dia.


Bastian berhasil membuat wulan merona pipinya, kemudian ia tertawa lepas..


"Aku turun dulu ya kak Basti.."


"Aku aja wulan, kamu tunggu di sini"


"Hah... Enggak usah kak"


Wulan merasa tidak enak


"Udah diem.. Oke". Bastian membuka pintu dan turun dari mobil.


"Tapi.."


Aduh.. Aku kok jadi ngerepotin kak Bastian sih.. Batinnya


Bastian turun kemudian ikut mengantri, cukup panjang antrian disana. Bastian berdiri di sana sambil menyilangkan tangannya di dada, tidak sungkan dia menunggu panas panasan.


Wulan hanya memerhatikan dari dalam mobil, ia tidak tega sebenarnya melihat Bastian panas panasan mengantri. Ketika wulan ingin menghampirinya, mobilnya dikunci oleh Bastian.


Trektrekkk.. Pintu mobil mencoba dibuka Wulan.


"Dikunci???.. Tega banget sih kak Basti,, ya Allah pake dikunci segala"


Setelah menunggu sepuluh menit, Bastian kembali dengan membawakan dua mangkuk soto. Kemudian membuka mobilnya.


"Wulan,, ini untuk mu, kita makan dulu.. Untuk bibi Ayu sedang aku pesankan" bastian menyerahkan satu mangkuk soto pada Wulan.


"Ya ampun kak,, aku ngerepotin ya.. "


"Enggak.. Santai aja.. Ayo makan.. Aku udah lapar"


"Di dalam penuh banget, kasian kamu nanti kalau kita makan di dalam, jadi aku minta sama mas nya biar diijinin makan di mobil. Hehe.." ucap Bastian sambil menyantap sotonya


"Dia gak takut kita kabur?"


"Enggak lah.. Udah ku bayar, lebih malah"


Wulan tersenyum.


Perhatian banget.. Batinnya


"Emmm... Enak sekali sotonya ya" Bastian sangat menikmatinya


"Iya.. Ini udah jadi langganan keluargaku dari dulu"


"Baru tau aku"


Sampai selesai makan sotonya. Kemudian pemilik warung mengantar pesanan bastian dan mengambil mangkuk bekas dipakai Bastian dan Wulan . Bastian memesan lima porsi soto buat keluarga Wulan.


"Ini banyak banget kak" wulan kaget dengan isinya.


"Lhaa itukan untuk kamu dan paman serta bibi, dan wanda kan"


"Mmm,,, makasih ya, aku gak enak tau jadinya "


"Enakin aja Wulan" ucap bastian sambil menyetir mobilnya dan tersenyum.


Dalam perjalanan kembali ke rumah sakit..


"Wulan, bagaimana hubunganmu dengan fakih?" tanya Bastian


"Aku gak ada hubungan sama dia a, bahkan kabar pun gak ada" jawab Wulan


"Lho,, kenapa?"


"Gak tau juga sih,, mungkin dia sibuk. Dia kan chef di jepang, kerjanya hampir 24 jam. Jadi mungkin gak ada waktu buat kasih kabar" ucap wulan dengan raut wajah agak semu.


"Oohh.. Kata kamu,, dia nungguin kamu lulus sekolah ya?"


"Iya, dua tahun yang lalu, sebelum ia berangkat ke jepang"


"Kamu menyukainya wulan?"


"Mm.. Aku gak tau kak" ucap Wulan sambil tersenyum tipis


Bastian menghela nafas atas jawaban wulan. Kemudian hening sepanjang perjalanan.


Sampai akhirnya mobil sampai lagi di halaman rumah sakit.


Kemudian Wulan turun seraya mengucap terima kasih pada Bastian.


"Mm.. Wulan" panggil Bastian ketika Wulan sudah turun dari mobil


"Ia kak?" Wulan menundukan kepalanya melihat ke Bastian karena terhalang atap mobil.


"Maaf ya, tadi aku banyak becandain kamu, godain kamu, padahal kamu sudah ada hati yang nungguin.. Jangan di masukan ke hati ya.. Hehe.. "


"Ooh"


Apa?? Dia cuma becanda? Padahal aku sudah baper banget. Aku pikir kamu tulus dari hati kak Bastian. Batin Wulan. Ekspresinya nampak muram.


"Ooh. Iya gapapa kak, santai aja" ucap Wulan dengan datar.


Bastian tersenyum


"Aku pulang dulu" ucapnya


"Iya.. Aku pikir mau ke dalam lagi langsung"


"Enggak. Aku mau bersihkan badan dulu, nanti malam aku kembali lagi ke sini "


"Ooh.. Hati-hati kalau begitu.."


"Dahh.. Assalamualaikum.."


"Waalaikumsalam" jawab Wulan sambil melambaikan tangan.


Kemudian Bastian melaju lagi mobilnya menuju rumahnya

__ADS_1


Wulan nampak kecewa dengan sikap Bastian, padahal dia berharap sekali pada Bastian


"Ya Allah,, ashtaghfirullahaladzim... Perasaan apa yang menggangguku". Wulan mengelus dadanya dan kembali masuk ke dalam sambil menenteng kantong kresek yang berisi soto tersebut


__ADS_2