Cinta Sesudah Menikah

Cinta Sesudah Menikah
Menceritakan kisah


__ADS_3

Tengah malam, sekitar jam satu kala itu, Luna terbangun dari tidurnya, kemudian ia pergi ke toilet hendak bak.


Selepas dari kamar mandi, ia dapati bianka masih duduk termangun di sofa. Kemudian Luna menghampirinya.


"Biy.. Kok belum tidur dek?" tanya Luna


"Ayah sama ibu kok gak kesini lagi" ucap Bianka dengan cemberutnya


Kemudian ada pesan masuk dari ibu Lidya pada ponsel Luna.


Luna membacanya


"Oohh.. Ibu nginap di hotel sama ayah dek.. Gapapa ya" ucap Luna usai membaca pesan dari ibu lidya


Lidya dan Mirza menginap di hotelnya seusai jalan jalan malam itu.


"Hmm... Aku gak bisa bobo kak" ucap Bianka


"Yasudah sini kak Luna temenin"


Luna duduk disamping Bianka


"Kak ceritain kisah dong..." pinta Bianka


"Boleh.. Sini kamu berbaring di pangkuan kakak, kakak ceritain kisah oke.."


Bianka mengangguk dan berbaring di pangkuan Luna


Cerita apa ya??. Batin Luna, ia bertanya tanya


O iya..

__ADS_1


"Kisah perjanjian damai Hudaibiyah dan kisah sayyidina Abu jandal dan Sayyidina Abu Bashir Rhadiyallahu 'anhu.


Perjanjian Hudaibiyah telah merugikan kaum Muslimin. Duka dan tekanan yang sangat mendalam dialami para sahabat dari perjanjian ini. Di antaranya Abu Bashir dan Abu Jandal, dua sahabat Nabi SAW yang kisahnya menjadi perhatian. Begitu kuatnya keislaman mereka, maka kekuatan apapun tidak akan membuat mereka lepas dari agama Allah.


Dikisahkan dari buku “Himpunan Fadhilah Amal” karya Maulana Muhammad Zakariyya al-Kandahlawi Rah.a bahwa pada tahun keenam Hijrah Nabi Saw ke Madinah, Beliau ingin berumrah dan berziarah ke Makkah. Kabar ini diketahui oleh orang-orang kafir Makah yang membuat mereka merasa terhina. Sehingga, mereka berencana untuk menghalangi perjalanan Nabi SAW di suatu tempat bernama Hudaibiyah.


Pada saat itu, Nabi SAW pergi bersama para sahabat yang telah siap mengorbankan jiwa raga mereka di jalan Allah. Namun, demi kebaikan penduduk Makkah, Nabi SAW tidak menghendaki perang. Beliau berusaha mengadakan perjanjian dengan mereka.


Meski saat itu para sahabat telah siap berperang, Nabi SAW tetap memperhatikan orang-orang kafir dan menerima syarat yang mereka ajukan. Sebenarnya para sahabat sangat tertekan dengan perjanjian ini, tetapi mereka tidak dapat berbuat apa pun terhadap keputusan Nabi SAW. Sebab jiwa raga mereka telah diserahkan untuk menaati beliau, bahkan seorang pemberani seperti Umar pun merasa tertekan dengan perjanjian ini.


Adapun salah satu isi keputusan perjanjian tersebut adalah: Orang-orang kafir yang telah masuk Islam dan berhijrah, harus dikembalikan ke Makah dan orang Islam yang murtad dari Islam tidak dikembalikan ke kaum Muslimin.


Belum sah perjanjian itu, seorang sahabat bernama Abu Jandal ra yang telah ditahan, disiksa, dan dirantai oleh kaum kafir karena keislamannya, jatuh bangun mendatangi Nabi SAW dan sahabat. Ia berharap dapat bergabung dengan kaum muslimin dan terbebas dari musibah yang dialaminya.


Ayahnya yang bernama Suhail, pada saat itu merupakan wakil orang kafir dalam perjanjian Hudaibiyah (ia akan masuk Islam pada saat fathul Makah). Ia menampar anaknya dan memaksanya kembali ke Makkah. Sabda Nabi SAW kepada Suhail, “Perjanjian belum diputuskan, maka belum ada peraturan yang berlaku.”


Suhail terus memaksa disahkannya perjanjiann tersebut dan Nabi SAW menjawab, “Aku meminta agar ada satu orang yang diserahkan kepadaku.” Namun mereka menolak pertukaran itu. Abu Jandal ra berkata kepada kaum Muslimin, “Aku datang untuk masuk Islam, banyak penderitaan yang aku alami. Sayang, aku akan dikembalikan lagi.”


Setelah selesai perjanjian Hudaibiyah, seorang sahabat yang bernama Abu Bashir ra melarikan diri ke Madinah setelah keislamannya. Kaum kafir mengutus dua orang untuk membawanya kembali ke Makkah. Sesuai dengan perjanjian, Nabi SAW mengembalikan Abu Bashir ra kepada mereka.


Abu Bashir berkata, “Ya Rasulullah, aku datang setelah menjadi Muslim, dan engkau kembalikan aku kepada kaum kufirr?” Nabi SAW menasehatinya agar bersabar, “Insya Allah, sebentar lagi Allah akan membukakan jalan bagimu.” Akhirnya, Abu Bashir dikembalikan ke Makkah bersama kedua utusan tadi.


Di tengah perjalanan, Abu Bashir ra berkata kepada seorang penjaganya, “Hai kawan, pedangmu bagus sekali.” Karena merasa pedangnya dipuji, orang itu dengan bangga mengeluarkannya dan memberikannya kepada Abu Bashir sembari berkata, “Ya aku telah menebas banyak orang dengan pedang ini.”


Begitu berada di tangan Abu Bashir, ia langsung mencoba pedang itu kepada pemiliknya. Ketika penjaga yang lain melihat temannya tewas, ia berpikir selanjutnya adalah gilirannya. Maka, ia langsung melarikan diri ke Madinah dan menghadap Nabi SAW. “Temanku telah dibunuh dan sekarang akan tiba giliranku,” adunya pada Nabi SAW.


Pada saa itu Abu Bashir ra pun tiba di hadapan Nabi SAW. Ia berkata, “Ya Rasulullah, engkau telah memenuhi janjimu dengan mereka, dan aku pun telah dipulangkan, namun aku tidak memiliki janji apa pun yag menjadi tanggung jawabku atas mereka. Kulakukan semua ini karena mereka berusaha mencabut agama dariku.”


“Kamu telah menyulut api perang. Seandainya ada yang dapat menolongmu.” Atas sabda Nabi SAW itu, Abu Bashir ra memahami bahwa jika ada kaum kafir yang memintanya kembali, maka ia akan dikembalikan lagi kepada mereka. Akhirnya ia memutuskan untuk pergi ke sebuah tempat di dekat pantai.


Berita ini telah tersiar kepada orang-orang di Makkah. Maka, Abu Jandal ra. pun  melarikan diri dan bergabung dengan Abu Bashir ra. Demikian pula dengan orang-orang yang telah masuk Islam, banyak yang bergabung dengan mereka.

__ADS_1


Dalam  beberapa hari mereka menjadi segerombolan kecil. Sampai akhirnya mereka berada di sebuah hutan yang di dalamnya tidak ada makanan atau kebun sedikit pun, bahkan penduduk. Hanya Allah yang mengetahui keadaan mereka. Jika ada kafillah orang-orang kafir yang melewati tempat tersebut, mereka akan melawannya.


Kaum kafir di Makkah pun merasa ketakutan sehingga mereka terpaksa menjumpai Nabi SAW dan merayunya dengan membawa nama Allah, alasan kekeluargaan, dan sebagainya agar Abu Bashir beserta lainnya dipanggil. Akhirnya, Nabi SAW menulis surat kepada Abu Bashir dan lainnya agar mereka kembali. Ketika surat itu tiba di tangan Abu Bashir, ia sedang menderita sakit yang sangat parah. Dan ia wafat ketika tangannya sedang  memegang surat Nabi SAW. (Bukhari - Fathul Bari)."


Luna selesai berkisah, dan ia melihat Bianka sudah tertidur. Kemudian Luna mengangkat kepala Bianka dengan Hati-hati dan menidurkannya di sofa. Luna kembali ke ranjang dan tidur kembali di samping Boy


Boy membuka matanya dan tersenyum ketika Luna hendak berbaring.


"Dari mana sayang?" tanya Boy


"Aku habis dari kamar mandi, beser banget aku sekarang, ketika perut makin besar" ucap Luna


"Emm.. Ya sudah bobo lagi" ucap Boy.


Luna berbaring


"A,, elusin dong perutku.. Hmm" pinta Luna, ia merasa perutnya pegal dan tidak nyaman, maklum ya Luna namanya juga lagi hamil, apalagi hamilmu tidak biasa sekarang.. Hehe


"Iya boleh sayang.. Sini" Boy membelai perut Luna dengan lembut sambil memejamkan matanya


"A,, aku pindah aja ya bobonya, takut ganggu kamu"


"Jangan,, emangnya ganggu gimana?"


"Iya,, aku suka gak diem kalo tidur, karena nyari posisi nyaman, aku takut nanti nyenggol kakimu"


"Enggak sayang.. Gak boleh pindah, di sini saja.."


"Iya..."


Kemudian mereka tertidur kembali.

__ADS_1


Sampai beberapa menit lagi Luna Kembali ke toilet buat bak. Begitulah setiap malam. Kayak author ketika hamil sering bulak balik ke toilet karena beser..


__ADS_2