Cinta Sesudah Menikah

Cinta Sesudah Menikah
Curhat lagi


__ADS_3

Luna tengah memakaikan baju kerjanya Boy pagi itu. Boy memerhatikan ekspresi Luna yang hanya diam saja dan fokus pada dasi yang ia pakaikan padanya.


"Kenapa diam saja sayang? " tanya Boy sambil terus melihat mata indah Luna.


Luna tersenyum dan ia menjawab "kak Boy waktu itu janji sama Luna, tapi belum di tepati,, kapan mau di tepati? Awas aja kalau sampai ingkar, Luna gak akan percaya lagi sama kak Boy" jelasnya dengan bibir sedikit manyun


Boy berfikir keras, ia memikirkan apa ya yang aku janjikan pada luna. Batinnya. Ia memutar mutar bola matanya.


"Aku benar benar Lupa sayang, katakan.. Bias segera mungkin kak Boy lakukan"


"Tuh kan bener, ternyata kak Boy Lupa selama ini. Hmm" Luna cemberut.


"Iya ayo katakan, kak Boy tidak ingat janjinya"


Luna tersenyum genit dan mendekatkan wajahnya pada Boy seraya berkata "kapan kita berkunjung ke kampungku, aku sudah rindu ingin bertemu ayah sama mamahku" ucapnya


"Ya ampun cintaku, itu yang membuatmu manyun dari tadi hm.. " Boy mencubit hidung Luna yang mungil itu


"Baiklah sesegera mungkin kita akan berangkat ke sana, sekarang kak Boy mau selesaikan kerjaan di kantor, dan nanti kita berangkat ke sana oke" jelas Boy dengan senyum manisnya.


"Alhamdulillah... Iya kak Boy, semoga lancar untuk hari ini kerjanya dan pulang membawa beras dan sebongkah berlian untuku. Hehehe" ucapnya dengan senang dan tidak lupa ia suka becanda.


"Hh hm kamu itu lucu sekali, beras banyak di rumah sayang, kalau untuk berlian baiklah nanti kak Boy belikan" ucapnya serius


"Ih kak Boy, aku cuma becanda tau.. Gak usah..


Nah sekarang sudah rapih, ayo kita sarapan"


Luna menarik tangan Boy dan mereka sarapan pagi itu.


Di ruang makan sudah siap semuanya. Lidya, Briand dan Bianka.


Boy menyapa seraya mengucap selamat pagi pada semuanya. Kemudian ia duduk di kursinya.


Luna menyiapkan nasi dan lauk di piringnya Boy


"ini kak Boy, makan yang banyak suamiku, supaya bertenaga kerjanya.. Hehe".


"Terima kasih sayang, kita makan sepiring berdua oke" pintanya


"Mm baiklah" Luna mengambil sendoknya tapi Boy menahannya


"Aku ingin makan dari tanganmu,ayo suapi aku" pintanya dengan senyum manisnya.


"Oo iya boleh"


Luna mencomot nasinya dan mulai menyuapi Boy, boy sangat menikmatinya, ibu dan adik adiknya hanya memerhatikan seraya tersenyum pada Boy dan Luna


"Kak Boy makin mesra aja si sama kak Luna" ucap Bianka


"Harus dong de" singkat Boy sambil mengunyah makanannya.


"O ya Luna ibu hari ini mau ke sekolahnya Bianka, ada pentas seni di sana, kamu mau ikut? " tanya Lidya


"Mm, sepertinya tidak ibu. Luna ads kegiatan lain. Hehe"


"Oo begitu, iya sudah"


"Memangnya kamu mau apa sayang? " tanya Boy


"Kak Boy, boleh ya hari ini aku mau bagi bagi makanan buat anak anak jalanan. Udah seminggu ini aku belum bertemu mereka, biasanya aku tiap hari bertemu mereka. Berhubung toko ku tutup, aku mau membawa makanan dari rumah, boleh ya kak Boy, ibu? " Luna meminta ijin


"Oo boleh dong sayang, bagus itu.. Ibu setuju" ucap Lidya


"Oke ibu sudah ijinkan, aku juga harus ijinkan, kamu baik baik ya selama di luar nanti" ucap Boy.


"Terimakasih semuanya Luna senang sekali"


Ucapnya terlihat sumringah..


Beberapa menit kemudian selesai sudah sarapan mereka.


Briand berangkat duluan ke sekolah.


"Kak, Bu, Briand berangkat ya Assalamualaikum " ucapnya sambil menyalami Boy dan Lidya.


"Iya nak, waalaikumsalam "


"Iya dek waalaikumsalam , hati hati oke" ucap Boy


"Waalaikumsalam " ucap Luna

__ADS_1


"Siap,, dah kak ipar"


"Dah.. Semangat belajarnya Briand" ucap Luna


"Pasti kak". Ucapnya ia langsung berlalu dari sana menuju mobilnya dan berangkat ke sekolah.


Pada akhirnya Boy, Lidya dan Bianka juga berangkat, Luna mengantar sampai teras depan. Dan berangkat lah mereka. Kini tinggal Luna sendiri di rumah, eh tapi ada pelayan dan penjaga juga si.


"Hmm saatnya melaksanakan rencanaku, aku mau masak dan bikin cake yang lezat, untuk nanti di bagikan ke anak anak jalanan,, yee semangat" ucapnya sambil ia bergegas ke dapur.


Sesampainya di dapur, Luna disambut oleh para pelayan.mereka kaget dengan kedatangan Luna, karena baru kali ini dia ke dapur.


"Nona apa ada yang bisa kami bantu!? " tanya seorang pelayan


"Aku mau masak, kalian Bantu aku oke" ucapnya


"Haah jangan Nona nanti Bos muda Boy marah jika ia tau nona masak di dapur" ucap pelayan


"Kalau begitu kalian jangan beri tau suamiku, gampangkan" ucapnya seraya tersenyum manis. dan mulai ia mencari cari bahan masakan.


"Nona biar kami saja yang masak. Nona duduk saja di kursi" usul pelayan.


"Tidak tidak, aku harus masak. Kalian harus tau aku bisa masak Lho" ia duduk di kursi dan mulai memotong motong bahan masakan. Di dapur ada meja khusus buat pelayan makan dan biasa di pakai juga sebagai tempat menyimpan bahan makanan yang akan di olah.


"Nona, kami mohon, biar kami saja" ucap mereka


Luna menghela nafas panjang. "Hmm baiklah.. Oke aku faham, Kalian yang masak.. Aku ingin buat seratus nasi kotak dan seratus kotak cake beraneka rasa..kalian siap? "


"Oh siap siap nona, akan kami kerjakan sekarang juga". Ucap pelayan


"Tapi untuk apa nona, maaf kami ingin tau"


"Aku mau bagi bagi aja, nanti kalian juga bantu aku oke"


"Oh baiklah nona" ucap mereka dengan senang hati.


Kemudian mereka bergegas mengumpulkan semua bahan makanan yang akan mereka olah dan bekerja sama membuatnya. Luna hanya mengarahkan dan memeriksa semuanya.


Sampai beberapa jam selesai sudah dan makanan siap di masukan ke dalam kotak makanan. Dan siap di antarkan ke anak anak jalanan dan kaum duafa yang nanti Luna temui.


"Alhamdulillah sudah selesai.. Lets goo"


Luna masuk ke dalam mobil dan mereka meluncur ke tempat anak anak jalanan biasa berkumpul.


Sesampainya di lokasi, Luna turun dari mobil dan menyusuri jalan membagikan makanan kepada anak jalanan dan siapa saja yang ia temui di sana.


Sampai Luna bertemu sekelompok anak jalanan dan penyapu jalanan. Mereka sangat senang bertemu lagi dengan Luna, mereka menyambut Luna dengan senyum gembira dan ramah. Luna mengucap salam dan menanyakan kabar mereka. Kemudian Luna membagikan makanan yang ia bawa itu. Mereka antusias menerimanya dengan senang hati. Setelah berbincang beberapa saat Luna pergi pamit, setelah itu Luna berencana menemui Boy di kantornya mengirim makan siang untuknya.


Melaju lah mobil Luna ke kantor Boy. Kelima pelayan juga ikut. Mereka berbincang hangat selama perjalanan, Luna selalu ramah kepada siapapun dan pelayan juga nyaman bersama Luna.


Sesampainya Luna di kantor Boy, ia bergegas masuk, para pelayan hanya menunggu di halaman. Luna menunggu di ruang kerjanya, karena kata asistennya Willy Boy sedang ada meeting bersama client nya. Ya Luna di sambut dengan ramah oleh asisten Willy yang letak meja kerjanya dekat dengan ruangan Boy.


Sampai beberapa menit kemudian Boy dan Willy datang. Mereka sedang berbincang kemudian membuka pintu.


Tiba tiba "kejutaaaan" ucap Luna dengan sumringah dari dalam dan mengagetkan mereka


Boy melihat Luna dan tersenyum lebar pada Luna begitu juga Willy


Boy menghampiri Luna "ya ampun sayang kok tidak bilang bilang mau ke sini, hm. " cupp.. Kecupan di dahi Luna yang tengah berdiri di dekat sofa


"Sengaja kan aku mau berikan makan siang buat kamu" ucapnya.


"Oo terima kasih sayang.. Willy kau makan siang sendiri di luar ya. " ucapnya pada Willy


"Oh baik Bos"


Willy langsung keluar dari ruangan itu. Kebetulan sudah waktunya makan siang saat itu.


"Ayo duduk, aku bawakan makanan special untukmu" ucap Luna, ia duduk dan mulai membuka makanan tersebut. Luna juga membuka cadarnya karena hanya ada dia dan Boy di ruangan itu


"Mm sepertinya enak,,, aku mau mencobanya" ucap Boy ia memperhatikan Luna yang sedang menata makanannya di meja. Ia menyandarkan dagunya di bahu Luna.


"Pasti dong, ayo a makan, eh baca doa dulu tapi. Hehe


Luna menyuapi Boy dengan tangannya. Sebelumnya sudah cuci tangan dulu ya.


Boy dengan senang hati melahap makanan tersebut, sampai ingin setiap saat rasanya di suapi oleh istrinya itu. Luna tidak ikut makan, sesekali ia hanya termenung dan memandang makanan di depannya.


"Kamu kenapa sayang? " tanya Boy penasaran


"Mm enggak, enggak ada"

__ADS_1


Luna hanya tersenyum tipis


"Ceritain dong, sepertinya kamu sedang memikirkan sesuatu "


"Oke, selesaikan dulu makannya nanti aku ceritain ya".


"M baiklah.. "


Boy melanjutkan makannya sampai selesai, tidak lupa ia minum dulu. Kemudian Luna cuci tangan dan duduk kembali dekat Boy.


"Ceritakan sayang" pinta Boy. Ia merangkul Luna dan memeluknya.


"Kak Boy, aku merasa aku sudah terpedaya dan terlena oleh harta dan kekayaan, ya sejak aku kenal dengan ibu Lidya. Hidupku berubah hampir seratus persen. Ibu selalu memberikan semuanya yang bahkan aku tidak memintanya sekalipun. Dan aku tidak bisa menolaknya karena aku rasa ini adalah rezeki dari Allah untukku lewat ibu Lidya.... Aku hanya takut, jika kenikmatan ini aku habiskan di dunia tapi di akhirat nanti aku tidak dapat apa apa"


Luna mulai menangis tapi tidak bersuara. Ia meresapi kata katanya.


"Kamu kenapa bicara begitu sayang hm, tentu saja kamu akan mendapat nikmat yang lebih banyak di akhirat, karena kamu adalah istriku yang shaliha dan lebih baik dari bidadari surga" ucapnya menghibur Luna.


"Kak Boy,, aku ini banyak kekurangan jangan bandingkan aku dengan bidadari surga. Mereka lebih sempurna dariku".


"Aku juga banyak kekurangan, tapi kamu menyempurnakanku, yaa semoga saja rezeki yang banyak ini Allah limpahkan berkahnya, sehingga kita bisa mengolahnya dengan baik dan Allah ridho pada kita, pada rumah tangga kita. Dan kita juga dapat bagian di akhirat kelak"


"Aamiin suamiku, semoga seperti itu. Mm aku mau ceritakan lagi beberapa kebiasaan Rasulullah yang patut kita teladani. Kamu dengarkan ya sayang" ucap Luna. Secara tidak sadar Luna mengucap sayang pada Boy untuk yang pertama kali.


Degg.. Jantung boy berdetak kencang mendengar ucapan Luna. Seketika ia tersenyum


"Iya iya boleh,, aku mau mendengarkannya. " ucapnya ia dengan senang hati.


"suatu ketika Sayyidina Umar Radhiyallahu 'anhu berkata kepada Hafshah "Hafshah ceritakanlah kepadaku tentang pakaian Baginda Nabi Muhammad Saw yang terbaik di rumahmu,"


Sayyidatina Hafshah menjawab " Beliau mempunyai dua pakaian berwarna kemerahan yang biasa beliau kenakan hari jum'at atau ketika menemui utusan"


Sedangkan aku, aku punya banyak pakaian setiap hari gunta ganti berbagai merek, tapi lihatlah orang yang paling mulia, panutan seluruh alam, ia hanya mempunyai dua baju yang menurutnya terbaik. Seharusnya aku bisa mencontonya, tapi ternyata aku tidak bisa, di jaman sekarang ini sangat sulit mempertahankan kejuhudan seperti yang di contokan Rasulullah. Aku bersyukur atas nikmat Allah, dan Terima kasih suamiku, kamu berikan semua kemewahan ini, sebagai rizki dari Allah."


Luna kembali berlinang air mata


Boy meresapi kata kata Luna. Kamu luar biasa sekali sayang. Batinnya.


"Iya Luna, ini adalah bagian dari rizki Allah, terima kasih Allah aku mempunyai istri seperti Luna ini" ucapnya dengan Haru. Dan Luna pun ikut terharu mendengarnya


Kemudian ia melanjutkan


"Sayyidina Umar Radhiyallahu 'anhu juga berkata "ceritakanlah makanan terlezat yang pernah di makan oleh Baginda Nabi muhammad saw di rumahmu"


Sayyidatina Hafshah kembali menjawab "Roti yang terbuat dari tepung kasar dan ketika masih panas di olesi bekas bekas minyak samin yang terdapat dalam sebuah wadah minyak, beliau memakannya dengan penuh nikmat, dan beliau juga membagi bagikannya kepada orang lain"


Itu adalah makanan terlezat Rasulullah kak Boy, bayangkan saja bagaimana rasanya roti kasar tersebut yang bahkan mungkin aku belum pernah memakannya. Kalaupun aku memakannya, mungkin aku tidak akan sanggup, karena aku terbiasa memakan yang lezat lezat dari itu. Tapi beliau.. Betapa mulianya dia.. Huu huu... " Luna menangis


"Betapa tidak pentingnya kenikmatan di dunia ini baginya. Hanya akhirat lah tujuan hidupnya..aku bersyukur kepada Allah atas nikmat ini.. "


Perkataan Luna membuat hati Boy meleleh, ia meresapi kata kata Luna, perkataan membuatnya tersadar


Luna kembali melanjutkan


"Sayyidina Umar Radhiyallahu 'anha berkata lagi pada Hafshah "ceritakan apa alas tidur terbaik yang pernah di gunakan Baginda Nabi Muhammad Saw di rumahmu"


Sayyidatina Hafshah menjawab "sehelai kain kasar, pada musim panas, kain itu di lipat empat dan pada musim dingin, separuh di gunakan untuk alas tidurnya, dan separuhnya lagi untuk selimutnya"


Begitulah kak Boy, aku sangat malu sekali jika mengingat hal ini, seharusnya kita mampu seperti beliau. Sebenarnya beliau tidak miskin, tapi beliau tidak berlebihan dalam menggunakannya. Beliau memilih untuk digunakan di jalan Allah rezeki tersebut. Beliau tidak pernah memegang sepeser dirhampun. Beliau tidak pernah menyimpan sesuatu untuk esok hari. Bilal yang mengurusnya, sudah menjadi kebiasaan nabi jika di datangi seorang muslim yang perlu bantuan bahan makanan, beliau akan menyuruh bilal untuk memberinya bahan makanan. Jika tidak ada bahan makanan yang bisa di berikan kepadanya, maka bilal memberinya dengan berhutang. Masyaa Allah..


Allah menghendaki kita dengan kekayaan


Semoga kita senantiasa amanah dalam rezeki yang Allah titipkan ini. "


Boy terharu dengan kata kata Luna


"Aamiin. Terimakasih sayang, kamu mengingatkanku hal yang belum pernah aku ketahui. Kamu istriku bidadariku" ucap Boy, ia menciumi kepala istrinya itu.


"Sama sama suamiku,,, Hmm kak boy dadamu nyaman sekali.. Hehe"


Luna mengeratkan pelukannya.


"O ya,, aku juga nyaman peluk kamu.. Ngomong ngomong sudah selesai ceritanya? "


"Nanti lagi ya,, kamu kan harus kerja lagi"


"Mm iya sih, kak Boy gak bisa kerja kalau kamu peluk terus"


"Kak Boy yang peluk aku"


Luna melepas pelukannya dan mereka saling melempar senyuman. Kemudian Boy kembali bekerja, tidak lama kemudian Luna pamit pulang karena pelayan menunggu di halaman dan mereka harus segera pulang.

__ADS_1


__ADS_2