
Baiklah baiklahh.. Ini visual Lidya dan Mirza.. Kurleb seperti ini ya.. 👇
Ibu Lidya
Ayah Mirza 👇
Jadi kayak main sinetron ya guyss 😅😅😅
Buat yang minta visual Aryo.. Ini dia 👇
Usianya sekitar 40an.. 😊😊😊
Lha ini fotonya sebelum dia naik pangkat atau jabatan. Sekarang kan ceritanya dah jadi jendral
******
Setelah selesai makan makan, Mikha berbincang dulu sebentar dengan Lidya dan Luna, dan mereka akrab sekali sekarang karena Lidya dan Luna sangat ramah kepadanya. Kemudian Mikha pamit setelah puas ngobrol dengan Lidya, dan pulang diantar oleh Briand.
Di dalam mobil..
"Briand, kenapa kakak dan adikmu menyebutku calon ipar ipar terus?" tanya Mikha
"Yaa mungkin mereka menginginkanmu jadi iparnya"
Ucap Briand dengan santai.
"Apaan sih Briand.. Emangnya aku mau nikah sama kamu apa?"
"Lhaa emangnya kamu berfikir aku bakalan nikah sama kamu?" tanya Briand balik
"Lalu yang mereka maksud apa?"
"Ya aku gak tau mik.." ucap Briand dengan senyum-senyum dibibirnya.
Mikha kebingungan karena ia tidak tau kalau Briand menyukainya dan sudah mendapat restu dari Aryo dan sinyal positif dari keluarga Briand.
Selepas mengantar Mikha, iapun pulang dulu ke rumahnya
*****
Malam harinya..
Luna tengah duduk di samping ranjang Boy, berbincang dan becanda bersamanya
Luna menopang dagunya dengan tangannya dan berhadapan dengan Boy
"Sayangku,, terima kasih telah menemaniku di sini dan terus mendampingiku,,.."
"Iya a,, pastilah aku akan selalu mendampingimu, aku kan istrimu"
Boy tersenyum
"Kamu diibaratkan bulan sayang"
__ADS_1
"Emm kenapa?"
"Karena.. Bulan adalah benda langit yang menjadi pendamping setia planet. Berotasi dan berevolusi dalam lajur gravitasi yang saling melengkapi. Jika dirimu diibaratkan sebagai bulan, dan aku adalah planetnya, maka pasti aku akan terjatuh dalam lubang galaksi karena berhenti berputar ketika melihat bulan (dirimu) yang mempesona" ucap Boy menggoda Luna.
"Heii kau menggodaku ya hm" Luna mencubit lembut pipi Boy
Boy tersenyum lebar dan tertawa. sakit yang dialami jadi tidak terasa ketika becanda dengan Luna
Kemudian ia menggenggam erat jemari Luna
"Adindaku sayang, biarlah berlian dan emas menjadi tidak ada artinya, dibandingkan keberadaanmu di hidupku. Hanya ucapan terima kasih yang paling mendalam untukmu, karena sudah menjadi seseorang yang berharga dalam hidupku."
"Sama sama suamiku,, aku bahagia terus bersamamu" ucap Luna, ia merasa haru
"Istriku sayang, rindu ini kadang tak bersahabat. Ada saja hal-hal yang buat rindu ini jadi berat.aku ingin peluk kamu" pinta Boy.
"ya ampun aa.. Jangan sekarang a, ada ibu dan Bianka, aku malu.." ucapnya sambil melirik ibu Lidya dan Bianka yang tengah mengobrol juga di sofa.
"Hmm.. Baiklah sayang. Sun dulu boleh dong.. Sini" Boy menarik kepala Luna dan mencium keningnya.
Cupp... Kecupan hangat dari Boy.
Luna tersenyum.
"Aa pandai sekali buat kata kata walau lagi sakit juga ya.." ucap Luna
"Sayangku.., bagiku, seindah apapun rangkaian kata kata untuk memujamu, takkan bisa cukup untuk
menjelaskan atau mengungkapkan arti penting dirimu bagi diriku. Engkau adalah pusat dunia bagi hidupku dan mengisi seluruh hati dan pikiranku"
Ucap Boy
"Kamu sangat mencintaiku a?"
"Engkau ingin tahu dengan siapa aku selalu jatuh cinta? Silakan lihat kata pertama yang kau baca itulah jawabannya. Aku sangat mencintaimu, istriku yang cantik, aku menginginkanmu seutuhnya, selamanya, kamu dan aku, setiap hari"
Luna terharu dan mulai meneteskan air mata karena haru.
"Terima kasih suamiku" ucapnya dengan lirih.
Boy tersenyum
"Hei kenapa menangis?" tanya Boy
"Kamu bikin aku meleleh tau gak" ucap Luna sambil menyeka air matanya
"Haha,, aku tulus lhoh mengucapkannya dari hati
"Aku tau itu.." ucap Luna dan tersenyum sekarang
"Kamu mau menginap disini sayang?" tanya Bosambil mengelus lembut pipi Luna.
"Iya lah, aku mana bisa tidur kalau tanpa kamu a.." ucap Luna dengan senyumnya.
"Umm.. Kalau gitu tidurlah di sini". Boy menggeser tubuhnya agar ada ruang untuk Luna tidur di sampingnya.
"Iya, nanti ya a. Aku belum ngantuk"
krekkk... Pintu terdengar dibuka oleh seseorang. Ayah Mirza masuk ke ruang rawat Boy. Pandangan mereka yang di dalam tertuju padanya.
__ADS_1
"Ayah,, asik sekali sepertinya berbincang dengan paman Sam sampai malam begini" ucap Lidya dengan agak cemberut pada Mirza.
"Hehe.. Iya lah bu, ayah habis membicarakan tentang masalah yang menimpa Bianka, nanti paman Sam akan bantu. Karena dia kenal dengan pemilik perusahaan yang membatalkan kontraknya dengan Bianka" jelas ayah Mirza sambil menghampiri ibu Lidya dan duduk di sofa.
"Ayah.. Memangnya Bianka kenapa?" tanya Boy penasaran.
"Ini lhoh Boy... "
Mirza menjelaskan panjang lebar tentang masalah yang menimpa Bianka.
"Oohh begitu,, sabar ya dek." ucap Boy pada Bianka
"Iya kak,, Bianka udah sabar banget sekarang" ucapnya sambil cemberut
"O ya ayah.. Bagaimana keadaan Willy" tanya Boy
"Alhamdulillah operasinya selesai Boy, dia sudah dipindahkan ke ruang rawat"
"Alhamdulillah " ucap semuanya seraya mengusap wajah karena bersyukur.
"Aku ingin melihat Willy" Boy mengangkat tubuhnya, tapi kepalanya terasa berat jika di gerakan dan terasa pusing.
"Ah.. " boy memegang kepalanya
"A,, jangan sekarang.." Luna menahannya
"Jangan sekarang Boy, kondisimu saja belum pulih betul kan" ucap ayah Mirza
"Iya Boy,, kamu mesti banyak istirahat dulu kan"
Ucap Ibu Lidya
"Hahhh.. " Boy menghela nafas
"Baiklah.."
Boy kembali berbaring dengan tenang. Ia merasa kuatir sekali pada Willy.
Boy memejamkan matanya mengingat pengorbanan Willy, air matanya menetes dari sudut matanya.
"Willy mengorbankan hidupnya untuku ayah, dia menyelamatkanku"
Kemudian ayah Mirza menghampiri Boy
"Iya Boy, ayah tau.. Sabarlah, besok kamu bisa menjenguknya"
Boy mengangguk.
Luna terharu karena Boy ternyata sangat menyayangi Willy, walau tidak pernah terlihat jika dikehidupan sehari-hari.
"Ayah makan lah dulu, belum makan kan?" ucap Lidya
"Ah.. Iya bu"
Mirza kembali duduk di sofa dan makan di sana.
Malam itu mirza tidak menginap di rumah sakit, ia kembali pulang ke rumah. Hanya Lidya, Luna dan Bianka yang menemani Boy.
Dan Luna yang mengurus Boy dengan telaten, dibantu juga oleh perawat laki-laki yang bertugas di sana.
__ADS_1