Cinta Sesudah Menikah

Cinta Sesudah Menikah
Rumah Rani.


__ADS_3

Mobil yang di naiki Luna terparkir di halaman rumahnya. Luna melihat ke depan, ia melihat ada beberapa pelayan yang berjejer dan tidak asing lagi bagi Luna, mereka merunduk seraya memberi hormat pada majikannya. Terlihat juga Rani menyambut di sana dengan senyum yang lebar.


"lhoh kak Boy, itu kan pelayan yang dari rumah kan? "


"Iya, mereka sedari subuh aku suruh kesini, dan akan melayani kita selama ada di sini" jelas Boy sambil ia tersenyum


Luna hanya menghela nafas dengan panjang seolah ia tidak menyangkanya.


Willy dan supir turun duluan, kemudian membukakaan pintu untuk tuannya.


"Silahkan Bos, nona" ucap Willy


Luna hendak turun, namun ia di cegah Boy, Boy memegang tangan Luna dengan raut wajah datar.


"Apa sih kak Boy, Luna mau turun" Luna berusaha melepaskan tangannya dari Boy, dan ia masih kesal sebenarnya pada Boy


"Nggak, Luna gak bisa turun kalau masih marah sama kak Boy" ucap Boy sambil terus memegang erat tangan Luna.


"Lepasin gak!.. Kalau Luna gak turun, Luna gak akan maafin kak Boy..! " ucap Luna


Boy mengkerutkan dahinya


"Kalau Luna gak maafin kak Boy, Luna gak Boleh turun!! " jelasnya sekali lagi.


Keduanya malah saling mengancam dan terus mengulang kata yang itu beberapa kali. Membuat Willy bosan mendengarnya, kemudian ia menjauh dari Boy dan Luna, ia berkumpul dengan para pengawal saja.


"Kak Boy, lepasin ini sakit tau,, aw" ucap Luna, ia kesakitan karena cengkraman Boy yang tidak sadar Boy mencengkramnya terlalu erat. Seketika Boy melepas tangan Luna


"Maaf,, maafin kak Boy ya" Boy mengecup ngecup tangan Luna yang tadi ia cengkram.


Tingkah Boy membuat Luna tertawa.


Kemudian Boy memandang Luna dan ikut tertawa juga.


"Maafin kak Boy ya sayang" ucap Boy kali ini dia lembut pada Luna.


"Iya, aku udah maafin. Ayo kita turun".


Boy dan Luna turun seraya menebar senyuman pada sekeliling. Karena banyak warga juga yang penasaran dengan kehadiran Luna dan suaminya itu. Luna dan Boy berjalan sambil gandengan tangan, melewati pelayan dan menghampiri Rani yang sedari tadi sudah menunggu di dekat pintu.


Kemudian pelayan mengambil barang bawaan Luna ke dalam rumah dan menyimpannya di kamar Luna.


Luna melepas gandengannya dan berlari kecil ke arah Rani sambil berkata "mamaaahhh assalamualaikum ,, aku kangen sekali" ucapnya kemudian memeluk Rani dengan erat.


Rani pun membalas pelukan Luna, dan berkata "waalaikumussalam Mamah juga kangen neng". Luna terus memeluk Rani beberapa saat, seolah ia sedang memeluk mamah kandungnya.


Boy yang berada di belakang ikut memberi salam dan menyalami Rani.


"Assalamualaikum mamah" sapa Boy dengan seyum ramahnya.


"Waalaikumsalam nak" jawab Rani dan membalas senyuman Boy.


Dan Willy juga ikut menyalami Rani seraya menghormati orang tua.


Kemudian Luna melepas pelukannya dan tersenyum memandang Rani. Rani melihat Luna seperti habis menangis, lalu ia bertanya "kenapa kamu nak? " tanya Rani sambil memegang kedua pipi Luna


"Tadi Luna habis dari makam mamah Rena dan ayah Luki, dan Bapak Ahmad juga"

__ADS_1


Ahmad adalah bapak angkat Luna atau suaminya Rani.


"Oo begitu,, ya Allah nak, kamu pasti menangis ya di saja sampai bintitan begitu. Ayo masuk,, ayo nak Boy.. " ajak Rani, kemudian mereka masuk dan Willy juga ikut masuk. Mereka duduk di ruang tamu. Dan sudah terhidang makanan di sana. Lalu Rani bercerita tentang kehadiran pelayan yang tiba tiba datang tadi pagi Dan nyaris membuat Rani tidak percaya. Pelayan berkata pada Rani, kalau mereka di suruh Boy untuk mempersiapkan keperluan selama Boy dan Luna berada di sana. Kemudian semua yang berada di rumah itu di bereskan dan di bersihkan sampai kinclong. Semua bantal dan kasur di ganti dengan yang mereka bawa dari kota. Semua bahan makanan merek bawa dari kota, tentunya yang higienis dan sehat untuk tuannya, karena Boy tidak makan sembarangan.


Dan Rani di sana hanya duduk diam memperhatikan pelayan bekerja. Hingga semua beres, kemudian memasak masakan kesukaan Boy dan Luna. Setelah itu mereka menunggu kedatangan Boy.


Untungnya rumah Rani cukup luas dan dua tingkat, di atas ada dua kamar berukuran luas, di bawah ada empat kamar yang ukurannya tidak terlalu lebar. Di rumah itu dapat menampung pelayan yang berjumlah lima orang.


Boy hanya tertawa kecil mendengar penjelasan Rani sambil ia ngemil di sana.


"Iya mah, jadi kan supaya kalian nanti tidak susah payah meyiapkan semuanya, biar pelayan yang mengerjakan" ucapnya.


"Luna aja gak di beri tahu mah" ucap Luna pada Rani. Dan Rani pun tertawa kecil.


"Kalau begitu kalian makan dulu ya nak, kalian pasti sudah lapar? "


Benar saja mereka sudah lapar karena suda waktunya makan siang. Mereka pun makan siang bersama di ruang makan.


Setelah makan siang selesai, Luna mengajak istirahat Boy. Kamarnya berada di lantai atas, kamar Willy juga berada di atas, berdampingan dengan kamar Luna dan Boy. Dan ada satu kamar mandi di lantai atas itu.


Luna dan Boy merebahkan tubuh mereka di atas kasur.


"Kak Boy"


"Hmm"


"Kak Boy tau tidak,, dulu rumahku tidak seperti ini lho. "


Boy mengarahkan wajahnya pada Luna.


"Iya, tiga tahun yang lalu, setelah aku sembuh dari sakit. Aku kembali ke sini, dan tinggal di sini. Kemudian ibu Lidya menyusulku ke sini. Rumah ini sudah rusak waktu itu, ia menginap satu malam. Walaupun dalam keadaan sederhana, ibu lidya sangat betah katanya. Waktu itu aku masih kaku sama ibu Lidya, tapi dia sangat ramah. Lama kelamaan aku nyaman mengobrol dengan ibu. Hingga akhirnya ibu Lidya pamit pulang.


Tapi suatu hari, tiba tiba sekelompok tukang bangunan datang tiba tiba membawa alat bangunan ke sini. Sontak saja kami kaget kan, karena ibu Lidya tidak memberi tahukan sebelumnya. mereka bilang mereka diutus oleh ibu Lidya untuk membangun rumah ini. Kami hanya terdiam, karena menolakpun tidak mungkin. Toh bahan bangunan sudah sedia semua yang di angkut oleh mobik truk hingga beberapa banyak jumlahnya. Kemudian mereka membereskan rumah ini, perabotan di keluarkan.. "


Boy tersenyum mendengarnya


"Terus kamu tinggal di mana? " tanya Boy


"Aku sama ibu tinggal bersama kak Rendi, nah setelah itu barang barang di angkut ke rumah kak Rendi. Dan mulailah merobohkan rumah yang dulu itu, warga di sini juga membantu. Sampai beberapa hari. Rumah ini rata dan mulai di bangun kembali oleh tukang bangunan itu. Sepertinya mereka sudah sangat profesional karena pekerjaannya sangat cepat dan rapih.


Selain itu, waktu ibu Lidya masih menginap di sinu, ia juga memberikan sejumlah uang untuk keperluanku sama mamah Rani. Aku menolaknya, karena merasa tidak enak. Tapi ibu Lidya bersikeras Luna harus menerimanya katanya, sampai dia nangis lho kak. Terpaksa aku menerimanya supaya ibu senang. Tapi kami tidak memakai uang itu untuk keperluan sehari hari, karena dari hasil kebun pun kami tercukupi."


"Lalu uang itu kamu gunakan untuk apa? "


"Aku berikan ke warga yang kurang mampu, sebagianya untuk pembangunan masjid jami di kampung ini".


Boy tersenyum mendengarnya.


"Singkat cerita, beberapa bulan kemudian rumah selesai di bangun dan siap di tempati, semua perabot di ganti dengan yang baru, itu juga ibu Lidya yang berikan. Aku heran sekali dengan sikap ibu Lidya waktu itu. Begitu perhatian dan sayang sama aku. Sampai aku juga sayang banget sama dia.


Suatu hari ibu lidya mengunjungiku kembali ke sini, dan ia merasa pangling melihat rumah ini. Aku juga sangat berterima kasih sama ibu, tentunya kepada Allah juga.


Kemudian ibu Lidya bercerita lagi. Kalau dia membelikan rumah juga untuku di kota, yang sekarang di tinggali mamah kalau lagi di kota. Dan aku dilarang menolaknya oleh ibu, akupun menerimanya. Mamah Rani dan ibu Lidya sangat dekat sekali,kami sudah seperti keluarga.. Hingga mamah banyak cerita dengan ibu, sampai ibu tau kalau alm. Ayah ku punya toko roti di kota itu, namun sudah terbengkalai. Lagi lagi ibu Lidya yang membangunkan kembali toko itu dan aku mengurusnya sampai sekarang ini. Aku sangat berhutang budi banyak sama ibu Lidya. Aku sayang banget sama dia". Jelas Luna sambil ia mengingat ingat kejadian waktu itu.


"Terus ibu tidak pernah menceritakan tentangku? " tanya Boy.


"Tidak,, karena aku tidak mau tau tentangmu waktu itu.. Hehe"

__ADS_1


"Apa???.. Asal kamu tau aku sangat stres memikirkanmu waktu itu, dan ibu tidak pernah memberitahuku sepatah katapun tentangmu. Aku pikir ibu tidak pernah menemuimu selama tiga tahun itu. Ibu sangat kuat menyimpan rahasia"


"O ya? Kenapa kamu bisa sampai stres memikirkanku? ". Luna memandang Boy penuh tanya.


"Karena.. "


"Karena apa kak Boy? "


"Karena aku mencintaimu lah,, " kata Boy sambil ia memalingkan wajahnya dan tersenyum tipis


Luna tidak menyangka dengan ucapan Boy.


Kemudian ia tertawa


"Jadi dulu kamu sempat mencintaiku, kenapa? Apa alasannya? Bukannya dulu kamu tidak suka padaku, bahkan sampai kak Boy meledekku dengan sebutan ninja lah,, apa lahh"


"Ssttt... Udah dong.. Itu kan masalalu dan aku udah berusaha minta maaf sama kamu, tapi apa coba? Kamu malah menghindar dan tidak mau bertemu denganku. Aku sampaikan maafku lewat ibu, apa ibu menyampaikannya sama kamu? "


Luna tersenyum


"Iya kak Boy, aku tau.. Dan ibu menyampaikannya kok waktu itu juga aku udah maafin kak Boy, aku gak bisa nyimpan dendam. Karena itu hanya akan membuat hati karatan, ibaratnya begitu. Hehe"


"O ya, kak Boy ngapain aja selama tiga tahun itu? "


"Aku, aku selama satu tahun berusaha mencari kamu sendiri, tanpa bantuan Willy, atau orang kepercayaan ku, karena mereka di larang oleh ibu, dan mereka patuh sekali sama ibu. Namun hasilnya nihil Luna, hingga akhirnya ibu bilang 'sudahlah Boy lupakan Luna, kamu harus fokus sama perusahaan dan perbaiki diri kamu'. Hingga akhirnya aku menyerah karena mungkin yaa memang kamu benar benar tidak mau bertemu denganku.


Setelah itu aku pun benar benar ingin melupakanmu." "Kamu tau sayang? Aku bisa lebih dewasa karena kamu.. Kamu yang membuat aku berubah"


"Hingga dua tahun kemudian aku sudah melupakanmu dan entah kenapa setelah terakhir aku bertemu denganmu, aku tidak bisa mencintai wanita lain. Aku lebih fokus sama perusahaan, dan selama itu juga aku jadi lebih penurut sama ibu, aku gak bisa membangkang lagi karena karmanya sudah aku rasakan, dan aku tidak mau mengalami hal yang sama. "


"sampai suatu hari itu... tau tau ibu akan menikahkanku denganmu, yaa itu juga karena sedikit paksaan, aku pikir itu bukan kamu.. Untung saja aku nurut sama ibu. Coba kalau aku menolaknya, wahh mungkin aku sangat menyesali seumur hidup.. Hehe"


Boy tersenyum mengingatnya, begitupun Luna.


"Ya Allah,, luar biasa ya perjalanan hidup kita.."


"Luar biasa sekali, ternyata jodoh walau aku tidak mencainya, ia datang sendiri lewat ibu.. Hehe"


"Ii kak Boy, ini sudah di takdirkan dan gariskan oleh Allah.. Semua yang terjadi sekarang ini karena kasih sayang Allah yang menggerakan hidup kita. "


"Kamu benar sekali sayang.. Aku sangat mencintai mu"


Boy membelai lembut pipi Luna.


"Aku juga, sekarang cintaku menjadi 99,9%"


Luna tertawa


"Lhohh nanggung amat siii.. Yang satu persennya ke mana? "


"Mm.. Satu persen lagi jika kita sholat dzuhur dulu yuk,, ke mesjid pesantren yang ada di ujung jalan itu, semua warga biasa sholat berjamaah di masjid. Ayo"


Ajak Luna, ia bangkit dari tidurannya di susul Boy dengan semangat.


"Baiklah sayang"


Kemudian Luna dan Boy membersihkan diri, setelah itu bersiap siap untuk berangkat ke masjid karena adzan sudah berkumandang. Semua yang berada di rumah itu pergi ke mesjid untuk melaksanakan sholat berjamaah. Rumah rumah warga kosong apabila waktu sholat tiba, mereka berjamaah ke mesjid, keculai wanita haid dan nifas, dan juga orang sakit.

__ADS_1


__ADS_2