Cinta Sesudah Menikah

Cinta Sesudah Menikah
Suasana pagi di kampung Luna


__ADS_3

Pagi hari tiba, waktu menunjukan pukul tiga waktu indonesia barat. Suara lantunan ayat suci Al'Qur'An sudah terdengar saling bersahutan melalui pengeras suara dari masjid pesantren dan mushola-mushola di setiap rt di kampung itu. Itu membuat siapa saja yang tertidur ingin segera bangun, seperti hal nya Luna dan Boy. Mereka sudah terbangun dan melaksanakan sholat tahajjud berdua di dalam kamarnya, di sambung membaca beberapa ayat Al'Qur'An pagi itu. Tidak lama kemudian suara air keran terdengar dari kamar mandi, dan itu mungkin Willy juga telah terbangun dari tidurnya. Willy sangat pangling dengan suasana pagi seperti ini. Kemudian ia pergi ke balkon sambil memandang ke arah masjid yang di kiri dan kanannya adalah sebuah pondok pesantren putra dan putri. Balkon rumah Luna dan masjid itu saling berhadapan, yang jaraknya ke masjid itu hanya beberapa ratus meter dari rumah Luna.


Kemudian Luna keluar dari kamar untuk mengambilkan air minum ke dapur untuk Boy, ia melihat Willy tengah berdiri di balkon sambil memandang ke luar. Dan Luna melanjutkan pergi ke dapur.


Sampai Luna kembali lagi ke lantai atas, ternyata Boy sudah bersama Willy di balkon. Kemudian Luna menghampiri mereka dan memberikan air minum untuk Boy.


"Ini minumnya a" ucap Luna sambil menyodorkan air tersebut.


Boy menerimanya


", terima kasih sayang" dan ia meminumnya sambil duduk.


"Sama sama. "


"Nona, apa setiap pagi suasana di kampung ini seperti ini? " tanya Willy


"Tentu saja kak Will, kampungku selalu ramai mulai dari jam tiga pagi sampai menjelang duha, mulai dari lantunan ayat suci Al'Qur'An di lantunkan dari pengeras suara, kemudian selepas subuh nanti ada ceramah juga dari Ustadz atau pak haji di sini. Kemudian di sambung tadarus Al'Qur'An oleh santri santri yang tengah menghafal Al'Qur'An. Kemudian setelah itu mereka beraktifitas seperti biasa"


"Sepertinya banyak hal unik dari kampung ini nona? "


"Iya, kampungku sudah terkenal dengan sebutan kampung para hafidz, Itu karena sudah banyak hafidz Al'Qur'An yang di hasilkan dari sini, mereka yang lulus sebagai hafidz Qur'An, akan mendapat beasiswa dan bisa kuliah di kairo mesir untuk memperdalam ilmu agama."


"Maa syaa Allah, luar biasa nona, pantaslah gadis gadis di sini cantik cantik dan pakai cadar seperti nona, mereka pasti sangat pintar dalam ilmu agama seperti nona juga"


luna tersenyum


"Kamu bisa aja kak Will, tapi memang, mereka itu rata rata pintar dalam agama, karena apa? Karena semangat muda mudi mereka dalam menuntut ilmu itu sangat tinggi. Kak Willy lihatkan? Semua wanita di kampung ini pada memakai hijab, mulai dari anak kecil sampai nenek nenek, itu wajib berhijab di sini. Peraturan di sini sangat ketat jika bersangkutan dengan agama."


Willy mendengarkan dengan seksama, begitu juga Boy


"lalu apa lagi kelebihannya nona? "


"Kampungku juga di sebut kampung jawara. Karena seni bela diri dan pencak silatnya selalu melekat sejak jaman dulu. Dengan ilmu yang di wariskan oleh para leluhur dan guru guru di sini sudah terkenal sampai ke pelosok nusantara. Dan hampir semua warga di sini bisa melakukan bela diri."


Willy terkagum kagum mendengar penjelasan Luna. Kemudian ia tersenyum dan membayangkan betapa indahnya jika tinggal di sini.


"Pantaslah kamu sangat pintar bela diri sayang" ucap Boy.


"Terima kasih suamiku. Itu karena aku sangat menyukai bela diri dan memanah. Dan aku bersemangat sekali belajar bela diri karena guruku.. "


"Memangnya siapa yang mengarmu? "


"Ustadz Hasan"


Mendengar kata Hasan, raut wajah Boy menjadi masam


"Sepertinya kamu sangat mengagumi gurumu itu" ucap Boy dengan datar


"O jelas lah, dia berjasa pada banyak orang. Dia orang yang paling di segani di kampung ini, ". Jelas Luna. Ia melihat Boy seperti cemburu, ya jelas saja Boy cemburu karena Luna pernah mengatakan kalau ia hampir menerima lamaran Ustadz Hasan waktu dulu. Waktu Luna masih SMA dan mondok di pesantren. Tapi Luna menolaknya, karena umur Luna yang masih muda. Sedangkan Ustadz Hasan sudah siap menikah waktu itu, dan tidak bisa menunggu Luna. Pada akhirnya Ustadz Hasan menikah dengan ustadzah Arumi.


Luna menggenggam tangan Boy, agar dia tidak cemburu.


"Sekarang kita siap siap berangkat ke mesjid, sebentar lagi adzan subuh, ayo". Ajak Luna pada Boy dan Willy, dan di setujui oleh willy.


Kemudian Luna menggandeng Boy masuk ke dalam dan ke kamarnya. Willy juga masuk ke kamarnya sendiri, bersiap siap untuk berangkat ke masjid.


Luna di dalam kamar menyiapkan mukena kemudian di pakainya, menyiapkan sejadah dan peci untuk Boy, tapi ia lihat Boy berdiam diri sambil menyilangkan tangannya di dada.

__ADS_1


"Kenapa a? " tanya Luna sambil berhadapan dengan Boy


"Tidak ada" singkat Boy


"Ayo lah, apa Luna bikin kesalahan? "


Luna bertanya kembali, tapi Boy hanya diam


Cupp.. Luna mencium pipi Boy, kemudian Boy tersenyum.


"Kenapa kamu menciumku? "


"Aku pikir a Boy mau di cium.. Ah sudahlah Luna jadi harus wudhu lagi", lalu Luna hendak beranjak dari sana tapi Boy menarik tangan Luna kembali.


"Nanti dulu nanggung amat si nyiumnya, satu lagi belum, ini, ini juga belum" Boy menunjuk pipi satunya lagi terus dahi nya dan bibirnya.


"Aiihh suamiku minta nambah sekarang.. Baiklah"


Cupp.. Cupp.. Cupp.. Luna mencium bagian yang di tunjuk Boy.


Lalu ia tersenyum "sudah puas sayang?"


"Sangat puas terima kasih istriku" kemudian Boy membalas ciumannya. Itu membuat mereka harus kembali berwudhu karena batal.


Adzan berkumandang terdengar nyaring dari pengeras suara, hingga menggema ke seluruh pelosok kampung. Masjid dan mushola di kampung mulai ramai diisi oleh jemaah yanga akan beribadah di sana. Suasana pagi yang sejuk dan damai membuat siapa saja betah di sana, tidak terkecuali orang kota itu. Mereka sangat menikmati pagi itu dan bergaul dengan warga sekitar.


******


Sarapan pagi itu sudah siap di meja makan, penghuni rumah itu sudah melingkari meja dan siap untuk sarapan pagi bersama. Penjaga dan pelayan, mereka makan di teras belakang rumah Luna. Meski sebenarnya Luna mengajak bareng di meja makan, tetapi mereka menolak, karena tidak akan dapat menampung jumlah mereka yang banyak.


"O ya mah, a Rendi apa kabar? Apa sudah pulang dari khurujnya? Aku dengar tadi Ustadz Hasan kan yang mengimami di masjid? "


"A rendi di perjalanan ke sini katanya, iya Ustadz Hasan sudah pulang duluan sedari tadi subuh. Karena ada tamu istimewa dari luar kota" jelas Rani


"Oo begitu ya mah, nanti Luna mau menemui ponakan ponakan Luna ya mah, kangen juga aku sama Naila dan Nazlan. Mereka pasti sudah besar sekarang.."


"O iya tentu, kamu harus tengok mereka mereka pasti senang dengan kehadiranmu"


"A Boy, kita ke sana ya nanti" ajak Luna pada suaminya itu yang tengah asik mengunyah makanannya.


"Ohh iya sayang, siap.. Tunggu, siapa Naila dan Nazlan? " tanya Boy kembali.


"Dia itu anaknya a Rendi, rumahnya di rt sebelah.. Nanti kita ke sana sambil lari pagi oke"


"Ooh baiklah,, tapi nanti setelah aku selesai memeriksa beberapa tugas dari kantor bersama Willy ya. "


"Oke siap,, Luna akan menunggu".


Selesai sarapan Boy dan Willy pergi ke ruangan untuk memeriksa keadaan kantornya melalui laptop dan terhubung langsung dengan asisten pribadi Willy di kantornya itu. Kemudian mereka melakukan diskusi dan membicarakan beberapa hal yang bersangkutan dengan perusahaan itu.


Di tengah pembicaraan telpon Boy berbunyi dan ada panggilan masuk dari Lidya.


"Hallo assalamualaikum ibu? " sapa Boy.


"Hallo waalaikumsalam nak, bagaimana kabarmu? Kamu betah di kampungnya Luna kan? "


"Alhamdulillah baik ibu, iya Boy sangat betah di sini, ibu di sana baik baik saja kah? "

__ADS_1


"Alhamdulillah ibu baik,, o iya ini lho ibu mau mengatakan, sekarang ibu yang akan mengambil alih mengurus perusahaanmu untuk sementara. Kamu nikmatilah liburanmu sama istrimu ya"


"Apa?? Ibu serius? Memang ibu bisa? "


"Iya ibu serius, kamu jangan remehin ibu dong, ibu masih muda tau, dan ibu kan sudah biasa mengurus ini"


Boy tersenyum lebar mendengarnya


"Iya okelah ibuku yang cantik,, terima kasih ya ibu mau membantu Boy"


"Iya.. Ibu sudah di perjalanan menuju kantormu ini,, Nikmati liburanmu ya.. Dan jangan lupa, nanti pulang ke kota bawa kabar gembira oke"


"Oo begitu ya Bu.. Hati hati di jalan ya.. Eee tunggu Kabar gembira apa ya Bu? "


"Ish kamu kayak gak ngerti aja, awas ya kalau Luna kembali ke kota nanti tidak dalam keadaan hamil, itu berarti kamunya kurang handal dalam bermainnya"


Terdengar suara tawa dari sebrang sana


Kemudian Boy juga tertawa..


"Iya,, iya ibu.. Insyaa Allah ya ibu, doakan saja agar Luna cepat hamil, dan akan memberikan cucu yang imut imut dan lucu buat ibu"


"Baiklah Boy.. ibu selalu mendoakan yang terbaik buat kalian ... segitu dulu ya dari ibu, ibu tunggu kabarmu, terus kabari ibu ya"


"Terima kasih ibu, iya Boy akan memberi kabar ibu setiap saat"


"Daah assalamualaikum Boy"


"Waalaikumsalam"


Tutututt.. Telpon di tutup.


Boy menarik nafas dengan tenang.


"Sekarang kita tidak perlu cemas Will, ada ibu yang mengurus kantor"


"Oh baiklah Bos"ucap Willy, ia merasa tenang sekarang.


"Tapi kau harus pantau setiap waktu ya"


"Siap Boss".


Willy kembali fokus pada laptopnya. Sementara Boy menghampiri Luna yang tengah asyik di belakang rumah bersama Rani. Pelayan juga ikut serta di sana, sambil bercanda ria mereka membantu Rani.


Boy melihat Luna dari teras tengah asik menyiram tanaman sayuran dengan pupuk kandang yang dicampur air, sayuran yang sudah tumbuh hijau dan lebat karena selalu di rawat oleh Rani selama ia berada di kampung itu.


"Sayang kamu lagi ngapain kotor kotoran begitu? " tanya Boy yang menghampiri Luna


"Si neng udah di larang sama mamah kekeuh aja mau ikut nyiram" ucap Rani.


"Ii mamah, habis Luna ngapain coba, masa Luna bengong aja gitu? " Luna sambil terus asik menyiram tanaman.


"Udah udah,, itu kotor sayang.. Ayo cuci tangan" ajak Boy, ia menarik tangan Luna dan mengajaknya ke dalam.


"Iya iya,, Luna simpan dulu ininya"


Kemudian Luna menyimpan alat penyiram itu. Dan ikut bersama Boy ke dalam. Kemudian Rani yang melanjutkan aktivitasnya itu.

__ADS_1


Rani sangat senang karena Boy sangat perhatian sama Luna, anak angkat kesayangannya itu.


__ADS_2