
"A Boy,, ayo kita ke rumahnya a Rendi" ajak Luna, ia sudah bersiap untuk pergi ke rumah kakaknya itu.
"Iya sebentar sayang, aku lagi ada telpon dari Andra dan Zuno. Tunggu ya.. "
Boy melanjutkan kembali berbincang dengan Andra dan Zuno. Mereka membicarakan tentang bisnis mereka.
Luna manyun karena Boy mengobrolnya lama sekali. Hingga ia mondar mandir di halaman rumah.
Kemudian ia menghampiri lagi Boy yang tengah duduk di ruang tamu dan masih asik berbincang.
"A Boy,, aku berangkat sendiri ya,, rumahnya dekat kok, nanti kamu nyusul ya" bisik Luna pada Boy.
Boy hanya manggut manggut sambil fokus mendengarkan Andra yang tengah bicara.
"Rumahnya di mana? " bisik Boy kembali
"Nanti ikuti GPS ya. " ucap Luna. Ia tersenyum dan mencium tangan Boy.
Boy pun mencium kening Luna
"Hati hati ya"
"Siap,, assalamualaikum "
"Waalaikumsalam "
Luna pun berangkat sendiri, di luar pengawal mengajukan diri untuk mengawal Luna, tapi Luna menolak. Dan lebih bebas berjalan sendiri karena di kampung Luna aman dari kejahatan. Sambil ia menenteng sebuah kantong yang berisi makanan buat keponakannya nanti
Sekitar lima belas menit perjalanan dengan berjalan kaki, Luna sampai di rumah Rendi, ia melihat Naila dan Nazlan tengah bermain di halaman rumahnya.
"Assalamualaikum ponakan bibi yang cantik dan ganteng" sapa Luna dengan senyum hangatnya sambil menghampiri ponakannya itu.
"Waalaikumsalam,, bibi Lunaa" mereka kaget ketika menoleh ke arah Luna, dan mereka langsung memeluk Luna dengan hangat.
"Kalian sedang apa di sini hmm? Bagaimana keadaan kalian sama mamah kalian? " tanya Luna sambil ia berjongkok menyeimbangi tinggi badan ponakannya itu
"Kita sedang bermain bi, alhamdulillah kita sehat.. Bibi makin cantik aja.. " ucap Naila dengan senyum imutnya, ia masih berusia tujuh tahun dan Nazlan berumur lima tahun.
"Alhamdulillah,, syukurlah...kamu bisa aja Nay nay.. " ucap Luna sambil mencubit gemas pada pipi Naila
"O ya bibi bawakan makanan niih buat kalian.. Mm bibi ambilkan piringnya dulu ya.. Mamah kalian ada di dalam? "
"Wahh asikkk.. " Nazlan bertingkah kegirangan karena Luna membawakan makanan untuk mereka
"Iya Bi, mamah ada di dalam." ucap Naila.
Kemudian Luna menyerahkan dulu kantongnya pada Naila, dan ia berjalan masuk ke dalam rumah Rendi itu seraya mengucap salam. Dan Nina istri Rendi menjawabnya. Dia kaget ternyata Luna datang ke rumahnya, tapi dia malah memasang wajah tidak suka pada Luna.
Luna? Sendiri ke sini? Tidak sama suaminya?.. Hahaha.. Apa suaminya tidak mencintainya. Cuih kasian sekali kamu Lun. Batin Nina, ia tersenyum sinis pada Luna
"Kamu Lun, tumben ke sini" ucap Nina dengan judes pada Luna.
"Iya teh,, teteh apa kabar? "
Luna tersenyum ramah dan meyalami Nina sekilas karena Nina dengan cepat menarik kembali tangannya.
"Hh baik", singkat Nina
Kenapa dari dulu sikap teh nina selalu seperti ini sama Luna. Bahkan di hari pernikahanku pun ia tidak ada kesan bahagia sama sekali. Batin Luna.
"Ohh syukurlah,, Luna mau ambil piring teh buat wadah makanan, aku bawain makanan buat Naila dan Nazlan.. Teteh juga ikut makan yuk"
"Ambil aja di dapur. Gak usah tetehmah masih kenyang. Ucapnya. Ia kembali duduk dan menonton televisi di sana
Kemudian Luna pergi ke dapur untuk mengambil piring. Ia kaget begitu berantakannya dapur di sana dan tidak ada satupun perabotan yang bersih di sana.
"Ashtaghfirullah apa teh nina tidak pernah nyuci piring?? Kenapa dari dulu selalu berantakan begini di dapur.. Ckk.. sepertinya nanti aku harus mencucikannya. Kasian nanti Naila dan Nazlan mau makan pake apa? Kalau piringnya kotor semua. " ucap Luna. Ia mencuci satu piring dulu, kemudian ia kembali menghampiri ponakan itu dan membukakan makanan untuk mereka. Kepilonakannya itu makan dengan lahap dalam satu piring berdua.
__ADS_1
Kemudian Luna menghampiri Nina yang tengah asik nonton tv sambil ketawa ketawa.
"Teteh,, itu kok dapur berantakan sekali, teteh gak ada niatan buat beresin gitu? " tanya Luna
"Kamu kok ngatur teteh, suka suka teteh dong. Biasanya kamu kan dari dulu suka nyuciin piring di sini, sekarang juga boleh,, sana" ucap Nina dengan santai dan judes pada Luna.
Luna mendengus kesal karena perlakuan buruk kakak iparnya itu, tapi buat Luna tidak masalah selagi ia tidak merugikan siapapun. Ia ikhlas dengan apapun perbuatan orang terhadapnya.
Luna ke dapur dan menyingsingkan baju lengannya, lalu ia mulai membersihkan satu persatu perabotan rumah itu.
Setelah beberapa lama, Nina penasaran pada Luna, ia ingin menanyakan beberapa hal pada Luna, dan memanasi Luna agar terpancing emosinya.
Nina berdiri di ambang pintu dapur sambil menyilangkan tangannya di dada dan bahunya menyandar ke dinding pintu. Ia memperhatikan Luna yang hampir beres mencuci
"Luna, kenapa kamu ke sini sendiri? Mana suami kotamu itu"
"Oh ada kok teh.. Dia.. "
Belum selesai ia bicara, Nina memotongnya seraya tersenyum sinis pada Luna.
"Hh apa suamimu tidak mencintaimu Luna, hingga sepertinya kamu dia abaikan"
"Tidak juga teh, dia baik kok "
Luna menanggapi santai omongan Nina
"Aku tidak percaya Luna, sepertinya kamu tidak bahagia dengan pernikahan atas dasar paksaan itu kan? "
"Alhamdulillah aku sangat bahagia teh" ucap Luna
Malah yang panas adalah Nina, karena ia tidak berhasil membuat Luna marah. Dan ia tidak percaya jika Luna benar benar bahagia..
"Sudahlah Luna, ngaku saja,, suamimu itu mana mungkin mencintai gadis kampung dan matre kayak kamu" ucap Nina dengan sengaja mengata ngatai Luna.
Luna hanya membelalakan matanya, ia tidak menyangka dengan ucapan kakak iparnya itu.
"Sayang kamu ngapain di sana" Boy kaget melihat Luna tengah membasuh piring di dapur itu.
Kemudian Boy menarik tangan Luna dan membanting piring yang sedang di pegang Luna ke lantai P**renkkk.... hingga berhamburan pecahan piring ke mana mana.
Nina ketakutan seketika, dan Luna kaget setengah mati.
"Begini kelakukan kakak ipar kepada adiknya hah? " Boy teramat marah dan ia mendorong Nina dengan kasar sampai ia terjatuh ke lantai. Nina meringis kesakitan.
"Haa.. Tetehh.. " Luna langsung menolong Nina dan membantunya berdiri.
"A Boy, apa yang kamu lakukan?? Kasar sekali sama teteh.. " tanya Luna, ia terlihat kesal dengan perlakuan Boy
"Maaf... Maafkan saya tuan" ucap Nina dengan gugup dan merunduk pada Boy.
Boy masih terlihat marah saat itu. Kemudian ia menarik Luna dan menggenggam pergelangan tangannya.
"Kamu ngapain peduli sama orang yang kurang ajar sama tamu, kamu ini tamunya, tapi dia memperlakukan mu seperti ini?, "ucap Boy
Luna berusaha melepas cengkreman Boy dan ia hanya menggeleng.
"Kakal ipar!! Asal anda tau!! Saya tidak pernah membiarkan istri saya melakukan pekerjaan rumah apalagi mencuci piring!!! Berani beraninya anda memperlakukan Luna seperti itu hah!!! " bentak Boy pada Nina
"Ma,, maafkan saya tuan,, sa saya bersalah.. " nina bergetar ketakutan karena di bentak Boy
"A Boy sudah hentikan, Luna gapapa Kok, Luna tadi hanya membantunya mencuci piring"
"Tidak,, tidak sayang.. Kenapa tanganmu sampai mencuci piring hah? Aku tidak rela sayang, aku tidak pernah membiarkanmu melakukan hal ini, aku sangat melarang keras" ucap Boy. Ia menciumi tangan Luna yang dingin karena sehabis mencuci cukup banyak tadi.
"Suamiku, kamu berlebihan"
luna menghempaskan tangannya dan pergi dari sana dengan kesal karena Boy telah kasar pada tetehnya.
__ADS_1
"Lhoh sayang" boy memanggil Luna, namun Luna berlalu pergi dari sana
"Kamu harus membayar perbuatanmu pada Luna, kaka ipar!! " ucap Boy dengan sorotan mata tajamnya. Kemudian ia menyusul Luna yang telah menjauh dari sana.
Nina gemetar ketakutan, ia berdiri meringkukan tubuhnya, ia tidak menyangka, ternyata dugaanya selama ini salah pada Luna. Bahwa ternyata Boy sangat mencintai Luna. Dan bahkan ia sampai marah besar ketika melihat Luna mencuci piring tadi.
Ketika ia larut dalam lamunanya sambil membelalakan matanya, tiba tiba Willy datang menghampirinya Nina dengan raut wajah tidak kalah seram dari Boy.
"Apa yang kamu lakukan padan nona Luna hah? Sehingga Bos sangat marah, berani kamu macam macam sama nona Luna..!! Asal anda tau,, nona Luna sudah seperti tuan putri di kehidupan kami. Dan jika anda berbuat kesalahan padan nona Luna, anda harus siap dengan akibatnya. "
"Dan satu lagi" Willy mengacungkan telunjuknya
"Karena kamu sudah membuat kesalahan, saya pastika warga di sini tidak ada yang mau mengajakmu bicara, jika nona Luna tidak memaafkanmu!!! Dengar!! " ancam Willy, sebenarnya ia hanya menggertak Nina agar nina minta maaf dengan tulus pada Luna.
"Ba.. Ba. Bba baik tuan" ucap Nina dengan gemetar.
Kemudian Willy berlalu dari sana, dan menyusul Boy ke luar.
Untunglah Naila dan Nazlan tidak melihat adegan menakutkan tadi. Karena Willy sebelumnya menyuruh kedua anak itu pergi ke warung untuk jajan. Dan ia memberikan uang dua lembar dengan satu lembarnya itu seratus ribu. Jajan banyak lah mereka..
Boy menyusul Luna yang berlari menjauh menyusuri jalan, di tepi jalan Boy berhasil meraih tangan Luna, Dengan nafas ngosngosan karena lelah. akhirnya Luna berhenti dan masih cemberut pada Boy.
"Sayang,, kok kamu marah sih sama aku, " tanya Boy
"Sikap kak Boy itu, tidak baik tadi sama teteh Nina! "
"Iya, tapi kan dia kurang ajar sama kamu tadi"
"Aku gapapa kak Boy, sekarang aku minta kak Boy minta maaf sama teteh! "
"Nggak,, aku gak mau! "
"Iihhhh.. Aku tidak mencintaimu!! "
"Lahhhh kok gitu.. " Boy kaget dengan ucapan Luna.
"Minta maaf dulu sana..kalo engga, aku gak mau cinta lagi sama kamu " ancam Luna
"Baik,, baiklah sayang,, tolong jangan berhenti mencintaiku.. Aku mohon"
Boy menggenggam erat tangan Luna seraya memohon
"A Boy,, iya oke,, sekarang kamu suamiku minta maaf sama teteh ya.., "
Sebenarnya Luna tidak serius mengatakan yang tadi. Tapi itu membuat Boy lemah seketika.
Kemudian Luna dan Boy kembali ke rumah Nina waktu itu juga.
Apa apaan kamu Boy. Kamu tamu di sana dan tidak sopan perbuatanmu tadi sama istrinya kak Rendi. Ashtaghfirullah Boy, bodoh sekali sih kamu. Kenapa kamu berbuat kasar di depan Luna?. Seharusnya aku bisa menjaga sikap dan berfikir sedikit positif. Tapi aku benar benar tidak bisa melihat perlakuannya pada Luna. Batin Boy, ia terus mencaci dirinya hingga beberapa saat.
Sesampainya di rumah Nina. Nina terlihat tengah membereskan piring yang pecah di dapur.
"Teh nina, maafkan saya" ucap Boy sambil membantu membereskan pecahan piring itu.
Sontak saja Nina kembali kaget dengan kehadiran Boy
"Tu.. Tu.. Tuan Boy,, sudah jangan bantu Nina, biar saya yang bersihkan piringnya"
"Tidak teh, ini kesalahan saya, saya harus membereskannya"
Nina menjadi merasa tidak enak pada Boy, ia juga meminta maaf pada Luna. Luna dengan kemurahan hatinya memaafkan Nina. Dendam lama karena Nina selalu iri pada Luna, membuatnya gelap pikiran. Pikirannya selalu kotor terhadap Luna.
Kemudian Boy selepas membereskan piring, ia meminta agar Nina membalas perbuatannya tadi ketika Boy mendorongnya ke lantai. Tapi Nina tidak mau membalasnya, karena ia juga merasa pantas di perlakukan seperti itu.
Willy kaget saja dengan ucapan Boy yang meminta di balas perbuatannya. Ia benar benar tidak percaya akan sikap tuannya ini. Akhirnya Willy juga minta maaf pada Nina.
Mereka akrab selepas saling minta maaf itu dan sekarang hubungan Luna dengan Nina menjadi ramah.
__ADS_1