Cinta Sesudah Menikah

Cinta Sesudah Menikah
Luna dan Rani akan tinggal di ibukota


__ADS_3

Beberapa saat kemudian Lidya dan yang lainnya sampai di rumah sakit, mereka langsung masuk ke dalam untuk menemui Luna. Di depan ruang rawat Luna, Lidya melihat penjaga itu nampak lebam di wajahnya, kemudian Lidya menanyakan apa yang terjadi padanya "kamu kenapa pak Rudi? " tanya Lidya pada penjaga itu yang bernama Rudi.


"Bos muda Boy tadi kesini nyonya, dia memaksa untuk masuk menemui nona Luna namun saya menghadangnya, kemudian Bos muda menghajar saya" jelas Pak Rudi.


"Ashtaghfirullah.. Boy. Di benar benar keterlaluan!! " ucap Lidya tampak geram mengingat Boy, "terimakasih pak Rudi sudah menghadang Boy, saya akan menghukumnya karena dia sudah menghajarmu" sambungnya


Pak Rudi hanya mengangguk.


Kemudian Lidya, rani dan Ira masuklah ke ruang rawat Luna. Rani nampak kembali menangis melihat keadaan Luna yang berbaring dan belum sadarkan diri, ia langsung memeluk Luna


"Ya Allah, nak.. Kasihan sekali kamu nak. Bangun luna ini emak.. Kenapa kamu tidur terus Luna. Sadarlah Luna kamu anak yang kuat dan pemberani emak tau itu. cepatlah sadar Luna.. Huuu huu." ucap rani dengan menangis tersedu sedu


Lidya pun tak sanggup menahan air matanya melihat Rani terus menangis.


Merasa Luna tidak bangun bangun, Rani melepas pelukannya dan duduk di samping Luna. Menatap wajah Luna dengan penuh kasih. Mengingat masa lalunya Luna bersamanya


Kemudian Lidya mengajak mengobrol kembali pada Rani, mereka duduk di sofa.


"Rani, satu hal lagi yang belum saya sampaikan padamu mengenai Luna, sebenarnya Luna tengah amnesia kemungkinan besar setelah Luna sadar ia tidak akan mengingat masa lalunya." jelas Lidya


Perkataan Lidya membuat Rani kaget


"Apa? Luna amnesia?? .. Kenapa harus seperti ini Luna" ucap Rani, ia menutup wajahnya dengan telapak tangannya dan tidak menyangka dengan keadaan Luna


Lidya mengangguk


"Saya tidak menyangka Rani, tapi Luna pasti sembuh. Saya akan membantumu mengembalikan ingatan Luna, saya akan disampingnya setiap saat. Dan membiayai semua perawatan Luna" ucap Lidya meyakinkan Rani


Rani menatap ke arah Lidya dan Lidya tesenyum padanya


"Terima kasih nyonya" ucap Rani


"Iya Rani, saya sudah berjanji akan bertanggung jawab atas perbuatan Boy."


Sejenak suasana menjadi hening, Rani mulai reda menangisnya dan sudah terlihat tenang. Dia pasrah pada keadaan


Mereka kembali bicara "Rani saya ingin kamu tinggal di ibu kota" ucap Lidya


"Apa? kenapa nyonya ingin saya tinggal di ibu kota? "


"Supaya saya lebih dekat denganmu juga Luna"


"Hm, sepertinya sulit nyonya, saya tidak punya biaya untuk mengontrak rumah dan yang lainnya. Dan saya sudah sangat betah di kampung"


"Saya tidak akan menyulitkanmu Rani, saya yang akan menyiapkan semuanya. Rumah, pasilitas dan biaya hidupmu dan juga kamu tidak usah bekerja. Percayalah Rani, saya akan menggati hartamu yang ada di kampung 5 kali lipat. Biarkan semua yang di kampung di urus oleh anakmu Rendi" ucap Lidya meyakinkan Rani


Mendengar perkataan Lidya, terperanjat kaget


"Apa nyonya? Nyonya serius? Tapii.. Tapi saya"

__ADS_1


"Sudahlah Rani kamu terima ya, saya sangat serius, anggap saja ini sebagai bukti permintaan maaf saya pada Luna dan rezeki untukmu. Saya akan senang jika kamu menerimanya.. " ucap Lidya dengan senyum tulusnya


Ira ikut tersenyum "terimalah mbak Rani, nyonya tidak suka ditolak Lhoh"


Rani menatap Lidya dan ira. Dia memastikan tawaran Lidya itu benar dan tulus


"Baiklah nyonya.. Sebelumnya saya berterima kasih sekali nyonya, "


Lidya tersenyum kegirangan


"Aaaa.. Saya senang mendengarnya..saya yang harus berterima kasih padamu Rani, Karena kamu menerima penawaran saya"


"I iya. Nyonya.. Dan nyonya sepertinya harus tau, kalau Luna bukan anak kandung saya, dia anak dari adik saya, ibunya meninggal waktu melahirkannya, dan ayahnya meninggal waktu Luna masih dalam kandungan. Begitu nyonya" ucap Rani. Dia tidak menyangka bertemu dengan orang baik seperti Lidya kemudian berterus teranglah ia pada Lidya


"Apa? Jadi Luna anak yatim piatu? Kasihan sekali kamu Luna..tapi Luna sudah tau kah kalau ayah dan ibunya bukan rani dan alm. Suamimu? ". Ucap Lidya


"Iya. Iya nyonya Luna sudah tau, dan saya rasa tidak pantas menerima pemberian nyonya, karena saya bukan orang tua kandungnya" ucap Rani dengan perasaan tidak enak


"sukurlah kalau Luna sudah tau.. Hei rani kenapa kamu merasa tidak pantas, kamu sangat pantas menerima ini semua. Alm. Orang tua Luna juga pasti senang karena kamu merawat luna sampai saat ini, jadi terimalah dengan senang hati pemberian saya oke"


rani merasa senang dengan ucapan Lidya


"Baiklah nyonya, sekali lagi terimakasih" sebenarnya siapa orang ini,? Dia baik sekali dan tidak segan segan memberikan hartanya kepada Luna dan saya


Dia sepertinya bukan orang sembarangan. Batin Rani


Lidya tidak berhenti tersenyum lebar karena senangnya. Ahirnya rencananya akan terlaksana juga


"Siap nyonya, akan saya laksanakan" ucap ira dengan semangatnya


Lidya melihat jam di tangannya. Menunjukan pukul 20.30 malam.


"Yaampun, waktu sudah malam ternyata, ira ayo kita pulang dulu, anak anak sudah menanyakan dari tadi. Pada kirim pesan, katanya Bianka nangis terus nanyain saya"


"Ayo nyonya"


"Rani saya pulang dulu, kamu jagain Luna di sini, untuk keperluanmu dan makanan. Nanti akan datang yang mengirim ke sini ya. Jadi kamu tidak usah keluar untuk mencari makan" ucap Lidya pada Rani disertai anggukan rani dan senyumannya


"Baik nyonya, terimakasih dan hati hati di jalan" ucap Rani


"Iya rani"


Kemudian Lidya bangkit dari duduknya dan menghampiri Luna dulu "Luna cepat sadar sayang, ibu pulang dulu yaa" ucap Lidya dengan berbisik di telinga Luna dan mengecup dahinya seraya tersenyum pada Luna.


Melihat perhatian Lidya pada Luna, Rani sangat bahagia melihatnya. Kemudian Lidya dan ira pamit dan memberi salam pada Rani dan Luna.


Dan pulanglah Lidya menuju kediamannya diantar oleh Ira.


*****

__ADS_1


Sementara Luna di alam lain ia sedang menikmati indahnya pemandangan dan taman yang begitu luas sejauh mata memandang, dihiasi bunga bunga, sungai yang jernih dan suasana yang tenang serta disana tercium bau yang sangat wangi. Disana Luna terlihat bahagia dan damai. Kemudian ia dihampiri oleh seorang wanita cantik dan seorang lelaki gagah dan tampan, mereka seperti sepasang suami istri.


Dan kedua orang itu berkata kepada Luna "Luna pulanglah kamu nak, belum saatnya kamu ada di sini, dan sampaikan terima kasihku kepada Rani kakakku"ucap wanita cantik itu disertai senyuman lelaki yang gagah itu. Mereka tersenyum pada Luna


Luna hendak bertanya pada mereka. Namun mereka langsung menghilang disertai cahaya yang menyilaukan. "Tungu.. Tunggu.. Siapa kalian? Tolong kembalilah" ucap Luna kemudian ia mengejar cahaya itu namun tak dapat Luna meraihnya. Tiba tiba pandangan Luna menjadi gelap dan kembali tidak sadarkan diri.


*****


Di perjalanan Lidya nampak terus memijit kepalanya dia merasa sakit kepala dan pusing, mungkin karena kelelahan setelah perjalanan jauh dan banyak sekali kejadian yang membuat mentalnya lemah


Melihat Lidya terus memijit kepalanya, ira kemudian kuatir dan bertanya pada Lidya "nyonya, apa nyonya baik baik saja? " tanya ira sambil menyetir kemudinya


"Ntahlah Ira, kepala saya rasanya pusing sekali"


"Apa kita balik lagi saja ke rumah sakit nyonya? "


Ucap ira memberi usul


"Tidak usah ira, saya hanya butuh istirahat saja"


"Ohh, baiklah nyonya, o ya nyonya, nyonya nampak senang sekali kepada keluarga Nona Luna, sampai sampai nyonya ingin memberikan rumah dan lain sebagainya kepada mereka" ucap Ira, ia penasaran


Lidya tersenyum mendengat ucapan ira "saya sudah pusing mikirin bagaimana habisin uang ira,, hahaha" ucap Lidya becanda


"Hahahaa, nyonya bisa saja.. Uang nyonya tidak akan habis, karena nyonya suka bersedekah dan memberi orang lain, jadi Allah tambah terus rezekinya buat nyonya"


"Ia di amiinin aja deh, kamu jangan ungkit ungkit itu dong. saya jadi gak enak tau"


"Ah nyonya, tapi itu benarkan nyonya. Hehe"


Lidya hanya tersenyum menanggapi ucapan Ira.


"Oh ya nyonya, bagaimana kalau rumah untuk Nona Luna itu yang berada di belakang panti asuhan milik nyonya itu Lho. Rumahnya cukup mewah kan? "


Lidya berfikir mengingat ingat rumah yang dimaksud ira


"Oo iya, rumah yang di dekat panti asuhan Muara Kasih Ibu itu kan, hmm lama saya tidak kesana, pasti anak anak sudah pada besar disana"


"Benar nyonya, rumah itu kan dulu pernah nyonya tawarkan kepada saya, tapi saya memilih apartemen saja, hehe"


"Iya bener kamu, kamu tau saja mana yang lebih bagus dan besar. Dulu kamu saya tawarkan ingin rumah ataw apartemen kan? Tapi kamu memilih apartemen. Hhahaa" ucap Lidya mengingat kejadian dahulu


"Hehee.. Iya dong nyonya, apartemen kan lebih besar dan Luas. Hehe"


"Hmm, yasudah ira kamu chek kembali rumah itu, masih layak atau tidak untuk di tempati"


"Baiklah nyonya, tapi sepertinya masih bagus nyonya, karena baru setahun setengah kan rumah itu dibangunnya"


"Oo ya? Aku bahkan sudah Lupa lagi"

__ADS_1


"Pastilah nyonya, nyonya kan punya banyak gedung yang mesti di urus, jadi wajarlah jadi lupa pada rumah itu.. Hehe"


"Kamu bisa aja ira"


__ADS_2