
Setelah mendengar kabar dari media,, Har Ariyanshah kala itu juga terbang dari negara yang sedang ia kunjungi menuju tanah air
Ini visual papih Har Ariyanshah.. Hehe
Cocok gak?
Krekkk... Pintu dibuka
"Hallo semuanya.. Assalamualaikum" sapa Har dengan cerianya dan senyum lebar sambil memasuki ruang rawat Boy secara tiba-tiba.
Sontak saja semua yang ada di dalam kaget dan semua mata tertuju padanya seraya menjawab salam
"Waalaikumsalam" jawab semuanya dengan kompak
"Papiiihhhh..." panggil Zahwa dan ia langsung berlari dan memeluk Har dengan hangat. Raut wajahnya terlihat sangat bahagia dengan kedatangan Har.
"Zahwa anak papih,, kamu disini rupanya nak" ucap Har sambil membalas pelukan Zahwa dan mencium dahi Zahwa "emmuah.. Kamu bahagia nak?" Har menatap Zahwa
"Tentu lah papih, aku selalu bahagia"
"Ah syukurlah.."
Kemudian mereka melepas pelukannya dan Bayu menghampiri.
"Papih..." sapa Bayu dengan senyum manisnya sambil cium tangan Har.
"Oyy Bayu, mantuku.." Har menepuk-nepuk Punggung Bayu ketika bersalaman.
"Hallo Har apa kabarmu? ." sapa ibu Lidya dan bersalaman dengan Har, seraya tersenyum padanya
"Lidya, besanku.. Baik baik.. Alhamdulillah".jawab Har juga tersenyum padanya.
mereka semua saling sapa pada Har dengan tersenyum ramah dan hangat.
"Hai om" sapa Bastian dengan senyumnya, juga menyalami Har, disusul Bianka dan menyalami Har, serta Luna, ia hanya mengisyaratkan tangannya ketika bersalaman dengan Har seraya tersenyum ramah padanya.
"wah wahhh.. Kalian sehat sehat semuanya?"
"o ya,, mana mirza dan anakmu satu lagi si Bray? Kenapa mereka tidak menyambutku? " tanya Har pada Lidya
"Kami sehat Har, alhamdulillah" jawab Lidya
"Mereka masih di rumah,, lagian kenapa kesini tidak kasih kabar dulu Har, mungkin ayah Mirza, cepat kesini dan menyambutmu.." jelas lidya
"ohh hehe.. Ya karena aku fikir kalian lengkap di sini.. "
" O ya dimana Boy? Kenapa di sini gelap sekali?" tanya Har sambil celingak clinguk melihat ke sekitar.
"Papihhh.. Kacamata buka dong,, biar gak gelap" ucap Zahwa mengingatkan.
"Hahaha..."
"O ohhh.. Iya iya.. Papih lufa.. Ternyata pakai kacamata ya..maklum Zaa, sudah tua Hehe" ucap Har sambil membuka kacamatanya dan menyalipkannya di saku baju dekat bahunya.
"Itu Boy di ranjang, Har" ucap Lidya sambil menunjuk Boy di dengan jempolnya
"Ohh.. Itu dia, yang ku maksud". Har menghampirinya
Sementara Boy sudah senyum-senyum melihat Har
"Hallo Boy.. Apa kabarmu hah?" tanya Har sambil menjabat tangan Boy dengan tegap
"Seperti ini baiknya Om Har" jawab Boy
"mm iya iya.." Har mangguk mangguk
"Kenapa kau tidak Hati-hati di tempat proyek Boy, di sana kan luas,, kenapa wawancaranya di dekat gedung yang sedang dibangun? Begini kan jadinya"
Bukk.. Har menepuk kaki Boy, menggambarkan kekesalannya atas kecelakaan yang menimpa Boy
"Aduhh.. Om.. Sakit itu..." Boy meringis seraya tersenyum pada Har
Har kaget
"O oh.. Kakimu sakit Boy..?"
__ADS_1
"Afwan afwan.. Ana tidak tau..hehe" ucap Har sambil mengusap kaki Boy
"Namanya juga kecelakaan,, siapa yang tau akan terjadi Om.." ucap Boy
"Hmm.. Iya juga sih.."
"Papih duduklah.." Bayu membawakan kursi untuk Har.
"Ah terima kasih mantuku.."
"Arhhhh..." Har duduk dengan nyaman di kursi
"Tau sekali kau, kalau aku ingin duduk.." ucapnya dengan mengangkat alisnya melihat Bayu
"Iya papih.. Sama-sama" ucap Bayu
"Papih" ucap Zahwa sambil menyenderkan lengannya di pundak Har
"Hah? Apa nak?" tanya Har sambil mendongakkan kepalanya pada Zahwa
"Papih dari mana?"
"Papih dari Arab Zaa,, semalam papih terbang ke indo, dan pagi ini baru sampe langsung ke sini" jawab Har.
Kemudian mereka berbincang di samping Boy
"Oohh.. Lagi apa sih pih di arab?"
"Zaa kamu tau gak,, sekarang si Marsa sudah punya keturunan,,, aaaa betapa senangnya hati papihh, jadi Papih habis nungguin si Marsa lahiran.." ucap Har dengan girangnya. " Habis itu, yaa banyak lah kegiatan papih disana" jelas Har.
"Marsa?" Zahwa Bingung
"Siapa Marsa sih? Perasaan kita tidak punya sodara yang bernama Marsa di arab Pih.." tanya Zahwa sambil garuk-garuk di kepalanya
"Iiihh.. Zaa.. Itu lho.."
"Onta kesayangan papih..!!!" jelas Har
Pukk.. Zahwa menepuk jidatnya.
"Ya ampun pihhh.. Kirain teh manusia" ucap Zahwa nampak kesal.
Semua yang di sana terkekeh mendengar penjelasan Har
"Xixixixi..."
"Idihh.. Papihh.. Emangnya bisa?" Zahwa terkidik kengerian membayangkannya.
"Ya.. Bisa lah, dibantu juga sih sama pengurus onta papih"
Boy menutup wajahnya sambil tertawa kecil dan menggeleng
"Jadi om kemarin buru-buru pergi karena ada unta yang mau lahiran?" tanya Boy
"Ah.. Iya lah Boy.. Karena itu saya pergi kemarin pas waktu di proyek kan.."
"Om.. Om.. Kirain tuh, benar benar ada hal penting.. Ckck" ucap Boy tidak menyangka
"Itu juga penting, Boy!!" tegas Har
"Iya lah terserah om, om tau kemarin aku, Andra dan Zuno hampir keteter karena ada wartawan yang datang mendadak, dan kami belum siap siap buat di wawancarai, om malah pergi.. Itu om yang mengundang mereka apa?" tanya Boy
"Ahahahaa Boy.. Afwan oke,, jadi ya sebelumnya ada yang meminta izin sama saya untuk mewawancarai prihal proyek tersebut, dan saya ijinkan tanpa memberitahumu Andra dan Zuno" jelas Har.
"Arh.. Pantaslah om kami kaget dengan kedatangan wartawan"
"Har,, makan dulu lah, mari" ajak Lidya
"Tidak usah Lidya.. Aku masih kenyang.. Za ambilkan minum saja" pinta har
"Oh baik papih, tunggu oke"
Kemudian Zahwa mengambilkan air minum buat papih Har
"Ini pih,," Zahwa menyodorkan air minumnya
"Terimakasih nak"
__ADS_1
Har meminumnya sampai habis
Kemudian Zahwa menyimpan gelasnya dan kembali berdiri di samping Har.
"O ya Boy, bagaimana keadaan Willy?" tanya Har
"Katanya operasinya sudah selesai om, dia sudah berada di ruang rawat.. Tapi saya tidak tau keadaanya, saya belum melihatnya.."
"Oohh. Begitu.. Kalau gitu aku mau menjenguk Willy dulu"
"Iya om.."
Har beranjak dari duduknya
"Papih.. Papih mau kemana habis ini?" tanya Zahwa sambil memegangi lengan Har
"Papih mau ke papua, melihat tambang emas punya papih di sana.. Kenapa nak?"
"Yah papih... Gak mampir dulu ke rumah zahwa di ke pejaten?" (pejaten raya jakarta selatan)
"Mmm.." Har berpikir
Hening..
"Nanti saja habis dari papua ya,,"
"Yah papih.." Zahwa cemberut sambil mengguncang lengan Har
"Papih janji zaa... Papih juga harus ke bandung nengok Zareeva sama Zaskia, mereka sudah merengek pen ketemu papih.."
Zahwa hanya diam..
"Udah ya, papih mau ke ruang rawat Willy dulu"
Kemudian Har hendak ke ruang rawat Willy, sekaligus berpamitan pada Boy dan keluarganya karena mungkin akan langsung pergi lagi melanjutkan rencananya.
******
Sementara di ruangan Willy..
Ayu alias ibunya Willy tengah menangisi keadaan Willy, karena Willy belum juga sadarkan diri.
Sam dan adik-adik Willy, yaitu Wulan dan Wanda juga nampak sedih disana.
"Dokter.. Kenapa anak saya belum sadarkan juga dok" tanya ibu Ayu pada Dokter yang tengah mengontrol keadaan Willy pagi itu.
"Sabarlah nyonya, luka dikepalanya cukup parah bu, kemungkinan besar akan membutuhkan waktu yang cukup lama untuk tuan Willy sadar, kita doakan saja semoga Allah segera menyadarkan tuan Willy" ucap dokter
"Huu.. Huu... Nak.. Bangunlah" ibu Ayu terus mengguncang tubuh Willy, berharap ia cepat sadar
"Bang.. Cepet sadar bang.. Wanda kangen becanda bareng kamu bang" ucap Wanda juga menangis disamping ranjang Willy.
"Tuan Sam, saya permisi akan melihat keadaan Tuan muda Boy " ucap Dokter pada Sam
"Ooh,, baik dokter, silahkan" ucap Sam
Dokter keluar dari ruangan dan menuju ruang rawat Boy.
Wulan tidak bisa menutupi kesedihannya, tapi ia terus berusaha untuk tegar seperti Sam. Ia memilih untuk mengaji supaya Willy cepat sadar. Ia berwudhu dan membawa Qur'an dan membacanya di samping willy.
*****
Selepas dokter keluar. Har, Bayu, Zahwa, Bastian, Bianka dan Lidya masuk menemui Willy. Mereka turut prihatin atas keadaan willy.
Bagian depan tubuhnya baik baik saja, namun bagian belakang tubuh Willy yang terluka parah.
Lidya berusaha menghibur Ayu yang terus menangis meratapi keadaan Willy.
*****
Sementara Willy di alam lain, ia membawa dua tangkai bunga mawar di tangannya, mawar merah dan hitam. Raut wajahnya kebingungan karena ia tidak tau sedang berada di mana. Ia melihat ke sekeliling, ia merasa berada di sebuah tempat yang belum pernah ia temui, sebuah taman yang indah bercahaya-cahaya.. Kemudian ia berjalan menyusuri taman tersebut.
Sampai ia tiba di ujung taman dan ia temui dua orang gadis berpakaian putih dengan penutup wajah, willy melihat dari sorot mata kedua gadis itu mereka tersenyum pada Willy, dan Willy juga tersenyum pada mereka. Seolah mereka sudah saling kenal.
Tanpa sepatah katapun Willy memberikan setangkai bunga mawar hitam tersebut pada gadis yang berada di sebelah kanannya. Dan mawar merah di berikan kepada gadis yang berada di sebelah kirinya. Kemudian Willy mencium lembut dahi gadis yang memegang mawar hitam, kemudian tersenyum. Lalu Willy juga mencium dahi gadis yang memegang mawar merah, dan tersenyum pula. Willy berada di antara gadis itu dan merangkul bahunya. Kemudian ia memejamkan mata, dan hatinya terasa tenang..
__ADS_1
Entah pertanda apa buat Willy...