
Pagi hari sudah tiba, waktu menunjukan pukul setengah lima pagi. Lidya bangun dan sedang duduk di sofa ruang keluarga dan menonton berita. Tiba tiba Bastian dan Briand menghampiri Lidya dan mereka duduk di samping Lidya,
"Pagi ibu" ucap keduanya seraya tersenyum hangat pada ibunya itu
"Hei nak selamat pagi, kalian sudah bangun" ucap Lidya tak kalah senyum hangatnya
"Iya dong bu, ibukan mengajarkan kita untuk bangun lebih awal. Hehe" ucap briand
"Iya bener itu"sambung Bastian disertai senyuman bangga Lidya
Lidya merasa bangga karena anak anaknya sangat patuh dan taat pada dirinya.
"O ya ibu, semalam ibu habis menjenguk siapa? " tanya bastian dengan penasaran begitupun Briand
"Ibu habis menjenguk Luna"
Ucap Lidya dengan santai
"Luna? Siapa ibu? " tanya briand
"Kalian panggilnya kak Luna oke" ucap Lidya
"Oh baik bu, terus kak Luna itu siapa Bu?" tanya Brian kembali.
"Bukan siapa siapa sayang, ibu hanya peduli saja sama dia" ucap Lidya
"Kok bisa ibu? " tanya bastian
"Ya bisa dong sayang, sesama manusia kan kita harus saling peduli dan menolong, bukan begitu? " ucap Lidya sambil mengusap punggung Bastian
Lidya tidak ingin adik adik Boy tau masalah kakaknya itu.
Sepertinya ada yang disembunyikan oleh ibu. Batin bastian
"Oh baiklah ibu" ucap Bastian.
"O iya nak, mulai hari ini ibu akan terus tinggall di indonesia, kalian mau sekolah di indonesia apa melanjutkan di turki?" tanya Lidya pada kedua anak itu. Ia mengalihkan pembicaraannya takut Bastian dan Briand menanyakan hal yang lainnya
Bastian dan Briand nampak senang mendengar ibunya mau tinggal di indonesia lagi
"Wahh. Asiikk ibu mau tinggal di indonesia lagi, tentunya aku mau sekolah disini bu" ucap Briand
"Iya bu aku juga, sebenarnya aku gak suka pelajaran di sana banyak yang tidak aku pahami bu. Hehe" ucap Bastian "Bianka juga pasti senang dan mau sekolah di sini" sambungnya
"Emm... Kalian kan jago bahasa inggris sayang"
"Iya sih, tapi kita akan lebih nyaman di sini bu" ucap Bastian yang disetujui pula oleh Briand
" baiklah kalau begitu, ibu akan urus perpindahan kalian oke" ucap Lidya dengan senang tentunya
"Baik ibu."ucap Briand dan Bastian nampak senang kemudian mereka fokus menonton televisi.
"Ibu mau bangunkan dulu Biy, takut dia belum bangun" ucap Lidya kemudian bangkit dari duduknya dan berjalan menuju kamar Bianka
"Oh iya bu" ucap Briand
Bastian masih duduk dibangku SMA, Briand duduk dibangku SMP dan Bianka dibangku SD.
Semetara Boy dikamarnya sebenarnya dia sudah bangun, tapi masih mengurung diri di kamarnya. Dan kali ini dia akan lebih banyak merenung di kamarnya
Lidya berada di kamar Bianka dan ternyata Bianka juga sudah bangun dan sedang mengaji. Lidya bangga melihat anak gadisnya itu, kemudian Lidya bercerita bahwa ia akan tinggal di indonesia lagi. Betapa senangnya Bianka dan sangat setuju.
Ketika lagi asyik mengobrol dengan Bianka ponsel Lidya berbunyi dan ada pesan masuk dari Willy. Willy memberitahukan bahwa alamat tempat tinggal Luna sudah di ketahui. Lidya senang mengetahuinya. Kemudian Willy mengirimkan Alamat tempat tinggal Luna itu. Setelah itu Lidya ingin bertemu dengan orangtuanya Luna hari itu juga dan dia akan berangkat bersama Ira asistennya.
"Biy, hari ini ibu ada kegiatan penting, kamu tunggu di rumah bersama kak bastian dan Kak Bray oke" ucap Lidya pada Bianka
"Memangnya ibu mau kemana si? memangnya biy gak boleh ikut? " tanya Bianka dengan penasaran
"Biy gak usah ikut sayang, ini kan urusan orang tua, lebih baik biy tunggu aja di rumah ya" ucap Lidya
"Hmm... Baiklah ibu" ucap Bianka dengan cemberut. Karena sebenarnya dia ingin ikut.
"Biy jangan cemberut begitu dong, nanti ibu belikan oleh oleh buat Biy. Gimana mau gak? " ucap Lidya menghibur Bianka
"Benarkah. Baik bianka mau bu, hehe" ucap Bianka dengan senangnya
"Sungguh kamu anak yang paling pengertian sayang muah" ucap Lidya memuji Bianka serta kecupan hangat di dahinya
*****
Sarapan pagi itu, seperti biasa Boy melakukan aktivitasnya mengecup ibunya dan semua adiknya rutin setiap pagi. Sebagai menandakan Boy sangat menyayangi mereka
Lidya masih bersikap dingin pada Boy, sementara Boy sangat berharap ibunya sedikit perhatian padanya. Sungguh disayangkan sekali, mereka sudah lama tidak bertemu sekalinya bertemu Lidya bersikap dingin padanya.
"Ibu masih marah sama Boy? " tanya Boy membuka pembicaraan saat sedang sarapan
__ADS_1
Lidya menghela nafas "ibu tidak mau membahas itu" ucapnya dengan datar
"Bu, bagaimana caranya supaya ibu tidak cuek begitu sama Boy? Boy minta maaf bu, Boy menyesali perbuatan Boy bu"
"Ibu belum sepenuhnya maafin kamu Boy, jika sikapmu terus seperti itu"
"Bu, Boy janji akan berubah" ucapnya dengan serius sambil menggenggam tangan Lidya
Lidya menatap Boy dengan dingin "bagus" ucapnya singkat
"Oke, boy akan buktikan sama ibu, tapi tolong Boy ingin bertemu Luna dan ingin tau keadaanya, boleh ya bu"
Lidya melepaskan genggaman Boy
"Gak usah Boy, luna juga tidak mau bertemu orang jahat sepertimu"
"Tapi bu, boy hanya ingin minta maaf pada Luna"
"Lebih baik kamu lupakan Luna, dan fokus pada diri kamu sendiri"
"Tapi Bu.. "
"Kenapa kamu keras kepala banget sih Boy. Asal kamu tau Boy ibu tidak akan bertemukan kamu sama Luna jika kamu belum benar benar berubah. Ibu minta kamu fokus sama diri kamu sendiri. Itu saja kamu faham.!!"
"Tapi kenapa Bu? "
"Ibu takut kamu kembali melukai Luna"
"Boy tidak akan melakukan itu lagi Bu"
"Sudahlah Boy kamu tidak usah pikirkan Luna lagi, lupakan dia"
"Kenapa bu? "
"Kalau kamu terus bertanya kenapa, ibu akan menjodohkan Luna dengan Bayu, kamu dengar itu"
"Apa? Aku gak rela Luna sama Bayu Bu"
"Kenapa? Kamu kan gak suka pada Luna sampai sampai kamu melukainya, Luna itu cantik dan baik Bayu pasti suka sama Luna"
"Bu aku mohon bu, jangan jodohkan Luna dengan Bayu"
"Kamu menyukai Luna Boy? "
Boy hanya terdiam dia ragu harus menjawab apa
"Baiklah, kamu ingat kata kata ibu tadi. Jangan membangkang sama ibu. Faham?"
"Baik bu"
Ntah kenapa aku gak rela kalau ibu jodohkan Luna dengan Bayu.baiklah mulai hari ini aku akan berubah jadi lebih baik lagi. Batin Boy
Sementara adik adik Boy hanya menyimak pembicaraan ibunya dengan Boy.
Bianka nampak penasaran pada sosok Luna
"Bu Luna itu siapa? " tanya Bianka
Lidya tersenyum "nanti kamu juga akan tau sayang"
"Hmm baiklah" ucap bianka
Kemudian mereka melanjutkan sarapannya dengan tenang hingga selesai. Setelah selesai Boy hendak berangkat pergi ke kantor, ia memeluk dulu adik adiknya.
"Baiklah kakak mau berangkat kerja sekarang, kakak ingin dipeluk dulu oleh adik adiku"
"Oke"ucap ketiganya dengan tersenyum kemudian menghampiri Boy dan memeluknya. "Hati hati kakak" ucap Bianka.
"Tentu dek"
Kemudian mereka melepas pelukannya dan Boy menyalami ibunya dan mencium tangannya. "Ibu aku berangkat dulu"
"Iya Boy" ucap Lidya dengan senyum tipis dibibirnya
Kemudian Boy berjalan keluar di susul Lidya, dan nampak Willy sudah menunggu di halaman serta ira juga sudah datang.
Sementara adik adik Boy bersantai dengan kegiatannya masing masing
"Selamat pagi Bos, nyonya" sapa Willy pada Boy dan Lidya dengan senyum hangatnya
"Pagi Will" ucap Boy sambil masuk ke dalam mobilnya
Lidya membalas senyum Willy
"Pagi willy" ucap Lidya
__ADS_1
Kemudian Willy masuk ke mobil dan segera pergi ke kantor.
"Ira kita pergi hari ini" ucap Lidya pada ira
"Baik nyonya, tapi kita mau kemana?" tanya ira penasaran
"Nanti kamu juga tau, saya mau siap siap dulu"
"Oh baik nyonya"
Kemudian Lidya kembali masuk ke rumah untuk siap siap. Setelah itu Lidya berangkat bersama Ira untuk pergi menemui orang tua Luna di sebuah kampung, tidak lupa juga, Lidya mengajak empat pengawal untuk mengawalnya pergi, karena jarak kampung Luna cukup jauh. Ira mengikuti arah Gps untuk menuju kesana.
Di tengah perjalanan Ira dan Lidya berbincang ringan dengan Lidya, kala itu Lidya tengah asik berbalas pesan dengan suaminya sambil senyum senyum sendiri. Entah apa isi pesan mereka
"Nyonya, apa tuan Mirza sudah tau kalau kita pergi jauh? " tanya ira
"Tentu saja ira" jawab Lidya sambil fokus pada ponselnya.
"Oh.. Baiklah, nyonya sepertinya memperlakukan Luna dengan sepesial, kenapa Nyonya?
"Kamu panggil Luna dengan sebutan nona oke! Dia akan menjadi bagian dari keluargaku nanti"
"Oh baik baik nyonya,, nyonya sepertinya menyukai nona Luna"
"Iya Lah, dia gadis yang cantik dan pasti dia baik hati, saya akan menjodohkan Luna dengan anak saya"
"O ya nyonya? waaaw.. Dengan siapa? "
"Kamu ingin tau sekali sepertinya"
"Hehe.. Iya dong nyonya"
"Saya mau merahasiakannya"
"Yaahh nyonya mah"
Lidya hanya tersenyum menanggapi ira. Kemudian kembali fokus berbalas pesan dengan Mirza, ia juga menanyakan keadaan Bayu. Dan ira juga fokus mengemudi agar cepat sampai ke tempat yang dituju.
Sementara di kantor, Boy nampak berbicara serius dengan Willy yang tengah bekerja memeriksa berkas dan fokus pada laptopnya. Sedangkan Boy hanya melamun dan mengetuk ngetuk meja kerjanya.
"Will kamu tau apa alasan ibu melarangku bertemu Luna? "
"Tidak Bos"
"Ayolah will, kau pasti tau alasannya"
"Saya tidak tau Bos"
Boy menatap sinis pada Willy, dia tidak percaya dengan ucapan Willy.
"Kau harus cari tau Will" ucap Boy dengan tegas
Willy menghela nafas dan menghentikan tugasnya
Kemudian melihat ke arah Boy "kenapa tidak Bos saja yang menanyakan itu" ucap willy dengan nada kesal.
"Biasa saja dong Will, ibu bilang Luna tidak mau bertemu denganku dan ibu juga bilang aku tidak boleh menemuinya, ibu bersikap dingin padaku karena kejadian ini Will"
Si bos sudah tau jawabannya masih bertanya pula. Aneh kamu Bos. Batin Willy
"Seperti itu Bos? Baguslah"
"Eh kau malah membela ibuku?" ucap Boy tidak terima
"Kau pikir saja sendiri Bos. Kesalahanmu sangat fatal dan kamu pantas menerima perlakuan seperti itu dari nyonya"
"Ckk. Kau sama saja dengan ibu will, seharusnya kau membelaku dan membantuku. Ibu bilang aku harus berubah, memangnya aku selama ini salah ya Will"
Dasar bos tidak tau diri. Batin willy sambil menggelengkan kepalanya
"Saya setuju dengan nyonya Bos, dia benar, kau harus berubah"
"Begitu? Kau harus membantuku"
"Saya dari dulu selalu membantumu Bos, tapi kau yang keras kepala dan tidak pernah sadar kalau kau salah Bos"
"Eh will kau berani mengata ngataiku" ucap Boy dengan nada marah
"Jangan marah Bos, jika kau marah kau tak akan bisa bertemu dengan Luna"
"Sial kau Will"
Willy tersenyum menang, dia punya cara agar boy berubah. Yaitu mengancamnya dengan alasan tidak akan bertemu dengan Luna jika ia marah.
"Kau bilang harus berubah. Mulailah dari sekarang Bos" ucap Willy dengan senyum menyeringai disudut bibirnya
__ADS_1
"Ck.. Oke Will kau mulai berani padaku. Awas saja kalau kau kelewatan lancang padaku