
Sesampainya di rumah sakit, kemudian ira pergi pamit untuk melihat rumah yang akan di tempati Luna dan ibunya itu.
Lidya masuk ke ruangan Luna dan disana Rani sudah menunggu ia sedang duduk di samping Luna dan membacakan ayat ayat qur'an. Ketika melihat Lidya datang, Rani berhenti mengajinya
"Teruskan saja Rani" ucap Lidya dengan tersenyum
"Ohh.. Iya nyonya"
"O ya, kamu sudah makan? "Tanya Lidya
"Sudah nyonya, tadi ada orang yang mengantar sarapan ke sini, itu makannannya banyak sekali nyonya" ucap Rani sambil menunjuk ke arah meja dan disana menumpuk makanan sangat banyak
"Oo iya, itu tadi pelayan dari rumah, saya yang suruh mereka untuk mengantar makanan untukmu"
"Terima kasih banyak nyonya"
"Iya rani" kemudian Lidya juga duduk disamping Luna dan Rani kembali membaca qur'annya. Lidya mendengarkan sambil menatap wajah Luna
Sementara Luna kembali lagi berada di alam yang indah itu. Ia sedang berjalan menyusuri taman tersebut dengan girangnya. Disana tidak ada kesedihan ataupun kesusahan dia nampak senang sekali. Kemudian sepasang suami istri itu datang lagi menemui Luna "nak kenapa kamu masih di sini, pulanglah nak" ucap wanita itu
"Tunggu dulu, sebenarnya kalian siapa? "Tanya Luna
"Nanti kak rani akan menceritakannya padamu. Sampaikan terimakasihku padanya" ucap wanita itu
"Iya nak, pulanglah. Belum saatnya kamu berada disini" ucap lelaki itu kemudian mencium dahi Luna disusul wanita itu juga mencium dahi Luna.
Kecupan itu membuat Luna damai hatinya
"Aku sangat senang berada di sini"
"Pulanglah nak"
"Pulanglah"
"Pulanglah" sampai beberapa kali di ulang kata itu,
Suara itu terus terdengar semakin lama semakin pelan diikuti menghilangnya kedua orang itu.
Kemudian Luna kembali mengejarnya namun tidak mendapatkannya hingga pandangannya menjadi gelap.
Setelah itu Luna tersadar dari pingsannya dan ia mulai membukakan matanya dan tangannya bergerak. Lidya menyaksikan tersadarnya Luna, dia nampak senang sekali. Begitupun Rani ia melihat Luna siuman dan langsung tumpah air matanya karena senang.
"Luna. Anak emak" ucap Rani dengan lirih
"Alhamdulillah.. Luna kamu sadar sayang" ucap Lidya dengan senangnya
Luna menatap kedua orang itu, meski matanya masih berat untuk dibuka. Pandangannya juga masih kabur
Kemudian Lidya dengan cepat memanggil dokter. Tidak lama kemudian dokter sampai dan Langsung memeriksa Luna, dokter nampak lega melihat Luna siuman dan ahirnya Luna sudah bisa membuka matanya dengan normal kembali. Dokter menjelaskan bahwa Luna telah baik baik saja, untuk selanjutnya luna masih harus di rawat untuk pemulihan Lukannya. Setelah menjelaskan pada Rani dan Lidya. Dokter keluar untuk menuju ruangannya.
Rani dan Lidya kembali duduk di samping Luna, luna nampak Bingung karena ia tidak mengenali mereka
Rani dan Lidya tersenyum hangat pada Luna
__ADS_1
"Kalian siapa? "Tanya Luna dengan Lirih menatap Rani dan Lidya
"Ini emak, geulis bageur (cantik, baik)... Kamu anak emak. Nak" ucap Rani ia memakai bahasa sunda bercampur indonesia. Itu bahasa kesehariannya di kampungnya. Berharap Luna bisa ingat itu. Karena Luna juga pandai berbahasa sunda. Namun Lidya tidak paham dengan ucapan Rani, dia hanya menyimak saja
"Emak?" Luna berusaha mengingatnya namun ia tidak ingat.
"Uhun geulis (iya cantik) dan kamu namanya Luna."
"Luna? Namaku Luna? " tanya Luna
"Iya nak, kamu amnesia sayang dan kamu tidak dapat mengingat masalalu untuk saat ini" ucap Lidya
"Aku amnesia? "
"Iya sayang" ucap Lidya disertai anggukan Rani
"Kamu siapa? "Tanya Luna pada Lidya
"Saya Lidya, saya akan membantumu mengingat masalalu bersama emakmu ini" ucap Lidya sambil merangkul bahu Rani
Luna tampak bingung. Namun ia mengangguk saja
"Panggil aku ibu, oke nak? "Ucap Lidya.
"Oh iya" Luna tersenyum manis pada Lidya dan Rani.
Ketika hendak berbincang, tiba tiba suster datang membawa dua buah bunga hias yang sangat indah dan sama bentuknya
Kemudian Lidya menerimanya dan bertanya "terimakasih suster, siapa yang memberinya? " tanya Lidya
"Saya tidak tau nyonya, karena yang antar bunga ini seorang kurir" jelas suster tersebut
"Ohh begitu ya" jawab Lidya masih bingung. kemudian ponsel Lidya berbunyi ada pesan dari Boy
"Ibu sudah sampai bunganya? Semoga ibu dan Luna suka ya"isi pesan tersebut
Ooh dari Boy. Batin Lidya sambil tersenyum membaca pesan tersebut.
"Terimakasih Boy". Lidya membalas pesan tersebut.
Kemudian Lidya memberikan yang satu lagi bunganya untuk Luna.
"Luna sayang, ini untukmu" ucap lidya sambil menyerahkan bunga tersebut
"Tapi ini dari siapa Bu"
Tanya Luna
"Ini dari penggemarmu" ucapLidya sambil tersenyum
Luna tampak bingung "oh iya, terima kasih" ia menerimanya walau dia belum tau siapa pemberinya. "Bunganya bagus bu, luna suka"
"Iya sayang, ibu juga suka" ucap Lidya
__ADS_1
"Ciee si eneng. Ada penggemarnya ternyata. Emak sangat atoh pisan geulis (emak sangat senang sekali cantik) " ucap Rani sambil tersenyum
Luna tersenyum "emak bisa aja, aku bahkan tidak tau kalau ada penggemar"
"Kamu pernah melihatnya Lhoh nak" ucap Lidya
"Oh ya? Aku tidak ingat bu"
"Iya sayang, suatu saat nanti kamu pasti tau"
"Hmm iya bu"
"Nak kamu makan dulu ya. " ucap rani
Luna hanya mengangguk.
"Yang banyak makannya ya sayang, biar cepat sembuh" ucap Lidya Kemudian rani menyuapi Luna, luna makan dengan hati hati sampai selesai.
Setelah selesai makan, luna kembali bertanya pada Rani dan Lidya "ibu, kenapa saya bisa sakit dan sampai amnesia begini" tanya Luna
Degg, detak jantung Lidya terasa berhenti sejenak
"Emm,, sayang ibu akan kasih tau kamu, kalau kamu sudah sembuh lukanya ya. Untuk saat ini kamu fokus untuk sembuh dulu ya" ucap Lidya dan disetujui oleh Rani.
"Iya neng, kamu harus semangat untuk sembuh nya nak" ucap Rani
"Iya ibu" ucap Luna
Kemudian Lidya menyuruh Luna untuk kembali istirahat dan tertidurlah ia. Setelah itu, rani dan Lidya kembali berbincang membahas orang tua kandung Luna. Mereka duduk di sofa
"Coba ceritakan padaku tentang ibu dan ayahnya Luna" ucap Lidya
"Baik nyonya, dahulu kehidupan orang tua Luna sangat berkecukupan, ayahnya seorang pengusaha kecil kecilan, namun tak lama kemudian bangkrut ketika istrinya sedang mengandung Luna. Rena adalah nama ibu Luna, Rena adik kandungku dan suaminya itu iparku. Suami Rena meninggal karena kecelakaan saat Rena sedang mengandung sembilan bulan Luna dalam kandungan, ketika selesai melahirkan Rena menyusul suaminya" rani menangis menjelaskan masalalu Luna "dan Luna menjadi yatim piatu sejak lahir, kemudian sayalah yang mengurus Luna, walau saya tidak bisa memberinya materi tapi saya sangat menyayangi Luna. Dia cantik seperti ibunya dan anak yang penurut buat saya. Dia tumbuh menjadi anak yang pemberani. Sampai ia dewasa dan meminta saya agar dia diijinkan merantau ke kota, saya sangat berat jauh darinya, tapi dia kekeh ingin pergi.sampai akhirnya saya ijinkan saja" jelas Rani
Lidya terharu mendengar masalalu Luna
Dia menarik nafas panjang lalu menghembuskannya dengan pelan "jadi seperti itu, masalalu Luna, kamu benar rani dia sangat cantik sekali"
"Iya nyonya, dia mirip sekali dengan ibunya"
Ucap rani. Sambil mereka menatap Luna yang sedang tertidur
Tidak lama kemudian Ira datang dan memberi informasi bahwa tugasnya sudah selesai. Ia duduk bersama rani dan Lidya
"Nyonya, semua sudah beres, rumah sudah siap untuk di tempati, saya menyiapkan tiga orang asisten rumah tangga, empat penjaga serta seorang supir untuk nona Luna dan ibunya, untuk kendaraan dan yang lainnya juga sudah saya siapkan" jelas ira
Lidya terlihat senang mendengarnya
"Waaw bagus ira, terima kasih ya"
"Sama sama nyonya" ira pun ikut senang begitupun rani
Rani tidak bisa menolaknya karena ira bilang Lidya tidak suka ditolak.
__ADS_1